Terpaksa Menikahi Tuan Muda

Terpaksa Menikahi Tuan Muda
91. Minta Maaf (Part 2)


__ADS_3

Ruko milik Daniah


Kembali bekerja, kembali mengumpulkan uang hasil keringat sendiri. Sekarang, bahkan dia tidak tahu alasan apa yang membuatnya masih bersemangat menjalankan toko onlinenya. Uang yang diterimanya dari Tuan Saga sangat jauh dari nominal pendapatannya. Makin hari ketika waktu bergulir dan berlarian di sekitarnya, seperti mengatakan, sudahlah terima nasibmu sebagai istri Tuan Saga. Jangan pura-pura ingin lari dan pergi. Memang kamu mau ke mana?


Apa kamu benar tidak suka pada Tuan Saga? Apa benar kamu tidak akan menangis kalau dia membuangmu. Lihat, dasar tidak tahu malu, kau menikmati tidur bersamanya setiap malam kan? Kamu tersipu saat dia mengatakan kamu cantik kan, ya walaupun pujian itu bisa jadi lidahnya hanya kepeleset. Hemm, bagaimana saat dia memanggilmu sayang. Jantungmu ingin meledak saking senangnya ya kan.


Diam kau hati kurang ajar! Aku ini pemilikmu, jangan mengkhianatiku.


Daniah mengusir kegalauannya kembali dengan jauh lebih bersemangat bekerja.


“Dorong Tik!” Aaaaaa, Daniah menarik sekuat tenaga paket besar berisi pakaian anak menuju lantai dua. Tika mendorong dari bawah ngos-ngosan juga. Ini paket ketiga hari ini. Ambruk di kasur setelah ketiga paket mendarat dengan sempurna. “Aaaaa, aku ingin punya toko satu lantai aja!, yang besar, luas, lebar!” Berteriak keras agar impiannya terbang ke langit tinggi. Sementara Tika tertawa, duduk bersandar di tempat tidur, di mana Daniah berbaring meluruskan pinggangnya.


“Mbak Niah, boleh aku tanya nggak.” Setelah menenggak hampir separuh dari botol minuman dingin di tangannya. Dia melirik bos wanitanya itu.


“Kenapa?”


Ada apa ini, biasanya juga nggak pernah izin kalau mau bertanya.


“Memang Tuan Saga nggak komentar tentang pekerjaan Mbak Niah. Ya, semua orang juga kan tahu Mbak kekayaan Tuan Saga itu sampai semana kalau dijejerin.” Tika tertawa sendiri mendengar kalimatnya. Rasanya memang tidak ada angka pasti kalau untuk menghitung berapa uang Tuan Saga. Daniah sendiri pun tidak tahu berapa perusahaan yang dimilikinya di bawah Antarna Group.


Daniah menatap langit-langit ruangan. Nafasnya terhembus berat.


Karena aku tidak tahu ke depannya bagaimana nasibku Tika. Apa aku masih tetap bisa berada di samping Tuan Saga atau tidak. Sampai hari ini, mungkin cuma hatiku yang sedikit goyah karena sikap lembutnya. Tapi aku tidak mau berharap.


“Dia tidak pernah bertanya juga Tika berapa omset jualanku. Yang penting aku pulang tepat waktu dan ada di rumah saat dia kembali, itu sudah cukup.”


“Ya ampun sweet banget si suami Mbak Niah, jadi dia selalu minta di sambut ya kalau pulang. Ciee, ciee, Mbak Niah gimana menyambutnya. Langsung peluk Tuan Saga kalau pas turun dari mobil atau gimana. Hehe.”


*Nggak gitu kali! Kebanyakan kena racun drama ya otakmu itu*.


“Huss mau tau aja, urusan orang dewasa.” Daniah duduk, meraih botol minum yang tadi di minum Tika, lalu menghabiskan isinya sampai tak bersisa. “Aaaa, segarnya.”


“Oh ya Mbak, apa nggak papa kalau Mbak sekarang selalu beli makanan mewah banyak-banyak untuk kami. Walaupun kami senang, hehe, tapi itukan nggak murah Mbak.”


Karyawanku memang baik-baik ya, mereka ini nggak pernah banyak menuntut dan bekerja keras. Tapi kalau aku memberi sesuatu apa pun itu wujudnya mereka selalu berterimakasih dengan tulus. Aaaa, aku ingin memeluk mereka satu-satu. Mereka yang sudah berjuang bersamaku dari bawah.


“Hehe, aku kan pakai kartunya Tuan Saga. Tenang saja, kalau aku tidak memakai uangnya dia malah bisa ngamuk. Hitung-hitung kita membantunya menghabiskan uang.”


“Enaknya jadi Mbak Niah, aku juga ingin punya suami seperti Tuan Saga.” Tika tertawa sambil berangan-angan. Menuliskan karakter impiannya untuk menjadi pasangan.

__ADS_1


Jangan Tika, jangan berharap dan bermimpi punya suami seperti dia.


Dering hp membuyarkan obrolan mereka, bersamaan dua karyawan muncul dari lantai bawah. Mereka sudah terlihat puas istirahat. Makan enak, perut kenyang, saatnya kembali bekerja lagi. Daniah mengambil tas yang teronggok di pojok tempat tidur. Sementara Tika bicara dengan teman karyawannya.


“Sudah selesai makan siangnya?”


“Ia Mbak.”


“Kita pisahkan dulu baju-bajunya aja ya, pisahkan semua yang punya reseller dulu. Catatannya ada di laci.” Mereka mengambil buku sesuai instruksi Tika. Sementara Daniah  masih mencari-cari hp yang berbunyi di dalam tas.


