Terpaksa Menikahi Tuan Muda

Terpaksa Menikahi Tuan Muda
97. Cuma Mimpi kan?


__ADS_3

Malam semakin larut, udara dingin sudah menyelimuti bumi, mengajak manusia untuk beristirahat dalam mimpi yang indah.


Namun tidak di depan ruko dua lantai ini.


Dua orang ahli kunci sedang membuka pintu, dengan peralatan yang mereka bawa. Seorang pengawal memperhatikan semua kerja mereka dengan seksama. Sementara mobil patroli dan dua petugas polisi berdiri di samping mobilnya. Siaga. Lokasi ruko yang cukup ramai akan menimbulkan keributan sendiri jika tiba-tiba ada yang melihat serombongan orang terlihat membobol ruko. Han hanya tidak ingin ada masalah merepotkan. Jadi sebagai antisipasi maka hadirlah mobil patroli sebagai pelengkap ketegangan malam ini.


Mereka sedang berpacu dengan waktu membuka pintu.


Sementara itu, Saga masih duduk di dalam mobil, memandang lantai dua yang lampunya menyala. Tidak berpendar terang, tapi mengisyaratkan ruko itu sedang ada penghuninya. Sepertinya Daniah hanya menyalakan satu lampu dari tiga lampu di lantai dua. Tirai tebalnya juga menghalangi bayangan atau apa pun tampak dari luar.


“Apa yang harus kulakukan di atas sana nanti?” bertanya pada Han yang duduk diam di belakang kemudi, tapi mata Han memperhatikan setiap kemajuan yang dilakukan orang-orang di depan pintu itu. Rolling door sudah terbuka, tinggal pintu kaca. Saga sendiri sedang merasa  bingung akan bersikap seperti apa jika pintu itu sudah terbuka, apa lagi jika mendapati Daniah menangis nanti.


“Bersikap cool seperti biasanya saja Tuan Muda.”


Anda kan selalu begitu kalau ingin menyembunyikan perasaan Anda pada Nona Daniah. Pura-pura sok menindas, padahal hanya ingin menyentuhnya kan?


Saga menendang kursi di depannya. “Kau pikir aku masih bisa bersikap sok cool di tengah kecemasanku ini.” Mengetuk-ngetukan jarinya di kaca jendela. Sepertinya dia benar-benar sedang salah tingkah karena merasa cemas.


“Saya akan mencegah Anda melakukan sesuatu yang akan membuat Anda malu nanti.”


Saga mendesah, melihat ke arah pintu yang sedang berusaha dibuka.


“Menurutmu hal paling memalukan apa yang bisa kulakukan di dalam sana.” Sudah terlihat sangat tidak sabar. Dia ingin keluar, mendobrak pintu dan menemukan istrinya.


“Anda akan menangis, dan memohon kepada nona untuk tidak meninggalkan Anda.”


Saya akan tertawa  kalau melihatnya, tapi saya akan pastikan itu tidak akan terjadi.


“Sialan kamu Han.” Saga mencengkram bahu Han di kursi kemudi depan. “Cegah jangan sampai aku melakukan hal itu, kalau sampai yang kamu katakan tadi terjadi awas kamu.”


“Sepertinya mereka sudah selesai, saya turun sebentar Tuan Muda.” Mengalihkan emosi sesaat Saga yang muncul tadi.


“Hemm.” Saga hanya memperhatikan dari tempatnya duduk, sepertinya pintu kaca memang sudah terbuka. Dia menyentuh dadanya yang berdebar karena tegang. Masih memikirkan hal pertama yang akan ia lakukan setelah memasuki ruko.


Han turun, mendekat ke arah pintu. Pengawal yang sedari tadi berdiri sigap mengawasi dua ahli kunci itu mendekat. Menyampaikan informasi kalau pintu sudah terbuka. Dia menunjuk ke arah mobil polisi, “Apa mereka sudah bisa pergi?” tanyanya kemudian. Sepertinya situasi cukup kondusif, sehingga tidak banyak masyarakat yang mendekat.


“Tidak, bereskan tempat ini seperti semula setelah Tuan Saga pergi. Sekarang menyingkir. Ajak semuanya, menunggu di sana.” Han menunjuk kursi taman. Radius aman yang membuat mereka tidak akan mendengar apa pun, sekalipun Tuan Saga atau Nona Daniah akan berteriak nanti di dalam. Pengawal itu menganggukkan kepala dan mengajak semua orang untuk meninggalkan posisinya. Kedua polisi tetap meninggalkan mobilnya di tempat semula.


“Anda sudah bisa masuk Tuan Muda.” Han membukakan pintu mobil, disusul Saga keluar. Terlihat dia mengedarkan pandangan memeriksa sekeliling sambil menarik nafas pelan. Mengusir ketegangan.


Sial! Kenapa aku sepanik ini sekarang.


“Ingat itu, cegah aku melakukan hal yang memalukan di depan Daniah nanti.” Jangan sampai dia kehilangan harga diri di hadapan Daniah begitu yang ia pikirkan.


