Terpaksa Menikahi Tuan Muda

Terpaksa Menikahi Tuan Muda
112. Helen Lagi


__ADS_3

Kejadian sore hari setelah peresmian


Danau Hijau, hari yang menyedihkan untuk seorang pelukis cantik bernama Helena.


Sebuah mobil berhenti jauh dari


keramaian Danau Hijau. Lalu lintas lancar, hanya karena kepulangan para


pekerja yang tetap bekerja di akhir pekan atau orang-orang yang ingin


menghabiskan waktu membuat jalanan cukup ramai tapi tetap terpantau lancar.


Helena gemetar memegang kemudi.


Pikirannya sedang sangat kacau. Saat ini hanya satu nama yang terlintas di


pikirannya.


“Sekretaris sialan! Apa kau sudah


mencium semua yang kulakukan. Rencanaku semua gagal pasti karenamu.” Setengah


mati dia berusaha mendekati EO acara peresmian, tapi semuanya menguap dan tidak


berbekas apa pun. “Wartawan itu juga.”


Helen masih berusaha menghubungi no


telepon wartawan yang sudah menipunya. Tidak diangkat. Saat dia mau membanting


hpnya bunyi pesan masuk.


“Maaf Nona Helen saya tidak berani


menulis artikel apa pun tentang Anda, lawan yang Anda hadapi bukanlah lawan


sepadan yang bisa saya tandingi. Saya akan mentransfer kembali uang Anda.


Kirimkan no rekening Anda. Jangan hubungi atau mencoba menemui saya lagi.”


Apa! Sialan! Bagaimana ini bisa


terjadi.


***


Kegagalan hari ini adalah akhir


dari semua usaha yang coba ia tempuh untuk bisa mendekati Saga. Tapi, apa ia


benar-benar akan menyerah. Melepaskan Saga yang seperti tambang berlian di


tangannya.


Kenapa? Kenapa aku bodoh sekali.


Helen memecah jalanan kembali,


masih berusaha menepis semua pikiran buruk di kepalanya. Ia kembali berusaha


membangun kembali harapan. Bagaimanapun melepaskan Saga adalah pilihan tidak


masuk akal yang tidak akan dipilih oleh wanita mana pun termasuk dirinya.


Helen memarkir kendaraannya. Lalu


sepanjang menuju lift dia sudah mulai terisak dan menitikkan airmata.


Sesenggukan nafasnya. Ini hanya akting ya. Percayalah, dia tidak sebaik itu.


Ketukan keras di pintu saat dia


tidak sabar setelah membunyikan bell. Pintu berderit seorang wanita muncul


membuat Helen terkejut.


“Noah!” padahal dia sudah mulai


mengeraskan suara tangisnya, tapi yang muncul malah seorang wanita di


hadapannya.


“Maaf, Anda siapa?” Wanita yang


membukakan pintu itu tampak bingung karena mendapati seseorang menangis di


depan pintu kekasihnya. Lebih-lebih dia perempuan.


“Sayang siapa?” dari dalam


terdengar suara laki-laki, langkah kakinya terdengar mendekat. “Helen!”


terkejut saat mendapati siapa yang ada di depan pintu. Lebih-lebih ketika melihat


penampilan Helen terlihat sangat berantakan. Riasan yang luntur, rambut yang tidak


lagi indah tergerai. Dan yang lebih dramatis tentu saja menangis. “Masuklah!”


Noah menarik lengan Helen masuk ke dalam rumah.


“Dia Helen, teman yang aku


ceritakan padamu. Pacar temanku Saga.” Noah melingkarkan tangan di pinggang

__ADS_1


kekasihnya yang sepertinya masih belum bisa menerima fakta ada wanita menangis


di depan rumah kekasihnya. Tapi setelah mendengar nama Helen yang di sebut raut


wajahnya terlihat tampak tenang. Sepertinya Noah sudah sangat terbuka berbagi


kisah hidupnya dengan kekasihnya.


“Noah, siapa dia.” Helen mengusap


airmata di sudut mata indahnya dengan tangan.


“Dia kekasihku. Tamara, kau bisa


memanggilnya Tama.” Tama yang diperkenalkan mendekat dan menjabat tangan Helen.


“Noah sudah banyak cerita tentang


Anda. Panggil saja saya senyaman Anda. Sayang, ambilkan Nona Helen air.” Noah


yang masih mematung tersadar. Lalu ia tertawa seperti dia yang seharusnya. Lalu


menuju dapur. Mengambil sebotol minuman dingin dari dalam kulkas.


“Ada apa?” Dia menyerahkan botol


lalu duduk di samping Tama. Menyandarkan dagunya pada gadis itu. “Aku


melihatmu di peresmian Danau Hijau, apa Saga mengundangmu?”


Reaksi Helen seperti apa yang sudah


dia rencanakan, tapi kali ini semua yang ia rencanakan di dalam mobil kandas.


Ia bahkan tidak bisa memeluk Noah dan menangis di dadanya. Karena laki-laki itu


malah bersandar di bahu wanita lain. Sekarang dia hanya memakai air matanya


sebagai senjata.


“Dia jahat sekali.”


“Helen.” Bagaimanapun Noah merasa,


perbuatan apa pun yang akan di lakukan Helen pada Saga hanyalah perbuatan


sia-sia.


