
Lelahnya, kenapa dia bisa-bisanya
tidak kelihatan lelah sama sekali si!
Daniah kesal sendiri dengan tingkat
kebugaran tubuhnya. Di dalam perjalanan Daniah terlihat duduk bersandar di
kursi. Tidak banyak bicara. Menarik nafas dalam sesekali. Beberapa menit
pikirannya benar-benar kosong, sambil menatap jendela kaca. Berlarian tanpa
arah.
“ Apa nona baik-baik saja?” Aran
akhirnya membuka suara karena melihat Daniah yang sedari tadi diam saja. Tapi juga
tidak terlihat menikmati pemandangan yang berlari cepat di luar sana seiring
kecepatan mobil berjalan.
“ Tidak apa-apa Aran, hanya sedikit
lelah saja.”
Padahal nona baru keluar dari kamar
sesiang ini, apa tidurnya tidak nyenyak? Aaaaaa, apa mereka habis.
Sebuah kepalangan tangan tidak
terlihat langsung memukul kepala Aran supaya berhenti memikirkan apapun yang
baru saja melintas di kepalanya. Ujung bibirnya sudah tertawa.
Daniah bergerak, mengambil tas
kecil. Mengeluarkaan sebuah kotak makanan. Ia mau menikmati buah stroberi dan
juga kiwi yang dimintanya dari pak Mun tadi. Aran hanya sekilas memperhatikan,
tidak biasanya nonanya membawa bekal camilan. Tapi dia tidak bertanya untuk
mengobati penasarannya. Saat Daniah menawarinya dia hanya mengganguk dan
mengucapkan terimakasih. Tidak mengambil satupun, karena sepertinya nona tidak
benar-benar ingin berbagi.
“ Aaaaa, segarnya. Perasaanku
senang setelah makan.” Menutup kotak dan meletakannya di dalam tas lagi. Dia
hampir menghabiskan isinya. “Akhir-akhir ini aku sepertinya senang makan ya.
Kenapa ya?” Menoleh pada Aran meminta jawaban.
Haha, mana kutahu nona!
“ Mungkin karena nona bahagia.”
Menjawab asal, sambil memperhatikan jalanan yang ramai. “Kata orang bahagia itu
meningkatkan selera makan.”
“ Haha, benarkah?” Mengeryit
sendiri. “Tapi, hari ini aku memang benar bahagia si. Sudah lama dari terakhir
kalinya aku pulang ke rumah.” Sejujurnya Aran tidak tidak terkejut dengan kata-kata
Daniah. Selama dia bekerja bersamanya, sekalipun dia belum pernah mengantar
Daniah pulang kerumah orangtuanya.
Semua orang hidup dengan masalahnya
sendiri ternyata. Gumam Aran. Dia harus menghilang dari keluarganya selama
beberapa tahun, sudah bisa menjadi tolak ukur. Bahwa setiap orang harus
membayar mahal untuk kehidupan yang lebih baik.
Mungkin termasuk nona Daniah, yang
harus membayar mahal kehidupannya sebagai istri tuan Saga.
__ADS_1
Sampailah mereka di kediaman keluarga Gunawan, Aran membawa mobil memasuki gerbang yang di jaga oleh seorang satpam.
Ternyata nona juga berasal dari keluarga terpandang ya. Rumahnya juga besar gumamnya. Jika dibandingkan dengan dirinya.
Setelah turun dari mobil, Daniah
masih mematung di area parkir. Menatap rumahnya sendiri. Sudah lama sekali
sejak terakhir kali dia datang ke rumah ini. Sudah lama sekali gumamnya penuh
kerinduan. Saat ulang tahun ayahnya dulu, tuan Saga muncul bak hero yang menyelamatkan wajahnya
di hadapan keluarga besar ayahnya. Istri yang dicintai, begitu tuan Saga
memamerkannya. Hingga semua orang yang awalnya mencibir dan memandangnya sebelah mata berubah sikap.
