Terpaksa Menikahi Tuan Muda

Terpaksa Menikahi Tuan Muda
64. Persiapan Malam Pertama


__ADS_3

Di kamar mandi, selang tidak lama Saga meninggalkan kamar dengan amarah, menunjukannya dengan membanting pintu yang membuat orang setengah mati terkejut. Masuklah dua pelayan. Salah satunya Maya yang cukup akrab dengan Daniah.


Maya sedang menggosok punggungnya, sementara pelayan satunya sedang membersihkan kuku dan memotongnya. Daniah membisu, membiarkan mereka melakukan pekerjaannya. Walaupun dia merasa pelayanan kali ini berlebihan, tapi dia benar-benar tidak punya tenaga untuk membantah lagi. Dia berusaha menarik nafasnya perlahan. Berkonsentrasi. Mengurai semua kejadian yang baru saja terjadi ini.


Apa yang membuat Tuan Saga marah begitu? tadi dia menyinggung tentang perceraian. Darimana dia tahu, kalau bukan dari Han. Benar, pasti sekretaris compleks itu. Dia mau mencabik-cabiku. Aku harus bagaimana ini? Malam pertama, kenapa aku harus tidur dengannya. Jelas-jelas dia tidak suka padaku. Apa ini caranya menghukumku, karena aku sudah berani berfikir untuk pergi. Benar, kontrak hanya bisa terputus kalau dia merobeknya. Apa pun yang aku katakan tidak ada nilai jual di hadapannya. Kalau aku melayaninya dengan benar, dia janji tidak akan.mengusik keluargaku. Tapi sekarang, kalau emosinya tidak stabil begitu, aku harus bagaimana.


Bukan hanya aku yang terancam, tapi seluruh keluargaku. Tapi tidur denganku, kenapa? kenapa dia sampai menghukumku sejauh ini. Ini sudah sangat berat. Aku sudah sangat bahagia saat dia tidak tertarik padaku di atas tempat tidur. Tapi sekarang. Ini bahkan pengalaman pertamaku. Tapi akan jadi trauma seumur hidupku. Kata-kata mencabik-cabik yang dia pakai untuk mendeskripsikan keinginannya memperlakukanku itu apa maksudnya. Apa aku akan di siksa dulu. Tolong!


“Maya.” Daniah memutuskan untuk mencari tahu dengan bertanya, daripada dia bingung sendirian. Karena langkah ke depan masih terlalu gelap untuk diraba.


“Ia Nona.”


“Apa Sekretaris Han ada di bawah?” sumber informasi dari kebingungannya. Walaupun tidak mudah mendapat info darinya, tapi sepertinya akan lebih baik dari pada bertanya pada Saga.


“Ia Nona, sekarang Sekretaris Han pasti ada di ruangan kerja bersama Tuan Muda.”


“Apa Pak Mun mengatakan sesuatu pada kalian? Bukankah aneh kan tiba-tiba kalian membantuku mandi begini.” Daniah mengangkat tangannya yang sudah bersih, masuk kembali ke dalam bak.


“Pak Mun hanya mengatakan kepada kami untuk membantu Nona membersihkan diri.”


“Apa ada kejadian aneh di bawah?” Daniah ingin mendengar penjelasan, tapi gadis itu diam saja.


Selepas mandi Daniah memaksa kedua pelayan  keluar kamar. “Aku bisa melakukannya sendiri.” Daniah setengah berteriak mendorong tubuh mereka. Memalukan sekali pikir Daniah harus ganti baju di depan mereka. Setelah memastikan mereka keluar Daniah memilih baju dan memakainya.


Dia duduk bengong di depan kaca sambil menyisir rambut. Cukup lama dia diam di tempatnya. Lalu dia meraih hpnya.


“Sekretaris Han apa yang Anda katakan pada Tuan saga”


“Dia sangat marah”


“Apa Anda tahu, Anda sudah menghancurkan hidup saya.”


