Terpaksa Menikahi Tuan Muda

Terpaksa Menikahi Tuan Muda
Aran (Part 1)


__ADS_3

Ternyata agenda bulan madu yang


sudah di susun Han benar-benar terealisasi dengan baik. Persen-persenan yang dibuat seenaknya oleh Saga. Karena kejadian kemarin,


hari ini tuan Saga memutuskan tidak ada kegiatan di luar rumah. Dia hanya ingin


menghabiskan hari di dalam kamar. Apa yang akan mereka lakukan?


Terserah! Aku tidak perduli apa


yang akan nona dan tuan muda lakukan di dalam kamar?


Menjawab gusar pertanyaan yang


muncul di kepalanya sendiri. Laptop di depannya sudah menyala. Di layar sudah


tampak beberapa orang sedang duduk untuk memberikan laporan pekerjaan. Ada


beberapa proyek baru yang terealisasi dalam minggu ini. Han meminta laporan


detailnya. Karena berhubung hari ini tidak ada kegiatan apapun di luar ruangan.


Dia sedang memeriksa hpnya, orang-orang di dalam layar menunggu. Sambil


merapikan penampilan mereka.


“ Kita mulai rapatnya.” Han


mendonggak dan meletakan benda kecil di tangannya. Semua orang langsung sigap


menyentuh berkas laporan di depan mereka.  Bergiliran menyampaikan laporan. Han mengoreksi banyak hal. Sangat


mendetail. Dia memang sangat perfeksionis jika berhubungan dengan data laporan.


Kurang sedikit saja, dia akan meminta semua menganti laporan kerja dalam


hitungan jam. “Aku akan mengirim Leela besok. Berikan semua berkas yang di


perlukan.”


“ Baik tuan.”


Rapat masih berlangsung saat Arandita


mendekat. Gadis itu tidak melihat layar laptop di depan sekertaris Han. Dia


hanya melihat laki-laki itu sedang duduk diam sambil melihat layar hp. Dia


ingin mengendap-endap dan mengagetkan sekertaris Han.


Kau mau mati!


“ Tuan Han, apa nona belum keluar


kamar?” Memilih langsung bertanya dengan suara keras tanpa menyapa terlebih


dahulu.


Han menoleh dari pekerjaannya,


menatap Aran tanpa ekspresi. Membuat yang di tatap mundur beberapa langkah.


Apa-apa salahku? Bulu kudunya


merinding. Lalu menangkap gerakan di layar laptop.


“ Maaf, saya tidak melihat tuan


sedang bekerja. Tadi saya pikir tuan sedang melamun.” Menaundukan kepalanya


sampai punggungnya lurus. “ Maafkan saya tuan.”


Habislah aku. Aran belum mengangkat


kepalanya.


“ Pergi!”


“ Baik tuan. Saya pergi. Maafkan


saya”


Bergerak cepat memutar tubuh. Lalu


mengambil langkah seribu. Ingin segera lenyap dari hadapan sekertaris Han.


Sepanjang keluar Aran mengutuki kelakuannya.


Mengerikan sekali, akukan tidak


sengaja mengintip tadi. Dia sedang rapat dengan siapa ya?


Penasaran mengelitik, tapi karena


masih sayang pada nyawanya dia memilih keluar Vila dan berjalan ke pantai.


Melihat pemandangan aneh yang selama beberapa hari ini tidak dilihatnya para


pelayan dan tim keamanan Antarna Group sedang asik bermain di pantai, dengan


memakai semua fasilitas vila sesuka mereka.


Kenapa mereka santai sekali?


“ Pak Mun!” Aran berteriak ketika

__ADS_1


melihat punggung Pak Mun dari kejauhan, laki-laki itu berjalan ntah mau kemana.


Dia berhenti berdiri diam menunggu, menunggu Aran mendekat. Setelah gadis itu


ada di depannya dia langsung bertanya.


“ Apa luka di tanganmu sudah


sembuh?” Menunjuk siku tangan Aran yang masih terbalut perban. “Kemarin nona


muda berpesan kalau kau membutuhkan sesuatu katakan saja.” Aran tersenyum


sambil meraba sikunya.


Nona memang baik sekali, aku


benar-benar mengidolakannya.


“ Sudah membaik pak terimakasih.


Maaf pak apa boleh saya bertanya?” fokus pada tujuannya memanggil pak Mun.


“ Katakan?”


Pak Mun ini walaupun jauh lebih


ramah dari sekertaris Han tapi kalau bicara sama-sama tho the poin tidak ada


basa basinya. Wajahnya juga sama-sama pelit ekspresi.


“ Kenapa semua orang terlihat


santai hari ini pak. Para pelayan dan tim keamanan  saya lihat pada bermain di laut?” mereka


bahkan bisa mengunakan semua fasilitas permainan dengan bebas seprti rumah


mereka sendiri. Tidak, seperti mereka yang membayar tagihan saja.


“ Apa kau tidur saat apel pagi tadi?”


Duarrr, Aran lupa siapa orang yang ada di depannya. Kepala pelayan rumah utama.


Menyesal kenapa dia berteriak memanggil pak Mun tadi. Mau berbalik dan


menundukan kepala saja rasanya. Tapi dia sudah jatuh tertangkap sekarang.


Aku ngapain saat apel pagi tadi?


Aku berdiri di ujung barisan dan setengah terjaga dan setegah bermimpi. Memang


apa yang aku lewatkan di apel pagi tadi!


