Terpaksa Menikahi Tuan Muda

Terpaksa Menikahi Tuan Muda
114. Pertengkaran Di Tempat Tidur (Part 2)


__ADS_3

Masih di atas tempat tidur. Babak


baru pertengkaran di atas tempat tidur masih akan berlanjut. Tidak tahu akan


menjadi singkat atau semakin bertele-tele. Apa mereka akan kembali saling


berteriak sampai urat saraf mereka menonjol.


Daniah membuka matanya ketika


tangan Saga malah  terasa menyentuh


kepalanya. Alih-alih yang dia takuti akan di pukul. Dia menepuk kepala Daniah,


tapi bukan tepukan lembut seperti biasanya. Menyadarkan Daniah bahwa dia sama


sekali belum selamat. Dia masih dalam situasi genting, belum melewati garis


selamat. Dia atau keluarganya masih berada di bibir jurang.


“Maafkan aku, aku pasti sudah gila


bicara yang tidak-tidak.” Sadar akan kesalahannya Daniah kembali memohon. Saga


masih terdiam, dia hanya menurunkan tangannya. Meraih dagu Daniah menghadapkan


wajah gadis itu ke hadapannya. Daniah mengalihkan pandangannya ke arah lain.


Kali ini dia kehilangan keberanian.


“Jadi kau menyukaiku? Sudah jatuh


cinta padaku.”


Apa! kenapa hanya itu yang kau


tangkap dari pembicaraanku. Bukan itu poinnya Tuan Muda.


“Sejak kapan? Sejak kapan kau


mulai menyukaiku?” mulai bertanya lagi, hanya mengambil inti yang mau di


dengarnya saja. Kalimat panjang-panjang yang dikeluarkan Daniah dengan segala


keberanian tadi tidak dia tanggapi. “Jawab!”


“Aku juga tidak tahu!” setengah


berteriak karena frustasi sekaligus merasa malu.


Sejak kapan aku mulai menyukai


laki-laki yang seharusnya tidak boleh aku sukai ini.


Laki-laki yang melemparkan surat


perjanjian sebelum pernikahan, suami yang memperlakukannya seperti pembantu.


Namun di akhir-akhir ini, Daniah seperti kecolongan, dia seperti dikhianati


hatinya sendiri. Dia tersentuh dengan ucapan lembut suaminya. Terlena dengan


kehangatan tubuh dan  sentuhan lembutnya


di tempat tidur. Daniah hanya bisa mengutuk kecerobohan dirinya. Lebih


parahnya lagi, kenapa dia sampai mengakuinya di depan Saga.


“Maafkan aku sudah lancang


menyukaimu, aku menyalahartikan semua sikap baikmu akhir-akhir ini. Aku akan


menutup hatiku rapat. Aku akan .”


“Apa!” mencengkram dagu Daniah


kuat. “Kau mau apa? menutup hatimu rapat? Jadi kau mau berhenti mencintaiku.”


Daniah menganggukkan kepalanya cepat,


dengan tangan Saga masih mencengkram dagunya. Dia akan melepaskan Saga kembali


kepada Helen. Toh seperti itu semestinya kan. Seluruh penduduk negri ini juga


pasti tahu setelah peresmian Danau Hijau siang tadi. Dan dia bukan wanita tidak


tahu malu. Berharap berada di samping Saga padahal dia tahu dia tidak di


cintai. Akan semenyedihkan apa hidup yang harus ia jalani. Bahkan pasti jauh


lebih parah dari sekedar ia dianggap sebagai pembantu.


Cletak! Sentilan keras di kening


Daniah membuat gadis itu mengerang.


“Sakit.” Dia menjatuhkan kepalanya


di dada Saga, buru-buru dia mengangkat kepalanya. “Maaf, maafkan aku.” Daniah


memilih memalingkan wajah mengusap keningnya berulang dengan rambutnya. Panas


dan ngilu masih menjalar.


Dasar jahat! Kenapa menyentilku.


Memang salahku apa? memang kau mau aku tetap menyukaimu. Tertawa melihatmu


bahagia bersama Helen!


“Memang siapa yang mengizinkanmu


untuk berhenti menyukaiku?”


Apa? memang maumu apa? kau mau


menikahi Helen tapi tetap menyuruhku menyukaimu. Apa kau mau punya dua istri.


Sudah gila ya!


Daniah menepis tangan Saga yang


menyentuh bahunya, karena dia masih merasa kesakitan.


“Kau menolakku lagi?” Belum


menguap kesal, sudah semakin kesal, karena melihat tangannya ditepis.


