Terpaksa Menikahi Tuan Muda

Terpaksa Menikahi Tuan Muda
63. Amarah Saga


__ADS_3

Daniah berlutut sambil  melepaskan sepatu Saga. Dia melakukannya jauh lebih hati-hati dari sebelumnya, Karena sedari turun dari mobil  Saga sudah membisu. Wajahnya pun terlihat sedang kesal. Ditambah lagi satu kalimat yang diucapkan Sekretaris Han membuatnya berdebar sepanjang menaiki tangga memasuki kamar.


“Suasana hati tuan muda sedang sangat buruk, jangan membantah apa pun yang dikatakannya.”


Memang kapan aku berani membantahnya secara terang-terangan coba, mau suasana hatinya sedang baik sekalipun aku selalu patuh kan. Kenapa? Anda kenapa lagi si Kalau sedang kesal kenapa pulang, kan aku yang harus kena imbasnya. Apa kesal lagi masalah Helena?


Daniah selesai melepas sepatu, dia meletakan sandal rumah di bawah kaki Saga. Saat dia mau bangun, suaminya menyentuh bahunya.  Setengah menekan. Membuatnya kembali berlutut. Daniah mulai dirasuki perasaan tidak nyaman. Ini bukan hanya sekedar suasana hatinya yang sedang buruk, tapi sepertinya dia benar-benar sedang marah.


“Kau bertemu Ele hari ini?” suaranya terdengar dingin.


Deg!


Bagaimana dia bisa tahu. Aku bertemu dengan Helena. Apa dia benar-benar mengawasi setiap pergerakanku di luar sana. Apa Han membuntutiku. Bagaimana dia bisa tepat membaca pergerakanku. Selama ini bahkan Han sepertinya mudah sekali tahu apa yang hanya sekedar aku pikirkan.


“Ia suamiku.” Daniah terbata. Dia masih menundukkan kepala. “Saya pergi minum kopi dan berbincang dengannya.” Takut melihat sorot mata Saga.


“Hah!” Saga mencengkram lengan baju Daniah, Gadis itu terperanjat. Sorot mata Saga penuh kemarahan.


Kenapa? Kenapa kamu marah?


Saga melepaskan baju Daniah, sekarang dia mencengkram dagu gadis itu.


“Kau mau bercerai dariku?” Daniah mulai bisa meraba arah pembicaraan Saga. “Dan kamu mau memakai Ele untuk membuatku melepaskanmu.”


Sekretaris sialan apa yang kamu katakan pada majikanmu hah! Kenapa kamu membeberkan hipotesa yang sudah kubantah kemarin. itu kan hanya rencana di kepalaku, kenapa kamu mengadukanku. Memang niat itu kejahatan apa niat itu belum bisa masuk ranah pidana tahu.

__ADS_1


“Jawab!” Saga berteriak.


“Ti, tidak suamiku.” Saga menjatuhkan tubuh Daniah di sofa, di sampingnya. Gadis itu meringsek mundur ke belakang. “Saya hanya bicara dengan Helena, saya hanya ingin berteman dengannya.” Sekujur tubuh Daniah sudah bereaksi mengingatkan, kalau Saga sedang dalam kondisi tidak stabil emosinya. Salah menjawab sedikit saja, habislah dia.


“Berteman. Kenapa?”


“Karena dia sangat cantik. Begitulah perempuan suamiku, kami senang punya teman wanita cantik, karena dengan berteman dengan si cantik siapa tahu membuat kami cantik juga.” Tambahkan tawa dan senyum di bibirmu Daniah, biasanya berhasilkan. Begitu dia berfikir.


“Hahaha.” Saga tergelak. “Kau pikir aku bodoh?” Daniah semakin meringsek, menggeser tubuhnya sampai terbentur ujung kursi.


“Tidak suamiku.”


