
Daniah hidup dalam keluarga kaya
yang berkecukupan, namun dia selalu mendapat fasilitas hidup nomor dua
dibanding dengan semua saudaranya. Risya dan Raksa selalu menjadi prioritas
utama bagi ibu tirinya. Baik dalam hal pendidikan ataupun dalam kehidupan
sehari-hari. Namun entah kenapa tak pernah terselip iri jika hanya berhubungan
dengan itu. Kerinduan Daniah hanyalah pada kasih sayang orangtua. Pada sentuhan lembut di kepalanya, pada ucapan bangga akan semua prestasi di sekolahnya. Namun, menjadi
sebaik apa pun dirinya, dia selalu dipandang sebelah mata. Untuk itu setelah dewasa
dan mulai mengerti artinya hidup, dia tidak pernah berharap apa pun lagi. Baik
kasih sayang ataupun sekedar uang saku yang sama untuknya dan Risya.
Karena itulah, fasilitas mewah
ini pun untuk pertama kalinya dia rasakan. Walaupun sudah beberapa bulan menikah
dengan Saga, namun ini memang kali pertamanya pergi jauh. Untuk pertama kalinya Daniah naik pesawat
pribadi. Pertama kalinya melihat sedekat ini yang namanya pesawat pribadi.
Aku benar-benar penasaran, sebanyak
apa ya kekayaan Tuan Saga.
Mereka disambut pilot yang akan
membawakan pesawat, dua orang pramugari dalam balutan pakaian resmi. Mereka terlihat sangat cantik, bahkan Daniah
nyaris menyamakan gaya dan kecantikan mereka dengan Helena. Setelah dia turun
dari mobil dan berjalan di samping Saga, mereka menyapa dengan sopan. Tidak ada
pembicaraan apa pun setelahnya, Semua orang yang akan bertugas dalam penerbangan
ini hanya mengikuti langkah kaki Saga dan Daniah. Sekretaris Han terlihat
bicara dengan mereka setelah Daniah dan Saga masuk dan duduk di kursi.
Orang kaya benar-benar berbeda.
Dalam hal ini saja Daniah sudah
merasa, dia benar-benar ada di level yang berbeda dengan suaminya. Dia sendiri
masih terlihat canggung saat membalas sapaan tadi. Disentuhnya dinding pesawat di dekat
dia duduk. Membayangkan saja dia dulu tidak akan pernah, naik pesawat pribadi
seperti ini. Apalagi milik suaminya sendiri. Semua interior di dalam pesawat sangat berbeda
dari pengalamannya naik pesawat. Di sini terlihat sangat mewah dan dipilih
dengan sangat teliti.
Jangan bilang, Sekretaris Han yang
memilih interior dalam pesawat ini.
“Sayang, kita mau ke mana?” Daniah
menoleh di tepat duduknya, melihat Saga yang duduk bersebrangan di depannya.
Laki-laki itu masih melihat hp di tangannya. Han memasangkan belt pengamanan di kursi
tuannya. Menghalangi pandangan Daniah.
“Tidak tahu.” Saga menoleh, melihat dari punggung Han dan dia tersenyum
senang begitu karena jawabannya membuat orang kesal. “Han yang mengatur
semuanya.” Jawabnya kemudian yang puas melihat wajah kecut Daniah.
Apa! walaupun Sekretaris Han yang
mengatur semuanya, tapi kalau sampai kamu tidak tahu tujuan kita pergi apa itu
masuk akal. Kalau dia membawa kita ke antartika memang kamu mau ikut juga!
Daniah beralih mencari perhatian
Sekretaris Han. Laki-laki itu melakukan hal yang sama di kursi Daniah. Walaupun
tahu Daniah sudah memasang belt pengamannya dengan benar, tapi dia
memastikannya ulang.
__ADS_1
“Sekretaris Han, kita mau ke mana?”
Selesai dengan urusannya, Han masih berdiri di samping kursi Daniah.
“Pergi bulan madu Nona.”
“Aku tahu!” Memukul bahu Han di
sampingnya dengan keras. “Aku tahu kalau kita mau pergi bulan madu. Maksudku
ke mana?” Memukul lagi. Untuk yang kedua kalinya Saga langsung menoleh. Menatap
tangan yang masih menempel di bahu Han.
“Han, walaupun itu kau aku tidak
akan mengampuni mu juga.” Ucapnya serius, masih menatap lekat tangan Daniah.
“Maafkan saya Tuan Muda. Saya akan
berhati-hati lagi kedepannya.” Tahu, arti pandangan itu. Dia pun Mundur menjauhi
kursi Daniah, menyisakan tanda tanya di mata Daniah. Gadis itu meletakan
tangannya ke pegangan kursi tanpa merasa bersalah.
“Sekretaris Han.” Panggil Daniah
sambil berbalik dari kursinya. Lagi-lagi Saga yang menoleh. Merasa terganggu ketika Daniah bicara dengan orang lain saat dia ada di sampingnya. Sekalipun itu Han, dia masih merasa tidak suka. “Kita mau ke mana?” tanya Daniah lagi tidak merasa terganggu dengan pandangan tidak suka Saga.
“Bulan madu Anda dan tuan muda
Nona.”
Aaaaaaa, aku benar-benar ingin
memukulmu sekarang.
“Niah.” Saga sudah meletakan hp
di tanganya. Memiringkan tubuh, bertopang pada satu tangannya untuk bersandar. Menunjukan ekspresi kesal.
