Terpaksa Menikahi Tuan Muda

Terpaksa Menikahi Tuan Muda
Pertengkaran (Part 1)


__ADS_3

Daniah berlari sampai nafasnya tersengal


menaiki tangga. Pikirannya buyar saat dia mengingat kata-kata Han, waktu


menunggu tuan Saga tinggal lima menit lagi. Di waktu sesempit itu, untuk


berlari dan juga berfikir. Sepertinya hanya bisa ia pakai untuk mengerahkan tenaga


di kakinya, isi kepalanya tidak sempat memikirkan apapun.


Sial! Kenapa aku bisa mengalami


kejadian seperti ini lagi si.


Gubrak! Tubuh Daniah membentur pintu, membuka pintu pintu keras dengan tubuhnya.


Terengah-engah sambil memegang handle pintu yang terbuka. Dia seperti


mengantung di handle pintu, saat pintu berderik pelan. Dia menoleh ragu,


melihat seseorang sedang duduk bersandar di sofa sambil memangku kaki kirinya.


Saga meraih hp di atas meja. Lalu


melemparkannya kembali setelah mematikan timer.


“ Kau selamat, masih ada tiga detik


lagi.” Katanya dengan pandangan menghancurkan. Daniah bahkan tidak punya


keberanian untuk sekedar tersenyum mengodanya.


Gila! Dia menakutkan sekali. Dia


bahkan memasang timer!


Daniah berdiri mengatur nafasnya


pelan. Merapikan rambutnya. Nafasnya menunjukan kalu dia sudah berlari dengan


kekuatan penuh barusan. Ragu dia berjalan mendekat. Meletakan tasnya di kursi.


“ Sayang..” Menyapa pelan sambil


duduk di sofa. Memilih sofa yang bukan diduduki Saga. Dia mengelus dadanya


sendiri, mengusir gelisah sekaligus menenangkan diri. Tapi tetap, tidak berani


bersitatap mata dengan suaminya.


“ Kemari!”


Tidak mau!


Tubuh Daniah tidak mau bergerak,


dia berpegang pada pinggiran Sofa. Hari ini dia sudah melakukan kesalahan fatal


di mata suaminya. Dia bahkan berfikir untuk pura-pura pingsan karena kehabisan


nafas tadi. Tapi melihat sorot mata kesal Saga membuatnya mengurungkan rencana


apapun di kepalanya.


Dia benar-benar murka.


“ Kemari!” Dia menepuk sofa di


sebelahnya lagi “ Sebelum aku benar-benar tidak bisa menahan diri.”


Daniah langsung beringsut dari


sofanya, berpindah tempat. Wajahnya mulai pias.


“ Sayang, maafkan aku. Aku mampir


sebentar ke rumah Aran.” Menjelaskan, sedang memutar otak supaya tidak tampak


kalau ini kesalahan Aran. “ Ibunya sedang kurang sehat karena merindukan Aran.”


Maaf Aran aku sedikit berbohong


untuk menyelamatkanmu.


“ Karena aku memberimu kebebasan


kau mulai berani ya sekarang.” Tubuh Daniah merinding mendengar cara Saga


bicara, dia mundur sejengkal saat Saga menyentuh dagu dan lehernya. Dia mengulang


kata maafnya lagi dan lagi. Tapi sepertinya suaminya tidak bergeming. Tangannya


masih ada di posisinya yang tadi. “Aku hanya  mengizinkanmu pergi bekerja, apa kau masih belum paham itu artinya?”


Aku tau, artinya aku tidak boleh


pergi kemanapun selain ke ruko.


“ Maaf.” Hanya kata itu yang bisa


di pikiirkan Daniah sekarang. Alasan apapun yang keluar dari mulutnya akan


semakin membuat suaminya marah. “ Sayang aku.”


Bagaimana ini.


Melumerkan kekesalan Saga mungkin


tidak akan semudah biasanya. Dia merasa terkhianati, bukan hanya sekedar

__ADS_1


aturannya yang dilangar. Hari ini dia sengaja membatalkan semua jadwalnya karena


ingin memberi Daniah kejutan kemunculannya di ruko. Tapi ternyata dia yang


dibuat terkejut karena istrinya ternyata tidak ada di tempat.


“ Mbak Niah baru saja pergi tuan.”


Ucapan  Tika sudah menyambar semua pembuluh


kesabarannya. Kalau Han tidak mencegahnya, mungkin dia sudah menutup ruko milik


Daniah selamanya detik itu juga.


“ Karena hanya sebentar, aku


berfikir akan langsung pulang, sebelum kamu sampai di rumah.” Takut-takut


Daniah meraih tangan Saga. Tapi laki-laki itu menepisnya.


Aaaaaaaa, bagaimana ini. Dia bahkan


menepis tanganku.


Saga mencengkram dagu Daniah,


mendorong istrinya sampai tersudut di ujung sofa.


“ Apa kau minta izin padaku?


Tidakkan? Kenapa?”


Glek. Daniah menelan ludah. Dia


tidak minta izin karena merasa akan sangat merepotkan dan belum tentu mendapat


izin.


“ Karena kau menduga aku tidak akan


mengizinkanmu!” Daniah mengigit bibirnya kelu. Isi pikirannya bisa mudah sekali


di tebak. Di saat ia kebinggungan mencari alasan, wajah saga merapat di


depannya. Membuat dia berpaling karena tidak mau bersitatap dengannya. “Jawab!” sudah setengah berteriak, sampai membuat nyeri telinga.