“Dia jahat sekali, bagaimana dia


bisa lupa sepenting apa Danau Hijau bagi kami.” Berteriak keras. Tama di


sampingnya menepuk bahu Helen seperti memberi simpati, tapi malah membuat


suasana hati Helen semakin buruk.


bertanya. Dijawab dengan isak tangis. “Biar aku pesan makanan, kita makan


bertiga. Sayang, kamu nggak papa kan.”


“Ia nggak papa. Nona Helen sedang


seperti ini kan, dia pasti butuh teman.”


Tidak, aku tidak butuh teman, aku


butuh Noah. Cih ternyata ini kekasih Noah yang dibicarakan Clariss.


Noah berjalan meninggalkan dua


orang wanita yaang tidak saling kenal itu ke kamarnya, mengambil hp. Dia akan memesan


beberapa makanan. Tapi langkahnya terhenti.


“Apakah Helen bersama Anda Tuan,


jika ia katakan padanya untuk jangan menemui Tuan Saga lagi. Atau saya


benar-benar tidak akan bersikap menahan diri lagi.”


Apa yang sudah dilakukan Helen


sebenarnya. Sekretaris menakutkan itu sudah menyampaikan ultimatumnya begini.


Noah kembali duduk di samping Tama.


Melingkarkan tangannya di pinggang gadis itu.


“Helen, apa yang terjadi di Danau


Hijau tadi?”


“Aku pasti sudah gila karena


memakai semua cara untuk ada di sana dan menemui Saga. Tapi bahkan dia sama


sekali tidak menyapaku.”


“Kenapa kau melakukannya, kau tahu


kan bagaimana Saga.” Berusaha menyadarkan semua hal sekarang adalah salah.


Perjuangan cintamu atau apa pun itu adalah salah. Hanya move on satu-satunya jawaban

__ADS_1


paling benar.


“Aku sudah tidak tahu mau


melakukan apalagi!” Menangis lagi. Kali ini ia merasa tidak senang saat tangan


Tamara menepuk bahunya. Kenapa gadis di sampingnya ini begitu sok tahu dan


bersimpati padanya, padahal dia sendiri tidak saling mengenal.


“Sayang jangan memaksa Nona Helena.”


Tamara menyentuh tangan Noah.


“Berhentilah sampai di sini saja." Noah hanya menepuk punggung tangan Tama, tapi tidak menghentikan kata-katanya.


"Kita tidak tahu apa yang bisa di lakukan Sekretaris Han. Kamu sudah melangkah


sangat jauh.” Dia selalu merealisasikan ancamannya, hanya itu yang Noah tahu


pasti.


“Noah, aku mencintai Saga. Dia


juga mencintaiku.” Kalimatnya terhenti.


“Dulu, itu dulu. Sebelum kepergianmu dan kedatangan Daniah dalam hidup Saga. Kamu tahu kan bagaimana sifat Saga.


Saat bersamamu dulu dia hanya menatapmu, tidak perduli sekelilingmu, tidak perduli


sebanyak apa pun wanita yang mengejarnya. Dia hanya menatapmu. Saat ini sama


seperti waktu itu. Keperduliannya, tatapan Saga dan semua yang dimiliki Saga


sudah menjadi milik Daniah. Dia tidak akan melihat ke arah wanita lain.


Posisimu saat ini tidak hanya lebih sebagai pengganggu.”


“Sayang.” Tamara berusaha


menghentikan Noah yang bicara terlalu jujur. Bagaimanapun Tamara menyadari


sebagai sesama wanita yang dibutuhkan Helen saat ini bukanlah kebenaran. Tapi


ia hanya butuh dukungan.


“Kenapa kau seperti ini?” Helen


mengusap air matanya, semakin merasa kecewa. “Kau jadi sama jahatnya dengan


Saga!”


“Helen.” Noah sampai pada titik


di mana dia kehilangan kata-kata.


Helen bangun dari duduk, menepis


tangan Tama di bahunya.


“Karena kau sudah punya kekasih,


jadi kau mengganggapku sama sekali tidak penting lagi. Apa yang kau ceritakan


padanya?” Melihat sebentar Tamara di samping Noah. “ Kenapa dia sangat


bersimpati, apa kau sudah menceritakan kisah menyedihkan aku mengejar-ngejar


Saga.”


“Helen, ada apa denganmu. Tama


hanya bersimpati padamu.” Noah bangun ingin meraih tangan Helen tapi Helen


menepisnya.


“Seharusnya aku tidak kemari.” Dia


menyambar tas tangannya di atas meja. Berjalan cepat menuju pintu. Menutupnya


lalu bergerak cepat menuju lift. Saat di dalam lift dia belum menutup pintu.


“Apa! dia tidak mengejarku.” Akhirnya dia menutup lift yang membawanya ke area


parkir.


Bahkan semua orang sudah


meninggalkannya. Noah yang menjadi tumpuan terakhirnya pun sudah punya wanita


pengganti di sisinya. Saat ini segala penyesalan merasuki dirinya. Dia masih


mengharapkan Saga sampai melupakan Noah yang sudah ada di sampingnya. Sekarang


saat dia sudah kehilangan Noah hubungannya dengannya di masa lalu ternyata


sangat berharga.


Padahal dulu dia akan melakukan


apa pun untukku, sekarang dia bahkan tidak mengejarku.


Mobil meninggalkan area parkir,

__ADS_1


membawa tangis keras pengemudinya seorang diri. Dalam luka dan kesepian yang menyayat hati.


BERSAMBUNG


__ADS_2