
Setelah mengantongi surat izin,
Aran menyiapkan diri dengan penampilan sempurna. Pakaian yang dibelikan Daniah
dikenakannya. Beberapa kali mematut diri di depan cermin. Dibantu senior
sebelah kamar dia merias diri.
“ Cieee, Aran. Hari ini kamu cantik
sekali.” Goda seniornya. “Traktir kami kalau perjodohanmu lancar ya.” Ucapnya
kemudian. Wajah bersemu merah Aran muncul.
Haha, kenapa aku jadi seperti
remaja malu-malu begini si.
Dampak dari menjauhi kehidupan
sosial, ini kali pertama Aran mencoba menata hubungan dengan seseorang.
Aran sudah ada di dalam mobil milik
Daniah, dia mencengkram kemudi kuat.
“ Nona, apa nona itu malaikat.”
Membenturkan kepala di kemudi. “Aku bahkan sudah mengkhianati nona, tapi tetap
saja nona baik padaku.”
Rasanya malu sekali Aran. Saat
Daniah mengatakan. Sudahlah, aku tahu bagaimana berada di posisimu. Jangankan
kamu, aku saja tidak bisa berkata tidak kalau tuan Saga sudah memberi titahnya.
Bawa saja mobilku. Aku akan membantumu mendapat izin dari pak Mun.
Dan akhirnya, sekarang Aran membawa
mobil milik Daniah keluar dari gerbang utama. Dia menyodorkan surat izin yang
ditandatangani pak Mun pada penjaga gerbang. Laki-laki itu memeriksa bahkan
melakukan pengecekan melalui telfon.
“ Pulang sepuluh menit sebelum
waktu izin keluarmu habis.” Ucapnya sambil menyerahkan surat yang
ditandatangani pak Mun.
“ Baik.”
Pintu gerbang terbuka, mobil melaju
keluar dengan cepat. Malam yang temaran sudah menyergap. Jalanan menuju rumah
tuan Saga tampak lengang. Aran bahkan tidak berpapasan dengan satu
kendaraanpun. Walaupun jalanan memang tetap terang benderang dengan lampu
jalan. Sudah keluar dari jalanan kompleks dia melajukan kendaraan lebih cepat.
Hp miliknya berbunyi dengan keras.
Tidak dia gubris, sudah beberapa kali ibu menelfon dan memberinya ultimatum
sambil berteriak dengan keras.
“ Pergi temui calon suamimu yang
dijodohkan ayahmu! Atau aku akan benar-benar datang ke gedung Antarna Group
mencarimu Arandita.”
Ibu menakutkan sekali!
Tapi jujur, Aran juga penasaran
seperti apa laki-laki yang akan di jodohkan ayah untuknya. Kalau hanya melihat
fotonya hatinya juga tergelitik dan berkata lumayanlah. Kenapa tidak dicoba
Aran. Menunggu harimau gila yang tidak pasti itu hanya melelahkan hati dan raga
saja.
Tidak! Bukankah aku sudah berjaji
akan menunggunya. Suara hatinya yang lurus bicara.
Persetan dengan sekertaria Han Aran, sampai
kapan kau mau menunggu laki-laki yang bahkan belum pernah mengatakan kalau dia
meyukaimu.
Ingat sainganmu juga ada nona
Amera, yang kalau dilihat dari semua segi juga jauh lebih baik darimu.
Dan jangan lupakan ibumu.
Aaaaaaa, pusing kalau harus
dipikirkan semuanya.
Sejujurnya hati Aran masih sangat
terpaut dan tidak akan semudah itu pindah ke lain hati. Sekalipun ibu sudah
memberinya peringatan untuk berhenti memuja laki-laki yang sudah menghancurkan
masa depanmu itu.
Dengan mudah Aran menemukan alamat tempat populer ini. Masuklah mobil ke area parkir
__ADS_1
sebuah kafe. Tempat ini cukup ramai.
Cih, ibu benar-benar pandai sekali
memilih tempat.
Suasana temaran dengan cahaya
lembut menyambut tamu yang baru saja masuk. Tempat seperti ini memang cocok
sekali untuk kencan romantis. Aran masuk mengatakan nomor meja yang sudah di
pesan ibunya. Lalu seorang pelayan wanita menunjukan persis di mana kursi itu
berada. Disana sudah duduk seseorang yang terlihat sama seperti foto yang ibu
berikan.
