Terpaksa Menikahi Tuan Muda

Terpaksa Menikahi Tuan Muda
Bulan Madu (Part 6)


__ADS_3

Setelah melalui beberapa drama,


Daniah berhasil meyakinkan Saga bahwa dia akan baik-baik saja. Dalam hati gadis


itu  berteriak, aku baik-baik saja tuan Saga. Pergilah dengan tenang dan


kembalilah tanpa keributan. Satu ciuman panjang atas inisiatifnya berhasil


meyakinkan Saga. Laki-laki itu yang berharap istrinya merengek minta ikut


sepertinya sedikit terobati kecewanya. Tapi sepanjang masuk ke dalam mobil ada


banyak sekali rentetan tuntutan yang ia lontarkan. Daniah sambil melingkarkan


tangan di pinggang suaminya hanya menjawab iya sayang, ia sayang. Sambil


otaknya mengingat-ingat semua yang di sebutkan Saga. Aturan tidak tertulis


selama berpisah dengannya. Aturan akan batal saat mereka bertemu lagi nanti.


Cih, sudah seperti mau pergi


ke bulan saja lamanya. Banyak sekali yang harus kuingat.


Lambaian tangannya melepas


kepergian Saga mengalahkan cerahnya mentari pagi yang sedang mulai memanaskan


bumi.


Aku bebas!


Setelah kepergian Saga mereka


kembali ke vila dan bersiap-siap. Daniah mengikat rambutnya tinggi. Tapi dia


masih memakai pakaian yang tadi dia pakai. Tidak mungkin menganti style karena


jelas pakaian yang ada di kopernya adalah hasil instruksi pak Mun.


Turun dari tangga dia bertemu


dengan pak Mun yang membawakan beberapa vitamin yang harus dia minum,


berdasarkan resep dokter yang sudah dia temui beberapa waktu lalu. Tanpa protes


ditelannya semua pil yang diberikan.


“ Terimakasih pak. Saya permisi ya


mau keluar.”


“ Baik nona. Jangan terlalu


memaksakan diri. Istirahat kalau nona merasa lelah.”


Katakan itu pada tuan Saga pak Mun!


Ingin Daniah berkata begitu. Tapi dia hanya tersenyum dan mengangukan


kepalanya, lalu pamit pergi.


Saat ini, Daniah dan Aran sudah


berada di dalam mobil. Saling menyesuaikan diri satu sama lain untuk tidak


merasa canggung. Aran, karena memang terbiasa berinteraksi dengan banyak orang


sebelum masa pengasingannya, dia terlihat mudah menyesuaikan diri. Karena dia


merasa nona muda di hadapannya ini luar biasa baiknya, dibanding dengan para


wanita kaya yang pernah berinteraksi dengannya selama ini. Sementara Daniah


terlihat melirik Aran beberapa kali. Mengamati wajah dan situasi. Mencoba


mengali karakter Aran. Pengawal baru yang di bawa langsung sekertaris Han. Sepertinya


ketika menyapa tadi, dia tidak sekaku Leela. Sedikit kesimpulan yang diambil


Daniah.


Karena jalanan yang lenggang, udara


yang segar, dan angin yang sejuk membuat mereka memutuskan membuka sedikit


jendela mobil. Membiarkan udara masuk dan membuat mereka merasakan kesegaran


alami yang sudah jarang mereka nikmati di ibu kota. Udara sudah termakan


banyaknya polusi. Membuat keadaan seperti sekarang selalu menjadi dambaan


ketika berada di luar kota.


“ Tadinya aku pikir kalian sedang


berkencan. Kamu dan sekertaris Han.” Kata-kata Daniah memecah keheningan.


Ketika dia sudah mendapatkan analisis karakter Aran berdasarkan perenungan


mendalamnya.


Sepertinya gadis ini menyenangkan,


pikir Daniah.


“ Haha.” Aran langsung tergelak dan


tidak bisa menahan tawanya. Dia dan sekertaris Han terlibat hubungan romantis.


