Terpaksa Menikahi Tuan Muda

Terpaksa Menikahi Tuan Muda
155. Bulan Madu (Part 2)


__ADS_3

Daniah hidup dalam keluarga kaya


yang berkecukupan, namun dia selalu mendapat fasilitas hidup nomor dua


dibanding dengan semua saudaranya. Risya dan Raksa selalu menjadi prioritas


utama bagi ibu tirinya. Baik dalam hal pendidikan ataupun dalam kehidupan


sehari-hari. Namun entah kenapa tak pernah terselip iri jika hanya berhubungan


dengan itu. Kerinduan Daniah hanyalah pada kasih sayang orangtua. Pada sentuhan lembut di kepalanya, pada ucapan bangga akan semua prestasi di sekolahnya. Namun, menjadi


sebaik apa pun dirinya, dia selalu dipandang sebelah mata. Untuk itu setelah dewasa


dan mulai mengerti artinya hidup, dia tidak pernah berharap apa pun lagi. Baik


kasih sayang ataupun sekedar uang saku yang sama untuknya dan Risya.


Karena itulah, fasilitas mewah


ini pun untuk pertama kalinya dia rasakan. Walaupun sudah beberapa bulan menikah


dengan Saga, namun ini memang kali pertamanya pergi jauh.  Untuk pertama kalinya Daniah naik pesawat


pribadi. Pertama kalinya melihat sedekat ini yang namanya pesawat pribadi.


Aku benar-benar penasaran, sebanyak


apa ya kekayaan Tuan Saga.


Mereka disambut pilot yang akan


membawakan pesawat, dua orang pramugari dalam balutan pakaian resmi.  Mereka terlihat sangat cantik, bahkan Daniah


nyaris menyamakan gaya dan kecantikan mereka dengan Helena. Setelah dia turun


dari mobil dan berjalan di samping Saga, mereka menyapa dengan sopan. Tidak ada


pembicaraan apa pun setelahnya, Semua orang yang akan bertugas dalam penerbangan


ini hanya mengikuti langkah kaki Saga dan Daniah. Sekretaris Han terlihat


bicara dengan mereka setelah Daniah dan Saga masuk dan duduk di kursi.


Orang kaya benar-benar berbeda.


Dalam hal ini saja Daniah sudah


merasa, dia benar-benar ada di level yang berbeda dengan suaminya. Dia sendiri


masih terlihat canggung saat membalas sapaan  tadi. Disentuhnya dinding pesawat di dekat


dia duduk. Membayangkan saja dia dulu tidak akan pernah, naik pesawat pribadi


seperti ini. Apalagi milik suaminya sendiri.  Semua interior di dalam pesawat sangat berbeda


dari pengalamannya naik pesawat. Di sini terlihat sangat mewah dan dipilih


dengan sangat teliti.


Jangan bilang, Sekretaris Han yang


memilih interior dalam pesawat ini.


“Sayang, kita mau ke mana?” Daniah


menoleh di tepat duduknya, melihat Saga yang duduk bersebrangan di depannya.


Laki-laki itu masih melihat hp di tangannya. Han memasangkan belt pengamanan di kursi


tuannya. Menghalangi pandangan Daniah.


“Tidak tahu.” Saga menoleh,  melihat dari punggung Han dan dia tersenyum


senang begitu karena jawabannya membuat orang kesal. “Han yang mengatur


semuanya.” Jawabnya kemudian yang puas melihat wajah kecut Daniah.


Apa! walaupun Sekretaris Han yang


mengatur semuanya, tapi kalau sampai kamu tidak tahu tujuan kita pergi apa itu


masuk akal. Kalau dia membawa kita ke antartika memang kamu mau ikut juga!


Daniah beralih mencari perhatian


Sekretaris Han. Laki-laki itu melakukan hal yang sama di kursi Daniah. Walaupun


tahu Daniah sudah memasang belt pengamannya dengan benar, tapi dia


memastikannya ulang.

__ADS_1


“Sekretaris Han, kita mau ke mana?”


Selesai dengan urusannya, Han masih berdiri di samping kursi Daniah.


“Pergi bulan madu Nona.”


“Aku tahu!” Memukul bahu Han di


sampingnya dengan keras. “Aku tahu kalau kita mau pergi bulan madu. Maksudku


ke mana?” Memukul lagi. Untuk yang kedua kalinya Saga langsung menoleh. Menatap


tangan yang masih menempel di bahu Han.


“Han, walaupun itu kau aku tidak


akan mengampuni mu juga.” Ucapnya serius, masih menatap lekat tangan Daniah.


“Maafkan saya Tuan Muda. Saya akan


berhati-hati lagi kedepannya.” Tahu, arti pandangan itu. Dia pun Mundur menjauhi


kursi Daniah, menyisakan tanda tanya di mata Daniah. Gadis itu meletakan


tangannya ke pegangan kursi tanpa merasa bersalah.


“Sekretaris Han.” Panggil Daniah


sambil berbalik dari kursinya. Lagi-lagi Saga yang menoleh. Merasa terganggu ketika Daniah bicara dengan orang lain saat dia ada di sampingnya. Sekalipun itu Han, dia masih merasa tidak suka. “Kita mau ke mana?” tanya Daniah lagi tidak merasa terganggu dengan pandangan tidak suka Saga.


“Bulan madu Anda dan tuan muda


Nona.”


Aaaaaaa, aku benar-benar ingin


memukulmu sekarang.


