Terpaksa Menikahi Tuan Muda

Terpaksa Menikahi Tuan Muda
123. Terbongkarnya Rahasia Helen


__ADS_3

Siang ini sudah lewat waktunya


makan siang, kafe ini pun sudah tampak lengang, setelah tadi tampak cukup


padat. Sekretaris Han terlihat sudah sampai di area parkir. Dia tidak langsung


keluar dari mobilnya. Sebentar, dia terlihat sibuk dengan hpnya. Setelah lewat


dari lima belas menit dia keluar dari mobil, mengambil boks kardus dengan


ukuran sedang dari bagasi mobil. Dengan sikap yang seperti biasa, tenang dan


tanpa banyak berekspresi dia membawa boks itu memasuki kafe. Seorang pelayan


penjaga pintu yang berdiri membuka pintu Menganggukkan kepala sopan.


“Saya sudah janji dengan


seseorang.” Han mengedarkan pandangan menyapu ruangan. Dia menemukan yang dia


cari. “Dia sudah menunggu di sana.” Tunjuknya dengan ekor matanya.


“Baik tuan silahkan.” Dia Menganggukkan


kepalanya lagi lalu mempersilahkan Han untuk menuju meja yang ditunjuknya tadi.


Lalu dia kembali ke tempatnya semula setelah pelanggannya menuju tempat


duduknya.


“Kau datang sendiri?” Suaranya


terdengar sangat kecewa. Bagaimana tidak, dia mengesampingkan semua yang masuk


ke pikirannya. Dan hanya memilih hal positif saja. Bahwa masih ada sedikit saja


harapan. Dia berdandan dengan maksimal. Dengan tidak tahu malu dia akan


tersenyum seperti tidak pernah terjadi apa pun.


Han tersenyum tipis sambil meletakan


boks di atas meja. Lalu duduk tanpa menjawab. Gerakannya di ikuti dengan


pandangan kesal wanita di depannya.


“Huh! Apa Nona masih berharap tuan


muda mau menemui Anda lagi.” Sinis.


“Apa! kamu sendiri yang


mengatakannya kalau Saga mau bertemu.” Helen terlihat sangat geram. Dari awal


dia memang sudah sangat curiga. Terakhir kali bertemu, Saga bahkan sudah


mengancam untuk tidak boleh menyapanya kalau tidak sengaja bertemu. Tapi dasar


gila, karena mendapat pesan Sekretaris sialan ini, hati dan pikirannya tidak


bisa di pakai berfikir sehat.


“Apa saya mengatakan Tuan Saga


akan datang. Silahkan cek lagi pesan yang saya kirim. Saya hanya mengatakan,


bertemu di kafe XX ada pesan Tuan Saga yang akan saya sampaikan.” Menunjuk hp


yang ada di atas meja tepat di depan helen.


“Kau!” Helen membanting hpnya


setelah membaca ulang pesan yang dikirim Han kemarin. “Kenapa kau mau bertemu


denganku?” Sampai sejauh ini Helen masih memiliki keberanian menggertak


Sekretaris Han. Bagaimanapun dia sudah kehilangan Saga dan harga dirinya. Tidak


ada apa pun yang perlu dia lindungi, imejnya di hadapan laki-laki ini sudah


hancur berkeping.


“Pelankan suara Anda Nona, atau


Anda sendiri yang akan merasa malu nanti.” Masih ada beberapa pelanggan di kafe


yang mulai sedikit terusik dengan ucapan keras Helen.


“Kenapa? Memang aku melakukan


apa?”


Han mulai mendesah kesal, dia


memalingkan wajah sebentar saat melihat seseorang, setelah orang itu duduk


tepat di belakang tempat duduknya dia mulai meraih boks yang ada di atas meja.


“Kalau saya jadi Anda saya bahkan


tidak akan muncul lagi setelah dua tahun ke hadapan tuan muda.” Han


mengeluarkan beberapa lembar foto. Melemparkannya tepat di hadapan Helen.


Gadis itu mulai merasa ada yang salah dari semua ini. Dia meletakan hpnya.


Mengambil foto. Tangannya mulai gemetar, foto-foto itu jatuh dari tangannya.


Foto-foto saat dia berada di luar


negri, saat dia  menikmati kebebasannya.


Kebebasan yang hanya sesaat saja dalam rencananya. Akan tetapi dia terlena,


hingga akhirnya dua tahun berlalu tanpa terasa. Dia berharap dengan wajah


polosnya dia bisa kembali lagi, dalam pelukan Saga menjadi wanita yang dicintainya.


“Kau sudah gila ya? Bagaimana


kau.”


Han mendongakkan kepala menatap


tajam Helen.


“Saya hanya melindungi tuan muda.”


“Apa! jadi kau tahu semua? Dari


awal kau pasti sudah mengawasiku kan.” Gemetar mencengkram meja. Pelayan datang


membawakan dua buah minuman. Dia meletakkannya lalu langsung berlalu pergi


melihat aura yang sangat mencekam dari kedua orang di meja ini.