“ Ia.” Sambil memalingkan wajah


menjawab. “ Sayang, aku hanya sebentar di rumah Aran, itupun aku hanya bertemu


dengan ibunya. Aku bersumpah. Bercayalah padaku.”


Sakit!


Saga melepaskan tangannya saat


pada tas kecil di sofa.


“ Siapa itu?”


Kumohon, kumohon berhentilah


berbunyi.


“ Mungkin hanya anak-anak di ruko


sayang. Kamu tahukan aku juga hanya sering berhubungan dengan mereka.”


Saga mengangkat tangannya memberi


isyarat Daniah menyerahkan hp di tas.


Bagaimana ini, kalau itu pesan dari


Abas, tamatlah riwayatku.


“ Aku akan membalasnya nanti.”


“ Ambil!”


Lihat, apa yang coba kau


sembunyikan dariku. Kau bahkan semakin terlihat panik sekarang. Saga menatap tajam tas kecil itu.


Saga mengoyangkan tangannya supaya


Daniah segera bergerak meraih tasnya. Daniah memasukan tangan, sambil pura-pura


mencari. Bergumam pelan karena  belum


menemukan hpnya. Melihat ke arah Saga yang mulai tidak sabar. Tangan Saga


kembali mengantung di udara.


Tamatlah riwayatku.


“ Berikan tasmu!”


“ Ketemu! Ini dia.” Pasrah.


Daniah mau membuka layar depan,


melihat isi hpnya sebelum dia serahkan pada Saga. Berharap itu bukan pesan dari


Abas.


“ Berikan padaku Niah Sayang.”


Tidak berani lagi membantah, di berikannya

__ADS_1


hp dengan tangan kanannya. Sekarang benda kecil itu sudah berpindah tangan.


Saga menghidupkan layar depan yang menampilkan fotonya.


Dia tidak menganti foto depannya


rupanya.


“ Buka!” di sodorkan hp itu di


depan wajah Daniah agar gadis itu membuka lockscreen. Karena tidak mungkin


mengelak akhirnya tangannya bergerak membuka kunci pengaman hp.


Habislah aku!


Saga sudah mau membuka hp, ketika


Daniah dengan suara bergetar sambil menundukan kepala bicara.


“ Kenapa?” Ucapnya lirih, membuat


Saga menghentikan tangannya. “ Kenapa kau sama sekali tidak pernah percaya


padaku.”


Apa ini berhasil? Sambil melirik hp di tangan Saga.


Saga meletakan hp di tangannya


dengan keras ke meja. Membuat benda kecil itu bergetar. Sepertinya layar depan


hp itu pecah membentur meja kaca. Daniah sampai terlonjak, tapi dia bernafas


lega karena itu mencegah Saga membuka pesan di hpnya.


“ Kau bilang apa?”


Takut-taku Daniah mendongak. “ Kenapa


kau tidak pernah percaya padaku.”


“ Depertinya kau mulai melebihi batas ya.” Menunjuk pundak Daniah dengan jarinya. “ Apa maksudmu?”


Marah.


“ Sayang.” Daniah menciut sudah


memprovokasi.  Tapi dia harus


melakukannya, kalau sampai pesan Abas dibaca olehnya, yang terjadi akan lebih


dari ini.“ Kau tahukan aku tidak akan pernah menghianatimu.”


Aku tidak akan punya keberanian


untuk melakukannya. Sampai hari ini sedikit saja kau marah aku saja masih takut


kau akan melampiaskan semuanya pada keluargaku. Jadi bagaimana mungkin aku


berani menghianatiku.


“ Jadi kumohon percayalah padaku.”


“ Percaya padamu?” menuding bahu


Daniah lagi. “Bagaimana aku bisa percaya padamu, di belakangku kau bicara


dengan mantan pacarmu. Padahal kau tahu aku benci kau bicara dengan laki-laki


lain. Dan sekarang, kau minta aku percaya padamu.”


“ Kami hanya bicara sayang.”


“ Tutup mulutmu!” Daniah mengigit


bibirnya. “ Hanya bicara, lalu kau mau melakukan apa kalau aku tidak


melihatnya.”


Terdiam.


“ Kau juga punya Helenkan? Kau juga


punya mantan pacar jugakan.” Akhirnya pecah juga, selama ini Daniah selalu menahannya dalam hati.


Saga mendesah kesal.


" Kau juga bisa bicara bebas dengannya." Suara Daniah terdengar ketus." Kenapa hanya aku yang di curigai dan dituduh tidak setia." Padahal jelas-jelas menghianati tuan muda, tidak setia, tidak pernah terpikirkan sedikitpun di kepala Daniah.


" Tutup mulutmu! Kau benar-benar berani ya!"


“ Lihat, kau selalu marah kalau


nama Helen di sebut di depanmu. Kenapa?” Daniah semakin tersulut. Baginya mantan


pacar hanyalah masa lalu, bagian dari kenangan. Tidak ada arti yang lain. Tapi


bagi suaminya dia merasa mantan pacar masih memiliki arti. “ kenapa,


jawab.” Daniah mendorong tubuh Saga dengan berani. “Karena kau masih menyukainya, makanya kau marah kalau dia disebut. Kau masih memiliki


kenangan di hatimu untuk Helenkan?”


Aku pasti sudah gila! Daniah mencengkram pinggiran sofa. Saat tubuhnya jatuh mendarat tepat di sofa. Melihat mata kesal Saga yang tidak mau berpaling. Nafasnya naik turun dengan cepat.


Aku semakin membuatnya marah.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2