Terpaksa Menikahi Tuan Muda

Terpaksa Menikahi Tuan Muda
Pingsan (Part 1)


__ADS_3

Semua tidur dengan nyenyak semalam.


Aran bahkan bermimpi dengan indah di atas awan menari-nari. Mengingat janji dan


apa yang dilakukan sekertaris Han kemarin setelah pulang dari kafe. Mereka


datang lagi ke danau itu. Tempat dulu Aran berfikir dia akan ditengelamkan


tanpa diketahui siapapun. Kedatangan mereka untuk  kedua kalinya di tempat itu ntah


kenapa menjadikan keremangan danau yang gelap itu jauh lebih romantis rasanya.


Orang jatuh cinta kadang memang


gilakan? Ucap Aran mencoba menghibur diri. Coba, lihat saja tuan Saga kalau


tidak percaya. Begitu ujarnya. Cintanya pada nona kadang membuatnya berbuat


diluar akal sehat manusia normal lainnya.


Sepanjang pagi senyum tidak memudar


di bibir Aran.


“ Kau terlihat senang. Apa semalam


berjalan dengan baik kencannya?” Sudah keluar dari gerbang rumah utama, menuju


rumah orang tua Daniah. Persiapan terakhir sebelum hari pernikahan besok.


Daniah ingin datang lagi sekedar membantu alakadarnya. “ Bagaimana laki-laki


yang dijodohkan ibumu. Kalian cocok.” Tanyanya lagi.


Aran langsung tergagap, karena dia


melupakan laki-laki itu. Laki-laki yang dijodohkan ayahnya semalam dia tinggal


pergi begitu saja karena sekertaris Han menariknya masuk ke dalam mobil. Dia


bahkan mengabaikan telfon ibu yang bertubi-tubi. Dan hanya menghubungi ayahnya


untuk menjelaskan.


“ Ia nona semua lancar.” Ucapnya


menutupi kebenaran dan fakta bertemu sekertaris Han di kafe.


“ Apa sekertaris Han datang ke kafe


tempatmu kencan?” Pertanyaan paling mengejutkan Aran, membuat gadis itu


langsung terbelalak. Untung saja dia masih stabil menguasai kemudi.


“ Bagaimana nona tahu?” Memekik


sendiri.


“ Haha, sepertinya dia datang ya.”


Tertawa puas. “ Aku berhasil memprovokasinya rupanya. Apa dia cemburu


melihatmu?” Antusias.


Jadi ada andil nona kenapa  sekertaris Han ada di kafe ya. Semua tidak


kebetulan. Tapi terserahlah, toh ujungnya tetap berakhir dengan baik.


Mengalirlah cerita bagaimanaa


kejadian semalam. Daniah tertawa bahkan sampai tidak bisa menahan airmata di sudut


matanya.


“ Tau rasa kau sekarang. Aku ingin


melihat wajah kesalnya seperti apa saat cemburu.” Aran menahan ceritanya sampai


janji Han akan memberinya keputusan setelah Daniah hamil. Sekali lagi Aran


tidak mau sampai itu membebani nona Daniah.


“ Tapi nona, semalam tuan Saga

__ADS_1


tidak marahkan?” Ingat kembali dosa penghianatannya.


“ Tuan Saga, ah tidak dia tidak


marah kok.” Dia hanya mengila dengan sifat kekanakannya. Gumam Daniah tidak mau


berbagi cerita apa yang terjadi semalam. Tentang nasibnya setelah berbagi


sendok makan malam. Mengelikan kalau di ingat. Perdebatan yang lagi-lagi


berujung kekalahan telak untuknya.


Sesampainya di rumah orang tua


Daniah, mereka membantu apa yang perlu dibantu.


Semua persiapaan sudah selesai


dengan baik. Untuk acara di rumah ataupun di gedung.  Persiapan berjalan dengan sempurna. Semua


keluarga besar merasa berkepentigan untuk ikut ambil bagian. Apalagi saat ada


media yang meliput dan melakukan pengambilan gambar, mereka seperti ingin


berada di barisan terdepan kalau mereka memiliki andil besar. Biar lebih banyak


tersorot kamera.


Ingin rasanya nama tuan Saga di


sebut pada media, namun Ayah sudah mewanti-wanti semua. Hingga akhirnya


walaupun ingin pamer tapi mereka tetap tidak bisa melakukan apa-apa.


Daniah keluar dari kamar Risya.


Terlihat lelah. Aran yang muncul dari arah tangga melihat wajah Daniah yang


mulai memucat.


“ Nona kenapa?”


“ Aran bisa ambilkan aku air


dingin.”