“Niah.” Saga sudah meletakan hp


di tanganya. Memiringkan tubuh, bertopang pada satu tangannya untuk bersandar. Menunjukan ekspresi kesal.


Apa kau tidak tahu kalau aku sedang cemburu. Makinya sambil hanya menatap tajam.


“Eh, ia.”


Kenapa ini, kenapa dia serius


begitu.


menyentuhmu." Menunjukan kalau kata-katanya sekali lagi menjadi aturan wajib yang harus dipatuhi Daniah. "Sama halnya, aku tidak mau kau sembarangan menyentuh laki-laki.


Walaupun itu Han sekali pun.” Melirik Han yang duduk di belakangnya.


Kenapa aku yang harus dibawa-bawa. Han


Hah! Apa! memang apa yang kulakukan?


Tidak tahu harus menjawab apa. Dan akalnya pun mengisyaratkan dia untuk diam,


daripada semua berbuntut panjang.


“Kau bisa menyentuhku kapan pun dan


di manapun kau mau.” Saga menarik bajunya sampai memperlihatkan perut rata dan


dadanya yang putih bersih itu. “ Kau boleh melakukannya sekarang. Ayo sentuh aku sesukamu!” Menepuk Dadanya beberapa kali.


Haha, sudah gila ya! Tutup bajumu!


“Haha, ia sayang terimakasih atas


kesempatannya.  Sekarang tutup tubuh


sempurnamu itu, nanti kamu kedinginan.” Daniah memukul tangannya sendiri,


terdengar suara yang cukup keras. Walaupun masih terdengar manusiawi, dia pun


tidak terlihat kesakitan. “Aku akan berhati-hati kedepannya, supaya tangan ini


tidak melakukan kesalahan.”


“Hei, kenapa kau memukul


tanganmu.” Membuka belt pengaman yang sudah terpasang. Berlutut di samping Daniah,


meraih tangan istrinya. “Kau tidak terluka kan? Kenapa memukul tanganmu. Yang


salah itu Han. Kenapa dia diam saja kau menyentuhnya tadi. Seharusnya dia yang


menghindar.” Mencium tangan Daniah beberapa kali.

__ADS_1


Yang disebut-sebut hanya menggeleng dan berdecak dalam hati di kursi belakang.


“Sayang, aku tidak apa-apa.”


Jangan gila begini kumohon, lagipula aku hanya memukul tanganku sedikit.


“Jangan lakukan lagi.” Saga


mengucapkannya dengan tegas. Sambil menggenggam erat tangan istrinya.


“ Ia,ia.” Kumohon sudahi drama ini


Tuan Saga. Kau membuatku merinding.


“Kedepannya jangan pernah


menyakiti dirimu sendiri.” Saga meraih dagu istrinya. “Aku tidak rela.” Masih duduk


berjongkok di tempatnya.


Jangan pernah tersakiti oleh


siapa pun, bahkan oleh dirimu sendiri. Untuk apa aku ada di sampingmu dan


mencintaimu kalau kau masih tersakiti. Saga menarik tangan Daniah meminta


kepastian ulang.


“Ia sayang. Aku akan sangat


berhati-hati kedepannya.” Saga bangun setelah merasa yakin, dia kembali ke tempat


duduknya setelahnya seorang pilot mendekat,  mengatakan pesawat akan segera Lepas landas. Han


kembali  mendekat dan  memakaikan belt pengaman di kursi Saga.


Setelahnya menepuk bahu pilot yang terlihat masih cukup muda itu.


“Apa kau baik-baik saja? Simpan


yang kau lihat hari ini untuk dirimu sendiri.” Berulang Han menepuk bahu sang


pilot sambil mengantarnya ke tempat tugasnya. Memberi penegasan, kalau apa yang dia katakan bukan sekedar main-main.


“Baik Tuan.”


Bagaimana Sekretaris Han bisa tahu


yang kupikirkan.


Sang pilot tadi termangu cukup lama melihat


semua kejadian yang berlangsung. Hanya wajah bingungnya yang terlihat  mencerna kejadian tidak masuk akal di depannya.


Apa dia benar-benar Tuan Saga?


Untuk pertama kalinya sejak banyak penerbangan yang ia lakukan bersama Antarna


Group untuk pertama kalinya dia melihat Presdir Antarna Group itu bersikap


layaknya manusia normal.


Jadi dia ini Daniah, wanita paling


beruntung di negri ini yang mendapat pengakuan cinta Tuan Saga. Hemm terlihat


biasa. Hemm tapi cukup manis juga. Dan ya Tuhan, bagaimana dia bisa membuat


Tuan Saga berlutut di dekat kursinya seperti itu.


Dia ingin berbagi dengan teman di sebelahnya, tapi ucapan Sekretaris Han langsung menampar wajahnya keras. Hingga dia hanya tersenyum mengingat kejadian di mana Tuan Saga mencium tangan istrinya sambil berlutut tadi.


Sementara itu di bagian penumpang,  “Han. Hati-hatilah, aku


mengawasimu.” Saat Han berjalan melewati kursi Saga.


“Saya yang salah Tuan Muda, saya akan berhati


hati kedepannya.”


Padahal saya tidak melakukan


apa-apa. Nona, berhati-hatilah dengan tangan Anda mulai sekarang. Melirik


Daniah.


Apa! Tuan Saga yang aneh! Kenapa


protes padaku.


Daniah tak kalah melotot. Rasanya ingin memukul bahu Han lagi.

__ADS_1


Tapi ultimatum itu seperti hantu yang akan terngiang di pikiran Daniah selamanya.


Bersambung


__ADS_2