Wajah panik Aran sudah tidak bisa


di tutupi. Pak Mun bisa melihatnya dengan sangat jelas.


mengulanginya lagi.” Lagi-lagi menundukan kepalanya pasrah. Buku setebal


skripsinya waktu kuliah dulu yang berisi peraturan rumah utama sudah dia


terima. Sudah dia baca, tapi dia suka lupa mengaplikasikannya dalam kehidupan


sehari-hari.


“ ini peringatan pertamamu. Saat


bekerja, bekerjalah dengan baik. Karena kau sudah mendapatkan waktu istirahat dan


gaji yang jauh lebih besar dari dimanapun kau bekerja. Jangan membuat kesalahan


apapun seperti pagi ini. Baca buku peraturanmu lagi!”


Seseorang yang selalu menjaga


segala sesuatu berjalan ddengan sempurna untuk urusan rumah tangga rumah utama.


“ Baik pak Mun, maafkan saya.”


Mengangukan kepala dalam.


“ Hari ini hari bebas, tuan muda


dan nona akan menghabiskan waktu di dalam kamar jadi kalian bisa menikmati


liburan sepuas kalian hari ini. Tapi aku sarankan, jangan meninggalkan


lingkungan vila.”


Aran masih bengong mencerna


penjelasan pak Mun, sementara laki-laki tu sudah pergi tidak menunggu. Meninggalkannya


yang diam mematung.


Hah! Seharian menghabiskan waktu di


dalam kamar. Mereka mau melakukan apa?


Daripada pusing memikirkan apa yang


dilakukan nona dan tuan Saga, Aran memilih bergabung menuju pantai. Tapi dia


hanya duduk-duduk di pinggir pantai. Dia belum akrab dengan siapapun di rumah


utama. Pak Mun memberinya kamar kosong di rumah belakang. Karena para pelayan

__ADS_1


sudah memiliki teman sekamar mereka masing-masing. Dia hanya sudah memberi


salam perkenalan diri waktu pertama kali datang. Tapi wajah-wajah para pelayan


lain juga belum benar-benar tersimpan dalam ingatannya. Tapi percayalah lingkungan kerja di rumah belakang milik tuan muda sangat nyaman. Tidak ada yang bersaing menjadi orang yang sok hebat. Semua bekerja menyelesaikan pekerjaan mereka masing-masing dengan baik. Menutup mulut mereka rapat untuk urusan keluarga tuan Saga.  Hingga Aran merasa bisa menyesuaikan diri dengan mudah di rumah belakang, walaupun dia termasuk anak bawang di sana.


Dua orang wanita terlihat mendekati


Aran dari arah bibir pantai. Pakaian dan tubuh mereka sudah basah.


“ Aran!”


“ Ia.” Mereka menyapa duluan.


“ Apa mau bergabung bersama kami.


Kita mau main banana boat.” Menunjuk area bermain air.


“ Aaaa, aku ingin sekali. Tapi luka


jahitanku belum kering.” Mereka terlihat terkejut.


Aaaaa, mati aku! Mulutku keceplosan.


Merekakan tidak tahu apa-apa mengenai kejadian kemarin. Akan runyam kalau


mereka bertanya.


“ Baiklah kalau begitu. Istirahatlah,


kami ke sana dulu ya.”


“ Ia.”


Eh mereka tidak bertanya. Terlalu banyak mencari tahu itu bisa memperpendek umurmu. Kenapa kata-kata itu terngiang-ngiang ya. Apa sekertaris Han memakai kata-kata itu benar-benar pada semua orang?


Karena merasa bosan hanya bisa


melihat orang lain bersenang-senang akhirnya Aran membawa langkah kakinya masuk


ke area vila. Iri ketika menolehkan kepala lagi. Tapi lukanya benar-benar belum


kering. Dia mandi bahkan harus membungkus sikunya agar tidak terkena air tadi.


Kenapa aku harus terluka di waktu


seperti ini si. Padahal sudah lama sekali aku tidak pergi berlibur. Bahkan


kapan ya terakhir kali aku mandi air laut. Aaaa sudah lama sekali. Bahkan saat


bekerja dulu di stasiun tv aku tidak punya waktu berleha-leha.


***


Termenung menatap langit-langit


kamar. Lalu bergegas beranjak. Mengeluarkan laptop dari tas di bawah tempat


tidurnya. Serta Hp pribadinya.


Seharusnya aku menulis saja


sekarang! Bodohnya aku.


Semua peralatan tempur sudah


menyala. Senjata menulis, laptop yang sudah cukup umur. Hp miliknya sendiri,


berkedip-kedip layarnya menandakan beberapa pesan masuk. Baru saja semua benda


itu menyala ketukan keras di pintu kamarnya. Aran menoleh kesal.


Siapa si, tidak tahu hati sudah


semangat bergejolak malah ada gangguan lagi.


Gedoran semakin keras.


“ Ia sebentar!”


Berlari menuju pintu, bahkan


melompati kursi. Untung saja tidak terjungkal. Dia lebih ingin terjungkal saat


melihat siapa yang sedang berdiri di depan pintu. Harimau gila.


“ Tuan kenapa?” Bertanya cepat.


“ Kemana saja kau?” Masuk tanpa


permisi ke dalam kamar Aran.


“ Katanya hari ini hari bebas, saya


mau menulis.” Mundur seirama dengan langkah kaki Han memasuki kamarnya.


Laki-laki itu melihat keatas meja. Lalu berjalan mendekat. Aran terperanjak


kaget langsung berlari menabrak tubuh Han.


“ Kau mau mati ya?”


“ Maaf tuan.” Tangannya bergerak


cepat menutup layar laptopnya. Terlambat, mata tajam Han sudah melihat apa yang

__ADS_1


coba di sembunyikan Aran.


Bersambung....


__ADS_2