
Saat jam makan siang datang, para
mahasiswa terlihat memadati kantin kampus. Ada pula yang memilih makan siang ala
kadarnya, yang dijajakan pedagang dengan dengan stand warna mencolok mereka
untuk menarik pelanggan. Di sudut taman kampus yang masih membolehkan para
pedagang mengelar dagangan khusus kuliner. Dengan beberapa aturan yang harus
mereka taati tentunya.
Sementara itu, Sofi masih duduk
sambil bersandar di koridor kampus, masih melihat hpnya. Sendirian, saat Haze
muncul sambil setengah berlari mendekat. Senyumnya sudah memancar ke segala
penjuru, bahkan orang yang melihat dan mengenalnya hanya bisa geleng kepala.
Sudah hafal dengan tingkahnya kalau bertemu dengan Sofi. Mereka memang terkenal
sebagai pasangan kampus yang paling bikin iri. Mesranya seperti bocah SMU yang
malu-malu dan sedang kasmaran. Sama-sama polos dan menunjukan perasaan mereka
dengan terbuka.
“ Maaf!” Meraih tangan Sofi cepat.
Sambil melirik jam di tangannya. “ Sudah lama ya? Dosen pembimbingku mau membunuhku!” Mengusap
peluh di keningnya.
Tugas akhirnya masih perlu beberapa
revisi lagi. Semalaman dia sudah berjuang dengan revisi, mata pandanya secara sempurna menunjukan kerja kerasnya.
“ Baru sepuluh menit. Ayo, sudah
laparkan?” Mereka bergandengan tangan menyusuri koridor kampus, menyapa orang
yang mereka kenal. Keluar dari gedung dan menyusuri trotoar. Banyak mahasiswa
yang sedang berjalan lalu lalang, berkejaran dengan waktu menyelesaikan urusan
mereka. Daun berserak terinjak kaki.
Haze menghentikan langkahnya.
“ Sof.” Ucapnya pelan. Menyimpan keraguan. Tangan mereka masih terpaut satu sama lain.
“ Hemm, kenapa, katanya lapar?” Daun
jatuh tepat di pundak Haze. Terlihat dia ragu sebentar, lalu menarik tangan
sofi duduk di sebuah kursi taman. “ Kenapa?” Sofi kembali menunjuk kantin
kampus, yang sudah terlihat dalam pandangan mereka. Dia sepertinya lapar juga
jadi ingin segera sampai di tempat itu. “Kita bicara sambil makan.”
Aku mau minum jus mangga dingin!
Pakai bongkahan batu es yang banyak! Membayangkan mengunyah batu es Sofi
menelan ludah. Cuaca terik siang ini membuatnya merasa kehausan.
“ Sebentar lagi aku ulang tahun.”
__ADS_1
Ucap Haze pelan. Masih memegang tangan Sofi. Tidak mengubris urusan lapar. "Kamu ingatkan?"
“ Ia sudah tahu. Aku ingat kok, aku
bahkan sudah menyiapkan hadiah untukmu.” Sofi menutup mulutnya. Mengerutu
kesal. “Seharusnya itukan jadi kejutan.”Memukul bahu Haze dua kali, kenapa juga musti dibahas. Dia tidak mungkin melupakan hari penting itu. Melihat Haze kesakitan, lalu mengelus bahu Haze
lagi sambil tertawa. “Tapi aku belum bilang isinya apakan. Jadi nanti kamu
tetap harus terkejut ya.”
“ Tapi akukan sudah tahu sekarang,
sudah tidak terkejut lagi pasti nanti.” Menjawab sesuai kenyataan.
“ Pura-pura saja terkejut!” Sofi
tetap teguh dengan pendiriannya. Akhirnya Haze mengalah, mengangukan kepala
dengan bola mata berbinar. Dan bilang akan terkejut nanti, atau pura-pura
terkejut. Membuat gadis di depannya senang adalah misi perjalanan hidupnya yang agung.
Haze meraih dagu Sofi, hingga
pandangan mereka bersitatap.
“ Hei mau apa? awas ya kalau
tiba-tiba main cium lagi.” Sejak hari itu Haze jauh lebih berhati-hati ketika
mereka melakukan sentuhan fisik di luar berpegangan tangan.
“ Aku ingin bertemu kakak
laki-lakimu. Jadikan itu sebagai hadiah ulang tahunku.” Tiba-tiba Haze bicara
Eh kenapa anak ini? Sofi
terperanjak. Kenapa tiba-tiba? Hei, kamu tidak sedang mau melamarkukan? Gila
apa? memang kita sudah mau menikah.
Sofi belum menjawab hanya menatap
Haze lekat. Seperti berusaha mencari tahu apa yang dipikirkan laki-laki di
depannya ini.
“ Kenapa?” Dia malas menebak dan
berfikir sepertinya. “Kenapa tiba-tiba? Kau tidak sedang berencana melamarkukan?” Malu
dengan kata-katanya sendiri. “Jangan aneh-aneh ya, kita bahkan belum lulus. Aku
juga masih punya kak Jen.”
Dia bisa ngamuk kalau aku langkahi,
apalagi saat ini perjuangan cintanya seperti mencoba meraih bintang malam.
Mustahil.
“ Memang kalau aku melamarmu dan
mengajakmu menikah kamu mau?” Bicara dengan menyimpan harapan.