Apa kau tidak tahu kalau aku sedang cemburu. Makinya sambil hanya menatap tajam.
“Eh, ia.”
Kenapa ini, kenapa dia serius
begitu.
menyentuhmu." Menunjukan kalau kata-katanya sekali lagi menjadi aturan wajib yang harus dipatuhi Daniah. "Sama halnya, aku tidak mau kau sembarangan menyentuh laki-laki.
Walaupun itu Han sekali pun.” Melirik Han yang duduk di belakangnya.
Kenapa aku yang harus dibawa-bawa. Han
Hah! Apa! memang apa yang kulakukan?
Tidak tahu harus menjawab apa. Dan akalnya pun mengisyaratkan dia untuk diam,
daripada semua berbuntut panjang.
“Kau bisa menyentuhku kapan pun dan
di manapun kau mau.” Saga menarik bajunya sampai memperlihatkan perut rata dan
dadanya yang putih bersih itu. “ Kau boleh melakukannya sekarang. Ayo sentuh aku sesukamu!” Menepuk Dadanya beberapa kali.
Haha, sudah gila ya! Tutup bajumu!
“Haha, ia sayang terimakasih atas
kesempatannya. Sekarang tutup tubuh
sempurnamu itu, nanti kamu kedinginan.” Daniah memukul tangannya sendiri,
terdengar suara yang cukup keras. Walaupun masih terdengar manusiawi, dia pun
tidak terlihat kesakitan. “Aku akan berhati-hati kedepannya, supaya tangan ini
tidak melakukan kesalahan.”
“Hei, kenapa kau memukul
tanganmu.” Membuka belt pengaman yang sudah terpasang. Berlutut di samping Daniah,
meraih tangan istrinya. “Kau tidak terluka kan? Kenapa memukul tanganmu. Yang
salah itu Han. Kenapa dia diam saja kau menyentuhnya tadi. Seharusnya dia yang
menghindar.” Mencium tangan Daniah beberapa kali.
__ADS_1
Yang disebut-sebut hanya menggeleng dan berdecak dalam hati di kursi belakang.
“Sayang, aku tidak apa-apa.”
Jangan gila begini kumohon, lagipula aku hanya memukul tanganku sedikit.
“Jangan lakukan lagi.” Saga
mengucapkannya dengan tegas. Sambil menggenggam erat tangan istrinya.
“ Ia,ia.” Kumohon sudahi drama ini
Tuan Saga. Kau membuatku merinding.
“Kedepannya jangan pernah
menyakiti dirimu sendiri.” Saga meraih dagu istrinya. “Aku tidak rela.” Masih duduk
berjongkok di tempatnya.
Jangan pernah tersakiti oleh
siapa pun, bahkan oleh dirimu sendiri. Untuk apa aku ada di sampingmu dan
mencintaimu kalau kau masih tersakiti. Saga menarik tangan Daniah meminta
kepastian ulang.
“Ia sayang. Aku akan sangat
berhati-hati kedepannya.” Saga bangun setelah merasa yakin, dia kembali ke tempat
duduknya setelahnya seorang pilot mendekat, mengatakan pesawat akan segera Lepas landas. Han
kembali mendekat dan memakaikan belt pengaman di kursi Saga.
Setelahnya menepuk bahu pilot yang terlihat masih cukup muda itu.
“Apa kau baik-baik saja? Simpan
yang kau lihat hari ini untuk dirimu sendiri.” Berulang Han menepuk bahu sang
pilot sambil mengantarnya ke tempat tugasnya. Memberi penegasan, kalau apa yang dia katakan bukan sekedar main-main.
“Baik Tuan.”
Bagaimana Sekretaris Han bisa tahu
yang kupikirkan.
Sang pilot tadi termangu cukup lama melihat
semua kejadian yang berlangsung. Hanya wajah bingungnya yang terlihat mencerna kejadian tidak masuk akal di depannya.
Apa dia benar-benar Tuan Saga?
Untuk pertama kalinya sejak banyak penerbangan yang ia lakukan bersama Antarna
Group untuk pertama kalinya dia melihat Presdir Antarna Group itu bersikap
layaknya manusia normal.
Jadi dia ini Daniah, wanita paling
beruntung di negri ini yang mendapat pengakuan cinta Tuan Saga. Hemm terlihat
biasa. Hemm tapi cukup manis juga. Dan ya Tuhan, bagaimana dia bisa membuat
Tuan Saga berlutut di dekat kursinya seperti itu.
Dia ingin berbagi dengan teman di sebelahnya, tapi ucapan Sekretaris Han langsung menampar wajahnya keras. Hingga dia hanya tersenyum mengingat kejadian di mana Tuan Saga mencium tangan istrinya sambil berlutut tadi.
Sementara itu di bagian penumpang, “Han. Hati-hatilah, aku
mengawasimu.” Saat Han berjalan melewati kursi Saga.
“Saya yang salah Tuan Muda, saya akan berhati
hati kedepannya.”
Padahal saya tidak melakukan
apa-apa. Nona, berhati-hatilah dengan tangan Anda mulai sekarang. Melirik
Daniah.
Apa! Tuan Saga yang aneh! Kenapa
protes padaku.
Daniah tak kalah melotot. Rasanya ingin memukul bahu Han lagi.
__ADS_1
Tapi ultimatum itu seperti hantu yang akan terngiang di pikiran Daniah selamanya.
Bersambung