Terpaksa Menikahi Tuan Muda

Terpaksa Menikahi Tuan Muda
Makan Malam (Part 2)


__ADS_3

Setelah mengantongi surat izin,


Aran menyiapkan diri dengan penampilan sempurna. Pakaian yang dibelikan Daniah


dikenakannya. Beberapa kali mematut diri di depan cermin. Dibantu senior


sebelah kamar dia merias diri.


“ Cieee, Aran. Hari ini kamu cantik


sekali.” Goda seniornya. “Traktir kami kalau perjodohanmu lancar ya.” Ucapnya


kemudian. Wajah bersemu merah Aran muncul.


Haha, kenapa aku jadi seperti


remaja malu-malu begini si.


Dampak dari menjauhi kehidupan


sosial, ini kali pertama Aran mencoba menata hubungan dengan seseorang.


Aran sudah ada di dalam mobil milik


Daniah, dia mencengkram kemudi kuat.


“ Nona, apa nona itu malaikat.”


Membenturkan kepala di kemudi. “Aku bahkan sudah mengkhianati nona, tapi tetap


saja nona baik padaku.”


Rasanya malu sekali Aran. Saat


Daniah mengatakan. Sudahlah, aku tahu bagaimana berada di posisimu. Jangankan


kamu, aku saja tidak bisa berkata tidak kalau tuan Saga sudah memberi titahnya.


Bawa saja mobilku. Aku akan membantumu mendapat izin dari pak Mun.


Dan akhirnya, sekarang Aran membawa


mobil milik Daniah keluar dari gerbang utama. Dia menyodorkan surat izin yang


ditandatangani pak Mun pada penjaga gerbang. Laki-laki itu memeriksa bahkan


melakukan pengecekan melalui telfon.


“ Pulang sepuluh menit sebelum


waktu izin keluarmu habis.” Ucapnya sambil menyerahkan surat yang


ditandatangani pak Mun.


“ Baik.”


Pintu gerbang terbuka, mobil melaju


keluar dengan cepat. Malam yang temaran sudah menyergap. Jalanan menuju rumah


tuan Saga tampak lengang. Aran bahkan tidak berpapasan dengan satu


kendaraanpun. Walaupun jalanan memang tetap terang benderang dengan lampu


jalan. Sudah keluar dari jalanan kompleks dia melajukan kendaraan lebih cepat.


Hp miliknya berbunyi dengan keras.


Tidak dia gubris, sudah beberapa kali ibu menelfon dan memberinya ultimatum


sambil berteriak dengan keras.


“ Pergi temui calon suamimu yang


dijodohkan ayahmu! Atau aku akan benar-benar datang ke gedung Antarna Group


mencarimu Arandita.”


Ibu menakutkan sekali!


Tapi jujur, Aran juga penasaran


seperti apa laki-laki yang akan di jodohkan ayah untuknya. Kalau hanya melihat


fotonya hatinya juga tergelitik dan berkata lumayanlah. Kenapa tidak dicoba


Aran. Menunggu harimau gila yang tidak pasti itu hanya melelahkan hati dan raga


saja.


Tidak! Bukankah aku sudah berjaji


akan menunggunya. Suara hatinya yang lurus bicara.


Persetan dengan sekertaria Han Aran, sampai


kapan kau mau menunggu laki-laki yang bahkan belum pernah mengatakan kalau dia


meyukaimu.


Ingat sainganmu juga ada nona


Amera, yang kalau dilihat dari semua segi juga jauh lebih baik darimu.


Dan jangan lupakan ibumu.


Aaaaaaa, pusing kalau harus


dipikirkan semuanya.


Sejujurnya hati Aran masih sangat


terpaut dan tidak akan semudah itu pindah ke lain hati. Sekalipun ibu sudah


memberinya peringatan untuk berhenti memuja laki-laki yang sudah menghancurkan


masa depanmu itu.


Dengan mudah Aran menemukan alamat tempat populer ini. Masuklah mobil ke area parkir

__ADS_1


sebuah kafe. Tempat ini cukup ramai.


Cih, ibu benar-benar pandai sekali


memilih tempat.


