Terpaksa Menikahi Tuan Muda

Terpaksa Menikahi Tuan Muda
Sofia dan kekasihnya


__ADS_3

Kembali ke kamar hotel. Bersama


Sofi dan Jen. Setelah terdampar kembali ke masa sekarang, dari kenangan buruk beberapa tahun silam.


“ Kak Jen, aku ingat kejadian itu.


Aku refleks menampar Haze.” Sofi kembali membayangkan wajah kesal Haze. Sehabis


tangannya menempel keras di pipi laki-laki itu.


“ Terus, dia memukulmu juga?” Jen mengeryit dengan pertanyaan tidak masuk akalnya.


Hei, mana mungkin Haze melakukan itu.


“ Mana mungkin kak, tahukan sebaik


apa Haze” Sesal datang, apalagi sampai hari ini Haze bahkan belum mengiriminya


pesan apapun. “ Dia bahkan hampir menangis kemaren karena kaget aku berteriak


padanya.”


Membayangkan wajah Haze saat


kejadian saja Jen sudah ingin tertawa.


Hari dimana pristiwa penamparan


terjadi.


Hari itu cuaca sedikit mendung,


udara lembab di luar mobil yang mereka tumpangi. Angin sesekali bertiup cukup


keras. Mungkin menjadi pertanda alam agar segera turun hujan.


Saat itu lampu sudah menyala hijau,


suara klakson mobil sudah seperti makian. Tapi Haze belum mengerakan tangannya.


Mobil masih berhenti. Dia terlihat sedang berusaha mengumpulkan akal sehatnya.


Secepat kilat dia menyeka airmata yang menganak di pelupuk matanya. Saat suara


klakson mengejutkan matanya melihat lampu jalan. Dia segera tancap gas


meninggalkan makian pengemudi lain.


Sofi melirik cemas laki-laki di


belakang kemudi di sampingnya.


“ Maaf.” Tangannya mendekat ingin


meraih pipi Haze. Memeriksa bekas tangannya yang menempel keras tadi.


Mobil berdecit, berhenti tepat di


pinggir jalan. Sementara lalu lalang kendaraan tidak berhenti atau terusik


sedikitpun.


“ Kenapa memukulku, aku hanya ingin


menciumu sedikit saja.” Haze bicara pelan. Tanpa menatap Sofia, dia memilih


melihat kedepan, keluar kaca. Jalanan lurus yang berseliwearan kendaraan.


“ Kenapa mencium tiba-tiba! Kau


bahkan tidak minta izin.” Sofi menjawab cepat.


Karena kau mengemaskan sekali saat


mulutmu tidak berhenti bicara! Haze ingin berteriak begitu. Tapi dia


menahannya.


“ Benarkan, cuma aku yang menyukaimu.


Cuma aku yang suka dan tergila-gila padamu. Kau mau pacaran denganku karena aku


jatuh cinta dan nembak duluankan? Perasaanmu padaku masih setengah-setengah.” Keluar juga kata-kata itu dari mulut Haze. Selama ini dia hanya mendiga-duga.


“ Tidak!”


Sofi selalu merasa kalau


perasaannya pada Haze tulus dan tidak dibuat-buat.


“ Bohong! Buktinya kamu semarah


itu. Buktinya kamu tidak pernah coba-coba melakukan kontak fisik. Akukan hanya


ingin menunjukan sayangku padamu.” Walaupun berteriak tapi Haze malah yang


terlihat ingin menangis karena frustasi sekarang. Apalagi saat Sofi terkejut


dengan kata-kata kerasnya. Dia bahkan ingin segera minta maaf dan memeluk gadis


di depannya. Tapi dia sekuat tenaga mencengkram kemudi.

__ADS_1


“ Maaf.” Sofia mengalah pada akhirnya. mungkin refleks tangannya juga sudah keterlaluan. Seharusnya dia cukup mendorong Haze tadi.


