
Semua tidur dengan nyenyak semalam.
Aran bahkan bermimpi dengan indah di atas awan menari-nari. Mengingat janji dan
apa yang dilakukan sekertaris Han kemarin setelah pulang dari kafe. Mereka
datang lagi ke danau itu. Tempat dulu Aran berfikir dia akan ditengelamkan
tanpa diketahui siapapun. Kedatangan mereka untuk kedua kalinya di tempat itu ntah
kenapa menjadikan keremangan danau yang gelap itu jauh lebih romantis rasanya.
Orang jatuh cinta kadang memang
gilakan? Ucap Aran mencoba menghibur diri. Coba, lihat saja tuan Saga kalau
tidak percaya. Begitu ujarnya. Cintanya pada nona kadang membuatnya berbuat
diluar akal sehat manusia normal lainnya.
Sepanjang pagi senyum tidak memudar
di bibir Aran.
“ Kau terlihat senang. Apa semalam
berjalan dengan baik kencannya?” Sudah keluar dari gerbang rumah utama, menuju
rumah orang tua Daniah. Persiapan terakhir sebelum hari pernikahan besok.
Daniah ingin datang lagi sekedar membantu alakadarnya. “ Bagaimana laki-laki
yang dijodohkan ibumu. Kalian cocok.” Tanyanya lagi.
Aran langsung tergagap, karena dia
melupakan laki-laki itu. Laki-laki yang dijodohkan ayahnya semalam dia tinggal
pergi begitu saja karena sekertaris Han menariknya masuk ke dalam mobil. Dia
bahkan mengabaikan telfon ibu yang bertubi-tubi. Dan hanya menghubungi ayahnya
untuk menjelaskan.
“ Ia nona semua lancar.” Ucapnya
menutupi kebenaran dan fakta bertemu sekertaris Han di kafe.
“ Apa sekertaris Han datang ke kafe
tempatmu kencan?” Pertanyaan paling mengejutkan Aran, membuat gadis itu
langsung terbelalak. Untung saja dia masih stabil menguasai kemudi.
“ Bagaimana nona tahu?” Memekik
sendiri.
“ Haha, sepertinya dia datang ya.”
Tertawa puas. “ Aku berhasil memprovokasinya rupanya. Apa dia cemburu
melihatmu?” Antusias.
Jadi ada andil nona kenapa sekertaris Han ada di kafe ya. Semua tidak
kebetulan. Tapi terserahlah, toh ujungnya tetap berakhir dengan baik.
Mengalirlah cerita bagaimanaa
kejadian semalam. Daniah tertawa bahkan sampai tidak bisa menahan airmata di sudut
matanya.
“ Tau rasa kau sekarang. Aku ingin
melihat wajah kesalnya seperti apa saat cemburu.” Aran menahan ceritanya sampai
janji Han akan memberinya keputusan setelah Daniah hamil. Sekali lagi Aran
tidak mau sampai itu membebani nona Daniah.
“ Tapi nona, semalam tuan Saga
__ADS_1
tidak marahkan?” Ingat kembali dosa penghianatannya.
“ Tuan Saga, ah tidak dia tidak
marah kok.” Dia hanya mengila dengan sifat kekanakannya. Gumam Daniah tidak mau
berbagi cerita apa yang terjadi semalam. Tentang nasibnya setelah berbagi
sendok makan malam. Mengelikan kalau di ingat. Perdebatan yang lagi-lagi
berujung kekalahan telak untuknya.
Sesampainya di rumah orang tua
Daniah, mereka membantu apa yang perlu dibantu.
Semua persiapaan sudah selesai
dengan baik. Untuk acara di rumah ataupun di gedung. Persiapan berjalan dengan sempurna. Semua
keluarga besar merasa berkepentigan untuk ikut ambil bagian. Apalagi saat ada
media yang meliput dan melakukan pengambilan gambar, mereka seperti ingin
berada di barisan terdepan kalau mereka memiliki andil besar. Biar lebih banyak
tersorot kamera.
Ingin rasanya nama tuan Saga di
sebut pada media, namun Ayah sudah mewanti-wanti semua. Hingga akhirnya
walaupun ingin pamer tapi mereka tetap tidak bisa melakukan apa-apa.
Daniah keluar dari kamar Risya.
Terlihat lelah. Aran yang muncul dari arah tangga melihat wajah Daniah yang
mulai memucat.
“ Nona kenapa?”
“ Aran bisa ambilkan aku air
dingin.”