Dia sudah datang ya.
Aran berjalan mendekat. Laki-laki
yang sudah duduk di kursi bangun ketika melihat kedatangannya. Ia terlihat
tersenyum. Dan garis bibirnya terlihat cukup menawan dimata Aran.
“ Maaf ya, sepertinya saya datang
terlambat.”
“ Tidak.” Melihat jam ditangannya.
“ Saya juga baru datang kok.”
Cangung tercipta, terpecahkan
dengan kedatangan seorang pelayan menyodorkan menu. Mereka berdua memilih
dengan cepat lalu menyerahkan lagi menu bersamaan. Keduanya terlihat ragu mau memulai dari mana. Tapi karena Aran memang termasuk gadis supel, akhirnya dia bisa membuka obrolan dengan percakapan sederhana.
Dan keduanya terlihat nyambung dan menikmati malam itu.
***
Ketukan jari-jari di meja sedari
tadi tidak berhenti. Segelas kopi dan cake yang ada di atas meja juga tidak ia
sentuh. Di sebuah kursi, seseorang yang bisa melihat dengan jelas dua orang yang sedang dijodohkan itu saling bicara.
Sial! Kenapa aku sampai
terprovokasi pesan nona dan datang ke tempat ini.
Pesan yang membuatnya datang.
“ Hari ini Aran akan pergi
berkencan.”
“ Upss seharusnya aku tidak
membertahumu. Dia mau kencan dimana ya?”
akan beritahu.”
“Tapi bohong. Haha.” Dengan emotik
lidah menjulur.
“ Balas pesanku kalau kau
penasaran!”
Gemetar-gemetar meletakan hp dengan
keras di atas meja. Sepertinya kali ini Han cukup terpancing dengan keisengan
Daniah. Apalagi dia mengakhiri pesan dengan menggantung.
“ Dimana dia berkencan nona?”
Akhirnya pesan itu dia kirimkan.
Daniah membalas dengan emotik
tertawa banyak sekali. Lalu sebuah alamat cafe terkirim.
Dan sinilah aku sekarang seperti
orang bodoh.
Han sudah ada di tempatnya duduk,
bahkan sebelum Aran memasuki kafe. Jadi dia melihat semuanya dari awal sampai
akhir. Percakapan kedua orang itu, tawa Aran yang terdengar lepas setelah
canggung mulai mencair diantara keduanya.
Han mengepalkan tangan kesal,
matanya bahkan tidak berkedip.
Jadi, apa yang mau aku lakukan
sekarang setelah melihat ini. Han bertanya pada dirinya sendiri. Dia ingin
marah, tapi alasan apa yang bisa ia pakai. Aran bukan siapa-siapa baginya. Dia
sendiri yang masih membangun ruang menunggu diantara mereka. Dia tidak mengikat
gadis itu dengan status apapun. Hingga alasan marahpun terasa konyol jadinya.
Sendok kecil yang ia pakai untuk
mengacak-acak cake di depannya bengkok. Saat dia melihat Aran tersenyum senang
setelah mendengar cerita laki-laki di depannya. Han bangun tanpa dia sadari
__ADS_1
karena tidak bisa menahan dirinya. Dia berjalan mendekat ke meja dimana pasangan
yang tampak akrab itu sedang bicara sambil sesekali menghabiskan makanan
mereka.
“ Sedang apa kau disini? Arandita.” Walaun dalam hati Han jelas mengutuki kebodohannya. Bagaimana dia bisa tidak bisa menahan diri.
Aran terkejut ketika tiba-tiba ada
yang berdiri di dekat mejanya, apalagi saat ia melihat siapa yang berdiri itu.
Sendok di tangannya terjatuh keras membentur piring.
“ Tu, tuan. Sedang apa tuan
disini.” Panik, memandang bergantian kedua laki-laki di depannya.
“ Bagaimana kau bisa keluar
malam-malam begini?” tanya Han. Dengan tatapan dinginnya.