“ Lihatlkan, kau cuma bisa minta


maaf tanpa mau menjelaskan apapun. Karena kau tau aku pasti memaafkanmu jadi


kamu cuma bilang maaf.” Tidak mau menerima maaf Sofia semudah biasanya. padahal hatinya benar-benar ingin mengengam tangan Sofi sekarang.


“ Maaf.”


Sofia binggung bagaimana harus


menjelaskan. Kalau kak Saga tiba-tiba muncul di kepalanya, menatapnya tajam. Jadi tangannya refleks bergerak sendiri. Tapi semua akan menjadi panjang. Mungkin latar belakangnya sebagai adik presdir Antarna Group akan terbongkar pada akhirnya.


Haze memukul kemudi mobil. “Jangan


bicara padaku lagi sekarang.”


“ Kenapa?” Sofi dengan polosnya


bertanya. “ Aku minta maaf. Aku sayang sama kamu Haz, tapikan kita sudah janji,


untuk tidak melakukan kontak fisik. Apalagi kamu tiba-tiba menciumku, akukan


kaget.”


Haze terdiam, menyadari


kesalahannya. Tapi tentu saja dia tidak mau mengakuinya. Dia sedang merasa


sangat kesal sekarang. Perasaan Sofia padanya saat ini saja dia merasa sanksi.


“ Kau tidak benar-benar


menyukaikukan?” Akhirnya dia mencoba menegaskan kesimpulan yang dia buat tadi.


“ Tidak. Aku menyukaimu. Lihat di


chat siapa yang paling sering bilang sayang duluan. Akukan.” Menunjukan hp di depan wajah Haze.


Mati aku, aku sudah menghapus


riwayat chat.


Haze merebut hp ditangan Sofi,


memeriksa.


“ Lihat, kamu bahkan menghapus


semua riwayat chat kita. Padahal chat kamu satu bulan lalu masih ada di hpku.”


Mengambil hp miliknya dan menunjukannya pada Sofi. “ Lihat, seberapa pentingnya


“ Ini karena kakakku memeriksa


hpku.” Menyerah sudah. Keluar juga kebenaran dari mulut Sofi.


“ Apa! dia memeriksa hpmu? Kenapa?


Kak Jen?” Haze mengenal jen sebagai satu-satunya kakak bagi Sofi.


“ Bukan, kakak laki-lakiku.”


Tepatnya Han yang memeriksanya.


“ Kenapa dia memeriksa hpmu?” Haze


merasa tidak wajar. Bukankah aneh kalau sampai seorang kakak memeriksa hp adiknya.


Aaaaaa, bagaimana aku


menjelaskannya.


Lagi-lagi Sofi tidak bisa


mengatakan apapun perihal Saga. Membuat Haze kembali kesal. Merasa bahwa alasan yang dibuat Sofi hanya mengada-ada, untuk menutupi perasaannya yang sebenarnya.


“ Sebaiknya kita jangan bicara beberapa


waktu dulu.” Akhirnya Haze memutuskan. walaupun dia sendiri tidak rela.


“ Tapi kalau chat bolehkan?”


“ Aku tidak akan membalas.” Membalas cepat.


“ Tapi kitakan ada kelas bareng,


apa aku juga tidak boleh menyapamu.”


“ Sofia!” Setengah berteriak karena sudah kesal.


“ Apa!” Sofiapun sama kesalnya.


Kehilangan kata-kata untuk membalas, lalu


laki-laki itu keluar. Membanting pintu mobil dan meninggalkan Sofia di dalam mobil. Baru beberapa langkah kakinya sudah berhenti. Ketika sadar dia ada dimana.


“ Haz mau kemana? Disinikan jauh


dari kampus. Bawa mobilnya ke kampus dulu, kamu ada kuliahkan?”

__ADS_1


Lanjutkan marahnya nanti saja pikir Sofia.


Langkah kaki Haze terhenti. Dia berbalik, menatap jalanan panjang dan mobil Sofia.


