Terpaksa Menikahi Tuan Muda

Terpaksa Menikahi Tuan Muda
148. Jangan Terbebani


__ADS_3

Daniah sudah selesai mandi, dia


tidur-tiduran di sofa sambil menyalakan TV. Tapi tetap, matanya hanya melihat


layar hpnya. Tidak ada pesan pemberitahuan kapan Tuan Saga akan kembali,


membuatnya hanya berdiam diri di kamar. Sore ini dia benar-benar dibuat sangat


sibuk. Mengacak-acak mesin pencarian. Mencari potongan-potongan vidio acara


love story.


Kenapa aku baru tahu sekarang si,


ada kejadian beginian. Wahai reporter pemberani siapakah dirimu, ayo berteman


denganku.


Daniah menatap hpnya terperanjat.


Panggila dari Raksa.


Aaaa, Raksa, kangen!


“Jadi kamu bilang begitu ke Jen?


Bilang kalau kamu menganggapnya adik.” Rasanya Daniah bisa ikut merasakan


bagaimana situasi Jen. Frustasinya Jen.  Apalagi harus berhadapan dengan Raksa setiap


hari. “Apa jen juga setuju kamu bersikap begitu?”


Tidak mungkin kan, yang ada dia


bakal menangis dan menggigit jarinya pedih. Aneh-aneh aja si, kenapa pakai main


adik-adikan segala.


“Dia nggak keberatan, dia memang


adik ipar Kak Niah yang baik ya. Senang rasanya sekarang semua orang


memperlakukan Kak Niah dengan baik. Kapan-kapan kita bertemu ya, aku kangen Kak


Niah. Mau traktir Kak Niah. Hehe, sekarang aku kan sudah punya gaji sendiri.”


Aduhhhh, polosnya adikku, menurun


dari siapa si sifatmu itu.


“Raksa semakin keren pastinya


sekarang ya. Nanti aku kabari ya, harus minta izin yang mulia dulu.” Tertawa. “


sudah traktir ayah dan ibumu juga?” mendengarkan Raksa bercerita. Kalau dia


memilih memberikan uang tunai pada ibunya dan sebuah sepatu untuk ayah. “Risya?”


“Dia memintaku membelikan tas yang


harganya tiga kali lipat gajiku. Pakai acara ngambek kalau tidak kubelikan. Ah,


dia sama sekali belum berubah Kak. Apalagi sekarang, karena filmnya lumayan


booming jadi tambah gila dalam penampilan.” Menggerutu. “Untung aku nggak pernah


cerita kalau Kak Risya itu kakak perempuanku, kalau tidak teman-teman kampusku


bakalan heboh.”


Daniah paham, dia kerap melihat


beberapa kali artikel Risya di berita online, kemampuan aktingnya cukup diperhitungkan


selain karena wajah cantiknya. Dan yang pasti di samping itu gemerlap


penampilannya pun akan semakin sejalan dengan popularitasnya.


“Jadi kamu belikan?”


“Aku belikan dengan mencicil lima


kali kak!” Merengek. “Kurang ajar dia memang, kalau bukan kakakku, malas aku


melihat wajah sombongnya tiap kali dia pamer kalau habis diwawancara media.”


Dulu Risya pun sudah seperti itu,


apalagi sekarang. Daniah bahkan akan berfikir aneh kalau sampai gadis itu


berubah. Saat Daniah dan Raksa masih terlibat pembicaraan tiba-tiba pintu kamar


terbuka. Jen sudah muncul memasang wajah dramatis seperti biasanya. Membuat


Daniah terkejut.


“Sudah ya Dek.”


“Tuan Saga sudah pulang?” tanyanya


terkejut.


“Bukan, Jen yang datang.”


“Jen, baiklah. Salam sama dia ya


Kak.”


Aaaaa, nggak mau. Memang aku mau


bilang apa sama dia. Salam dari Raksa yang mengganggapmu kakak. Yang ada dia


malah nangis.


Daniah hanya menjawab dengan hemmm,


lalu menutup telepon. Membiarkan Jen yang sudah duduk di sebelahnya memeluknya.

__ADS_1


Sementara dia meletakan hpnya.


“Kak Saga ya?” tanya Jen melirik


hp di meja.


“Bukan, Raksa.”


“Aaaa, Kakak Ipar dia bilang apa!”


mulai memeluk Daniah sambil mengguncang-guncang bahunya dramatis. “Dia bilang


kalau aku cuma dianggap adik!” berteriak seakan meminta pertanggungjawaban


Daniah. “Kakak ipar, kenapa dia polos banget begitu si, memang siapa yang mau


jadi adiknya. Hiks, hiks.”


