Terpaksa Menikahi Tuan Muda

Terpaksa Menikahi Tuan Muda
Lepaskan Tanganmu


__ADS_3

Aran masih berdiri di tempat Han


menurunkannya, dia menunggu sampai mobil yang ditumpangi laki-laki itu


menghilang dalam pendar cahaya lampu taman. Sampai matanya tidak bisa melihat


dan menembus angin malam. Dia menarik jas yang tadi di pakaikan sekertaris Han


sambil tersenyum malu.


Haha, ayolah Aran berhenti


menyimpulkan segala sesuatu sesukamu. Hardiknya pada dirinya sendiri. Jangan


terlalu percaya diri, dia memaafkanmu saja itu sudah luar biasa. Aran merengut,


karena kata maaf sampai akhirpun tidak terucap dari bibir laki-laki itu.


Walaupun dia memberikan jasnya karena dinginnya cuaca malam, tapi itu tidak


bisa diartikan apa-apa.


Biarkan saja! Aku mau besar kepala


sendiri!


Masih terselip bunga-bunga di ujung


bibir Aran saat ia melintasi rumah utama yang mulai senyap. Dia berjalan dengan


cepat menuju rumah belakang. Di beberapa sudut, tempat para penjaga yang


bersiaga terlihat tengah mengobrol sambil tertawa, menikmati kopi dan juga camilan.


Mereka terlihat senang sekali gumam Aran. Tapi tidak terlalu memperhatikan


karena dia ingin segera sampai di kamarnya. Ada banyak hal yang ingin dia


lakukann malam ini sebelum tidur.


Ada apa ini, kenapa sepertinyaa


ruang tamu ramai sekali. Tanyanya heran pada dirinya sendiri.


Pendar cahaya lampu masih terang


benderang di rumah belakang, terdengan suara berisik. Ada yang tertawa, bahkan


ada juga yang sedang menyanyi bersama.


Apa yang mereka lakukan? Apa mereka


sedang pesta akhir pekan?


Di dorongnya pintu pelan, Aran


mematung sebentar saat beberapa mata tertuju padanya. Membuat dia salah tingkah


sendiri. Eh, apa salahku. Katanya dalam hati sambil menyentuh kerah bajunya


kikuk.


“ Aran! Dari mana saja, kami


mencarimu!” seorang senior melambaikan tangan meminta Aran mendekat. Pesta


kembali di lanjutkan setelah dia masuk dan menutup pintu. Mata Aran melihat


banyak sekali makanan dan juga aneka minuman bersoda serta jus tergeletak


begitu saja di atas karpet.


“ Ada apa kak? Kalian sedang


pesta?” Duduk lalu meraih pizza dengan toping daging dan keju yang berlimpah.


Lapar! Aran yang hanya makan sok cantik di depan sekertaris Han seperti


mendapat berkah Tuhan. Dia mengambil potongan pizzanya yang kedua dan sebotol


jus buah rasa mangga. “ Kenapa banyak sekali makanan?” Bicara dengan mulut


penuh.


“ Ini hadiah dari tuan muda.”


Menepuk-nepuk punggung Aran agar gadis itu makan pelan-pelan. Dia hampir


tersendak karena makan dengan kecepatan penuh. “Pelan-pelan makannya!” Aran


hanya menyeringai, tapi tidak memperlambat makannya.


“ Kenapa?” Tidak seperti biasanya,


walaupun kebutuhan makanan dan minuman di rumah belakang sudah masuk kategori


mewah untuk ukuran para pelayan, tapi ini benar-benar di luar kebiasaan.


“ Hadiah dari tuan muda karena


sudah bekerja keras mensukseskan pesta ulang tahun nona Daniah.”


Apa!


Aran menjatuhkan botol jusnya,


untung saja tutupnya sudah rapat melekat.


Aku lupa membeli hadiah untuk nona!


Nona, maafkan aku. Betapa hinanya aku, hiks. Senyum sekertaris Han sudah


mengalihkan duniaku! Maafkan aku nona!


“ Kenapa?” senior itu bertanya


“ Tidak kak, aku hanya melupakan


sesuatu.” Sambil ingin sekali menitikan airmata. Bagaimana dia bisa melupakan


hal penting setelah semua yang nona Daniah lakukan untuknya. Dia benar-benar


merasa seperti penghianat bangsa.


Aku akan membelinya besok nona, aku


bersumpah!


“ Kamu dari mana? Setelah pesta


nona selesai tadi kamu menghilang?” Senior tadi menyerahkan botol jus Aran yang


tadi terguling.

