Terpaksa Menikahi Tuan Muda

Terpaksa Menikahi Tuan Muda
Masa SMU (Part 1)


__ADS_3

Saat itu adalah masa remaja. Dunia


yang menyenangkan. Siklus kehidupan yang konon katanya paling membahagiakan.


Masa apa itu? Jawabannya adalah masa SMU. Saat kalian tidak perlu pusing tentang kehidupan,


selain PR, bangun pagi, guru killer dan upacara bendera dengan kewajiban


memakai atribut lengkap. Hari-hari adalah tentang sekolah, rumah dan


menghabiskan waktu dengan hobi masing-masing. Ngemil kuaci ramai-ramai sambil


membahas seisi kelas. Dari yang asik sampai orang-orang normalnya.  Bisa juga ngedrama ramai-ramai di kamar salah


satu teman yang dirasa paling kaya, karena biasanya kamarnya besar dan punya


stok camilan.


Seperti  itu pula Daniah menjalani masa remajanya.


Berteman dengan ceria dengan semua orang. Dia selalu menyimpan wajah murung


ketika  melewati pintu gerbang rumahnya.


Setelah melewati gerbang sekolah wajahnya selalu full ceria dan senyuman.


Di SMU dia sudah mulai belajar,


bahwa apapun yang dia lakukan akan dipandang sebelah mata oleh ayah dan ibunya.


Hingga dia tidak pernah berharap lebih. Semenjak SMU Daniah mulai belajar untuk


mengatur setiap rupiah uang jajannya. Diapun tidak malu mulai belajar menjual


aksesoris ataupun binder-binder dengan gambar lucu-lucu. Begitulah dia


menjalani masa SMU.


Masa kalian mulai menata mimpi dan


merencanakan impian kalian. Ada banyak rencana hidup yang di tulis Daniah di


catatan hariannya. Muaranya hanya satu, hidup mandiri. Dia bahkan mulai


menabung sedikit demi sedikit untuk biaya kuliahnya. Sedari awal ibu tirinya


sudah bicara. Jangan bermimpi tentang biaya kuliah dari kami. Kalau kau mau


kuliah carilah uang sendiri. Kami mempersiapkan semuanya untuk adik-adikmu.


Hingga tak mungkin bermimpi lebih jauh lagi, kalau mengandalkan orangtuanya. Walaupun ayahnya masih membisu dan belum mengambil keputusan apa-apa. Karena kalau hanya kuliah di dalam negri untuk membiayai tiga orang Daniah merasa keluarganya masih sangatlah mampu dari segi finansial. Tapi karena ibu tirinya, dia jadi tidak pernah berharap lebih.


Baiklah Daniah, hidup memang harus


bekerja keraskan. Jangan pernah menoleh kebelakang lagi. Tegakan kepalamu dan


semangatlah. Walaupun ibu tidak mau membiayai kuliahmu, kau masih bisa mencari


uang dan mengejar mimpimu sendiri. Begitulah dia siang dan malam menyemangati


dirinya.


Bekerja di perusahaan besar, dengan


gaji tiga kali lipat yang bisa di berikan perusahaan ayahnya. Ini akan menjadi


modal awalnya untuk hidup. Tidak pernah berharap sedikitpun untuk masuk ke


perusahaan ayahnya.


Pagi itu dia kembali melewati pintu


gerbang sekolah dengan ceria. Tepat berpapasan dengan teman dekatnya Ve yang baru


turun dari mobil bersama ayahnya yang mengantar. Ve mencium tangan ayahnya sebelum keluar dari mobil. Masih melambaikan tangan seperti anak SD yang diantar sekolah orangtuanya.


Manisnya mereka.


“ Niah! Kemari! Tapi jangan kaget


ya.” Sahabatnya langsung melingkarkaan tangan di lengan Daniah mendekatkan


mulutnya ke telinga Daniah. Membuat gadis itu merinding geli.


“ Jangan sembarangan.” Mendorong


wajah temannya menjauh.


“ Sumpah! Ini info valid dari sumber


yang bisa di percaya. Niah, diakan berandalan sekolah. Guru-guru saja menutup


mata dengan semua kelakuannya bagaimana ini?” Dia panik sendiri, sambil


mempercepat langkah karena bell masuk sudah berdentang. Anak-anak yang lain


berlari, beradu cepat dengan penjaga sekolah yang mulai berjalan ke gerbang.


Kalau dia sudah menutup gerbang, tamatlah riwayat.