“Apa Anda memata-matai saya, sampai tahu saya bertemu Helena.”


“Perceraian? Apa Anda yang mengadukan saya.”

__ADS_1


"Saya sudah mengatakan kemarin, kalau saya tidak seberani itu"


"Saya punya keluarga yang harus saya lindungi."


"Tapi kenapa Tuan Saga sangat marah!"


" Dia bahkan mau mencabik-cabik saya."


"Salah saya apa?????????"


“Hei sekretaris sialan jawab!!!!”


Daniah sudah tidak bisa.menahan diri. Dibantingnya hp di meja riasnya. Bunyi tringg pesan sekali, langsung dia sambar.


Bedebah sialan!


Jawaban Sekretaris Han. “Hemmm.”


... ***...


Apa ini makan malam terakhirku di dunia ini. Ibu mertua, tolong aku. Anakmu mau mencabik-cabik tubuhku malam ini. Adik ipar, kumohon berbelas kasihlah hari ini saja. Sembunyikan aku dimana pun, asalkan kakakmu tidak bisa menemukanku.


Setelah makan malam satu keluarga duduk berkumpul, Daniah duduk di samping Saga. Membeku. Dia hanya menyimak, sepatah kata pun tidak keluar dari mulutnya. Bahkan wajahnya pun nyaris membeku. Pikirannya sedang fokus pada kata "mencabik-cabik."


Bukankah kata itu hanya dipakai saat menggambarkan binatang buas mengoyak mangsa dengan giginya.


“Kakak ipar, kenapa denganmu, apa kamu sakit?”


Jenika jauh lebih bisa bicara baik-baik sekarang setelah obrolan panjangnya waktu itu dengan Daniah.  Saga meraih ujung rambut Daniah memainkannya di tangannya.


“Apa kamu sakit?” tanyanya. Sambil memainkan rambut Daniah.


“Tidak suamiku saya baik-baik saja,” menjawab dengan lugas sambil tersenyum.


“Baguslah.” Saga menarik rambut Daniah, membuat gadis itu mengernyit, lalu dia melepaskannya.

__ADS_1


Kenapa banyak sekali yang mereka bicarakan, biasanya juga kan tidak seperti ini. Apa ini benar-benar jamuan malam terakhir untukku. Mencabik-cabik, enyah kau dari pikiranku!


Saga bangun dari duduk setelah pembicaraan panjang keluarga, membuat Daniah terperanjat, dan refleks berdiri.


“Apa sudah mau tidur?" ibu bertanya.


“Ia bu.” Saga hanya menjawab pendek.


"Baiklah, istirahatlah."


Ibu mertua menatap Daniah agar segera mengikuti suaminya. tapi buru-buru dia menarik lengan menantunya lagi.


“Apa kamu membuat kesalahan?”


“Tidak!” jawabannya yang berteriak malah semakin mencurigakan. Sebenarnya membuat ibu mertua ingin bertanya lagi. Tapi diurungkan karena Saga sudah menghilang dari pandangan.


“Sudah sana kembali ke kamar, susul Saga.”


“Ia bu.”


Bagaimana ibu bisa tahu, kalau tahu kumohon tolong aku bu. 


Pintu terbuka kecil, lampu kamar sudah padam. Daniah membeku di depan pintu.


Aaaaa, aku takut setengah mati.


“Apa yang kamu lakukan di sana?”


“Maaf suamiku.”


Baik, minta maaf saja. Jawab dengan minta maaf saja. Dia tidak benar-benar akan meniduriku kan, jelas-jelas dia tidak suka padaku. Kenapa, Kenapa saat Helena kembali. Apa ini caranya balas dendam lagi. Tapi kenapa memakai tubuhku. Toh Helena tidak akan tahu.


“Naik.”


Malam panjang baru akan dimulai.

__ADS_1


BERSAMBUNG..................


__ADS_2