“Saya mengawasi semua hal yang


berhubungan dengan tuan muda. Kalau Anda penasaran apa saya memeriksa latar

__ADS_1


belakang Anda. Tentu saja, saya memeriksa semua hal tentang riwayat hidup Anda.


Bahkan dari hal terkecil sekalipun.”


Helen ingin melemparkan gelas


minumannya ke wajah Sekretaris Han.


“Lantas kenapa? Kenapa kau


membiarkan aku masih bersama Saga dua tahun lalu?” gemetar-gemetar, antara


takut namun jauh lebih banyak kesal di hatinya. Selama ini dia ternyata diawasi, tidak, dari awal dia sudah diawasi.


Laki-laki ini tahu semua hal yang


kulakukan.


“Kenapa? Walaupun saya tahu Anda


rubah betina yang mendekati tuan muda hanya karena uang. Tapi saya membiarkan


Anda, karena tuan muda benar-benar tulus menyayangi Anda. Saat itu saya hanya  perlu memastikan Anda tidak berhubungan dengan


laki-laki lain dan mengkhianati tuan muda. Dan ternyata Anda masih punya hati


nurani untuk tidak melakukan itu, saat bersama tuan muda. Padahal kalau Anda


sedikit saja bermain mata dengan laki-laki lain pasti saya sudah menyingkirkan


Anda dari dulu dengan mudahnya.”


Kalau aku mengkhianati Saga apa kau


akan membunuhku saat itu. Helen menarik tangannya ke bawah meja. Agar tidak


terlihat dia mencengkeram tangannya sendiri. Menahan gemetar takut yang


tiba-tiba muncul.


“Kau menjijikan sekali!”


Han tertawa mendengar makian Helen.


“Kata itu bukankah lebih pantas


saya ucapkan untuk Anda Nona. Berhentilah bicara omong kosong tentang alasan


kepergian Anda ke luar negri untuk menjadi pelukis, terkenal karena karya-karya


sendiri, selain karena Anda pernah menjadi kekasih tuan muda apa Anda pikir


bisa diterima semudah itu di dunia seni yang sekarang Anda hidup. Saya tidak


tahu dari mana rasa percaya diri Anda itu.”


“Apa! memang itu alasanku pergi!”


berteriak mempertahankan sedikit saja harga diri. Beberapa orang menoleh karena


terganggu. Tapi tidak lama kembali ke makanan mereka.


“Bagaimana dengan menikmati


kebebasan. Apa Anda merasa berat dan tertekan mendapat kasih sayang tuan muda?”


Kasih sayang yang diberikan Saga sering kali berlebihan.


Helen tertawa memikirkan bagaimana


dulu Saga sangat menyayanginya. Bagaimana dia harus menjalani hidup sebagai


Saat itu Helen merasa ingin sejenak saja lari, dia akan kembali setelah dia


bebas menari dan berteriak di dunia luar sana. Dia berfikir setelah dia kembali


Saga tidak mungkin akan berubah, tapi ternyata semua tidak ada yang berjalan


sesuai keinginannya.


“Sekarang semua itu tidak penting


lagi!” Han bicara lagi. “Anda sudah dibuang,” Wahh, hebat sekali Sekretaris


Han, kamu memilih kata menyakitkan itu.


“Apa salahku!”


“Masih bertanya dengan tidak tahu


malunya.” Jelas mencibir. “Nona, Anda sudah mengkhianati ketulusan cinta tuan


muda. Membodohi laki-laki yang memang terlihat bodoh seperti Tuan Noah untuk


memuluskan rencana Anda. Dan yang terakhir, berusaha menggoyahkan hati polos


Nona Daniah. Itulah kesalahan terbesar Anda.”


Helen menunduk semakin dalam. Dia


ingin berteriak karena kesal dan marah. Namun kata-kata itu seperti benar-benar


menamparnya.


Pelan Helen bicara.


“Sampai sejauh mana Saga tahu, apa


dia tahu aku berselingkuh di belakangnya di luar negri.” Menatap Han sebentar,


lalu dia memalingkan wajah ke arah lain. Takut itu memasuki hatinya tanpa bisa


dia cegah.


“Kalau tuan muda tahu, apa Anda


masih punya kesempatan berlutut kemarin.” Suara Han mengiris keberanian Helen.


Laki-laki di hadapannya ini benar-benar sangat menakutkan. “Nona, ini


peringatan terakhir dari saya. Menghilang saja lah, pergilah dari negara ini


dan jangan pernah kembali lagi kalau Anda tetap mau hidup dengan nyaman.”


Aku mulai bosan berlama-lama


berurusan denganmu.


Han mengeluarkan selembar cek.


“Anggaplah ini sebagai kebaikan


terakhir tuan muda.” Han rasanya ingin melemparkan cek itu ke wajah Helen, tapi


dia hanya menggeser dengan tangannya. Helen melihat sekilas lalu dia tergelak. “Tidak usah sok keren menolak Nona, bukankah karena itu Anda mendekati tuan


muda.”