“Ia! Ini sakit tahu!” Mengusap


keningnya di depan wajah Saga


Daniah tidak berfikir jernih karena


masih fokus pada keningnya. Dia bahkan menjawab seenaknya apa yang dikatakan


Saga.  Ini sentilan kedua kalinya Daniah


merasa sangat kesakitan, waktu pertama dia bahkan tidak berani mengusapnya.


Sekarang sengaja di depan Saga ia usap keningnya, menunjukan kalau dia


kesakitan.

__ADS_1


“Kau akan berhenti menyukaiku?” Menarik


tangan Daniah agar mendekat padanya.


Benar, sentilan ini bukan akhir


masalah. Dia kan manusia paling sensitif dan pendendam di muka bumi ini. Tidak


mungkin hanya akan selesai dengan satu sentilan di keningku.


“Maafkan aku.” Kembali duduk


bersimpuh di samping Saga melupakan rasa sakitnya. “Tuan Saga.” Daniah memakai


panggilan yang dulu dia pakai secara formal memangil Saga. “Maafkan saya yang


minum pil kontrasepsi. Maafkan saya. Hukumlah saya, tapi saya mohon lepaskan


keluarga saya. Ini semua kesalahan saya. Saya mohon belas kasih Anda Tuan.”


Saga meletakan tangannya di leher


Daniah. “Kau hebat sekali ya. Padahal kau sendiri belum tentu selamat, tapi


masih memikirkan orang lain.” Hanya menggunakan satu tangan untuk mencengkram


leher sudah membuat Daniah tersengal dan terbatuk. Dia melepaskan tangannya.


Saga kembali menyandarkan tubuhnya menarik kakinya dan membiarkan Daniah


mengatur nafas. Melihat gadis itu terbatuk sambil mengusap leher dan dadanya. “Nyalimu besar sekali Daniah.”


“Maafkan aku Tuan, maafkan aku.


Aku salah, aku mohon lepaskan keluargaku, aku akan menanggung semua kesalahan


pil kontrasepsi itu. Silahkan hukum aku.” Tangan Daniah sudah terkatup di depan


dadanya. Mengusap-usapkan kedua tangannya seperti anak-anak yang memohon pada


orang tua mereka setelah melakukan kesalahan besar. “Anda bisa menceraikan


saya kapan pun Anda mau. Saya akan pergi tanpa membawa apa pun, hanya pakaian


saya pribadi yang akan saya bawa. Saya akan pergi dan mendoakan kebahagiaan


untuk Anda.” Entah kenapa cuma ini yang bisa dipikirkan Daniah. “Saya akan


berhenti dan menutup hati saya rapat dan melupakan Anda.”


Dia sudah melamar Helen pasti siang


tadi, hanya tinggal menunggu waktu saja kan.


Mendengar apa yang di ucapkan


Daniah Saga tertawa, membuat Daniah menciut dan mengerutkan wajahnya. Dia


mundur perlahan. Ingin menyelamatkan diri, karena merasa aura mengancam dari


pandangan Saga. Tapi terlambat tangan Saga sudah menyentuh bahunya,


mendorongnya kuat sampai dia terjerembab. Tangan Daniah meraba-raba mencari apa pun


yang bisa dia pakai sebagai perlindungan. Tidak ada yang bisa ia raih. Saga


sudah menjatuhkan  semua bantal dan


selimut ke lantai. Dia hanya bisa mencengkram seprei tempat tidur.


“Apa kau sudah selesai mengarang


novelnya? Panggil aku sayang!” Berteriak memenuhi langit-langit kamar. Sekarang


sayang!”


“Ba.. baik sayang.”


Dia mau apa di atasku! Mau


menindihku dengan tubuh besarnya!


“Hei Daniah istriku tersayang, kau


suka panggilan itu?”


Apa! kau masih bisa bercanda di


situasi mematikan seperti ini. Tergelincir sedikit saja lututmu, ngeek!! Aku


akan mati tergencet tahu!


“Ia, ia, aku senang. Senang


sekali. Saking senangnya aku ingin terbang ke langit tinggi dan pergi bebas ke


angkasa.”


“Apa! Pergi bebas? Kau bilang mau


kabur?”


“Tidak, tidak sayang, itu hanya


kata kiasan.”


Kenapa kau bodoh sekali si, itu cuma


kata kiasan basa basi.


“Dengarkan ini dengan telingamu dan


masukan dalam hatimu.” Menunjuk dada daniah dengan telunjuknya. “Aku adalah


aturan yang harus kau patuhi.” Daniah menganggukkan kepala dalam posisinya


berbaring. “Kalau aku bilang ia, maka artinya?”


“Ia, artinya ia.”


“Benar, jadi dengarkan ini. Mulai saat


ini aku melarangmu bicara tentang Helen.” Saga menyusuri rambut Daniah dan


sampai ke telinga. Memainkan daun telinga yang sering ia lakukan seperti


biasanya “Aku akan melipatkan hukumanmu dua kali lipat kalau kau menyebut


namanya.”