“Hallo Dek kenapa?” Mendengarkan pembicaraan adiknya. “Kenapa? Ibu dan Risya juga? Memang mereka mau apa?” Diam mendengarkan. “Baiklah, Kak Niah tunggu ya,”.


Sambungan terputus.


Daniah membisu di atas tempat tidur, hpnya ada di dekat kakinya. Pikirannya berlarian ke mana-mana.


Risya dan ibu, mau apa mereka. Kenapa aku merasa sangat tidak nyaman begini. Mereka tidak akan melakukan apa-apa kan. Mereka tidak akan membalasku karena kejadian ulang tahun ayah kan. Karena ada Tuan Saga waktu itu mereka kan jadi tidak bisa mengerjaiku. Tapi mereka kan datang bersama Raksa. Seharusnya tidak apa-apa.


... ***...


Sudah hampir jam tiga, Daniah sedang membungkus paket-paket kecil orderan eceran. Sementara yang lain membungkus paket-paket yang lebih besar milik para reseller. Daniah masih tampak gelisah. Saat Tika berteriak dari lantai bawah membuatnya terlonjak. Terkejut. Mengatakan Raksa menunggu di luar ruko.


“Ia sebentar!”


“Sekretaris Han, apa Tuan Saga akan kembali sebelum makan malam.” Pesan terkirim.


“Ia Nona.” Jawaban secepat kilat.


Hidih, apa hp itu selalu di genggamnya.  Bagaimana reaksinya sangat tanggap begini. Jadi aku harus kembali sebelum jam lima berarti ya. Bagaimana kalau mereka lama ya.


“Apa Anda bisa membawa Tuan Saga pergi ke mana dulu gitu, sebelum pulang. Sepertinya saya ada sedikit keperluan mendesak. Jadi saya takut belum bisa kembali pada waktunya.” Memberi emoji memohon dengan kedua tangan terkatup.


“Apa yang akan Anda lakukan Nona?”


Kalimatnya sudah seperti mengatakan, jangan berbuat yang merepotkan nona. Kembalilah tepat waktu dan jangan membuat masalah.


“Tidak, aku hanya ingin bertemu dengan adikku.” Maaf Raksa aku hanya memakai namamu, karena kalau menyebut ibu dan Risya pasti butuh perizinan yang lebih lama.


“Baiklah, akan saya sampaikan pada tuan muda.”

__ADS_1


“Benarkah?”


Agak lama jeda menunggu, tidak seperti tadi. Mungkin Sekretaris Han sedang bertanya pada Tuan Saga.


“Nikmati waktu Anda bersama adik Anda, sampai jumpa nanti.”


Kenapa aku merasa setiap kalimatnya selalu bermakna terselubung si. Dia tidak akan tiba-tiba muncul di rukoku nanti kan?


Daniah bergegas turun setelah menyelesaikan pesannya. Dia keluar dari ruko mendapati mereka bertiga sedang duduk di kursi taman. Saat melihatnya muncul Raksa yang berlari mendekat.


“Kak Niah.” Menggandeng tangan Daniah mendekati ibu dan Risya.


“Ehh. Ibu apa kabar?” Daniah tersenyum sekenanya pada ibunya.


“Niah yang apa kabarnya, sudah lama ya tidak bertemu.” Ibu datang memeluk Daniah duluan, membuat Daniah bereaksi dengan menarik tangannya. Dia memandang Raksa. Adiknya mengangkat bahu.


“Bagaimana kalau kita bicara di dalam saja.” Daniah tahu, ini sikap tidak wajar. Cara ibu memperlakukannya tidak berbeda saat ulang tahun ayah. Tapi waktu itu kan ada Tuan Saga dan Sekretaris Han yang seperti hantu di mana-mana. Tapi kalau sekarang, mereka kan tidak ada yang mengawasi.


“Baiklah.” Ibu dan Risya berjalan di depan mereka.


“Ada apa ini?” berbisik di samping Raksa.


“Tidak tahu Kak.”


Semua karyawan pindah ke lantai satu. Raksa membantu memindahkan boks paketan dari lantai dua. Dia ikut bergabung membantu menggantikan Daniah. Membungkus paket. Melirik sebentar ke tangga.


“Mbak Niah nggak papa ditinggal sendirian?” Tika merasa khawatir, dia tahu bagaimana hubungan keluarga ini. Dia tahu kalau selama ini yang baik pada Daniah hanya laki-laki di hadapannya ini. “Mas Raksa naik aja temani Mbak Niah.” Merebut lakban putih benih di tangan Raksa.


“Sepertinya nggak papa. Kalau Kak Niah berteriak nanti baru aku ke atas.” Merebut kembali lakban di tangan Tika. Sambil mendelik.


“Ia, ia mas maaf. Ini yang ada di boks ini yang sudah bisa dipasang lakban. Mohon bantuannya ya Mas Raksa.”


“Hehe, gitu donk.”


Dengan senang hati membantu, bagian yang paling disenangi Raksa saat membungkus paket adalah memberi lakban pada paket-paket yang sudah selesai di beri alamat. Dia tinggal finishing akhir. Bunyi gulungan lakban yang tertarik entah kenapa menurutnya lucu. Hingga kadang dia membungkus paket sampai lakbannya double berkali lipat. Tuh kan, Tika merebut lakban di tangan Raksa kalau dia sudah diluar kendali.


“Ia, ia maaf. Habis seru si suaranya.”


Yang lain hanya bisa geleng kepala melihat kelakuan Raksa.

__ADS_1


Untung kamu adik yang di sayangi Mbak Niah.


BERSAMBUNG


__ADS_2