Baru beberapa langkah berjalan Aran
dikejutkan dengan ambruknya Daniah. Dia jatuh terduduk di lantai. Lemah
terkulai.
“ Nona! Nona Daniah kenapa?”
Teriakan paniknya memenuhi udara, orang-orang yang mendengar ikut berlari.
Berkumpul.
Sementara mata Daniah merasa
mengantuk, tertutup perlahan. Dan akhirnya tidak sadarkan diri.
***
Aran bolak-balik di depan ruangan perawatan VVIP. Tangan dan kakinya masih gemetar. Bibirnya juga bergetar. Pikirannya campur aduk.
Bagaimana ini, bagaimana nona bisa
pingsan. Tuan Saga kali ini pasti tidak akan mengampuniku. Aaaaa, kenapa aku
membiarkan nona kesana kemari tadi.
Dokter Harun muncul dari ruangan,
melihat Aran yang juga pucat. Ditariknya tangan gadis itu duduk. Dia bisa
merasakan tangan Aran yang gemetar.
“ Tenanglah Aran, kakak ipar
baik-baik saja.” Doker Harun mengengam tangan Aran. “ Dia hanya kelelahan.
Istirahat sebentar dia akan baik-abaik saja.”
__ADS_1
“ Tapi dokter, nona pingsan.”
Pingsan, ini pingsan. Saat jam kerjaku.
Sepertinya Aran mulai sadar, kalau dia sama sekali belum melakukan hal benar selama menjaga nona Daniah. Kesalahan demi kesalahan kembali bermunculan di kepalanya. Semakin membuatnya menciut.
“ Tenanglah, kau sudah menguhungi
Han?”
Kaki dan tangan Aran kembali
gemetar. Bagaimana dia bisa seceroboh ini melupakan protokoler paling penting
yang harus ia lakukan. Seharusnya dia menghubungi sekertaris Han dari tadikan.
Diambilnya hp di tasnya. Memencet
tobol beberapa kali. Jeda panggilan ketiga baru terdengar suara.
“ Kenapa? Kau tahukan kalau
menghubungiku di jam kerja hanya karena urusan nona.” Suara di sebrang, mengatakan aku sedang sibuk artinya dan jangan menggangu.
“ Tu, tuan. Maafkan saya. Nona Daniah pingsan.” Hp ditangannya terjatuh karena teriakan marah itu membuat tangannya gemetar.
“ Arandita!” teriakan Han seperti
menembus telinganya. Dokter harun mengambil hp yang terjatuh di lantai. Diapun terlihat ragu, sudah menduga apa yang diteriakan sekertaris Han di sana. Dia pasti mengamuk.
“ Han, ini aku. Jangan berteriak
pada Aran, dia juga ketakutan.” Menepuk bahu Aran supaya gadis itu tenang.
“ Apa anda mau mati dokter? Dimana
nona sekarang?” Suara Han benar-benar membuat nyali dokter Harun menciut. Dia melirik Aran.
Aku saja takut, apalagi kamu.
“ Dia sudah di ruang perawatan,
dia ba....”
“ Sebaiknya anda bersiap, tuan muda
akan segera ke RS.” Sambungan terputus.
“ Hei, aku bahkan belum
menyelesaikan kalimatku. Kakak ipar baik-baik saja.” Teriaknya di layar ponsel
yang sudah mati sedari tadi. “ kakak ipar hanya kelelahan karena dia sedang
hamil muda.” Tapi poin paling penting itupun tidak tersampaikan.
Aran lagsung mengangkat wajahnya.
“ Apa dokter? Nona sedang hamil?”
ini adalah berita meengembirakan sekaligus menciutkan nyali Aran. “Nona tidak
apa-apakaan dokter, bagaimana dengan bayi dalam perutnya? Semua baik-baik
sajakan?" Rentetan pertanyaan keluar.
Aku pasti tidak akan bisa menyelamatkan hidupku kalau nona dan bayinya kenapa-napa. Tidak!
“ Sudah kubilang dia baik-baik
saja. Sebentar lagi setelah selesai pemeriksaan masuklah. Kakak ipar juga sudah
sadar.”
Kata-kata dokter Harun tidak serta merta membuat Aran lega.
“ Aku harus pergi. Saga pasti
mengila kalau datang nanti, apalagi Han tidak mau mendengarkan apapun tadi.”
Wajah Aran langsung berubah pias lagi. “ Tenanglah, aku akan menjelaskan duduk
persoalannya. Kamu jangan secemas itu.”
__ADS_1
Ya, walaupun aku sendiri takut setengah mati!
Bersambung