Terpaksa Menikahi Tuan Muda

Terpaksa Menikahi Tuan Muda
117. Menggeledah Toko


__ADS_3

Di dalam kamar setelah kepergian Saga yang penuh drama. Daniah menghela nafas panjang. Menarik selimutnya lagi. Dia mengambil bantal meletakan di balik punggungnya untuk bersandar. Dia penasaran ada apa dengan peresmian Danau Hijau. Dia memang tidak menonton sampai selesai, karena dia sudah tahu akhir apa yang akan dia lihat. Dan dia tidak punya keberanian untuk melihat tontonan yang akan dilakukan Saga untuk Helen. Dia pun tidak bertanya pada Jen atau Sofi, sepanjang makan malam kemarin dia memang hanya membisu. Kedua adik iparnya tidak berani bertanya, apalagi ada Pak Mun di dekat mereka.


“Apa ini? Jadi dia tidak melamar Helen di peresmian kemarin?” Daniah gemetar menjatuhkan hp yang dia pegang. “Dia tidak menyebut Helen sama sekali dalam pidatonya, tidak mengajaknya juga naik podium. Dia malah bilang mau mengajakku melihat matahari terbit terbit Danau Hijau.” Dalam siaran live di tv nasional. Daniah tidak bisa mempercayai ini, walaupun namanya tidak disebut tapi jelas dia mengatakan istriku, begitu kan.


Jadi itu artinya aku kan? Jadi ini artinya apa? Apa dia benar-benar suka padaku.


Hei? Tidak mungkin kan.


Tuan Saga menyukaiku, Hei?


Ketukan pintu membuat Daniah terkejut dengan pikirannya sendiri. Disatu sisi dia merasa senang. Namun di lain pihak dia merasa takut jika ternyata dia mengambil kesimpulan yang salah. Menyalahartikan perasaan Saga. Dia menarik selimutnya. Menjawab  suara wanita yang meminta izin untuk masuk.


“Selamat pagi Nona, saya membawa sarapan Anda.” Maya muncul membawa nampan berisi sarapan pagi Daniah. Gadis itu panik melihat penampilannya saat ini. Dia menarik selimutnya sampai ke leher. Takut Maya melihat sesuatu yang seharusnya tidak dia tunjukan. Stempel kepemilikan milik Tuan Saga gila itu.


“Maya, masuklah!” Daniah merasa senang melihat siapa yang datang. “Maya,  apa Tuan Saga sudah pergi?”


Maya mendekat ke tempat tidur. Meletakan sarapan di pojok tempat tidur. Dia memandang Daniah yang sibuk menyembunyikan dirinya di bawah selimut.


“Ia Nona tuan muda sudah berangkat.”


“Baguslah, bisa bisa tolong ambilkan pakaianku di kamar. Aku tidak mungkin lari keluar kamar tanpa pakaian, senang kamu datang.”


“Saya ambilkan jubah mandi saja apa Nona mau? Anda sarapan dulu sebelum kembali ke kamar.”


“Ah ia jubah mandi, kenapa aku tidak kepikiran tadi. Baiklah, maaf merepotkan Maya.”


“Tidak apa-apa Nona, ini sudah tanggung jawab saya.”


Maya masuk ke dalam kamar mandi mengambil apa yang ia sebutkan, Daniah memintanya memalingkan wajah agar bisa memakai jubah mandinya. Setelah selesai dia membawa nampan duduk ke sofa.


“Terimakasih Maya, duduklah, kamu sudah sarapan?” Mengambil jus dalam gelas. “Makanlah, kita bagi dua. Hehe.”


“Terimakasih Nona, saya sudah sarapan tadi. Silahkan nikmati dengan nyaman.”


“Kenapa Maya di sini?” Mengunyah cepat, dia sudah lapar dari tadi sebenarnya. “Tapi aku suka Maya di sini. hehe.” Hari-hari berat terkurung dalam rumah segera dimulai.


Masa percobaan hukuman, kalau kau lolos dalam masa percobaan ini tanpa melanggar satu pun kata-kataku, aku akan membiarkan kau beraktifitas normal seperti biasanya. Kau sudah sangat membuatku kecewa, aku harap kau bisa introspeksi diri selama aku melarangmu keluar rumah. Paham!


Daniah mengunyah sambil tersenyum kejut mengingat ultimatum Saga semalam. Tapi dia benar-benar bernafas lega semua bisa dia lewati, dan dia ataupun keluarganya masih selamat.


Tapi, kenapa aku harus membayar hutang sebanyak pil yang aku telan. Itu kan menggelikan sekali. Aku bahkan tidak mau mengingat-ingat.


Malu dan kesal bercampur aduk jadi satu.


“Anda tidak apa-apa Nona?”