“Apa dia berbeda denganku.

__ADS_1


Wanita kampungan itu.” Tidak perlu ada yang ditutupi lagi. Helen meraih selembar


cek itu. Melipatnya dan memasukannya ke dalam tas. Kalau dia sok keren menolak


cek ini, toh dia juga tidak akan mendapatkan apa-apa. Dia tidak mendapatkan


Saga ataupun uangnya. Sekarang dia sudah kehilangan harga diri, untuk apa harus


kehilangan uang juga pikirnya. Dengan tidak tahu malu dia masih menunggu


jawaban Han.


“Kalian tidak bisa dibandingkan.


Nona kami terlalu berharga untuk dibandingkan dengan Anda.”


Apa! sudah gila ya dia.


Helen mencengkram meja marah.


Bagaimana dia bisa dibandingkan dengan Daniah. Dari semua level jelas dia ada


di atasnya. Wajah, karir. Jelas-jelas Daniah ada di bawahnya.


“Huh! Memang apa yang dia punya”


“Ketulusan. Perasaan tulusnya pada


tuan muda.” Jawaban Han terdengar sangat serius. Membuat Helen merinding


sekaligus tergelak.


“Haha, apa kamu bilang. Selain


kamu, tidak mungkin ada yang tulus kalau berhubungan dengan Saga. Mereka pasti


punya maksud tersembunyi.” Menyindir dirinya sendiri, dan mengganggap semua orang


sama dengan dirinya ketika mendekati Saga.


“Itulah yang membedakan Anda dan


nona kami.” Han melihat jam di tangannya. Sudah cukup membuang waktu meladeni


wanita ini pikir Han.  “Sudah cukup saya


bicara dengan Anda nona. Menghilanglah dengan tenang seperti angin. Jangan


pernah muncul di hadapan tuan Saga ataupun Nona Daniah lagi. Anda tahu kan saya


tahu semua.” Seringai tipis seperti biasanya muncul. Menjadi akhir penutup


kalimat panjangnya.


Aku benar-benar ingin melemparkan


gelas ini ke wajahmu.


“Tunggu! Satu pertanyaan lagi. Apa


Saga benar-benar mencintai Daniah?” Menatap lurus Sekretaris Han dengan


keberanian yang tersisa. Pertanyaan ini sangat penting dan akan dipakainya


sebagai landasan akan melakukan apa ke depannya nanti. Perihal hidupnya.


“Karena tuan muda sangat mencintai


Nona Daniah dan karena Nona Daniah adalah wanita yang membuat tuan muda


bahagia. Saya akan melindungi nona muda kami dari apa pun. Jadi berhati-hatilah


Nona, sehelai rambut saja Anda menyentuh nona kami, saya akan benar-benar


mematahkan jari-jari Anda.”


Helen mencengkeram tangannya.


Bagaimana Sekretaris Han bisa paham maksud dari pertanyaannya. Dia benar-benar


merasa sakit hati dengan Daniah dan ingin melihat sedikit saja gadis itu


menderita. Tapi, hanya mendengar ancaman barusan sudah membuat semua pikirannya


buyar. Semua rencananya sudah gagal bahkan sebelum dia memulai.


“Saya akan pergi. Ini hadiah


perpisahan untuk Anda. Simpanlah!  Rahasia


seharusnya tetap harus disembunyikan. Untuk apa? agar sesuatu itu tetap


menjadi berharga kan.” Senyum jahat yang tidak bisa dijawab walaupun hanya


dengan bantahan sepatah kata pun. Han mendorong boks di atas meja, sampai ke


depan Helen. “Tapi, sepertinya Anda belum bisa pergi. Masih ada seseorang yang


sepertinya penasaran dan ingin tahu, Helen si pelukis ini sebenarnya orang


seperti apa. ia kan Tuan Noah.”


Helen langsung bangun dan memutar


kepalanya. Dia melihat Noah duduk di kursi belakangnya dan pasti mendengar


semuanya.


“Kau!” Nafasnya sudah tersengal


panik.


“Ini balasan karena Anda menyentuh


Nona Daniah kemarin.” Bangun dari duduk.


“Sepertinya kau niat sekali ya


ingin menunjukkan kalau aku laki-laki bodoh.” Noah juga bangun dari tempat


duduknya, berjalan mendekat. Berdiri di hadapan Han.


“Saya tidak tahu Anda di sini


Tuan. Kalau tahu saya pasti akan berhati-hati bicara.”


Kurang ajar, jelas-jelas kau


melihatku tadi. Kau bahkan mulai melancarkan aksimu setelah aku datang kan.


Noah melihat Han meninggalkan


mereka, pergi dengan kemenangan.


“Noah!” Helen meraih tangan Noah.


Wajahnya sudah berubah mengiba. Namun entah kenapa hati laki-laki itu seperti


kebas. Dia tidak merasa kasihan sama sekali.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2