Sepertinya nona Daniah jauh lebih berhausinasi dibandingkan dirinya yang nyambi

__ADS_1


menjadi penulis. Hubungan mereka berlandaskan hutang masa lalu. Hanya itu, tidak


lebih dan kurang. “Nona, itu mustahil terjadi. Kalau saya masih mungkin tergoda


dengan wajah dingin dan tampannya  tuan


Han. Tapi kalau dia, memandang saya manusia juga baru-baru ini.”


Aku itu cuma serangga di depannya.


“ Kenapa?” Benar juga, ini sedari


kemarin mengerogoti pikiran Daniah. Penasaran,  hubungan seperti apa yang terjalin antara dia dan Han. Saat semalam dia


menanyakannya pada Saga. Laki-laki itu hanya menjawab tidak tahu, mana kutahu,


tidak perduli dan tidak mau tahu. Cih, apa si yang bisa membuatnya perduli pada


orang lain.  “ Oh ya, sebelum seperti


sekarang Aran dari bagian apa di Antarna Group. Apa kau melakukan kesalahan


sampai harus mengantikan leela?”


Leela, siapa dia? Aran mencari-cari


dalam daftar nama orang-orang penting Antarna yang dia ketahui. Nihil. Dia


memang tidak tau apa-apa mengenai Antarna kecuali sesuatu yang di realese ke


media.


“ Saya tidak be......” HP di tas


Daniah terdengar bergetar dan berbunyi nyaring. Mengejutkan keduanya. Aran


langsung diam dan tidak melanjutkan kalimatnya. Dia belum meluruskan


kesalahpahaman nona di depannya.


“ Maaf. Sebentar ya. Kaget ya, haha, aku juga


kaget.“  Daniah mengambil hpnya. Sudah


mengeryit saat melihat layar hp siapa yang memanggil. “ Tuan Saga, aku angkat


sebentar ya?”


“ Ia nona.”


Nona tidak perlu minta izin


melakukan apapun pada saya.


Aran hanya bisa berdecak, sambil


mengelengkan kepala tidak percaya. Belum juga 30 menit sejak drama  perpisahan mereka yang dia tonton secara live


Masih ada tidak ya, stok laki-laki


seperti  tuan Saga di muka bumi ini. Aku


mau Tuhan, sisakan satu untukku. Diposesifin suami sendiri. Aaaaaa,


membayangkan saja sudah mengemaskan. Jatuh cinta tiap hari sama suami sendiri.


Nona, apa si yang nona lakukan di masa muda nona sampai mendapat suami seperti


tuan Saga.


Sambil pikiran dan hatinya membaca


doa kepada Tuhan, Aran menajamkan telinga berusaha mencuri percakapan. Walaupun


suara Saga tidak terdengar sedikitpun.


Fix aku mau buat novel tentang


mereka, biar saja cuma aku yang bisa membaca, Tuan Han tidak akan memeriksa isi


kepala dan laptopkukan.


“ Hallo sayang.” Diam mendengarkan


dengan khidmat. “ Ia sayang.” Diam lagi. “ Ia sayang, masih di mobil, kita cuma


mau ke pusat belanja oleh-oleh lalu kembali. Aku sudah akan kembali sebelum


kamu pulang.” Mendengarkan lama, dengan wajah yang berekspresi berubah-ubah.


Tapi mulut manyun Daniah muncul beberapa kali. “ Ia sayang.” Terdengar pasrah


sekali wajahnya. “Aku tutup ya, sampai nanti.”


Helaan lega yang tergambar jelas


dari caranya menarik nafas.


Ia, ia aku tahu. Tidak melihat


laki-laki lain. Tidak tersenyum sembarangan. Hei tuan muda, percayalah istrimu


ini gak cantik-cantik amat. Jadi jangan kuatir yang berlebihan. Yang melihatku


sepanjang waktu itu hanya kamu saja.