“Ia.”


Tapi, kau akan menikah dengannya


kan?


“Aku melarangmu bicara tentang


cerai, tidak aku melarangmu walaupun kau hanya memikirkannya.”


“Kenapa?”


Saga meletakan tangannya di leher

__ADS_1


Daniah lagi. Mengingatkan pada gadis itu apa yang baru saja terjadi saat dia


tersengal tadi.


“Apa aku menyuruhmu bertanya?”


“Maaf. Ia.”


Tapi toh kau akan menceraikan aku


kan?


“Dan kalau kau  sampai berhenti mencintaiku, akan kuhabisi


keluargamu mulai dari adikmu. Dengar?”


“Ia.”


Saga menjatuhkan tubuh di samping


Daniah, mengangkat kakinya memeluk Daniah. “Cintai aku dengan semua perasaanmu.


Tambahkan setiap hari. Aku mau kadar cintamu bertambah  setiap hari.” Memberi kecupan keras di leher


yang menyisakan noda merah. “Aku tidak akan memaafkanmu kalau kau berani


menutup hatimu lagi.”


“Tapi, Helen.”


“Aaaaa, sudah kubilang jangan


menyebut namanya lagi kan!”


“Ia, ia maaf.” Daniah sudah


memiringkan tubuh, membenamkan wajah di dada Saga. Melingkarkan tangannya


memeluk pinggang suaminya. Dan saga mencium kepala Daniah berulang.


Apa ini artinya amarahnya sudah


hilang? Aku sudah bisa bernafas lega kan? Persetan dengan lamarannya pada


Helen. Terserah dia akan mengusirku kapan, aku harusnya cukup senang selamat


malam ini kan.


“Tapi, aku belum mengampunimu


dengan pil kontrasepsi itu.”


Aku tahu itu, kau iblis


pendendam!


“Aku tidak akan menghukum


keluargamu tentang pil kontrasepsi itu. Aku hanya akan menghukummu.”


Apa aku harus senang dan


berterimakasih sekarang?


Saga menarik kedua tangan Daniah  yang melingkar di bahunya ke atas kepala gadis


itu. Menggenggamnya erat hanya dengan satu tangan. Sementara tangan yang satu


menyentuh dagu, lalu ia membuka mulutnya dan mulai mencium Daniah. Makin dalam


dan dalam. Tubuh mereka mengeliat. Melepaskan semua emosi yang mereka rasakan.


“ Hemm. Hemm.”


Bukankah artinya aku sudah


dimaafkan kalau seperti ini. Daniah terus bergumam dalam pikirannya.


Bibir Saga sudah turun ke leher dan


bagian depan Daniah, dia terhenti setelah meninggalkan bekas merah di bagian


dada. Membelai lembut pipi gadis itu.


“Berapa pil yang sudah kau telan?”


bertanya sambil menyeringai, menyadarkan Daniah kalau suaminya tentu tidak akan


melepaskan masalah pil itu semudah ini.


“Aku tidak tahu, aku tidak ingat.”


Merasa malu, dia bahkan tidak mau menghitung berapa jumlah pil yang dia minum.


“Sebaiknya kau ingat-ingat, karena


sejumlah itulah kau harus membayarnya setiap malam.”


Apa! Apa yang dia bilang.


“Sa, sayang. Aku.”


“Kalau kau belum melunasi hutangmu


jangan harap kau bisa mendapatkan kebebasanmu.”


“Sayang, kamu tidak serius kan? Aku


bahkan tidak ingat harus menghitung dari mana?”


Tangan Saga sudah aktif bergerak,


menyentuh bagian sensitif Daniah. Dia mengangkat wajahnya. “Akan kusuruh Pak


Mun membantumu menghitung!”


“Hah! Aku ingat, aku ingat harus


menghitung dari mana.” Sudah gila apa sampai membiarkan Pak Mun dan dirinya


bekerja menghitung hari-hari dia minum pil kontrasepsi.


Saga tergelak, mencium kembali


bibir istrinya. “Hari ini tidak di hitung dalam hutangmu ya.”


Apa! kenapa kau licik sekali.


Apakah Daniah harus senang karena


malam ini terlewati tanpa pertumpahan darah, ataukah dia akan semakin dalam


masuk dalam lubang yang tidak bisa ia naiki lagi. Dia terjebak semakin dalam


dalam perasaannya. Dalam cintanya pada Tuan Saga. Padahal ia tahu, mungkin ke


depannya semua tidak akan mudah.


Tengah malam sudah berlalu, tapi


mereka belum selesai dengan urusannya.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2