“ Tidak.” Sofi mengeleng cepat. Bukan karena perasaanya untuk Haze yang dangkal. Tapi masih ada mimpi yang ingin dia raih, dan juga perasaan kak Jen yang tidak mungkin dia kesampingkan.
__ADS_1
Kepala Haze langsung tertunduk,
matanya sudah terlihat lesu dan dia mulai berkaca-kaca. Sofi langsung mengusap pipi itu meyakinkan perasaannya.
" Tapi kakakku menakutkan lho, benar masih mau bertemu? nanti mau bilang apa kalau sudah bertemu?" Mengalihkan pembicaraan. Angin yang lembut membelai wajah mereka berdua.
" Asal dia bukan tuan Saga presdir Antarna Group" ucapnya tanpa beban. Menyebut nama orang paling berpengaruh di negri ini.
Bug! Memukul bahu Haze sampai terbatuk. Saat laki-laki itu menyebut nama kakaknya langsung tepat pada sasaran. Dan Haze sama sekali tidak menyadari kemungkinan itu.
Kenapa dia menyebut kak Saga dengan nada getir begitu si? Memang mereka sudah pernah bertemu.
" Memang kau pernah bertemu dengan tuan Saga?"
" Pernah, dua kali."
" Hah! Benarkah? Bagaimana dia, katanya dia tampan ya, sudah gitu sayang sama istrinya lagi." Sofi sudah bicara kemana-mana membanggakan. Seperti yang diberitakan media selama ini. Tidak memperhatikan air muka Haze yang berubah kesal karena dia memuji laki-laki lain. " Haha, kenapa? "
" Baiklah, aku cuma kentang kalau harus bersanding dengan tuan Saga." Membuang muka, melihat kejauhan dengan wajah masam.
" Haha, tapi aku suka kentang kok." usap-usap dagu Haze.
Semua laki-laki memang terlihat seperti kentang si, kalau di sandingkan dengan semua yang kak Saga punya. Haha.
" Katakan dulu, kau mau apa kalau bertemu dengan kakakku?" Mengalihkan topik dari bahasan tentang kak Saga. Kalau masih membahasnya Sofi bisa saja keceplosan bicara.
" Hemm, aku mau minta restu."
" Hah! Restu apa?"
" Pacaran denganmu."
Memang kau pikir kak Saga tidak tahu apa!
Bahkan tanpa mengatakannyaapun Sofi tahu kalau kak Saga mengetahui semua yang ia dan kak Jen lakukan di luar rumah. Dibalik bayangan Han yang diam, laki-laki itu selalu mengawasi mereka dari segala penjuru.
" Seperti ini saja cukup, toh kamu bukannya mau melamarkukan?" Akhirnya Sofi memutuskan begitu. Sepertinya belum waktunya Haze dia pertemukan dengan Saga. Jawaban Sofia langsung membuat Haze kecewa.
Kenapa? Benarkan, kalau di antara kita memang hanya aku yang serius ingin hubungan kita naik tingkat. Suara hati Haze yang selalu ia bantah sendiri.
" Tapi kalau aku melamarmu juga kau tolakkan." Ada buliran kesedihan dalam suara Haze.
" Bukan karena perasaanku yang dangkal untukmu Haz. Tapi masih banyak hal yang ingin kamu raihkan, aku juga belum memikirkan menikah dalam waktu dekat ini. Kak Jen juga, tidak mungkinkan aku menikah duluan dari dia." Meraih Tangan Haze, mengengamnya erat.
" Aku rasa kak Jen tidak sekolot itu sampai takut dilangkahi menikah Sof. Bukankan takdir pernikahan Tuhan yang menentukan."
Mungkin terdengar sepele atau sekedar menjadi mitos yang beredar di masyarakat, bahwa tabu hukumnya melangkahi kakak perempuann. Karena ditakutkan mereka akan jauh dari jodoh atau apalah. Padahal sebenarnya tidak seperti itukan. Karena takdir cinta dan pernikahan itu sepenuhnya milik Tuhan.
" Saudara sepupuku ada yang dilangkahi menikah sama adik laki-lakinya, tapi selang dua bulan dari itu dia juga bertemu dengan calon suaminya." Bercerita. "Takdir pernikahan dan cintakan milik Tuhan Sof." Sofia paham itu.
" Tapi aku tetap ingin menjaga perasaannya karena aku menyayanginya Haz. Sudahlah jangan membahas itu." menepuk bahu Haze yang mulai terbawa suasana sendu. "Aku akan bilang pada kakakku kalau kau mau bertemu dengannya."
" Benarkah?" Berbinar.
" Sekarang ayo makan, aku lapar." Sofi menarik tangan Haze meninggalkan taman. " Tapi kalau habis bertemu kakakku kamu berubah pikiran bagaimana?" menoleh sambil tersenyum penuh arti.
" Hei, memang kau pikir aku apa? Sekalipun kakakmu tuan Saga aku akan berdiri tegak di depannya dan meminta restu untuk bersamamu."
" Haha, aku percaya. Haze memang yang terbaik."
Hah! Bagaimana ini! Kak Saga!
Epilog
Suara hati Haze.
Kenapa aku sesumbar begini si, bagaimana kalau kakak Sofi benar-benar galak dan menakutkan. Tidak! aku harus berani. Sekalipun dia tuan Saga yang menyeramkan itu sekalipun. Aku harus berani. Karena cinta butuh perjuangankan?
Dan aku sebagai laki-laki yang harus berjuang.
__ADS_1
Bersambung