“Baik.” Han menganggukkan kepala.


Lantai satu gelap, Han mengeluarkan hpnya sebagai penerang. Dia berjalan di depan menaiki tangga terlebih dahulu. Terdengar isak lirih dari lantai dua. Lalu dia kembali menuruni tangga dan memberi penerangan agar Saga dapat berjalan tanpa kendala.

__ADS_1


“Nona sedang menangis,” katanya setengah berbisik, membuat langkah kaki Saga terhenti. Sebentar dia berusaha menguasai emosinya. Bayangan kejadian pesta yang menjadi praduganya terputar di kepalanya. Beberapa pristiwa yang dia karang sendiri berseliweran berputar seperti film.


Sebenarnya apa yang terjadi di pesta?


Karena ingin segera menyusul ke ruko, Saga bahkan tidak terpikir untuk menanyakan telah terjadi apa di pesta ibunya tadi pada Pak Mun.


Sampailah dia di lantai dua. Udara menyeruak, hawa dingin di ruko lantai 2 ini. Padahal AC tidak sedang menyala. Atap yang terbuat dari genting dan cukup tinggi memang membuat udara di lantai 2 ini lumayan dingin di malam hari.


Di atas tempat tidur, seorang sedang terisak kecil. Dia berselimut kain tipis untuk menangkal rasa dingin di tubuhnya. Pendar lampu bisa membuat Saga jelas melihat ujung kaki istrinya. Selimut tidak sampai menutupi kakinya dari hawa dingin.


Saga mendekati tempat tidur.


Sial! Aku ingin memeluknya sekarang, menyuruhnya berhenti menangis dan minta maaf.


Saga menoleh pada Han, laki-laki itu menggelengkan kepalanya, jangan melakukan hal yang memalukan di hadapan nona yang akan Anda sesali seumur hidup Anda. Begitu kata Han pelan mengingatkan Saga. Hingga akhirnya yang terjadi adalah.


“Hei bodoh!” Menarik kain tipis yang menyelimuti tubuh Daniah. Gadis itu terperanjat. Dia bangun, menarik selimutnya menutupi dadanya. “Hei apa yang kau lakukan di sini.” Saga setengah berteriak, sementara Daniah menggelengkan kepalanya. Matanya terlihat mengerjap setengah sadar.


Seperti tersadar siapa yang datang, Daniah menyeka airmatanya. Dia mengambil bantal di sampingnya. Melemparkan keras menghantam tubuh Saga. Sampai dia sendiri yang melempar terhuyung duduk ke belakang.


“Hei, kau sudah tidak waras ya?Beraninya melemparkan bantal ke tubuhku.” Wahh, ternyata dia berhasil bersikap sok cool seperti biasanya.


“Apa!” Daniah berteriak tidak kenal takut “Hei, hei siapa yang hei. Kau bilang akan memanggilku sayang kan. Kenapa masih panggil aku hei, hei. Panggil aku sayang.” Daniah berteriak sambil menuding-nuding Saga.


“Apa?” Karena agak shock sepertinya Saga kehilangan kata-kata membalas Daniah.


“Kenapa diam, panggil aku sayang sekarang!” Teriakan keras dari mulut Daniah. “Aku sedang bermimpi kan, biar aku melampiaskannya sesukaku. Memang aku harus takut padamu. Ini kan dalam mimpiku. Aku ratunya di sini. Haha. ” Gumam-gumam sambil mencari bantal di atas tempat tidur. “Panggil aku sayang sekarang.” Melemparkan bantal lagi.


Apa dia sudah tidak waras, bagaimana dia bisa mengigau separah ini. Apa sekarang dia sedang berfikir kalau ini mimpi.


“Kemari! Mendekat kemari.”


Saga mengikuti perintah Daniah, gadis itu menjentikkan tangannya sama seperti yang sering Saga lakukan. Lalu setelah Saga mendekat di tempat tidur, dia menarik tangan itu. Sampai Saga terduduk di tempat tidur.


“Hei kau!” Menuding kening Saga “Bodoh!” senyum tipis di bibir Saga. Dia sudah tidak tahan ingin menghabisi istri di hadapannya yang mengemaskan ini. Tapi dia benar-benar ingin melihat, sampai sejauh mana Daniah melakukan kegilaan ini. Tangan Daniah meremas rambut Saga, mengacak-acaknya. “Kau suka sekali menarik rambut bergelombangku kan, seperti ini, seperti ini.” Daniah mengacak-acak rambut Saga seperti sedang keramas. Membuat kepala saga bergoyang ke kanan dan ke kiri.


Sekarang dia melepaskan rambut dan beralih memegang kedua pipi Saga. Muuah, satu kecupan di bibir. “Kau sering seenaknya menciumiku kan. Seperti ini. Muah, muah, muah. Hentikan kelakuanmu itu. Kau pikir jantungku tidak mau meledak apa. Membuat orang berdebar-debar saja.” Gumam-gumam.


