Terpaksa Menikahi Tuan Muda

Terpaksa Menikahi Tuan Muda
86. Usaha Helena (Part 2)


__ADS_3

Kenapa! Kenapa ini.


Prank! Prank!


Serpihan gelas kaca berhamburan. Berlarian ke segala penjuru di dalam kamar.


Helena terduduk, tubuhnya menggigil keras, karena sakit hati, karena kemarahan semua bercampur sekarang. Dia benar-benar merasa tidak berdaya. Pandangan Saga yang membencinya sungguh sangat menakutkan.


Kenapa Saga bisa berubah seperti itu? Sialan apa benar-benar karena Daniah.


“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa”


Prank!


Semua benda sudah berjatuhan di kamarnya, cermin di meja rias juga sudah berantakan. Gedoran pintu terdengar, lalu pintu terbuka keras. Clarissa dengan seorang pelayan muncul. Suara dan wajah mereka sangat panik. Apalagi ketika mendapati kamar yang sudah seperti habis terkena banjir besar.


“Nona.” Pelayan mendekat, khawatir. Tapi dia tidak berani melangkah karena pecahan kaca ada di mana-mana.


“Kak Helen, ada apa denganmu.” Clarissa memberi sorot mata prihatin.


“Keluar! Keluar kalian! Keluar kalian sungguh tidak berguna.”


Clarissa memerintahkan pelayan untuk keluar, tapi dia mendekati kakaknya, dan meraih tangan Helen. Gadis itu menepis uluran tangan adiknya.


“Hentikan Kak, kenapa kamu marah padaku. Memang salahku apa?” Sekarang Clarissa merasa kesal sendiri. Sejak kepulangan Helena dari luar negri dia sering mengamuk tanpa sebab begini. Clarissa tahu alasannya, ternyata Kak Saga menolaknya. Dia frustasi. Tapi jujur walaupun Helena adalah kakaknya dia tidak bisa seratus persen bersimpati karena semua ini terjadi karena kebodohan Helena sendiri.


“Saga, Saga tidak mau memaafkanku. Hiks, huaaaaaa.” Tangisnya pecah. Dia memukul-mukul tempat tidur, mengacak rambutnya yang indah. Clarissa prihatin memandang kakaknya, tapi apa yang bisa dia lakukan. Dia pun berfikir bahwa apa yang terjadi hari ini memang sepenuhnya adalah kesalahan Helena.

__ADS_1


“Apa Kak Helen sudah minta maaf dengan benar pada Kak Saga.” Bertanya tegas tanpa nada simpati.


“Aku harus minta maaf bagaimana lagi!” Malah menanggapi dengan marah, karena merasa dia sudah melakukan apa yang dia bisa.


“Berlutut sambil menangis, kalau perlu sakiti diri kakak di depan Kak Saga.”


Helena terdiam, Clarissa tahu, harga diri setinggi langit kakaknya tidak akan pernah melakukan itu. Apalagi di hadapan sekretaris menyebalkan yang bahkan tidak pernah bergerak sedikit pun di sekitar Saga.


“Apa Kakak masih percaya diri setelah pergi meninggalkan. Kak Saga. Aku saja merasa Kak Helen itu menyebalkan apalagi Kak Saga.” Akhirnya terucap juga, kata-kata menyalahkan dari mulut Clarissa.


“Clariss jaga sikapmu!” Mendorong tubuh adiknya kesal.


“Kenapa? Kalau Kak Helen sepercaya diri itu seharusnya sebelum pergi minimal tidur sekali dulu dengan Kak Saga. Itu bisa Kak Helen pakai sebagai jaminan. Tapi ini, hanya bermodal cinta Kak Saga, Kak Helen sudah sangat yakin sampai berani pergi tanpa izin begitu. Kebebasan, huh! Sekarang dan selamanya Kak Helen bisa bebas dari Kak Saga.  Bodoh!”


“Diam kamu, bukanya membantu malah. Keluarlah. Aku tidak butuh kata-kata tidak bergunamu sekarang.” Helen mendorong tubuh Clarissa, dia merasa kata-kata adiknya sudah sangat keterlaluan sekarang.


Helena mengepalkan tangan. “Noah, ya dia satu-satunya harapanku untuk mendekati Daniah.”