“Ia, ia sudah jangan menangis.”


menepuk bahu Jen lembut. “ Dia tidak mungkin mengganggapmu kakak kan, jadi dia


pasti pilih mengganggapmu adik.”


“Kakak Ipar!” Daniah masih


tergelak sambil menepuk bahu Jen.


Lalu Jen menceritakan semua kejadian


di kantor, dengan dibumbui banyak dramatisasi di sana-sini. “Aku penasaran, sekaligus


tidak mau tahu. Tapi aku sungguh penasaran, seperti apa pacarnya Raksa. Apa dia


semanis Kakak Ipar sampai aku tidak bisa mengalahkannya.”


Bagaimana menjelaskannya ini, kalau


perasaan cinta atau suka sudah milik hak paten orangnya si, mau kita bilang


seseorang cantik belum tentu orang lain akan bilang begitu. Sebaliknya kalaupun


kita bilang seseorang biasa saja, tapi ternyata dia bisa membuat pasangannya


tergila-gila.


Cukup lama Jen mencurahkan semua isi hatinya,


sampai pada rencana ke depan yang ingin dia lakukan. Senekadnya dia, dia mau


menyatakan perasaannya. Walaupun tahu, bahwa hatinya sudah bertepuk sebelah


tangan sekalipun. Karena terkadang, hati akan merasa puas jika isinya tersampaikan. apa pun hasil pencapaian. Sekalipun Jen ditolak, bahkan kemungkinan besar akan begitu. Namun perasaannya akan jauh lebih lega, karena isi hatinya tersampaikan.


“Apa yang kau lakukan di sini


Jen?”


Saga sudah berdiri di depan pintu.


Sementara Pak Mun ada di belakangnya seperti biasa. Saking serunya yang mereka


“Kak Saga.” Menegakan kepalanya


dari dada kakak iparnya.


“Apa lagi sekarang.” Saga


mengisyaratkan agar Pak Mun meninggalkannya, laki-laki itu pun mengangguk dan


keluar. Menutup pintu pelan. “Kau menangis lagi karena Raksa pada kakak iparmu?” berdecak sambil menggelengkan kepala.


“Kak Saga, Raksa bilang akan


mengganggapku seperti adiknya sendiri karena aku adik iparnya kakak ipar.” Mengadu, tujuannya supaya dibela dan dikasihani.


“Buahaha.” Saga malah tertawa terbahak


mendengar perkataan Jen. Wajah Jen langsung cemberut. “Kemarilah!” Menyuruh


adiknya mendekat kemudian. “Kasihan sekali kamu Jen.” Jen menurut, meninggalkan Daniah dan mendekati Saga. Memeluk adiknya di bahunya. Lalu


mengusap kepala Jen pelan. “Berusahalah, dan tunjukan kalau kau gadis luar


biasa. Raksa pasti bisa melihat ketulusanmu.”


“Kak Saga.” Setelah memeluk Saga dia ingin kembali ke kursi lagi.


“Sekarang, keluarlah!”


Aaaaaaa, pelit!


Daniah melambaikan tangannya, ketika Jen dengan cemberut diusir dari ruangan.


***


Daniah keluar dari ruang ganti


baju setelah meletakan pakaian ganti Saga, dia sudah mengganti baju tidurnya dengan warna biru muda. Saga sudah duduk di atas tempat tidur bersandar pada bantal. Dia sedang


melihat hpnya. Daniah langsung beranjak naik, meraih bantal, memiringkan bantal


dan tubuhnya. Menghadap ke Saga.


Kalau aku ikut main hp nggak papa


kali ya, dia juga sedang serius dengan hpnya.


Beberapa saat menunggu dan Saga masih terlihat membaca pesan-pesan di hpnya. Daniah sudah berbalik dan membuka laci meja. Tempatnya meletakan hpnya.


“Hei, taruh hpmu.” Baru saja


Daniah menutup laci mejanya, sementara hp sudah ada ditangannya. Mendengar itu dengan cemberut dia mengembalikan lagi hp yang sudah ada


di tangannya. “Peluk aku sini.” Kata yang mulia lagi.


“Kenapa?” bertanya dengan heran. Jelas-jelas saat ini bahkan dia tidak mengalihkan pandangan dari hpnya.

__ADS_1


“Mau peluk suamimu saja, kamu


perlu alasan.” Masih memegang hp, dan matanya juga masih tertuju di sana. Tapi nada suaranya terdengar kesal.