__ADS_1


“ Maaf kak, aku sudah izin pada pak


Mun tadi karena ada sesuatu yang harus di kerjakan.” Tidak berniat untuk


menceritakan, suara tawa juga sepertinya lebih menarik perhatian senior. Ada


seorang pelayan wanita dan laki-laki bersuara merdu yang sedang berduet


menyayikan sebuah lagu. Semua mata fokus padanya.


“ Ya sudahlah, kamu belum makan


malam kan? Hari ini makanlah sepuasnya.” Berbisik sambil bertepuk tangan.


“ Haha, ia kak. Aku akan makan


sampai kekenyangan malam ini.”


Balas dendam Aran untuk makan malam


cantiknya. Dia kembali teringat hadiah ulang tahun untuk nona. Berteriak dalam


hati, bagaimana dia bisa melupakan hal sepenting itu.


***


“ Arandita.” Suara sekertaris Han


terdengar lirih namun menyayat. Dia tidak senang. Sedang menahan rasa tidak


sukanya ketika Aran mulai membicarakan privasinya. Apalagi menyangkut sesuatu


yang bahkan tuan mudanya tidak pernah ketahui. Ya, dia memang selalu


menghabiskan akhir pekannya terkadang dengan berolahraga. Setelahnya dia akan


berkeliling sambil berjalan kaki dengan jaket hoodienya, menghabiskan uang cash


yang ada di saku celananya kepada para pedagang kecil yang dia temui. Dia


selalu menyenbunyikan wajahnya, bahkan terkadang dia memakai masker wajah demi


menjaga diri dari bertemu orang yang mengenali. “ Ternyata kesalahan, aku


melepaskanmu beberapa tahun yang lalu ya. Seharusnya aku menghabisimu sampai kau


bahkan tidak bisa menegakan kepalamu.”


Han menyembunyikan itu dari semua


orang, bahkan dari tuan mudanya. Bagaimana bisa gadis di depannya ini. Cih, dia


kecolongan untuk kedua kalinya. Sebelumnya Han hanya menduga Aran membuntutinya


ketika dia muncul ke publik dengan menampakan identitas dirinya.


“ Maaf tuan.”


Aaaaaa. Aku membangunkan harimau


yang tertidur.


“ Apalagi yang kau tahu? Apa kau


tahu kode rumahku juga?” Pertanyaan mengagetkan. “ kenapa kau tidak masuk dan


menggodaku sekalian?” Cibiran halus yang terlihat jelas di bibir Han.


“ Tidak tuan!” menjawab cepat,


bisa masuk ke loby apartemen tuan.” Benar, kalau sampai Aran bicara dia bisa


masuk ke apartemen Han, para pekerja di apartemen malam ini pasti sudah


kehilangan pekerjaan mereka. “ Maafkan kesalahan saya di masa lalu tuan.”


Diam, baik Aran ataupun Han. Aran


meraih gelasnya, dia bahkan sudah tidak punya keinginan untuk melanjutkan makan


lagi. Walaupun jelas-jelas dia merasa lapar. Mendongak sekilas lalu kembali


mengalihkan pandangan, setelah beberapa saat masih membisu laki-laki di depannya.


“ Tuan Han.” Mau melanjutkan


permohonannya, karena sepertinya dia sudah terlanjur menjatuhkan diri ke


jurang. Kalaupun dia harus tamat di sini, paling tidak dia bisa meluapkan semua


pikirannya. Kata-kata yang sudah dia susun di kepalanya.


“ Han! Kamu di sini?” sebuah suara


keras terdengar, Membuat Aran langsung berhenti menutup mulutnya. Han menoleh


melihat siapa penggangu yang datang.


Cih, kenapa aku bertemu dengannya


di suasana seperti ini. Makinya melihat siapa yang baru saja memanggilnya.


Dokter Harun dengan wajah full senyumam yang tersebar di penjuru ruangan. Dia


menyuruh pelayan yang mengikutinya pergi.


“ Pergilah, katakan pada Brian aku


bicara dengan Han sebentar. Aku akan menemuinya nanti”


“ Baik tuan.” Pelayan wanita itu


menggangukan kepala. Lalu pergi, dia terlihat menuju tangga naik ke lantai


atas. Khusus staff.


“ Brian bilang kau reservasi makan


malam di sini. Mana Saga dan kakak ipar?”


Hah! Dasar pembuat masalah, sudah


tahu tuan muda benci sekali kalau anda memanggil nona kakak ipar tapi masih


saja ya.


“ Apa yang dokter jomblo lakukan di


akhir pekan begini? Percuma saja kalau tuan mendapat cap playboy tapi setiap


malam selalu berkeliaran sendiri.” Jawaban jengah Han. Di ikuti dengan suapan


ke mulut, tak acuh. Bahkan Han tak sudi melihat ke arah Harun.

