
Sekertaris Han, begitu saja dia
selalu di panggil. Dia selalu memakai wajah datar saat media menyorot wajahnya yang berada satu frame dengan tuan Saga.
Tatapan dingin yang tidak bergeming saat berdiri di belakang presdir Antarna
Group sudah menjadi ciri khasnya. Sejauh ini seperti itulah orang mengenalnya. Dia tidak suka menunjukan
suasana hatinya. Apalagi sampai orang mencampuri kehidupan pribadinya. Mungkin
sejauh ini hanya Aran yang berani memasuki kehidupan tertutupnya. Gadis itu tanpa dia sendiri
sadari telah membuka celah rapat di hati Han yang selama ini hanya tertulis
nama tuan Saga dan Antarna Group.
Dan di minggu yang tenang ini, seperti biasa, dengan menyembunyikan identitas
dirinya. Han Keluar dari apartemen mewahnya. Membawa sebuah sepedah lipat.
Berhoodie hitam dan topi warna senada di dalam hoodienya. Menyembunyikan apa
yang tidak ingin dia tunjukan pada siapapun. Dia menyusuri jalanan dengan sepedahnya, sudah sejak
matahari belum merangkak naik. Menemukan beberapa titik keramaian masyarakat
ibu kota menghabiskan hari libur mereka. Dia belum menghentikan laju sepedahnya
sampai beberapa menit kemudian. Dia menemukan sebuah taman yang sudah cukup
ramai. Arena olahraga dan juga taman bermain anak yang cukup lengkap. Dilihatnya banyak wanita
yang sedang duduk di area bermain, menjaga anak-anak mereka. Berteriak
kesana-kemari saat anak-anak berlarian tak tahu aturan. Semakin orang tua
mereka berteriak, rasanya seperti mereka punya energi seratus kali lipat untuk
berlari.
Han memarkir sepedahnya dan mulai
lari menyusuri jalan setapak. Bersamaan dengan beberapa orang yang tak perduli
satu sama lain. Peluh sudah membancir di dalam jeketnya saat dia menyelesaikan
beberapaa kali putaran, dia mulai memperlambat laju kakinya setelah melihat
timer di jam tangannya. Target putarannya sudah tercapai.
Han mendekati sebuah kios minuman
mengambil sebotol air, menyerahkan selambar uang.
“ Kembaliannya pak!” Pedagang itu
berteriak memanggil saat Han sudah berjalan beberapa langkah.
“ Ambil saja.” Han bicara tanpa
berpaling.
“ Terimakasih pak, semoga bapak
murah rejeki.” Pedagang itu meletakan uang di tangannya di dadanya. Pembeli
pertamanya. Mulutnya bergetar membaca doa kepada Tuhan untuk laki-laki yang
baru saja berlalu itu.
Han membawa langkah kakinya, lalu
dia duduk di taman. Memperhatikan orang yang lalu lalang, dan juga anak-anak
yang di teriaki ibu mereka di taman bermain.
“ Hati-hati! Jangan berlari!” dan
banyak sekali yang di dengar Han.
***
“ Apa anda bahagia bersama nona
Helena tuan?”
Suatu siang, setelah Saga
menghabiskan makan siangnya. Sudah setahun sejak Helena di perkenalkan ke
publik oleh Saga sebagai kekasihnya. Gadis itu di belakang tuan mudanya selalu
bersikap besar kepala.
“ Tentu saja, aku bahagia
__ADS_1
bersamanya.” Senyum di bibir Saga sudah membuat Han mengubur semua informasi
yang dia ketahui tentang Helena.
Selama tuan muda merasa bahagia,
maka dia akan menutup rapat semua rahasia Helen. Begitu dia berkesimpulan. Selama
gadis itu tidak menghianati tuan muda, dia akan membiarkan niatan apaapun yang
ada di hati Helena. Ya, selama tuan mudanya bahagia. Karena itu janji dan
sumpah yang sudah dia ucapkan ketika memasuki rumah utama. Dihadapan tuan besar
yang memilihnya.
Kenangan demi kenangan berdatangan
saat Han melihat wajah anak-anak berlarian di taman bermain. Ibu-ibu mereka
yang akan bergerak sigap saat merasai ada bahaya sedikit saja yang mengancam anak
mereka.
Apa aku sedang bersikap seperti
wanita-wanita itu pada anaknya ya? Bahagia, sebenarnya parameter apa yang bisa
di pakai untuk mengukurnya. Kerap kali dia mendengar dari mulut tuan mudanya
kalau dia hidup bahagia sekarang.
“ Niah membuatku bahagia. Jadi
berhentilah memikirkanku. Kau bisa mulai menyusun rencana hidupmu.”
Rencana hidupku? Memang aku punya
rencana apa untuk hidupku?
Bahkan pertanyaan itu tidak bisa di jawab Han. Selama ini rencana hidupnya hanyalah Antarna Group dan tuan Saga. Kebahagiaan tuan mudanya adalah tujuan hidupnya.
Sebuah bola bergulir di kaki Han
yang sedang merenung tentang arti rencana hidup untuk dirinya sendiri. Diluar tuan muda dan Antarna
Group. Dia mendongak dan melihat seorang anak berlari ke arahnya.
“ Maaf paman bisa tendang bolanya?” seorang anak yang kira-kira masih duduk di sekolah dasar masih berdiri di tempatnya. Menunjuk bola di kaki Han.
bola bergantian dengan anak yang berteriak, karena dia tidak bereaksi membuat anak laki-laki itu berjalan mendekat ke arahnya.
“ Paman!” Anak laki-laki itu
memanggil lagi saat Han sudah meletakan bola ditangannya, tapi belum
melemparkan bola itu padanya.
“ Hei bocah, aku bukan pamanmu!”
