
Daniah sudah selesai mandi, dia
tidur-tiduran di sofa sambil menyalakan TV. Tapi tetap, matanya hanya melihat
layar hpnya. Tidak ada pesan pemberitahuan kapan Tuan Saga akan kembali,
membuatnya hanya berdiam diri di kamar. Sore ini dia benar-benar dibuat sangat
sibuk. Mengacak-acak mesin pencarian. Mencari potongan-potongan vidio acara
love story.
Kenapa aku baru tahu sekarang si,
ada kejadian beginian. Wahai reporter pemberani siapakah dirimu, ayo berteman
denganku.
Daniah menatap hpnya terperanjat.
Panggila dari Raksa.
Aaaa, Raksa, kangen!
“Jadi kamu bilang begitu ke Jen?
Bilang kalau kamu menganggapnya adik.” Rasanya Daniah bisa ikut merasakan
bagaimana situasi Jen. Frustasinya Jen. Apalagi harus berhadapan dengan Raksa setiap
hari. “Apa jen juga setuju kamu bersikap begitu?”
Tidak mungkin kan, yang ada dia
bakal menangis dan menggigit jarinya pedih. Aneh-aneh aja si, kenapa pakai main
adik-adikan segala.
“Dia nggak keberatan, dia memang
adik ipar Kak Niah yang baik ya. Senang rasanya sekarang semua orang
memperlakukan Kak Niah dengan baik. Kapan-kapan kita bertemu ya, aku kangen Kak
Niah. Mau traktir Kak Niah. Hehe, sekarang aku kan sudah punya gaji sendiri.”
Aduhhhh, polosnya adikku, menurun
dari siapa si sifatmu itu.
“Raksa semakin keren pastinya
sekarang ya. Nanti aku kabari ya, harus minta izin yang mulia dulu.” Tertawa. “
sudah traktir ayah dan ibumu juga?” mendengarkan Raksa bercerita. Kalau dia
memilih memberikan uang tunai pada ibunya dan sebuah sepatu untuk ayah. “Risya?”
“Dia memintaku membelikan tas yang
harganya tiga kali lipat gajiku. Pakai acara ngambek kalau tidak kubelikan. Ah,
dia sama sekali belum berubah Kak. Apalagi sekarang, karena filmnya lumayan
booming jadi tambah gila dalam penampilan.” Menggerutu. “Untung aku nggak pernah
cerita kalau Kak Risya itu kakak perempuanku, kalau tidak teman-teman kampusku
bakalan heboh.”
Daniah paham, dia kerap melihat
beberapa kali artikel Risya di berita online, kemampuan aktingnya cukup diperhitungkan
selain karena wajah cantiknya. Dan yang pasti di samping itu gemerlap
penampilannya pun akan semakin sejalan dengan popularitasnya.
“Jadi kamu belikan?”
“Aku belikan dengan mencicil lima
kali kak!” Merengek. “Kurang ajar dia memang, kalau bukan kakakku, malas aku
melihat wajah sombongnya tiap kali dia pamer kalau habis diwawancara media.”
Dulu Risya pun sudah seperti itu,
apalagi sekarang. Daniah bahkan akan berfikir aneh kalau sampai gadis itu
berubah. Saat Daniah dan Raksa masih terlibat pembicaraan tiba-tiba pintu kamar
terbuka. Jen sudah muncul memasang wajah dramatis seperti biasanya. Membuat
Daniah terkejut.
“Sudah ya Dek.”
“Tuan Saga sudah pulang?” tanyanya
terkejut.
“Bukan, Jen yang datang.”
“Jen, baiklah. Salam sama dia ya
Kak.”
Aaaaa, nggak mau. Memang aku mau
bilang apa sama dia. Salam dari Raksa yang mengganggapmu kakak. Yang ada dia
malah nangis.
Daniah hanya menjawab dengan hemmm,
lalu menutup telepon. Membiarkan Jen yang sudah duduk di sebelahnya memeluknya.
__ADS_1
Sementara dia meletakan hpnya.
“Kak Saga ya?” tanya Jen melirik
hp di meja.
“Bukan, Raksa.”
“Aaaa, Kakak Ipar dia bilang apa!”
mulai memeluk Daniah sambil mengguncang-guncang bahunya dramatis. “Dia bilang
kalau aku cuma dianggap adik!” berteriak seakan meminta pertanggungjawaban
Daniah. “Kakak ipar, kenapa dia polos banget begitu si, memang siapa yang mau
jadi adiknya. Hiks, hiks.”