“ Siapa dia Aran?” Laki-laki teman
kencan Aran terlihat terganggu dengan keberadaan Han. “Kau kenal dia?”
“ Eh, dia?”
Dia siapa ya? Aku harus
memperkenalkan dia sebagai siapa?
“ Seharusnya aku yang bertanya
siapa kau. Kenapa kau bersama wanitaku.”
Aran terbelalak mendengar kata—kata
sekertaris Han.
Apa dia bilang, wanitaku.
“ Apa dia pacarmu?” Teman kencan Aran langsung bereaksi. Matanya tertuju
pada Aran lekat, mencari kejujuran. Membuat gadis itu langsung mengibaskan tangan kuat memberi
penolakan.
“ Arandita!”
“ ia tuan!” menjawab sigap seperti
biasanya, ia sampai terkejut dengan suaranya yang keluar keras.
“ Ikut aku.” Tanpa menunggu Aran
menjawab Han sudah membalikan badan dan berjalan.
Apa-apaan dia main perintah begitu. Cih, tapi aku mau tidak mau harus mengikutinyakan.
“ Maaf ya, sebentar. Aku harus
bicara dengannya.”
Aran mengibaskan tangan Han yang keras
menariknya keluar dari kafe. Mereka ada di dekat parkiran mobil. Berdiri dengan jarak aman yang bisa diperkirakan Aran.
Apa kau sedang cemburu sekarang?
“ Huh!” Han mendesah kesal. Menunjukan secara terbuka lewat sorot matanya. Tapi dia belum bicara apapun.
“ Kenapa tuan bisa ada disini?” Aran yang bertanya duluan, dia mundur selangkah.
“ Kenapa? Apa kau merasa seperti
sedang ketahuan selingkuh.”
Apa! selingkuh! Memang aku pacarmu
sampai kau bilang aku selingkuh.
“ Selingkuh. Haha, lucu sekali." Tapi bahkan Aran langsung berhenti tertawa. " Tuan, memang saya siapa tuan sampai tuan merasa saya selingkuhi.” Pandangan menantangnya muncul. Bagi Aran, ini kesempatan yang tidak bisa ia lewatkan untuk minta kepastian bagaimana sebenarnya perasaan laki-laki di depannya ini.
Han terdiam mendengar pertanyaan
itu.
“ Tuan anggap saya apa?”
" Kau bilang mau menunggukan?" Kata-kata bodoh yang keluar dari mulut Han. Hari ini laki-laki itu benar-benar tidak bisa mengendalikan dirinya dengan baik. Jawaban Han membuat Aran juga jadi tidak bisa membalas.
Benar, aku yang bilang akan menunggunyakan. Aaaaa, bagaimana ini.
" Jadi hanya sebatas ini."
" Katakan! Katakan kalau kau juga menyukaiku." Aran memotong cepat, sebelum sekertaris Han berhasil memojokannya lagi. " Katakan kau menyukaiku, supaya aku punya alasan untuk menunggumu."
Terdengar desahan keras dari tarikan nafas sekertaris Han. Laki-laki itu maju selangkah mendekat. Meraih rambut Aran yang terjuntai.
" Kau benar-benar mempersiapkan diri malam ini dengan baik ya?"
" Jangan mengalihkan pembicaraan." Menyentuh tangan Han "Kalau kau tidak mau mengatakannya."
Han menjauhkan tangannya dari rambut Aran. Pandangan mereka bersitatap lama.
" Sampai nona Daniah hamil, tunggulah sampai saat itu."
Apa!
" Masuk ke mobil aku akan mengantarmu pulang!"
Apa! Aran diam tidak bergerak. Bukan jawaban menggantung ini yang ia mau. Ia mau kepastian. Melihatnya hanya dian, Han menghentikan langkah.
" Kalau kau berani masuk lagi dan menemui laki-laki itu, kau tidak akan bisa membayangkan apa yang bisa kulakukan Arandita."
Nyali Aran menciut, dan diapun berlari mengikuti sekertaris Han menuju mobil.
Baiklah, sampai nona Daniah hamil, aku akan menunggu.
__ADS_1
Aran bahkan tidak menoleh ke arah kafe, atau berfikir untuk masuk lagi ke dalam.
bersambung