“Eh Maya, maaf aku sedang tengelam dalam pikiranku sendiri.” Tersadar ada seseorang di sampingnya. “Oh ya kenapa Maya bisa di sini. Apa dipindah tugas?”


“Benar Nona, Pak Mun bilang, tuan muda meminta saya menemani Anda selama Anda ada di rumah. Karena Anda kurang sehat jadi beberapa hari ini tuan muda katanya melarang Anda ke luar rumah.”

__ADS_1


Haha, jadi itu situasi yang tersebar di rumah ini. Terserahlah, jauh lebih baik dari pada aku ketahuan minum pil kontrasepsi dan di kurung di dalam rumah kan.


“Terimakasih ya Maya, kamu penyelamatku.”


Perbincangan mereka semakin seru saja. Maya memposisikan dirinya sebagai teman yang tanpa canggung menimpali perkataan Daniah.


Semoga aku tidak melakukan kesalahan apa pun, aku tidak mau mengkhianati Nona Daniah. Tapi aku juga takut membuat Tuan Saga kecewa.


Maya hanya berharap hubungan Tuan Saga dan Daniah akan selayaknya hubungan normal dua manusia yang saling mencintai.


...***...


Gedung Antarna Group beraktivitas dengan sibuk. Lalu lalang orang bergegas. Semua orang bekerja dengan tekun, menyelesaikan tugas mereka masing-masing. Membayar apa yang sudah mereka terima dari Antarna Group setiap bulannya.


Pintu lift khusus presdir tertutup.


“Di mana Leela? apa yang di kerjakannya sekarang.” Lift yang mereka masuki sudah naik menuju lantai tertinggi Antarna Group.


“Karena nona Daniah tidak akan keluar  rumah beberapa hari saya berniat mengirimnya ke luar kota, ada beberapa masalah terkait manajer operasional perusaahan transportasi. Saya akan mengirimnya hari ini.” Han sudah memberi perintah pada Leela, dia sekarang pasti sudah menuju bandara.


“Jangan, kirim yang lain saja. Katakan padanya untuk bersiap nanti. “


“Anda mau ke mana Tuan Muda?”


Apalagi ini, jangan membuat agenda kacau mendadak begini.


“Kenapa?” Heran, Han tahu jelas-jelas Nona Daniah sedang dalam masa percobaan tahanan rumah. Dia bahkan tidak diizinkan pergi ke rumah belakang sekalipun kan. Tidak boleh selangkah pun keluar dari pintu rumah utama.


“Aaa, dia sedang di hukum tidak boleh keluar rumah kan, kalau dia makan siang sendirian pasti dia akan kesepian. Aku akan menyuruhnya ke kantor dan menemaniku makan siang. Siapkan semuanya nanti.”


Apa! lantas apa perlunya Anda menghukumnya kalau begitu. Bebaskan saja dia dari hukuman.


“Kenapa? Apa kau sedang berfikir aku aneh.” Tertawa, karena melihat Han mengernyit.


Han menganggukkan kepala.


“Makanya jatuh cinta dan temui wanitamu sendiri sana.”


Han menyeringai dan angkat bahu mendengar perkataan Saga. Tepat pintu lift terbuka, dia keluar di susul Saga.


“Han, aku akan membebaskanmu dari sumpahmu.” Ucapan Saga terhenti saat Han berhenti dan berbalik menatapnya.


“Saya akan melakukannya nanti, setelah memastikan Anda hidup dengan bahagia Tuan Muda. Sekarang jangan khawatir kan saya.” Han mempersilahkan Saga memasuki ruangannya.


Cukup selesaikan laporan hari ini, saya sudah senang.


Saga menepuk bahu kanan Han. "Terimakasih." katanya lirih.


Han masuk ke dalam ruangannya sendiri setelah memastikan Saga duduk di mejanya. Dan mulai bekerja dengan dokumen-dokumen yang harus ditandatangani. Dia mengambil hpnya.

__ADS_1


“Kau sudah naik pesawat?” Diam mendengarkan. “Baguslah, kembalilah. Hari ini tugasmu hanya menjemput nona dan.membawanya ke kantor saat makan siang.” Diam mendengarkan. "Jangan bertanya apa pun, lakukan saja."


Semoga semua hal berjalan baik hari ini.


Selang tidak lama setelah membereskan tumpukan kertas di depannya, menelepon beberapa orang, dan memberikan instruksi kepada semua staf sekretarisnya Han meninggalkan gedung Antarna Group. Sekretaris Han datang bersama beberapa pengawal ke ruko milik Daniah. Dia menjelaskan sekenanya bahwa dia harus melakukan pemeriksaan sebentar di dalam ruko. Semua karyawan diminta keluar. Mereka menunggu dengan panik dan gelisah. Tika menghubungi Daniah ada apa sebenarnya. Kenapa sekretaris Tuan Saga muncul tiba-tiba dan menggeledah toko. Daniah menenangkan kalau tidak ada apa-apa. Dan mengatakan biarkan saja dia melakukan apa yang dia suka.


