Terpaksa Menikahi Tuan Muda

Terpaksa Menikahi Tuan Muda
111. Pil Penunda Kehamilan


__ADS_3

Di depan tangga Saga mendorong


tubuh Harun. “Sudah pergi sana!”


Dokter Harun tidak menggubris dia


mendorong Saga menuruni tangga. Lalu dia menoleh pada Jen dan Sofi yang


mengikuti mereka. “Tidur sana! Kulit kalian bisa keriput kalau begadang


nanti.”


“Aaaa, ia Kak kami tidur. Selamat


malam Kak Saga, selamat malam Kak Harun.” Tahu kalau keberadaan mereka tidak


diinginkan.


“Ia, ia sudah pergi ke kamar kalian


sana.” Harun yang menjawab melalui lambaian tangannya.


Pak Mun sudah menunggu di bawah


tangga, para pelayan sudah dibubarkan untuk kembali ke kamar mereka


masing-masing. Kedatangan Dokter Harun sekalipun tidak melakukan apa-apa sudah


menyelamatkan ketenangan rumah ini.


“Pak Mun antar dia keluar.” Saga


ingin segera mengusir Harun dari pandangannya. Dia ingin segera kembali ke


kamar dan memeluk istrinya.


“Hei aku mau bicara denganmu.”


“Besok lagi, tidak lihat tadi. Aku


mau menemani istriku.” Menyingkir kau jomblo begitu teriak Saga.


“Ini masalah penting, tentang


kakak ipar.” Berjalan menuju ruang kerja Saga. Dia tahu, kata-katanya barusan


pasti sudah bisa memancing Saga mengikutinya.


“Sudah ku bilang dia bukan kakak


iparmu!”


Pak Mun mengikuti langkah kaki


keduanya, dia ikut masuk ke dalam ruang kerja Saga. Berdiri di samping sofa.


“Apa kau menyuruh istrimu minum


pil kontrasepsi penunda kehamilan?” Pertanyaaan Harun langsung menyambar, wajah


Saga terlihat sangat marah mendengarnya.


“Apa maksudmu? Apa Daniah minum


pil kontrasepsi?” Pertanyaan yang tidak percaya bisa dia tanyakan. Tidak, dia


bahkan tidak percaya kalau Daniah sampai punya keberanian untuk melakukan itu.


“Jadi tidak ya. Sepertinya dia


minum secara diam-diam di belakangmu.” Lirih menjelaskan, walaupun dia sendiri


punya perasaan tidak enak mengatakan ini.


Saga sudah terlihat sangat marah.


Dokter Harun sudah panik, apa dia akan meneruskan kalimatnya atau tidak.


Gawat! Aku pasti salah bicara.


Sialan! Seharusnya aku tidak perlu mengatakannya tadi.


“Tunggu, tapi aku belum seratus persen


yakin juga. Aku hanya memeriksa tangan istrimu, pil KB terkadang menimbulkan


efek tertentu di kulit. Mungkin karena jenis kulit sensitif istrimu jadi itu


semakin mudah dilihat. Tapi aku belum bisa memastikan benar-benar.”


“Pak Mun!” Sorot mata Saga menakutkan.


“Saga, tunggu apa yang mau kamu


lakukan?”


Kamu tidak akan menyeret istrimu


kemari dan menanyakan langsung apa dia pakai pil kontrasepsi atau tidak kan.


“Pindahkan Daniah ke kamar tamu di


lantai atas. Dan bawa pelayan memeriksa setiap sudut kamar. Temukan apa pun


itu.” Brak! Dia mengembrak meja. “Temukan pil atau apa pun itu yang dikatakan


Harun.”


“Baik Tuan Muda.” Pak Mun merasa


khawatir meninggalkan ruangan.


Dan tertinggallah Harun yang sama


khawatir dan paniknya. Pak Mun baru saja memegang gagang pintu.


“Tunggu!” Pak Mun berbalik “


Bawakan baju tidurnya juga, katakan padanya untuk mengganti bajunya dan


menungguku.”


“Baik Tuan Muda.”


Bagaimana ini? Aku benar-benar


merasa bersalah padamu Daniah. Dokter Harun semakin panik saat mendengar


perintah Saga barusan.


Saga menendang meja kesal, bahkan


benda itu sudah mau terjungkal kalau Harun tidak memeganginya.