“Tapi, jangan bilang Kak Helen mau memakai Kak Noah untuk untuk mencelakai Daniah. Kalau itu rencana Kak Helen, sebaiknya batalkan. Itu rencana gagal sebelum dimulai. Kalau sampai sekretaris sialan itu tahu, habis Kak Helen di tangannya. Kak Helen tahu sekarang siapa yang dijaga dengan nyawanya, Daniah. Han menjaga Daniah sendiri. Dia sudah jadi istri kesayangan Kak Saga.” Mulai khawatir dengan ide yang diberikannya.  Helen menghardik lewat matanya. “Jen dan Sofi yang cerita. Kak Helen sudah tidak punya kesempatan kata mereka.” Membeberkan fakta kenapa dia bisa berkesimpulan begitu.


“Sial, pantas dua anak itu berubah sekali sikapnya padaku.” Helen bangun dari tempat tidur, mengambil sisir, dia mengibaskan sampai pecahan kaca yang menempel bertebaran. Bercermin di kaca yang pecah. Dia harus bangun sekarang, dia tidak boleh kalah. Meratapi nasib di kamar saat.ini adalah pilihan menyedihkan.


Aku harus bertemu Noah sekarang.


“Suruh bibi membereskan kamarku.”


“Kak Helen mau ke mana sekarang.” Clarissa merasa khawatir. “Jangan mencari masalah lagi.”

__ADS_1


“Diam kamu.” Hanya ini kesempatan terakhir yang bisa dia pakai untuk kembali pada Saga.


... ***...


Noah menatap Helena dengan seksama. “Apa kamu menangis lagi?”  Noah menggenggam erat tangan Helen. “Sudah sampai di sini saja, lepaskan Saga seperti aku melepaskanmu.”


“Aaaaaaaaa.” Menangis semakin keras. Padahal tadi hanya isak kecil. Helen menghambur memeluk Noah. Noah tersentak, tidak mempersiapkan hati dan tubuhnya. “Noah, tolong aku. Hiks. Huuuu. Tolong aku. Kamu tahu kan aku sangat mencintai Saga, aku bodoh yang meninggalkannya. Aku menyesal, sangat menyesal. Aku ingin hubungan kami kembali. Aku tidak bisa hidup tanpanya.” Menangis sekuatnya, membuat Noah merasa bersalah sendiri.


“Baiklah, lepaskan aku dulu.” Noah menepuk bahu Helen dan mendorong tubuhnya agar menjauh. Perasaannya pada wanita di hadapannya mungkin sudah berhasil dia tuntaskan, tapi kalau interaksi.sedekat ini dia takut akan membangkitkan kembali perasaan yang sudah dia kubur. Dan dia tentu akan merasa sangat bersalah sekali pada kekasihnya.


“Bagaimana aku harus menolongmu. Saga pasti tidak mau menemuiku. Waktu itu aku berhasil menemuinya tapi semuanya percuma. Maaf.” Lihat, Helen sudah berhasil membuat Noah merasa bersalah untuk sesuatu yang bukan kesalahannya.


Helen menggenggam tangan Noah. “Bisakah kamu bertemu dengan Daniah.”


“Daniah, kenapa? Apa yang mau kamu lakukan dengan Daniah.” Noah tahu, urusannya akan semakin runyam, karena dia tahu bahwa wanita itu benar-benar menempati tempat khusus di hati Saga. Salah sedikit saja melangkah, habislah semua. Dia sudah merinding membayangkan bagaimana amukan Saga dan amarah sekretarisnya yang menyebalkan itu.


“Aku hanya mau kamu bicara dengannya. Dia sangat polos. Dia pun tidak mencintai Saga. Saat aku memberi tahu alasan Saga menikahinya dia masih bisa tertawa dan berkata, kalau dia menikah karena uang. Dia tidak mencintai Saga.”


Dari mana Helen berkesimpulan semacam ini. Jelas-jelas tidak seperti ini dari sudut pandang Saga.


“Bicaralah dengannya, dan bujuk dia untuk bercerai dengan Saga.” Memohon, ujung mata Helena sudah berair. Ini senjata mematikan untuk Noah. Karena puluhan kali ia pakai selalu berhasil membuat Noah luluh. “Noah, kumohon demi hubungan kita yang lalu tolong kali ini.”


Noah menggigit bibir, luluh. Dia menyeka airmata Helena yang berlinang.


“Baiklah, jangan menangis. aku akan bicara pada Daniah. Tapi aku tidak bisa menjanjikan apa pun.”


Hanya itu yang bisa dia ucapkan, walaupun dia sendiri ragu. Mengingat ucapan Saga waktu itu, dia sadar Helena sudah tidak punya kesempatan.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2