Wajah Saga merona, ternyata upayanya membuka hati Daniah sedikit demi sedikit walaupun belum disadari gadis itu tapi berjalan dengan baik.


Daniah ambruk dalam pelukan Saga. Kali ini mulai terdengar isak seperti saat Saga pertama muncul di ruko ini.


“Kamu dari mana saja Tuan Saga tidak berperasaan, Tuan Saga jahat.” Mulai memukul bahu Saga.


“Wahh, wahhh, kau sepertinya sudah benar-benar tidak waras ya, beraninya memakiku.”


Menyentuh dagu daniah dengan tangan kirinya, namun segera di tepis dengan tangan kanan Daniah.

__ADS_1


“Mau apa kamu? Pergi! Pergi suami jahat.” Menyuruh pergi tapi dia memeluk pinggang Saga sambil mencerca dengan erat, seperti tidak mau ditinggalkan. Namun selang tidak lama terdengar isak, lama kelamaan isak tangis itu mengeras. Daniah menangis sambil membenamkan kepalanya di dada Saga. “Kenapa bersikap baik padaku, hiks, hiks, seharusnya kamu tetap bersikap jahat padaku sampai akhir. Kenapa kau baik padaku, setelah aku membuka hatiku, kau mengkhianatiku kan!” Memukul dada Saga berulang, masih dengar airmata berurai. “Kau membuatku menyukaimu, lalu kau mencampakkan aku kan.” Menghentikan pukulannya lalu memeluk pinggang Saga lagi. Nafasnya terdengar tidak beraturan.


“Jangan bersikap baik padaku, bagaimana kalau aku mencintaimu.” Memukul-mukul dada Saga lagi. Sepertinya ia memukul sekuat tenaga yang tersisa. Karena terlihat Saga meringis menahan sakit. Tapi tetap membiarkan Daniah dengan semua tingkahnya. “Aaaaa, kenapa tanganku sakit ya, padahal ini kan hanya mimpi.” Menangis dalam pelukan Saga sampai dia tertidur.


Setelah waktu berselang, Daniah tidur semakin dalam.


“Bodoh!” Saga membaringkan tubuh istrinya perlahan. Memberi kecupan lembut di bibir dan kening Daniah. “ Akhirnya kau mengucapkan semua yang kau tahan selama ini ya.” Saga turun dari tempat tidurnya, memakai sepatu. “Han.”


“Ia Tuan Muda.” Menyimpan hp di tangannya di dalam saku jasnya.


“Kau merekamnya?” menebak apa yang dilakukan Han dengan hpnya tadi.


“Hehe, mungkin bisa Anda pakai nanti untuk menjahili nona kalau dia pura-pura lupa kejadian malam ini.” Kekompakan yang hakiki milik mereka berdua dalam hal menjahili Daniah.


Saga tergelak sambil menepuk bahu Han penuh kebanggaan, sudah memiliki sekretaris yang sangat bisa diandalkan.


“Saya siapkan mobil, Anda bisa menggendong nona kan?”


“Tentu saja, memang kau yang mau menggendongnya.” Memukul bahu Han, kali ini kesal. “Kita ke hotel, kalau aku bertemu dengan ibu tidak tahu apa yang akan kulakukan nanti.”


“Baik.”


Han bergegas menuruni tangga. Menghidupkan lampu di lantai satu. Agar Saga bisa berjalan menggendong Daniah. Dia menghidupkan mobil, selang tidak lama Saga sudah keluar membawa Daniah dalam pelukannya.


Pengawal yang sedari tadi menunggu mendekat ketika Han sudah memutar mobil mau keluar dari tempat parkir. Mobil berhenti, dia mendekatkan kepalanya. Saat Han menurunkan kaca mobil.


“Bereskan tempat ini seperti semula, temui aku di hotel nanti. Beri mereka uang, tidak boleh ada berita sedikit pun keluar tentang Tuan Saga.”


“Baik.”


Mobil melaju menyusuri jalanan kota. Han menelepon.


“Siapkan kamar Tuan Saga seperti biasanya.”


Di kursi belakang Saga menyandarkan kepalanya, sambil tangannya membelai kepala Daniah yang tidur di pangkuannya dengan lembut.


Maaf karena sudah membuatmu menangis.


BERSAMBUNG


Kelakuan Daniah ini di sebut apa ya, gak tau juga aku. Tapi pernah kan kalian mengalami kejadian semacam ini.


Malam hari kalian ketiduran sambil nonton tv di karpet di depan tv, terus pagi hari kalian tanya sama mama kalian.


“Ma, mama yang pindahin aku ke kamar ya.”


Mama menjawab dengan ringan. “Nggak tuh, kamu jalan sendiri kok ke kamar, bahkan sempat ke kamar mandi juga, memang kamu gak sadar.”

__ADS_1


“Ih, iakah.” Dipikir-pikir kok kayaknya ia ya, tapi kok aku gak sadar... hehe


Tapi untuk kasus Daniah memang agak lebay dan di dramatisasi ya... wkwkwkw


__ADS_2