Memang kau anak tuan muda dan nona. Seenaknya memanggilku paman. “ Mana ibumu? Apa kamu tidak diajari untuk
tidak bicara dengan orang asing!” Masih memegang bola. Si bocah laki-laki
menghentikan langkah, lalu mundur ke belakang. Seperti tersadar nasehat ibunya
yang selalu di ulang-ulang setiap waktu itu.
Kalau berada di tempat keramaian
jangan berpisah dengan orang dewasa. Jangan bicara dengan orang asing kalau
kamu sedang sendirian.
“ Ambil ini, segera kembali ke
ibumu!”
“ Ia paman, terimakasih!”
“ Sudah kubilang jangan bicara
dengan orang asing!" Han bicara dengan keras lagi. "Dan aku bukan pamanmu!” Ulangnya. Setelah menerima bola bocah itu
langsung kabur tanpa bicara lagi.
Apa saat ada anak diantara tuan muda dan nona, aku sudah mulai bisa bernafas lega?
Han masih melihat bocah kecil itu berlari, berkumpul lagi dengan teman-temannya. Dia sudah lupa dengan paman aneh yang dia temui tadi.
***
Setelah pertemuan pertamanya dengan
tuan muda yang banyak maunya tapi tidak pernah mau mengatakan secara spesifik
__ADS_1
keinginannya itu, setiap hari Han akan mengikuti ayahnya bekerja. Menjadi teman
belajar dan bermain Saga. Itu teorinya, tapi yang ada seperti tidak seperti
itu. Dia masih dianggap penggangu tidak berguna, masih di tes melakukan ini dan itu. Dikerjai untuk menghafal banyak hal. Yang intinya hanya hal remeh temeh tentang tuan mudanya.
“ Masuklah Han” Pintu terbuka pelan. Tuan sedang duduk di sofa ruang kerjanya.
Bocah kecil itu memasuki ruang
kerja. Walaupun terlihat ragu dan takut tapi dia berusaha tenang. Terlihat dari tangannya yang dia remas dengan kuat.
“ Duduklah!”
“ Tidak apa-apa tuan, saya berdiri
saja.” Ucapnya sopan.
“ Duduklah.” Tuan besar menepuk
sofa di sebelahnya lagi. Membuat Han melangkah dan duduk. “Bagaimana? Kau
senang bertemu Saga?”
Sama sekali tidak! Dia sangat
berbeda dengan apa yang diceritakan ayah. Dia tuan muda aneh yang banyak maunya. Dan masalahnya dia tidak bisa spesifik mengatakan apa yang dia mau!
“ Dia menyukaimu, ya walaupun dia
menunjukannya dengan cara yang aneh.” Tuan besar tertawa sambil mengusap kepala Han. Menyadari dan tahu dengan pasti bagaimana karakter putranya. “ Dia sengaja tidak tidur dan menungguku pulang kerja hanya untuk bertanya tentangmu sepanjang malam" tertawa lagi. Mengusap kepala Han lagi. Membuat bocah kecil itu merasa malu. Karena ayahnya sendiri sangat jarang melakukannya. " kalau tidak menyukaimu dia tidak akan
mengizinkanmu masuk ke kamarnya.”
Cih, diakan hanya ingin pamer dan
membuatku menghafal semua benda kesukaannya.
“ Han!” Bagi Han kecil, suara tuan bergema dengan serius memenuhi ruangan.
“ Ia tuan.” Hanya memprediksi kalau kalimat berikutnya pasti akan sangat serius.
“ Jagalah Saga seperti kau menjaga
adikmu.”
Kenapa? Bukankah ada tuan besar dan ayah yang akan selalu ada di sampingnya sebagai penerus keluarga.
“ Kenapa tuan mengatakan hal
seperti itu. Bukankah ada ayah dan juga tuan yang akan selalu ada di samping
tuan muda.”
Saat itu tuan besar hanya terdiam,
tidak tahu apa yang dia pikirkan. Tapi tangan hangatnnya membelai kepala Han
lembut.
“ Aku hanya akan merasa tenang
kalau sudah memastikan dia hidup bersama orang-orang yang akan selalu
mendukungnya dengan tullus. Berjanjilah.”
“ Tuan.”
“ Untuk berada di samping Saga dan
menjaganya seperti kamu menjaga adikmu sendiri.”
Dan hari itu janji yang mungkin sepenuhnya tidak dia mengerti terucap. Janji yang baru dia sadari setelah kepergian tuan besar secara tiba-tiba.
Hah! kenapa aku tiba-tiba teringat dengan semua itu.
Han bangun meninggalkan semua kenangannya berlarian menjauh. Dia melempaarkan botol kosong di tangannya ke tempat sampah. Lalu menuju tempat parkir. Hp di sakunya bergetar.
" Tuan apa jaket yang anda pakai hari ini? apa anda bersenang-senang di udara secerah ini." pesan dari Aran dibumbui dengan dua tanda hati.
Haha, beraninya kau menanyakan hal ini. Dan apa lagi dua tanda hati merah ini.
Han mengambil foto langit cerah yang membiru, dan juga sepedahnya yang sudah dia keluarkan dari area parkir.
*Aku pasti sudah gila!*Kenapa aku mengirim foto padanya!
Han mengutuki dirinya sendiri. Apalagi saat bertubi tanda getar masuk menandakan balasan pesan yang baru saja ia terima. Dia tidak membuka hp. Di biarkannya saja, hari ini belum saatnya dia memberikan harapan pada gadis bodoh itu. Begitu pikirnya.
Han meninggalkan taman tempatnya berolahraga, masih banyak lembaran uang di saku jaket, rejeki orang yang dititipkan Tuhan lewat perantaranya.
Bersambung
__ADS_1