__ADS_1


“Saga tenangkan dirimu.”


“ Diam kau!”


Aaa, mati aku. Bagaimana Han bisa


tahan menghadapinya selama ini. Aku merindukan Sekretaris Han. Kenapa aku tidak


menghubunginya tadi sebelum kemari. Bodoh. Bodoh.


Saga bangun dari tempat duduknya.


Dia berjalan menuju kursi kerjanya, yang dikhawatirkan Harun terjadi. Semua yang


ada dia atas meja sudah jatuh berhamburan, berserak di lantai. Tidak tahu berkas


penting atau tidak.


Beraninya kau! Pantas saat aku


bicara tentang kehamilan tubuhmu langsung membeku, dan wajahmu berubah.


Ternyata kau benar minum pil pencegah kehamilan.


“Saga, tenangkan dirimu. Istrimu


pasti melakukan karena dia punya alasan.”


Saga mendekat menginjak


dokumen-dokumen saat melewatinya. Duduk kembali ke sofa. Menatap Dokter Harun.


“Dia pasti hanya ingin melindungi


dirinya.”


“Melindungi diri?” mencengkram bahu


Harun. “ Memang apa yang sudah kulakukan padanya sampai dia perlu melindungi


dirinya. Aku bahkan sudah memberikan seluruh perasaanku padanya.”


Tapi dia kan tidak tahu bodoh kalau


kau menyukainya.


“Han bilang dia masih berfikir


kalau kau masih menyukai Helen.” Melotot karena Harun menyebut nama Helen. “Baiklah pelukis itu.” Bahkan sekarang mendengar nama Helen sangat menjengkelkan


di telinganya. “Jadi aku rasa dia hanya ingin melindungi dirinya, karena takut


kau akan membuangnya.”


Ayolah sadarlah, memang begitu


kenyataannya.


“Saga mengertilah posisinya. Awal


pernikahan kalian seperti apa pasti kamu sendiri yang tahu kan. Bagaimana kau


memperlakukannya juga. Dia pasti tidak akan percaya diri itu berfikir kalau


kau benar-benar menyukainya.”


“Sial, sial!” Saga mengacak


bantahnya. Semuanya benar. Bagaimana dia melemparkan surat perjanjian di


depannya. Bagaimana dia memperlakukan daniah sebatas pembantu yaang harus


menjalankan kewajiban sebagai seorang istri tanpa banyak bicara. Tanpa bisa


menolak, tanpa punya hak untuk berkata tidak. Dia bahkan bisa tidur dengan


istrinya karena ancaman. Ya ancaman dia akan menghancurkan keluarga Daniah,


membuat wanita itu memohon untuk ia tiduri.


Cih


Pak Mun muncul setelah mengetuk


pintu. Dia terlihat ragu saat memasuki ruangan. Menggenggam apa yang ada di


tangannya dengan kuat. Dia tahu apa yang dibawanya sekarang bisa jadi akan


meledakkan lava kemarahan dan emosi Tuan Saga. Tapi kalau dia


menyembunyikannya, bisa jadi seluruh rumah ini akan mengalami kekacauan yang


jauh lebih besar.


“Pak Mun.” Harun bangun dari duduk


saat dia melirik ada sesuatu yang di pegang oleh Pak Mun. Laki-laki itu


menyerahkan apa yang ia temukan ke tangan Dokter Harun.


“Tenangkan tuan muda Dokter.”


Kalau tidak, akan ada badai besar di rumah ini. Pak Mun bicara lirih di telinga


Harun.


“Saga.” Harun mendekat.


“Aaa, kalian menemukan pil itu.


Apa benar itu yang kamu katakan, kontrasepsi penunda kehamilan.”


Harun mengangguk ragu, menyerahkan


satu tablet pil itu ke tangan Saga. Saga langsung membantingnya ke atas meja.


“Saga kendalikan dirimu.”


“Diam kau!” Berteriak keras.


“Ku mohon kendalikan dirimu.


Ingat kan, kau mencintai istrimu. Kau mencintainya.”


“Huh!!”


“Pak mun di mana Nona?” Harun


bertanya memastikan.


“Sudah di kamar tamu atas Tuan.”