“Ia, ia sudah jangan menangis.”
menepuk bahu Jen lembut. “ Dia tidak mungkin mengganggapmu kakak kan, jadi dia
pasti pilih mengganggapmu adik.”
“Kakak Ipar!” Daniah masih
tergelak sambil menepuk bahu Jen.
Lalu Jen menceritakan semua kejadian
di kantor, dengan dibumbui banyak dramatisasi di sana-sini. “Aku penasaran, sekaligus
tidak mau tahu. Tapi aku sungguh penasaran, seperti apa pacarnya Raksa. Apa dia
semanis Kakak Ipar sampai aku tidak bisa mengalahkannya.”
Bagaimana menjelaskannya ini, kalau
perasaan cinta atau suka sudah milik hak paten orangnya si, mau kita bilang
seseorang cantik belum tentu orang lain akan bilang begitu. Sebaliknya kalaupun
kita bilang seseorang biasa saja, tapi ternyata dia bisa membuat pasangannya
tergila-gila.
Cukup lama Jen mencurahkan semua isi hatinya,
sampai pada rencana ke depan yang ingin dia lakukan. Senekadnya dia, dia mau
menyatakan perasaannya. Walaupun tahu, bahwa hatinya sudah bertepuk sebelah
tangan sekalipun. Karena terkadang, hati akan merasa puas jika isinya tersampaikan. apa pun hasil pencapaian. Sekalipun Jen ditolak, bahkan kemungkinan besar akan begitu. Namun perasaannya akan jauh lebih lega, karena isi hatinya tersampaikan.
“Apa yang kau lakukan di sini
Jen?”
Saga sudah berdiri di depan pintu.
Sementara Pak Mun ada di belakangnya seperti biasa. Saking serunya yang mereka
“Kak Saga.” Menegakan kepalanya
dari dada kakak iparnya.
“Apa lagi sekarang.” Saga
mengisyaratkan agar Pak Mun meninggalkannya, laki-laki itu pun mengangguk dan
keluar. Menutup pintu pelan. “Kau menangis lagi karena Raksa pada kakak iparmu?” berdecak sambil menggelengkan kepala.
“Kak Saga, Raksa bilang akan
mengganggapku seperti adiknya sendiri karena aku adik iparnya kakak ipar.” Mengadu, tujuannya supaya dibela dan dikasihani.
“Buahaha.” Saga malah tertawa terbahak
mendengar perkataan Jen. Wajah Jen langsung cemberut. “Kemarilah!” Menyuruh
adiknya mendekat kemudian. “Kasihan sekali kamu Jen.” Jen menurut, meninggalkan Daniah dan mendekati Saga. Memeluk adiknya di bahunya. Lalu
mengusap kepala Jen pelan. “Berusahalah, dan tunjukan kalau kau gadis luar
biasa. Raksa pasti bisa melihat ketulusanmu.”
“Kak Saga.” Setelah memeluk Saga dia ingin kembali ke kursi lagi.
“Sekarang, keluarlah!”
Aaaaaaa, pelit!
Daniah melambaikan tangannya, ketika Jen dengan cemberut diusir dari ruangan.
***
Daniah keluar dari ruang ganti
baju setelah meletakan pakaian ganti Saga, dia sudah mengganti baju tidurnya dengan warna biru muda. Saga sudah duduk di atas tempat tidur bersandar pada bantal. Dia sedang
melihat hpnya. Daniah langsung beranjak naik, meraih bantal, memiringkan bantal
dan tubuhnya. Menghadap ke Saga.
Kalau aku ikut main hp nggak papa
kali ya, dia juga sedang serius dengan hpnya.
Beberapa saat menunggu dan Saga masih terlihat membaca pesan-pesan di hpnya. Daniah sudah berbalik dan membuka laci meja. Tempatnya meletakan hpnya.
“Hei, taruh hpmu.” Baru saja
Daniah menutup laci mejanya, sementara hp sudah ada ditangannya. Mendengar itu dengan cemberut dia mengembalikan lagi hp yang sudah ada
di tangannya. “Peluk aku sini.” Kata yang mulia lagi.
“Kenapa?” bertanya dengan heran. Jelas-jelas saat ini bahkan dia tidak mengalihkan pandangan dari hpnya.
__ADS_1
“Mau peluk suamimu saja, kamu
perlu alasan.” Masih memegang hp, dan matanya juga masih tertuju di sana. Tapi nada suaranya terdengar kesal.
“Bukan begitu sayang, kenapa tiba-tiba minta peluk? Lagian kamu kan masih sibuk sama hp kamu.”
serba salah sendiri. Tapi bisa menjelaskan dengan runut
“Kau saja memeluk Jen seharian
tadi.” Alasan apa itu yang disampaikan Saga. dengan intonasi cemburu.