Suasana temaran dengan cahaya


lembut menyambut tamu yang baru saja masuk. Tempat seperti ini memang cocok


sekali untuk kencan romantis. Aran masuk mengatakan nomor meja yang sudah di


pesan ibunya. Lalu seorang pelayan wanita menunjukan persis di mana kursi itu


berada. Disana sudah duduk seseorang yang terlihat sama seperti foto yang ibu


berikan.


Dia sudah datang ya.


Aran berjalan mendekat. Laki-laki


yang sudah duduk di kursi bangun ketika melihat kedatangannya. Ia terlihat


tersenyum. Dan garis bibirnya terlihat cukup menawan dimata Aran.


“ Maaf ya, sepertinya saya datang


terlambat.”


“ Tidak.” Melihat jam ditangannya.


“ Saya juga baru datang kok.”


Cangung tercipta, terpecahkan


dengan kedatangan seorang pelayan menyodorkan menu. Mereka berdua memilih


dengan cepat lalu menyerahkan lagi menu bersamaan. Keduanya terlihat ragu mau memulai dari mana. Tapi karena Aran memang termasuk gadis supel, akhirnya dia bisa membuka obrolan dengan percakapan sederhana.


Dan keduanya terlihat nyambung dan menikmati malam itu.


***


Ketukan jari-jari di meja sedari


tadi tidak berhenti. Segelas kopi dan cake yang ada di atas meja juga tidak ia


sentuh. Di sebuah kursi, seseorang yang bisa melihat dengan jelas dua orang yang sedang dijodohkan itu saling bicara.


Sial! Kenapa aku sampai


terprovokasi pesan nona dan datang ke tempat ini.


Pesan yang membuatnya datang.


“ Hari ini Aran akan pergi


berkencan.”


“ Upss seharusnya aku tidak


membertahumu. Dia mau kencan dimana ya?”


akan beritahu.”


“Tapi bohong. Haha.” Dengan emotik


lidah menjulur.


“ Balas pesanku kalau kau


penasaran!”


Gemetar-gemetar meletakan hp dengan


keras di atas meja. Sepertinya kali ini Han cukup terpancing dengan keisengan


Daniah. Apalagi dia mengakhiri pesan dengan menggantung.


“ Dimana dia berkencan nona?”


Akhirnya pesan itu dia kirimkan.


Daniah membalas dengan emotik


tertawa banyak sekali. Lalu sebuah alamat cafe terkirim.


Dan sinilah aku sekarang seperti


orang bodoh.


Han sudah ada di tempatnya duduk,


bahkan sebelum Aran memasuki kafe. Jadi dia melihat semuanya dari awal sampai


akhir. Percakapan kedua orang itu, tawa Aran yang terdengar lepas setelah


canggung mulai mencair diantara keduanya.


Han mengepalkan tangan kesal,


matanya bahkan tidak berkedip.


Jadi, apa yang mau aku lakukan


sekarang setelah melihat ini. Han bertanya pada dirinya sendiri. Dia ingin


marah, tapi alasan apa yang bisa ia pakai. Aran bukan siapa-siapa baginya. Dia


sendiri yang masih membangun ruang menunggu diantara mereka. Dia tidak mengikat


gadis itu dengan status apapun. Hingga alasan marahpun terasa konyol jadinya.


Sendok kecil yang ia pakai untuk


mengacak-acak cake di depannya bengkok. Saat dia melihat Aran tersenyum senang


setelah mendengar cerita laki-laki di depannya. Han bangun tanpa dia sadari

__ADS_1


karena tidak bisa menahan dirinya. Dia berjalan mendekat ke meja dimana pasangan


yang tampak akrab itu sedang bicara sambil sesekali menghabiskan makanan


mereka.


“ Sedang apa kau disini? Arandita.” Walaun dalam hati Han jelas mengutuki kebodohannya. Bagaimana dia bisa tidak bisa menahan diri.


Aran terkejut ketika tiba-tiba ada


yang berdiri di dekat mejanya, apalagi saat ia melihat siapa yang berdiri itu.


Sendok di tangannya terjatuh keras membentur piring.


“ Tu, tuan. Sedang apa tuan


disini.” Panik, memandang bergantian kedua laki-laki di depannya.


“ Bagaimana kau bisa keluar


malam-malam begini?” tanya Han. Dengan tatapan dinginnya.