“Bukan begitu sayang, kenapa tiba-tiba minta peluk? Lagian kamu kan masih sibuk sama hp kamu.”


serba salah sendiri. Tapi bisa menjelaskan dengan runut


“Kau saja memeluk Jen seharian


tadi.” Alasan apa itu yang disampaikan Saga. dengan intonasi cemburu.


Apa! siapa yang memeluk Jen


seharian!


Saga mendongak dari hpnya, membuat


Daniah langsung menggeser tubuhnya mendekat. Daripada panjang urusannya, lebih baik menurut. Menyilangkan tangannya di kaki


suaminya. sementara Saga belum berhenti dengan hpnya. Entah apa yang sedang


diperiksanya.


Puas yang mulia?


Saat Daniah memindahkan


tangannya, Turun dari kaki suaminya. Saga langsung mengembalikan ke posisinya semula. Walaupun matanya masih melihat layar hp.


Cih


Selang beberapa


waktu sudah terdengar dia memasukan hp ke dalam laci. Sebelum Daniah tersadar


Saga sudah menjatuhkan tubuhnya mensejajarinya. Sekarang mereka saling berhadapan.


Kenapa aku masih deg deg kan setengah mati kalau dia mulai menatap dengan pandangan begitu si. Dasar hati selembek selimut.


“Kemarilah, biar aku memeluku. Aku


ingin mencium aroma tubuhmu.” Menarik ujung rambut Daniah, lalu menciuminya.


“Sayang.” Malu yang ada, tapi tubuhnya


mendekat. Refleks menginginkan juga. Dan Saga benar-benar melakukan apa yang dia katakan. Dia mencium


setiap lekuk leher Daniah. Merasai aroma tubuh istrinya.


“Niah.” Pelan membisikan nama itu.


“Eh ia.” Daniah langsung berdebar,


kalau Saga tiba-tiba memanggilnya dengan nama itu. Jantungnya masih berdegup sangat kencang.


Dasar hati!


“Apa kau cemas dengan hasil


pemeriksaan kesehatanmu?”


Apa! Leela tidak mengadu kan?


“Aku sudah mendengar dari Harun


tadi, semua hasil pemeriksaanmu. Dia bilang, kau cemas dengan hasilnya. Kenapa?” Saga membenamkan wajah istrinya dalam dadanya. membelai rambut bergelombang itu dengan jemarinya. Dia melakukannya berulang.


"Rambutmu masih jelek juga ya?"


"Aaaaaa, apa si!" Menghancurkan suasana syahdu yang tercipta tadi. "Jangan pegang-pegang kalau begitu."


"Kenapa? aku suka rambut jelekmu ini," tertawa, sambil kembali asik bermain dengan rambut Daniah. menciuminya lagi. "Katakan, apa yang kau cemaskan?" mengulang pertanyaan yang tadi belum dijawab.


“Tidak sayang, aku hanya sedikit khawatir,


apa pil yang pernah aku minum tidak akan berdampak apa-apa.”


Kalaupun ada, kamu berhak marah dan menyalahkanku. Aku akan menerimanya.


“Kenapa cemaskan itu, dokter kan


sudah mengatakan semua baik-baik saja.” Kata-kata yang keluar dari Saga yang sebelumnya tidak diprediksi Daniah.


“Ia sayang." Daniah belum seratus persen yakin dan merasa lega. Masih saja dihantui perasaan bersalah.


“Niah.”


“Ia.”


“Kedepannya jangan pernah terbebani


perihal anak. Aku tidak memaksamu untuk hamil sekarang ataupun nanti. Biarkan itu jadi rencana Tuhan untuk kita. Aku akan menerimanya kapan pun itu. Asalkan itu kau, yang menjadi ibu dari anak-anakku.”


Sayang, kenapa kau baik sekali


begini si. Bagaimana setiap hari aku tidak semakin mencintaimu dan serakah


akan cintamu.


"Aku minta satu hal darimu."


"Apa?" Memang apa yang bisa kuberikan, kau bahkan sudah punya semua hal.


"Tetaplah di sampingku seumur hidupmu."


Aaaaa, tanpa perlu meminta pun, aku akan melakukannya.


"Sayang, bolehkah aku juga minta hal sama padamu. Jangan pernah pergi meninggalkanku."


Maaf Tuhan kalau aku sudah terlalu serakah.


Daniah memeluk suaminya erat. Terdengar Saga meraih laci, sekejap saja lampu kamar sudah padam. Hanya ada pendar cahaya dari lampu tidur di sudut ruangan. Membuat nuansa temaran. Saga sudah menendang selimut sampai ujung tempat tidur.


"Ayo fokus membuatnya, jangan pusingkan apapun hasilnya." Berbisik di telinga Daniah pelan.


Aaaaaa

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2