Apa! siapa yang memeluk Jen
seharian!
Saga mendongak dari hpnya, membuat
Daniah langsung menggeser tubuhnya mendekat. Daripada panjang urusannya, lebih baik menurut. Menyilangkan tangannya di kaki
suaminya. sementara Saga belum berhenti dengan hpnya. Entah apa yang sedang
diperiksanya.
Puas yang mulia?
Saat Daniah memindahkan
tangannya, Turun dari kaki suaminya. Saga langsung mengembalikan ke posisinya semula. Walaupun matanya masih melihat layar hp.
Cih
Selang beberapa
waktu sudah terdengar dia memasukan hp ke dalam laci. Sebelum Daniah tersadar
Saga sudah menjatuhkan tubuhnya mensejajarinya. Sekarang mereka saling berhadapan.
Kenapa aku masih deg deg kan setengah mati kalau dia mulai menatap dengan pandangan begitu si. Dasar hati selembek selimut.
“Kemarilah, biar aku memeluku. Aku
ingin mencium aroma tubuhmu.” Menarik ujung rambut Daniah, lalu menciuminya.
“Sayang.” Malu yang ada, tapi tubuhnya
mendekat. Refleks menginginkan juga. Dan Saga benar-benar melakukan apa yang dia katakan. Dia mencium
setiap lekuk leher Daniah. Merasai aroma tubuh istrinya.
“Niah.” Pelan membisikan nama itu.
“Eh ia.” Daniah langsung berdebar,
kalau Saga tiba-tiba memanggilnya dengan nama itu. Jantungnya masih berdegup sangat kencang.
Dasar hati!
“Apa kau cemas dengan hasil
pemeriksaan kesehatanmu?”
Apa! Leela tidak mengadu kan?
“Aku sudah mendengar dari Harun
tadi, semua hasil pemeriksaanmu. Dia bilang, kau cemas dengan hasilnya. Kenapa?” Saga membenamkan wajah istrinya dalam dadanya. membelai rambut bergelombang itu dengan jemarinya. Dia melakukannya berulang.
"Rambutmu masih jelek juga ya?"
"Aaaaaa, apa si!" Menghancurkan suasana syahdu yang tercipta tadi. "Jangan pegang-pegang kalau begitu."
"Kenapa? aku suka rambut jelekmu ini," tertawa, sambil kembali asik bermain dengan rambut Daniah. menciuminya lagi. "Katakan, apa yang kau cemaskan?" mengulang pertanyaan yang tadi belum dijawab.
“Tidak sayang, aku hanya sedikit khawatir,
apa pil yang pernah aku minum tidak akan berdampak apa-apa.”
Kalaupun ada, kamu berhak marah dan menyalahkanku. Aku akan menerimanya.
“Kenapa cemaskan itu, dokter kan
sudah mengatakan semua baik-baik saja.” Kata-kata yang keluar dari Saga yang sebelumnya tidak diprediksi Daniah.
“Ia sayang." Daniah belum seratus persen yakin dan merasa lega. Masih saja dihantui perasaan bersalah.
“Niah.”
“Ia.”
“Kedepannya jangan pernah terbebani
perihal anak. Aku tidak memaksamu untuk hamil sekarang ataupun nanti. Biarkan itu jadi rencana Tuhan untuk kita. Aku akan menerimanya kapan pun itu. Asalkan itu kau, yang menjadi ibu dari anak-anakku.”
Sayang, kenapa kau baik sekali
begini si. Bagaimana setiap hari aku tidak semakin mencintaimu dan serakah
akan cintamu.
"Aku minta satu hal darimu."
"Apa?" Memang apa yang bisa kuberikan, kau bahkan sudah punya semua hal.
"Tetaplah di sampingku seumur hidupmu."
Aaaaa, tanpa perlu meminta pun, aku akan melakukannya.
"Sayang, bolehkah aku juga minta hal sama padamu. Jangan pernah pergi meninggalkanku."
Maaf Tuhan kalau aku sudah terlalu serakah.
Daniah memeluk suaminya erat. Terdengar Saga meraih laci, sekejap saja lampu kamar sudah padam. Hanya ada pendar cahaya dari lampu tidur di sudut ruangan. Membuat nuansa temaran. Saga sudah menendang selimut sampai ujung tempat tidur.
"Ayo fokus membuatnya, jangan pusingkan apapun hasilnya." Berbisik di telinga Daniah pelan.
Aaaaaa
__ADS_1
Bersambung