“ Senangnya melihat nona dan tuan


Saga.” Tidak mendengar apapun yang di ucapkan Saga. Tapi menyimpulkan kalau


baru saja terjadi adegan romantis. “ Hubungan nona dan tuan Saga membuat iri

__ADS_1


semua orang.”


Haha, Aran kalau kau melihat


beberapa bulan lalu seperti apa hubungan kami. Jangan mengingatnya Daniah,


biarkan itu jadi debu yang terbang ke langit tinggi. Segera hatinya mengingatkan dengan tegas.


“ Aran, bisa tidak,  jangan panggil aku seformal itu?”


Daniah merasa kalau karakter Aran


berbeda dengan Leela, walaupun dia belum mengorek latar belakang Aran


sekalipun. Dia bisa melihat gadis ini jauh lebih fleksibel dan bisa diajak


kerja sama. Semoga.


“ Maafkan saya nona, tapi..”


Cari mati kalau sampai dia


melakukan itu. Jelas-jelas di email yang ia baca semalam untuk menjaga jarak


dan sikap. Dan hanya bersikap formal di hadapan Daniah.


“ Kalau kita sedang berdua, panggil


saja aku senyamanmu. Niah, biasanya keluargaku memanggilku begitu.” Memotong


langsung, tahu apa yang akan dia sebutkan. Perintah sekertris Han.


“ Tapi nona.”


“ Ayo coba panggil.” Kebiasaan


menyenangkan, tidak mau mendengarkan omongan orang lain. “ Panggil saja Niah.


Aku juga memanggilmu namakan.”


Tentu saja, sayakan cuma pelayan


anda. Terserah nona mau memanggil saya apa.


“ Kak Niah.” Akhirnya terucap juga,


setelah beberapa kali Daniah memaksa.  Aran memilih panggilan paling aman. Walaupun


tidak tahu ada perbedaan usia atau tidak diantara mereka. Yang penting


terdengar jauh lebih sopan daripada hanya memanggil nama.


“ Ahhh, ia begitu. Panggil aku Kak


Niah saja ya. Ayo kita anggap kita sedang pergi bermain berdua. Dua teman yang


sedang liburan.


Pasti menyenagkan sekali. Selain


bersama karyawan tokonya, Daniah memang jarang sekali pergi bersama


teman-temanya.


***


Sampailah mereka di tujuan. Area


perbelanjaan dan pusat oleh-oleh. Bukan dipusat kota, ini adalah tempat paling


dekat dengan vila. Sebuah tempat yang dibangun oleh pemerintah daerah untuk


menfasilitasi usaha kecil masyarakat dalam memasyarakatkan produk mereka.


Deretan toko moderen berjajar dengan rapi beserta informasi toko, apa saja yang


dijual di dalamnya. Ramai sekali. Kota XX memang masuk jajaran top five kota


wisata di negara ini. Popularitasnya bahkan sudah menjangkau manca negara.


Turis asing berseliweran, berjalan kaki dengan santai. Keluar masuk toko sambil


menenteng kantong belanjaan di tangan mereka. Atau banyak juga yang sedang


berkumpul sambil menikmati kopi atau makanan citarasa lokal, di kedai kecil


atau kafe-kafe yang juga tertata dengan apik dan bersih.


“ Aran, ayo kita belanja!”


Berteriak kecil sambil keluar dari area parkir. “ Aku mau beli oleh-oleh buat


semua. Raksa, orang tuaku. Ya Risya juga akan kebagian. Para pelayan dirumah


orang tuaku.” Daniah terdengar menyebut beberapa nama. “ Jen, Sofi, ibu juga


harus dapat. Lalu, Tika dan anak-anak kesayanganku yang sudah bekerja keras di


toko.”


Lho, siapa mereka?


Aran hanya bisa menduga-duga sambil


mengikuti langkah kaki Daniah di sampingnya. Kalimat anak-anak kesayangan


menjadi titik poin rasa penasarannya.


Sebenarnya siapa si nona Daniah


ini?

__ADS_1


bersambung


__ADS_2