Hei, sembarangan juga ada tempatnya


donk. Kenapa juga aku jadi target cintanya yang berikutnya. Memang apa yang


dilihatnya dariku.


“ Memang sudah tidak ada murid


wanita populer di sekolah ini yang mengejarnya sampai dia mengalihkan sasaran


sama aku. Sudahlah Ve, jangan banyak bergosip sepulang sekolah. Pulang dan kerjakan PR mu, kamu banyak bergosip siang-siang setelah aku pulang ya?” Daniah masih


berfikir itu hanya gosip tidak penting. Mana mungkin berandalan sekolah


(versinya dan kawan-kawannya), atau pangeran sekolah versi siswa-siswa lainya


menargetkan orang sepertinya.


“ Beneran Niah. Anak-anak dengar


dia bicara tentangmu. Dia sudah membuat pengumuman kalau kamu pacarnya.”


Gila apa! bicara denganku empat


mata saja tidak pernah. Pacaran dari mana.


“ Sudahlah. Lagipula apa si yang

__ADS_1


dia liat dari aku.” Sudah sampai di kelas dan duduk. Teman Daniah langsung


menyentuh bahu dan memutar tubuh Daniah menghadapnya. Dia terlihat berfikir


keras sambil mulutnya manyun.


“ Kamu kan manis. Apalagi rambutmu.


Haha.” Tawanya mengandung sarkas.


“ Mau mati ya?” sambil mengepalkan


tangan tepat di depan wajah sahabatnya.


“ Haha, tidak ampun. Tapi rambutmu


memang lucu si. Coba lihat.” Gulung-gulung, dia sudah mengulung rambut Daniah


di jarinya dengan tertawa.


Ya, ya terserah. Lakukan sesukamu.


Guru yang masuk menyelamatkan


rambut Daniah.


***


“ Daniah! Kak Haksan memanggilmu”


Daniah langsung menjatuhkan sendok di tangannya. “ Pergilah temui dia di tempat


dia biasanya berkumpul bersama para pengikutnya.”


“ Jangan bercanda.”


Sipengantar pesan loncat-loncat


sambil mencengkram tangannya sendiri. Panik. “Ku mohon, dia pasti memukulku


kalau kamu tidak pergi.”


“ Niah, jangan pergi.” Ve di


sampingnya menarik tangannya kuat. “ Benarkan yang aku bilang, kamu target


selanjutnya.”


Wajah Daniah terlihat serius. Dia


menatap si pengantar pesan dan teman baiknya  Ve bergantian. “Tapi dia bisa kenapa-kenapa


kalau aku tidak datang. Sudahlah, jangan kuatir. Aku juga penasaran maunya apa.”


“ Niah, terimakasih ya. Kamu memang


malaikatku.” Si pengantar pesan  Refleks


memeluk Daniah.


“ Ia, ia sudah. Kenapa kamu juga


bisa jadi pengantar pesan si.”


“ Katanya karena aku temanmu.”


Sial! Dia benar-benar tau


Setelah menghabiskan makan siang


Daniah pergi menuju tempat yang di sebutkan. Sengaja menuju waktu sebelum bell


istirahat berakhir. Dia akan memakai tanda itu untuk kabur, jika suasana mulai


tidak bisa dikondisikan. Ve yang memaksa mengikutinya dia cegah. Mengantisipasi kemungkinan terburuk yang bisa terjadi.


Dia Haksan. Pangeran sekolah sekaligus berandalan sekolah. Dia siswa dari orang terkaya satu sekolah. Siapapun tahu, kalau ayahnya adalah penyokong dana terbesar di sekolah. Dia berkencan dengan siapapun yang dia sukai. Parahnya para siswa setuju saja saat dia mengumumkan siapa nama pacarnya. Tanpa protes, karena dengan menjadi pacarnya mereka bisa mendapat fasilitas premium yang diimpikan semua wanita.


Dan kenapa harus aku! memang dia pernah melihatku dimana si? Dia mau apa!


Daniah melihat segerombolan siswa


sedang duduk mengelilingi Haksan. Tidak tahu apa yang dia ceritakan, tapi semua


tertawa kalau laki-laki itu tertawa. Saat dia diam semua juga diam mendengarkan


dengan khidmat. Ada siswa laki-laki dan perempuan. Semua yang ada di


sekelilingnya adalah siswa populer. Daniah nyaris bisa menyebutkan setiap


nama-nama mereka saking terkenalnya mereka di kalangan para siswa.


Haksan langsung berdiri saat


melihat Daniah mendekat.