Menimbang-nimbang. Akhirnya dia masuk lagi kedalam mobil.


“ Jangan bicara padaku.” Katanya ketus.


“ Ia, ia. Aku akan diam.”


Dan Sofi asik dengan hpnya


sepanjang perjalanan.


Mendengar cerita adiknya Sofi, Jen


guling-guling di atas tempat tidur tertawa.


Membayangkan wajah Haze yang kesal setengah mati, sementara Sofi yang masih asik bermain dengan hpnya.


“ Kasian sekali Haze, jadi kalian


belum bertegur dua hari ini?”


“ Belum.”


“ Lagian cium sedikit gak papa kali


Sof, Hazekan pria baik juga. Lagipula itu di lampu merah, memang mau ngapain si


dia.” Menyenggol siku adiknya.


“ Kak jen gak tau si, saat Haze


habis nyium itu wajah kak Saga langsung membelalak di mata aku tahu.”


Kasihan sekali batin Jen, tapi


jujur diapun selalu mengingat pristiwa itu di kepalanya. Saat kasih sayang Saga


menjadi kemarahan. Saat dia mengatakan menjaga kehormatan sama saja menjaga


cinta dan perasaanmu. Sesuatu yang harus kau berikan pada orang yang tepat dan


waktu yang tepat.


“ Dan kami sepakat untuk tidak


melakukan kontak fisik, tapi dia malah menciumku. Siapa yang tidak kaget.” Sofia membuat pembelaan, kalau dia tidak sepenuhnya salah.


“ Ia, ia, Haze juga salah. Tapi


kamu juga tidak seratus persen benar."


“ Kenapa lagi?”


“ Karena kau menamparnya tampa


peringatan.” Sofi merengut, mungkin yang dilakukannya berlebihan.


“ Tapi kak, aku ada teman yang


pernah melakukan hal seperti itu selama pacaran. Dia bilang, awalnya hanya


sebatas ciuman saja, lalu pacarnya minta lebih dan lebih. Dan akhirnya mereka


melakukan hubungan tubuh. Aaaaa. Aku ngeri membayangkan.” Karena Sofi mengikuti


perkembangan hubungan temannya itu dengan kekasihnya. Awalnya temannya itu merasa


menyesal, dan marah pada dirinya sendiri. Berjanji tidak akan pernah


mengulanginya. Cukup sekali dia terjebak dalam hubungan fisik yang tidak sehat.


“ Tapi lama-kelamaan karena


pacarnya menuntut akhirnya hubungan mereka jadi seperti itu kak.


Bertemu hanya sebatas kontak fisik, padahal mereka belum


menikah.”


Ini bukan perkara suci atau sok


suci, namun Jen dan Sofi meyakini, seperti apa yang pernah dia dengar dari


kakak laki-laki mereka. Bahwa menjaga kehormatan diri bukan sebatas dipandang


kau mempersembahkan robekan selaputt dara pada laki-laki yang akan menjadi belahan hidupmu. Tidak seperti itu, tapi tubuhmu, adalah bagian cinta dan


perasaanmu. Berikanlah pada orang yang tepat dan waktu yang tepat.


Sekali lagi, Jen dan Sofi


membayangkan. Kalau Kak Saga yang sesempurna itu bahkan bisa menjaga hatinya.


Bahkan saat bersama Helen yang luar biasa, mereka tidak melakukan hubungan di luar batas. Kenapa mereka tidak. Untuk itulah mereka mengengam kata-kata Saga seperti berlian di hati mereka. Mereka ingin menikah dengan laki-laki seperti kak Saga. Hingga akhirnya mereka merasa perlu menjaga diri mereka agar pantas. Seperti kakak ipar mereka yang bahkan memberikan ciuman pertamanya untuk suaminya.


Aaaaa, Haze sudah mengambil ciuman pertamaku!


Sofia panik.

__ADS_1


bersambung


__ADS_2