“Biarkan saja Tika, ahh, aku tidak bisa menjelaskan alasannya sekarang. Tapi biarkan saja dia melakukan apa yang dia inginkan. Jangan protes, jangan menjawab kata-katanya.  Jangan bertanya apa pun padanya. Oke.” Dia orang menakutkan Tika jangan mengusiknya. Daniah yakin Sekretaris Han sedang mencari pil kontrasepsi, takut kalau dia menyembunyikannya di kantor.


Cih, orang itu sungguh hati-hati. Kalaupun aku seberani itu aku kan masih bisa beli di apotik. tunggu, dia tidak akan iseng mencari tahu di mana aku membeli pil itu kan.


Tika walaupun sudah mendengar dari Daniah tapi tetap saja merasa tidak tenang. Dia menatap ruko. Tidak ada suara apa pun dari dalam seperti jatuhnya rak atau pecahnya sesuatu. Tika berharap mereka menggeledah tanpa memporak porandakan isi toko. Tidak seperti di drama-drama kan kalau orang sedang mencari sesuatu pasti asal banting-banting.


Sekretaris Han muncul bersama pengawal yang membawa kotak dan juga sebuah pigura foto besar.


Bukannya itu foto ibu Mbak Niah


“Maaf Tuan itu foto ibu Mbak Niah kan, Kenapa Anda membawanya?” Tika mendekat, menunjuk foto yang dipegang salah satu pengawal di belakang Sekretaris Han.


“Terimakasih Nona atas kerja samanya, silahkan kembali bekerja. Maaf sudah mengganggu kenyamanan Anda.” Tidak menjawab kebingungan Tika.


“Ah ia. Tapi maaf Tuan, bukankah seharusnya Anda menjawab kalau ada seseorang bertanya.”


Hei Tika, apa yang kau lakukan. Kau lupa pesan Daniah tadi jangan protes dan menanyakan apa pun. Di hadapanmu ini bukan manusia sembarangan yang bisa kau tanyai seenaknya. Salah sedikit habis hidupmu nanti.


“Maaf.” Han memberi instruksi dengan tangannya agar para pengawal di belakangnya  pergi. Mereka terlihat meletakan barang-barang yang mereka ambil di dalam ruko ke dalam mobil milik Sekretaris Han. “Sepertinya saya sampai harus mengatakan ini kepada Anda ya.” Menatap lurus Tika, tapi Tika tak kalah gentar dia juga menatap Sekretaris Han. “Jangan ikut campur apa pun tentang Nona Daniah jika itu melibatkan Tuan Saga.”


“Apa!” Tapi Tika mundur ke belakang, karena merasa cara bicara Sekretaris Han berbeda dari yang dia dengar tadi. Atau yang pernah ia ingat sebelumnya. “Baik maafkan saya sudah lancang pada Anda Tuan.” Menyembunyikan kecemasannya. Walaupun tetap tidak bisa menyembunyikan apa pun. Han tahu gadis di depannya sudah merasa takut. “Tapi, Mbak Niah baik-baik saja kan?” Memberanikan diri bertanya.


“Tentu saja, nona kami baik-baik saja. Terimakasih sudah mengkhawatirkannya.”


“Syukurlah. Tapi.” Menatap Han lagi. “Bisakah Anda tidak menakutkan begitu, saya kan hanya bertanya. Hehe.” Benar-benar tertawa menutupi  kecanggungan.


Apa-apaan gadis ini. Han


“Baiklah, saya permisi. Terimakasih kerja samanya Nona.”


“Tentu saja, kami senang membantu. Anda bisa sering-sering mampir kalau ada Mbak Niah.”


Han tidak menggubris kata-kata terakhir Tika. Dia menuju mobilnya. Menoleh sebentar pada Tika lalu melajukan mobilnya tanpa sedikit pun berpaling lagi.


Tidak ada apa pun yang dia temukan di toko. Hanya foto yang terlihat seperti ibu Nona Daniah. Dengan rambut bergelombang.


Aku rasa cukup sebagai peringatan, kalau dia masih berani minum pil itu sepertinya aku harus memeriksa, punya nyawa berapa si dia. Haha, dia memang cuma punya satu nyawa. Tapi dia benar-benar punya senjata mematikan yang kalau dia tahu dia bisa membuat Tuan Saga melakukan apa pun yang ia minta kan.


Semoga Anda tidak pintar-pintar amat nona, kalau tidak situasinya akan dengan mudah terbalik.


Cinta, cinta, merepotkan sekali. Ah ia, aku harus menyiapkan makan siang. Tahanan rumah yang bisa jalan-jalan ke mana-mana. Wahh, enak sekali Anda.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2