“ Kau sudah datang? Duduklah, aku


sudah menunggumu.” Tidak canggung sama sekali. Dia benar-benar pro dalam hal


beginian rupanya.


Hei, apa yang kau lakukan


berandalan gila.


Haksan menarik tangan Daniah,


orang-orang yang tadi mengelilinginya juga menyingkir memberi jalan.


“ Kenapa lama sekali?” keduanya


sudah duduk. Sementara Daniah masih binggung, dan yang lain melihatnya seperti


tontonan penuh kekaguman. Ntahlah apa isi kepala mereka. Mungkin mencela atau


kagum. Bagaimana orang sepertinya bisa terpilih menjadi target cinta pangeran


sekolah.


“ Maaf, aku menghabiskan makan


siangku dulu tadi.”


Yang lain langsung tertawa


mendengar jawaban Daniah.

__ADS_1


Kenapa si? Kalian gila ya, kenapa


kalian tertawa hanya karena laki-laki ini tertawa.


“ Maaf kak, bisa kita bicara berdua


saja.”


“ Aaa, baiklah kau malu ya.” Haksan


mengusir semua orang. Dan mereka semua benar-benar pergi. “ Kau akan terbiasa


dengan mereka nanti.”


Hei tunggu, tuan muda, aku tahu kau


seenaknya. Tapi kau sudah menyimpulkan apa sebenarnya. Kalau aku wanitamu.


“ Maaf kak, kenapa kenapa memanggil


saya kemari?”


Dan sejak kapan kita saling


menyapa, kenapa kamu sudah sok kenal, sok dekat dan sok akrab begini. Sudah


berasa aku ini pacarmu saja.


“ Aku sudah memproklamirkan kalau


kamu sekarang sudah jadi pacarku ke seisi sekolah.”


Hah! Gila ya!


“ Maaf kak, sepertinya aku tidak


pernah menyetujui apapun.”


Haksan terlihat terkejut dengan


kata-kata Daniah. Lalu dia tertawa setelahnya. “ Memang aku perlu persetujuanmu


kalau kita mau pacaran.”


Hah!


“ Biasanya siapapun yang aku tunjuk


sebagai pacarku mereka selalu senang dan tidak pernah prostes. Mereka malah


sangat bersyukur.”


“ Kalau begitu pilih saja salah


satu dari mereka.” Daniah mencengkram tangannya, berdoa laki-laki di depannya


tidak tersinggung dengan ucapannya.


“ Apa!”


Tepat bell berbunyi. Perhitungan


Daniah memang tepat. Dia bisa selamat.


“ Maaf kak sudah bell, saya harus


masuk.” Kaki Daniah yang mau melangkah sudah tertahan. Karena kaki panjang


Haksan terulur di depannya.


“ Memang siapa yang mengizinkanmu


pergi?” Mendongak kepala, senyum di wajahnya sudah sirna.


“ Sudah bell kak.”


“ Aku akan mengantarmu ke kelas,


tidak akan ada yang berkomentar walaupun kau terlambat masuk kelas sekalipun.”


Menarik tangan Daniah untuk duduk kembali. “ Kenapa? Kau menolak jadi pacarku.”


“ Ia.” Jawaban tegas Daniah yang


membuat dirinya sendiri terkejut. “ Maaf kak, aku sudah punya pacar.”


“ Hahaha.” Haksan tertawa keras


mendengar perkataan Daniah. “ Hei Niah, kau tidak bisa mencari alasan yang


lebih masuk akal.”


Apa! memang kau tau kalau aku


membual.


“ Sepulang sekolah kau bahkan kerja


paruh waktu. Di akhir pekan juga, kau sedang mengumpulkan uang untuk kuliahkan?


Lalu kapan kau pergi pacaran, apa dengan salah satu teman kerjamu.”


Bagaimana kau tau?’


“ Tentu saja aku tahu. Itu namanya


totalitas dalam mencintai.” Langsung menjawab seperti tahu arti dahi berkerut


Daniah.


Totalitas dalam mencintai kepalamu.


Itu stalker namanya, penguntit gila, itu tindakan kriminal tahu!


“ Maaf kak sepertinya kak Haksan


salah informasi. Aku masih punya keluarga yang bisa membiayai ku kuliah kenapa


aku harus susah-susah mengumpulkan uang.” Berkelit dan mencari alasan senormal mungkin.


“ Benarkah, apa ibu tirimu juga


berpendapat demikian.”


Daniah langsung membeku.


Bagaimana dia tahu. Dia benar-benar

__ADS_1


penguntit gila.


bersambung


__ADS_2