“ Nona tidak apa-apa?” Aran benar-benar merasa kuatir dengan sikap diam Daniah yang tidak seperti biasanya.
“ Akhirnya aku pulang ke rumah
orangtuaku Aran.” Ucapnya pelan. Walaupun rumah yang sebelumnya tidak terasa seperti rumah. Namun disinilah dia tumbuh dan dewasa. Secara naluri semua kenangan indah yang tumpang tindih dengan airmata juga bermunculan.
Sebuah mobil bosk yang mengikuti di
belakang mobil mereka sampai. Membawa semua hadiah yang di siapkan tuan Saga
untuk pernikahan Risya. Daniah juga tidak tahu apa isinya, karena sekertaris
Han yang menyiapkan semuanya. Daniah sudah malas bertanya. Tidak seperti dulu,
semua orang keluar menyambut kedataangannya. Bahkan dia seperti tamu agung.
Calon mempelai wanita pun keluar menyabutnya. Dia mendapat pelukan hangat,
usapan kepala dari beberapa anggota keluarga juga.
Ibu dengan bangga memeluknya di hadapan semua anggota keluarga yang juga hadir untuk membantu persiapan pesta. Tanpa canggung menunjukan kasih sayangnya.
Aran menyimak penuh haru.
Nona ternyata sangat di cintai
keluarganya ya.
Itulah kehidupan, ketika apa yang kasat mata belum tentu ada benarnya. Namun Daniah tidak menolak perlakukan itu. Ia menyambut hangat setiap uluran tangan yang meraihnya. Tulus ataupun tidak.
Duduk di ruangan kerja ayah. Beberapa waktu mereka masih bicara melalui pandangan mata masing-masing.
“ Tuan Saga menitipkan hadiah dan
salam untuk ayah.” Akhirnya Daniah yang mulai bicara. Ayah mengganguk penuh terimakasih. Lalu ia meraih tangan Daniah. Mengusapnya pelan.
“ Terimakasih karena sudah mau
datang.” Ayah menatap Daniah lekat. “Maafkan ayah untuk semua Niah.”
Aaaaa, kenapa lagi ini. Aku selalu
merasa tidak kuat kalau ayah menunjukan wajah bersalah begitu.
Ayah Daniah sedang mengulang
kenangan bagaimana dia menikahkan putri di hadapannya. Bagaimana dia
menyodorkan anak perempuannya sebagai balasan bantuan tuan Saga untuk
perusahaannya.
“ Aku baik-baik saja yah. Sungguh.”
Menepuk tangan ayahnya. “ Tuan Saga memperlakukanku dengan sangat baik. Semua
orang di rumah tuan Saga benar-benar tulus menyayangiku.” Tidak perlu ada yang
dikuatirkan Daniah, kecuali aturan ketat yang harus ia patuhi.
“ Syukurlah.”
Masih ada rasa kuatir yang
terpancar dalam kata-katanya.
“ Niah, Apa kau akan melahirkan
anak untuknya nanti? Apa tuan Saga memintamu menjadi ibu dari anak-anaknya?”
sepertinya ayahpun masih mencemaskan perihal ini. Pernikahan Daniah bukan lagi
__ADS_1
hitungan sebentar. Tapi belum ada tanda-tanda kalau putrinya hamil. Sebagai
ayah dia merasa cemas kalau hal ini membebani putrinya.
Dia tidak lagi memikirkan perusahaan, tapi perasaan putrinya yang selama beberapa waktu ini menghantuinya.
“ Belum ada tanda-tanda kehamilan
yah. Tapi aku sedang program kehamilan.” Jawaban itu sudah menjawab pertanyaan ayahkan, pikir Daniah.
“ Ahh, baiklah. Semoga semua lancar
ya.”
Selepas bicara dengan ayah, Daniah
keluar dari ruang kerjanya. Langsung di sambut dengan kerabat yang berdatangan
di rumah untuk membantu pernikahan Risya.
