Terpaksa Menikahi Tuan Muda

Terpaksa Menikahi Tuan Muda
47. Aroma Sampo


__ADS_3

Selepas mandi berendam dengan sedikit aromaterapi membuat tubuh Daniah rileks.


Aku ingin tidur saja rasanya, capek sekali.


Daniah menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur. Berguling ke kanan dan ke kiri. “Nyaman sekali.” Di toko tadi sungguh melelahkan. Daniah meraih hpnya, Sekretaris Han belum memberikan info kapan Saga akan kembali. Tapi Daniah berfikir kalau dia tidur pun Pak Mun pasti akan membangunkannya nanti. Akhirnya gadis itu malah terlelap di atas tempat tidur.


Sementara itu selang waktu tidak lama, mobil milik Saga sudah memasuki gerbang utama. Sekretaris Han sudah memberikan informasi kepada Pak Mun.


“Nona Daniah sedang tidur  Tuan Muda.” setelah dia membaca pesan dari Pak Mun.


“Biarkan dia.”


“Baik.” Han mengetikan pesan cepat, lalu mengirimkan pada Pak Mun.


Mobil menepi tepat di halaman rumah. Pak Mun sudah berdiri di dekat pintu, berjalan mendekat menyambut Saga. Saga mengisyaratkan agar Han  boleh pergi. Sekretaris itu menganggukkan kepala. menunggu diam sampai Saga menghilang dari balik pintu.


“Tuan Muda, nyonya mengundang seorang tamu untuk makan malam bersama.” Pak Mun membantu Saga melepaskan jasnya.


“Persiapkan saja semuanya. Di mana Daniah?” tidak perduli dengan tamu yang diundang ibunya.


“Nona Muda sedang tidur di kamar.”


Pak Mun mengikuti langkah Saga sampai masuk ke dalam kamar, Saga mengedarkan pandangannya menyapu ruangan, melihat tempat tidur, tersenyum sekilas melihat Daniah tergeletak di sana. Pak Mun bergegas mengambilkan sandal dan melepaskan sepatu.


“Apa Anda mau mandi?”


“Keluarlah, aku mau istirahat sebentar.”


“Baik Tuan Muda.” Pak Mun menganggukkan kepala lalu beranjak keluar kamar.


Lihat ini, beraninya tidur saat aku pulang kerja.


Saga duduk di bibir tempat tidur, menusuk-nusuk pipi Daniah yang kemudian menggeliat. Tidak tahu apa yang mendorong tubuhnya sampai dia ikut ambruk di samping Daniah. Mencium pipi gadis yang terlelap itu.


Aku pasti sudah gila!


Tapi Saga seperti menikmati raut nyaman istrinya yang tidur di sebelahnya.

__ADS_1


 


...***...


Daniah sudah duduk di sofa. Terjaga dengan terkejutnya. Melihat situasi. Dia mendengar suara air di kamar mandi artinya Tuan Saga sudah kembali.


Aaaa, lagi-lagi aku ketiduran. Padahal jelas-jelas tahu Tuan Saga akan pulang untuk makan malam di rumah. Dia sedang mandi kan, bagaimana aku memberi alasan padanya nanti. Oke, yang penting minta maaf dan tersenyum. Mau dia melemparkan handuk atau.sandal sekalipun aku harus tetap tersenyum


Daniah mengepalkan tangan penuh semangat, untuk menyelamatkan diri.


“Kau sudah bangun?” Saga muncul dari dalam ruang baju, sudah memakai pakaian lengkap, rambut sudah disisir dengan rapi.


Kenapa dia bisa tampan begini si. Kalau saja aku bukan pembantunya, eh istrinya, eh istri yang seperti pembantu. Terserahlah aku disebut apa. Aku pasti jadi fansnya.


“Maaf Tuan.”


Saga melotot.


“Maaf suamiku.”


Kenapa inget aja si kalau aku salah manggil.


“Apa yang kau kerjakan hari ini?”


“Membereskan toko.”


“Kau suka.” Tersenyum bangga, seperti sudah menaklukan negara dan mendapat kemenangan. Padahal mah cuma nyusahin orang aja bisanya.


“Tentu saja, toko saya jadi lebih indah dan nyaman berkat Anda.”


Suka kepalamu.


“Saya harus berterimakasih karena keperdulian Anda.”


“Baguslah kau tahu  berterimakasih.”


Hahaha. Tersenyum kecut dan geram.

__ADS_1


Apalagi si sekarang, hentikan menyentuh rambutku.


“Apa yang kau pakai untuk rambutmu ini?” Saga menggulung lagi rambut Daniah, membuatnya menggeser duduk. Sampai mereka berdempetan. Karena kalau dia tidak melakukannya rambutnya tertarik dan dia yang kesakitan sendiri. “Wangi apa ini? kamu pakai sampo apa?”


Apa! Kenapa menciumi rambutku. Ini kan rambut yang katamu jelek dan membuat matamu sakit.


“Saya pakai sampo di kamar mandi, sama seperti yang Anda pakai.”


“Benarkah, kenapa wanginya beda. Coba cium punyaku.” Saga menyodorkan kepalanya.


Daniah di sampingnya cuma bisa mengernyit, apa-apaan dia ini.


“Cium wangi  rambutku.” Menyodorkan kepala.


“Ba, baik.”


Daniah bangun dari duduk, berdiri di hadapan Saga. Mencium rambut dari kejauhan. Karena tidak terlalu tercium dia mencoba mendekatkan hidung namun menjauhkan badannya.


“Gimana wanginya?”


Sok berfikir dan bergumam sebentar. Ini kan ya jelas sama, kitakan memang pakai sampo yang sama.


“Sepertinya sama.”


Aaaaaa, hidungku. Kenapa.Anda bangun si.


“Hei, aku menyuruhmu mencium aroma sampo di rambutku. Bukan mencium kepalaku, kau sedang cari kesempatan menciumku?”


Apa! Kan kamu yang bangun Tuan Muda sialan. Hidungku saja terbentur, siapa juga yang mau menciummu. Sudah gila apa aku.


“Anda yang tiba-tiba bangun, hidung saya saja sampai terbentur.”


“Sudah mengaku saja, kau memang mau menciumku kan. Banyak alasan “ Saga menunjuk hidung Daniah yang berwajah kesal. "Cium aroma rambutku, bukan cium kepalaku," katanya lagi dengan wajah puas.


“Tidak Tu.” Saga sudah melotot. “Tidak suamiku.”


“Kali ini kumaafkan kamu ya.” Saga bangun dari duduk dan berjalan keluar dari kamar.

__ADS_1


Hei, tunggu, luruskan dulu kesalahpahaman ini. Siapa yang mau menciummu. Aku sama sekali tidak bermaksud menciummu tadi. Kan kamu yang bangun.


bersambung


__ADS_2