Baru beberapa langkah berjalan Aran


dikejutkan dengan ambruknya Daniah. Dia jatuh terduduk di lantai. Lemah


terkulai.


“ Nona! Nona Daniah kenapa?”


Teriakan paniknya memenuhi udara, orang-orang yang mendengar ikut berlari.


Berkumpul.


Sementara mata Daniah merasa


mengantuk, tertutup perlahan. Dan akhirnya tidak sadarkan diri.


***


Aran bolak-balik di depan ruangan perawatan VVIP. Tangan dan kakinya masih gemetar. Bibirnya juga bergetar. Pikirannya campur aduk.


Bagaimana ini, bagaimana nona bisa


pingsan. Tuan Saga kali ini pasti tidak akan mengampuniku. Aaaaa, kenapa aku


membiarkan nona kesana kemari tadi.


Dokter Harun muncul dari ruangan,


melihat Aran yang juga pucat. Ditariknya tangan gadis itu duduk. Dia bisa


merasakan tangan Aran yang gemetar.


“ Tenanglah Aran, kakak ipar


baik-baik saja.” Doker Harun mengengam tangan Aran. “ Dia hanya kelelahan.


Istirahat sebentar dia akan baik-abaik saja.”

__ADS_1


“ Tapi dokter, nona pingsan.”


Pingsan, ini pingsan. Saat jam kerjaku.


Sepertinya Aran mulai sadar, kalau dia sama sekali belum melakukan hal benar selama menjaga nona Daniah. Kesalahan demi kesalahan kembali bermunculan di kepalanya. Semakin membuatnya menciut.


“ Tenanglah, kau sudah menguhungi


Han?”


Kaki dan tangan Aran kembali


gemetar. Bagaimana dia bisa seceroboh ini melupakan protokoler paling penting


yang harus ia lakukan. Seharusnya dia menghubungi sekertaris Han dari tadikan.


Diambilnya hp di tasnya. Memencet


tobol beberapa kali. Jeda panggilan ketiga baru terdengar suara.


“ Kenapa? Kau tahukan kalau


menghubungiku di jam kerja hanya karena urusan nona.” Suara di sebrang, mengatakan aku sedang sibuk artinya dan jangan menggangu.


“ Tu, tuan. Maafkan saya. Nona Daniah pingsan.” Hp ditangannya terjatuh karena teriakan marah itu membuat tangannya gemetar.


“ Arandita!” teriakan Han seperti


menembus telinganya. Dokter harun mengambil hp yang terjatuh di lantai. Diapun terlihat ragu, sudah menduga apa yang diteriakan sekertaris Han di sana. Dia pasti mengamuk.


“ Han, ini aku. Jangan berteriak


pada Aran, dia juga ketakutan.” Menepuk bahu Aran supaya gadis itu tenang.


“ Apa anda mau mati dokter? Dimana


nona sekarang?” Suara Han benar-benar membuat nyali dokter Harun menciut. Dia melirik Aran.


Aku saja takut, apalagi kamu.


“ Dia sudah di ruang perawatan,


dia ba....”


“ Sebaiknya anda bersiap, tuan muda


akan segera ke RS.” Sambungan terputus.


“ Hei, aku bahkan belum


menyelesaikan kalimatku. Kakak ipar baik-baik saja.” Teriaknya di layar ponsel


yang sudah mati sedari tadi. “ kakak ipar hanya kelelahan karena dia sedang


hamil muda.” Tapi poin paling penting itupun tidak tersampaikan.


Aran lagsung mengangkat wajahnya.


“ Apa dokter? Nona sedang hamil?”


ini adalah berita meengembirakan sekaligus menciutkan nyali Aran. “Nona tidak


apa-apakaan dokter, bagaimana dengan bayi dalam perutnya? Semua baik-baik


sajakan?" Rentetan pertanyaan keluar.


Aku pasti tidak akan bisa menyelamatkan hidupku kalau nona dan bayinya kenapa-napa. Tidak!


“ Sudah kubilang dia baik-baik


saja. Sebentar lagi setelah selesai pemeriksaan masuklah. Kakak ipar juga sudah


sadar.”


Kata-kata dokter Harun tidak serta merta membuat Aran lega.


“ Aku harus pergi. Saga pasti


mengila kalau datang nanti, apalagi Han tidak mau mendengarkan apapun tadi.”


Wajah Aran langsung berubah pias lagi. “ Tenanglah, aku akan menjelaskan duduk


persoalannya. Kamu jangan secemas itu.”

__ADS_1


Ya, walaupun aku sendiri takut setengah mati!


Bersambung


__ADS_2