“ Siapa dia Aran?” Laki-laki teman


kencan Aran terlihat terganggu dengan keberadaan Han. “Kau kenal dia?”


“ Eh, dia?”


Dia siapa ya? Aku harus


memperkenalkan dia sebagai siapa?


“ Seharusnya aku yang bertanya


siapa kau. Kenapa kau bersama wanitaku.”


Aran terbelalak mendengar kata—kata


sekertaris Han.


Apa dia bilang, wanitaku.


“ Apa dia pacarmu?”  Teman kencan Aran langsung bereaksi. Matanya tertuju


pada Aran lekat, mencari kejujuran. Membuat gadis itu langsung mengibaskan tangan kuat memberi


penolakan.


“ Arandita!”


“ ia tuan!” menjawab sigap seperti


biasanya, ia sampai terkejut dengan suaranya yang keluar keras.


“ Ikut aku.” Tanpa menunggu Aran


menjawab Han sudah membalikan badan dan berjalan.


Apa-apaan dia main perintah begitu. Cih, tapi aku mau tidak mau harus mengikutinyakan.


“ Maaf ya, sebentar. Aku harus


bicara dengannya.”


Aran mengibaskan tangan Han yang keras


menariknya keluar dari kafe. Mereka ada di dekat parkiran mobil. Berdiri dengan jarak aman yang bisa diperkirakan Aran.


Apa kau  sedang cemburu sekarang?


“ Huh!” Han mendesah kesal. Menunjukan secara terbuka lewat sorot matanya. Tapi dia belum bicara apapun.


“ Kenapa tuan bisa ada disini?” Aran yang bertanya duluan, dia mundur selangkah.


“ Kenapa? Apa kau merasa seperti


sedang ketahuan selingkuh.”


Apa! selingkuh! Memang aku pacarmu


sampai kau bilang aku selingkuh.


“ Selingkuh. Haha, lucu sekali." Tapi bahkan Aran langsung berhenti tertawa. " Tuan, memang saya siapa tuan sampai tuan merasa saya selingkuhi.” Pandangan menantangnya muncul. Bagi Aran, ini kesempatan yang tidak bisa ia lewatkan untuk minta kepastian bagaimana sebenarnya perasaan laki-laki di depannya ini.


Han terdiam mendengar pertanyaan


itu.


“ Tuan anggap saya apa?”


" Kau bilang mau menunggukan?" Kata-kata bodoh yang keluar dari mulut Han. Hari ini laki-laki itu benar-benar tidak bisa mengendalikan dirinya dengan baik. Jawaban Han membuat Aran juga jadi tidak bisa membalas.


Benar, aku yang bilang akan menunggunyakan. Aaaaa, bagaimana ini.


" Jadi hanya sebatas ini."


" Katakan! Katakan kalau kau juga menyukaiku." Aran memotong cepat, sebelum sekertaris Han berhasil memojokannya lagi. " Katakan kau menyukaiku, supaya aku punya alasan untuk menunggumu."


Terdengar desahan keras dari tarikan nafas sekertaris Han. Laki-laki itu maju selangkah mendekat. Meraih rambut Aran yang terjuntai.


" Kau benar-benar mempersiapkan diri malam ini  dengan baik ya?"


" Jangan mengalihkan pembicaraan." Menyentuh tangan Han "Kalau kau tidak mau mengatakannya."


Han menjauhkan tangannya dari rambut Aran. Pandangan mereka bersitatap lama.


" Sampai nona Daniah hamil, tunggulah sampai saat itu."


Apa!


" Masuk ke mobil aku akan mengantarmu pulang!"


Apa! Aran diam tidak bergerak. Bukan jawaban menggantung ini yang ia mau. Ia mau kepastian. Melihatnya hanya dian, Han menghentikan langkah.


" Kalau kau berani masuk lagi dan menemui laki-laki itu, kau tidak akan bisa membayangkan apa yang bisa kulakukan Arandita."


Nyali Aran menciut, dan diapun berlari mengikuti sekertaris Han menuju mobil.


Baiklah, sampai nona Daniah hamil, aku akan menunggu.

__ADS_1


Aran bahkan tidak menoleh ke arah kafe, atau berfikir untuk masuk lagi ke dalam.


bersambung


__ADS_2