Bagaimana ini, kenapa dia semarah ini si. Tunggu, apa dia marah karena aku sok-sokan ingin menjodohkannya dengan Helena lagi. Aku melakukan sesuatu terlalu awal, padahal dia masih belum memaafkan Helena. Benar, aku yang salah strategi, seharusnya aku menunggu amarahnya pada Helena mereda baru bertindak.


“Tidak suamiku, tidak, saya tidak berani. Saya mohon maafkan saya.” Memohon, tubuh Daniah sudah meringsek semakin merapat di pojokan.


Kenapa Anda marah? Hiks. hiks. Aku tidak tahu kenapa Anda marah. Apa karena aku ingin bercerai. Apa karena aku ingin mencoba merajut ikatan cinta antara kalian. Atau karena aku bilang ingin berteman dengan Helena. Tapi saat ini sorot matanya sangat menakutkan. Aku benar-benar takut dia akan melakukan hal yang buruk, tidak hanya padaku, tapi juga pada keluargaku.


“Kau tahu kenapa aku menikahimu?”


Daniah menganggukkan kepalanya berulang. Dia tahu, tahu dari Helena tadi alasan sebenarnya.


“Anda hanya ingin membalas Helena. Saya tidak apa-apa suamiku, Anda sudah memberi keluarga saya kesempatan untuk hidup kedua kalinya. Jadi apa pun alasan Anda itu tidak masalah buat saya.”


Biarkan sakit hati ini yang merasakan hanya aku, toh setelah aku terlepas dari semua ini aku bisa mencari kebahagiaanku sendiri.

__ADS_1


Saga menarik tubuh gadis itu mendekat. Mencengkram dagu Daniah. Lalu secara paksa dia mencium bibir daniah. Kali ini bukan hanya kecupan di bibir, tapi lebih dari itu. "Buka mulutmu!" Digigitnya bibir Daniah yang tidak mau terbuka. Akhirnya gadis itu kalah. Saga ******* habis pertahanan gadis di depannya. Ciuman itu berlangsung lama. Ada buliran airmata yang membasahi pipi Daniah. Tangannya mencengkram sofa gemetar.


“Itu hukuman untukmu karena sudah berfikir lancang.” Saga sudah duduk, menyentuh bibirnya lalu menatap masih dengan sorot mata tidak bersahabat.


Apa! Apa salahku. Di mana salahku. Katakan letak kesalahanku di mana?  biar aku bisa memohon dan tidak mengulanginya lagi.


“Pak Mun! Masuklah!”


Pintu terbuka, Daniah mengusap bibir dan membetulkan rambutnya yang terburai.


“Panggilkan  2 pelayan wanita untuk membantu nona muda bersiap-siap untuk nanti malam.”


Bersiap untuk nanti malam, memang aku mau apa nanti malam?


“Baik Tuan Muda.” Pak Mun setelah menganggukkan kepala lantas keluar dengan cepat, menutup pintu tanpa suara. Setelah Pak Mun keluar Daniah sudah selesai merapikan rambutnya. Mencoba memberanikan diri bertanya.


“Su, suamiku.”


“Bersiaplah untuk malam pertama kita.” Daniah terperanjat. “Aku akan mencabik-cabikmu malam ini, bukankah ini yang kamu inginkan juga? Tidur denganku.” Dipegangnya dagu Daniah lagi, Saga mengusap bibir yang merah bekas gigitannya tadi,  seringai  dingin muncul di wajah Saga.


Tidak perduli kata-katanya sudah seperti petir di siang bolong yang menyambar tubuh Daniah, dia beranjak keluar kamar membanting pintu dengan suara keras. Daniah meloncat terkejut.


Kenapa? Kenapa ini? Bukankah selama ini aku sudah bisa hidup dengan baik. Kenapa kamu benar-benar marah hari ini. Di mana salahku? Malam pertama? mencabik-cabikku. Ibu! Ibu tolong aku.


Bersambung................

__ADS_1


__ADS_2