__ADS_1


“ Kurang ajar! Di mana kakak


iparku?” Sengaja memanaskan suasana, pikirnya kalau Saga mendengarnya begitu


bisa saja botol minuman sudah melayang di kepalanya. Menjadi sinyal keberadaan


kakak ipar pikirnya.


“ Nona dan tuan muda pasti sedang


bersama menghabiskan malam di tempat tidur mereka.” Masih jawaban acuh yang


memanasi hati nurani.


“ Cih, lantas apa yang kau lakukan


di sini?” Kesal mendengar jawabab Han yang mengusik kejombloannya. Kenapa harus


menjawab menghabiskan malam di tempat tidur, membuatnya mengigit bibir geram.


Seharusnya jawab saja di rumah


kenapa? Membuat orang kesal saja.


“ Kencan!” Jawaban Han membuat


kilatan di mata dokter Harun. Hp ditangannya bahkan sampai jatuh membentur


lantai. Lalu matanya baru tertuju dengan seseorang yang duduk di hadapan Han.


Eh kenapa ada perempuan? Dia


benar-benar kencan? Si gila menakutkan ini!


Seperti tidak terima, Harun bahkan


tidak melihat ketika dia melangkahi hpnya yang ada di lantai. Dia mendekati


gadis yang sedang duduk itu. Meraih tangannya. Aran yang kebinggungan karena


sekali lagi melihat sisi Han yang banyak bicara, berusaha melepaskan tangan


yang di gengam laki-laki yang tidak dikenalinya.


“ Apa yang anda lakukan dokter?”


Han terlihat geram sambil melihat tangan Aran yang ada di gengaman Harun.


“ Diam! Aku sedang memeriksa denyut


nadinya.” Harun meletakan jemarinya di nadi Aran sambil memejamkan mata. “ Dia


hidup! Nona anda benar-benar makhluk hidup.” Menatap Han tidak terima. “ Apa


yang kau lakukan padanya sampai dia duduk di depanmu begini? Kalian benar-benar


berkencan?” Protes keras.


“ Lepaskan tangan anda dokter!”


Kata-kata Han bukan hanya membuat Harun merinding, Aran bahkan langsung menarik


tangannya cepat. Mendorong kursinya sedikit menjauh.


Siapa si dia?


“ Baiklah, baiklah aku hanya


memeriksa kondisinya saja. Ternyata dia benar-benar manusia hidup, denyut nadinya masih berdetak. " Aran mengeryit mendengar penjelasan Harun. " Jangan menatapku begitu, kau bisa mengiris nadiku


dengan pandanganmu itu. Hahaha.” Han tidak bergeming. Membuat Harun mengalihkan


fokus pada wanita di sebelahnya. Dia sudah menarik kursi duduk. Walaupun


terlihat Han sama sekali tidak menyukainya.“ Nona, apa kamu tahu siapa dia?”


menunjuk Han, benar-benar seperti tidak terima bagaimana mungkin Han bisa


kencan dengan karakternya seperti itu.


Aku yang baik hati, murah senyum


dan kepala rumah sakit saja masih jomblo. Orangtua Harun saja yang mencintainya


sampai lelah menjodohkannya dan  mulai


angkat tangan. Pasrah.


Aran melihat Han lalu menggangukan


kepala.


“ Kau tahu siapa dia?” berteriak,


sambil menunjuk wajah Han dengan pisau yang tadi di pakai Aran.


“ ia.” Aran menjawab sambil


pelan-pelan meraih pisau.


Dia ini kenapa si, pakai


menunjuk-nunjuk dengan pisau segala?


“ Siapa dia memang?” Harun


melepaskan pisau ditangannya.


“ Tuan Han.” Jawab Aran, yang


melirik tangan Han.


Kenapa sekarang dia yang menggengam


pisau geram begitu. Mereka bukan musuh bebuyutankan?


“ Cih, bukan itu. Bukan namanya?


Tapi kau tahu siapa dia? Si gila menakutkan yang sedang duduk di depanmu itu.”


Han tidak bereaksi mendengar kata-kata Harun. Dia hanya menatap Aran dengan


tatapan tajam seperti biasa.


“ Dia, sekertaris Han. Sekertaris


tuan Saga, presdir Antarna Group.” Jawab Aran sambil tersenyum.


Apa dia tahu? Siapa perempuan ini sebenarnya?


Senyum tipis kemenangan di wajah Han semakin


membuat Harun tidak terima.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2