“ Niah kemarilah. Bibi membawakanmu
oleh-oleh.” Ucapnya tanpa malu, menarik tangan Daniah ke ruang tamu. Disana
sudah berkumpul banyak sekali orang. “ Nah ini, cocokkan sama kamu. Bibi
seharian belanja sambil memikirkanmu. Bibi harap kamu suka.” Menunjukan isi tas buah tangannya dengan bangga.
“ Ia bi, terimakasih.”
Dan suasana begitu bergulir begitu
saja, seperti mereka melakukaan antrian. Menunjukan hadiah yang ingin dia
berikan pada Daniah. Memeluk Daniah sebagai tanda kedekatan fisik. Risya dan ibu menatap penuh arti. Tidak tahu bangga atau merasa iri. Yang pasti mereka senang dengan kedatangan Daniah dan semua haadiah yang dikirimkan tuan Saga.
“ Niah, apa bisa bantu masukan si
Yohan ke Antarna Group. Bilang pada tuan Saga, bibi nitip sepupu kamu itu lho.” Bibi menjelakan bagaimana hebatnya Yohan di kampus, serta luasnya pergaulan sosialnya.
Haha, bagaimana ini aku
menjelaskan! Bahkan Jen harus mengikuti seleksi resmi untuk magang di Antarna Group.
Aran yang berdiri sambil
memperhatikan bisa melihat ketidak nyamanan Daniah. Saat ia tersenyum
dipaksakan. Bahkan wajahnya terlihat pucat saat tidak tahu harus menjawab apa. Tapi
dia sendiri binggung harus bagaimana. Menyela, dia ingin melakukannya tapi ini
keluarga nona begitu pikirnya.
Kalau saja nona tidak dikerubiti
keluarganya aku masih bisa menjegah, tapi ini. Aaaa, mereka sudah seperti ibu
yang maunya didengarkan saja.
“ Kak Niah!” Sang penyelamat datang
masuk. Raksa muncul dengan wajah kurang suka melihat Daniah di antara kerumunan
bibinya. “ Bibi jangan memaksa kak Niah begini.” Menarik Daniah dari duduk. Menjadi penolong Daniah. Walaupun ibu dan Risya terlihat tidak suka melihat kemunculan Raksa yang mengacaukan suasana.
" Raksa kami hanya mengobrol." Tidak memperdulikan, tetap membawa Daniah keluar dari kerumunan.
Epilog
" Raksa berhenti bersikap seolah-olah kami menggangu Kak Niah." Risya berkacak pinggang di depan adiknya. "Kak Niah, katakan padanya kalau kami tidak melakukan apapun padamu." Sorot mata Raksa masih terlihat tidak percaya dengan apa yang di ucapkan Risya, tapi dia diam dan tidak membantah atau bicara apapun.
Sekarang Risya mendekat ke tempat duduk Daniah.
" Kak Niah, apa tuan Saga akan datang ke pesta pernikahanku. Ajaklah dia bersamamu. Ayah bilang sudah menggundangnya, tapi dia tidak memberi kepastian." Isi hati Risya mulai terbaca.
" Benar Niah, ajaklah tuan Saga datang ya. Keluarga besar kita sangat menantikan."
" Maaf bu, aku juga tidak tahu apa tuan Saga bisa datang. Tapi aku akan coba menanyakannya, tapi aku juga tidak bisa berjanji." Daniah menjawab ragu.
Lagipula pasti sangat merepotkan. Membayangkan saja Daniah sudah malas, bagaimana pesta pernikahan Risya kalau sampai tuan Saga datang. Bagaimanapun Risya termasuk selebriti yang sering masuk berita online. Dan pasti akan ada media.
Lihatkan, hanya itu yang masih kalian lihat dari kak Niah. memanfaatkannya untuk menaikan derajat hidup kita dihadapan orang lain. Raksa menatap kakak perempuan dan ibunya dengan sedih.
Bersambung
__ADS_1