Bagaimana ini, aku takut membiarkan

__ADS_1


Saga sendirian begini. Apalagi kalau dia kembali ke kamarnya. Telepon Han Pak


Mun. Telepon Sekretaris Han. Aku tidak tahu bagaimana menjinakkan tuanmu. Tapi


Pak Mun bingung dengan isyarat yang di berikan Harun.


“Pulanglah! Kau pasti lelah kan.


Terimakasih sudah datang kalau aku memanggilmu.”


Hei, kenapa ucapan terimakasihmu


ini kedengarannya menakutkan.


Membuat Harun menarik tangan Saga.


Mencegahnya, agar bangun.


“Lepaskan aku bodoh, aku mau


menemui istriku.” Mengibaskan tangan Harun kasar.


“Saga, kumohon jangan memarahi


istrimu. Jangan melakukan sesuatu yang akan kau sesali seumur hidupmu nanti.”


Memegang  tangan Saga lagi.


“Memang aku mau melakukan apa?


lepaskan.” Mengibaskan tangan Harun kuat sampai tangan laki-laki itu terlepas.


“Jangan memukulnya.”


“Hei, memang kau pernah melihatku


memukul perempuan apa?” Marah mendengar perkataan Harun barusan.


Menggeleng.


Kau memang tidak memukulnya secara


langsung, tapi kau melihat dan membiarkan Han memukul wanita yang mengganggumu.


 Bukan kah itu sama saja mengerikannya.


“Pak Mun antar Harun keluar.”


“Baik Tuan Muda.”


“Tunggu Saga, kendalikan dirimu.


Kau mau melakukan apa sekarang. Sebaiknya malam ini kalian tidur terpisah. Kau


tetaplah tidur di kamarmu, dan biarkan istrimu di kamar tamu.” Memohon. Karena


pertengkaran ini di sebabkan ulahnya yang menemukan fakta pil kontrasepsi, maka


ini membuatnya merasa sangat bersalah dan bertanggung jawab.


“Haha, kenapa? Aku harus menghukumnya


karena kekurangajaranya kan?” pertanyaan menakutkan, akan semakin menakutkan


kalau di jawab.


“Saga, kumohon jangan melakukan


hal yang akan kamu sesali nanti.”


“Berisik, sudah pulang sana.”


Tentu saja, aku akan menghukumnya.


Setimpal dengan apa yang sudah dia telan untuk mencegah kehamilannya kan?


 


Daniah menunggu dengan gelisah di atas


tempat tidur. Beberapa kali dia berbalik mendekat ke pintu. Berharap mendengar


sedikit saja suara orang mendekat. Nihil. Tidak ada siapapun setelah pak Mun


meninggalkan kamarnya tadi. Dia sudah mengganti pakaiannya dengan baju tidur


warna hitam yang di berikan pak Mun.


“Nona, tolong ganti baju Anda dan


tunggu tuan muda di sini?” Dia hanya mengatakan itu. Bahkan pertanyaannya


kenapa dia harus pindah kamar pun tidak di jawab oleh laki-laki di hadapannya


itu tadi. Dia hanya menganggukkan kepala. Raut wajahnya terlihat sangat khawatir,


tapi dia tidak bisa menjelaskan apa pun.


Jegrek! Pintu terbuka. Daniah bisa


mendengar Pak Mun mengucapkan selamat malam pada Saga. Lalu terdengar langkah


kakinya menjauh. Setelahnya tidak lama Saga masuk ke dalam kamar. Dia menutup


pintu dengan suara cukup keras. Membuat Daniah terperanjat. Dia berdiri di


depan tempat tidur. Sambil menggenggam hp di tangannya.


Dia marah kan, dia pasti marah


karena tahu aku berbohong tentang sakit perutku kan. Padahal dia sudah sekhawatir itu tadi.


“Sayang!” Daniah memanggil pelan,


tapi tetap berdiri di tempatnya. Tidak berani mendekat. Air muka saga


menunjukan kalau dia sedang sangat kesal.


“Beraninya kau!” Berteriak sambil


melemparkan sesuatu ke tubuh Daniah. Benda itu jatuh tepat di kaki Daniah.


Gadis itu terkejut ketika mengenali apa itu. Dia menjatuhkan hpnya sampai


membentur kakinya. Dia meringis kesakitan. Tapi semua rasa sakit itu seakan


lenyap. Apalagi saat ia melihat wajah laki-laki di hadapannya.


“Sayang.”


Apa ini adalah hari kematianku.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2