Terpaksa Menikahi Tuan Muda

Terpaksa Menikahi Tuan Muda
Kenangan Han


__ADS_3

Sekertaris Han, begitu saja dia


selalu di panggil.  Dia selalu  memakai wajah datar saat media menyorot wajahnya yang berada satu frame dengan tuan Saga.


Tatapan dingin yang tidak bergeming saat berdiri di belakang presdir Antarna


Group sudah menjadi ciri khasnya. Sejauh ini seperti itulah orang mengenalnya. Dia tidak suka menunjukan


suasana hatinya. Apalagi sampai orang mencampuri kehidupan pribadinya. Mungkin


sejauh ini hanya Aran yang berani memasuki kehidupan tertutupnya. Gadis itu tanpa dia sendiri


sadari telah membuka celah rapat di hati Han yang selama ini hanya tertulis


nama tuan Saga dan Antarna Group.


Dan di minggu yang tenang ini,  seperti biasa, dengan menyembunyikan identitas


dirinya. Han Keluar dari apartemen mewahnya. Membawa sebuah sepedah lipat.


Berhoodie hitam dan topi warna senada di dalam hoodienya. Menyembunyikan apa


yang tidak ingin dia tunjukan pada siapapun. Dia menyusuri jalanan dengan sepedahnya, sudah sejak


matahari belum merangkak naik. Menemukan beberapa titik keramaian masyarakat


ibu kota menghabiskan hari libur mereka. Dia belum menghentikan laju sepedahnya


sampai beberapa menit kemudian. Dia menemukan sebuah taman yang sudah cukup


ramai. Arena olahraga dan juga taman bermain anak yang cukup lengkap. Dilihatnya banyak wanita


yang sedang duduk di area bermain, menjaga anak-anak mereka. Berteriak


kesana-kemari saat anak-anak berlarian tak tahu aturan. Semakin orang tua


mereka berteriak, rasanya seperti mereka punya energi seratus kali lipat untuk


berlari.


Han memarkir sepedahnya dan mulai


lari menyusuri jalan setapak. Bersamaan dengan beberapa orang yang tak perduli


satu sama lain. Peluh sudah membancir di dalam jeketnya saat dia menyelesaikan


beberapaa kali putaran, dia mulai memperlambat laju kakinya setelah melihat


timer di jam tangannya. Target putarannya sudah tercapai.


Han mendekati sebuah kios minuman


mengambil sebotol air, menyerahkan selambar uang.


“ Kembaliannya pak!” Pedagang itu


berteriak memanggil saat Han sudah berjalan beberapa langkah.


“ Ambil saja.” Han bicara tanpa


berpaling.


“ Terimakasih pak, semoga bapak


murah rejeki.” Pedagang itu meletakan uang di tangannya di dadanya. Pembeli


pertamanya. Mulutnya bergetar membaca doa kepada Tuhan untuk laki-laki yang


baru saja berlalu itu.


Han membawa langkah kakinya, lalu


dia duduk di taman. Memperhatikan orang yang lalu lalang, dan juga anak-anak


yang di teriaki ibu mereka di taman bermain.


“ Hati-hati! Jangan berlari!” dan


banyak sekali yang di dengar Han.


***


“ Apa anda bahagia bersama nona


Helena tuan?”


Suatu siang, setelah Saga


menghabiskan makan siangnya. Sudah setahun sejak Helena di perkenalkan ke


publik oleh Saga sebagai kekasihnya. Gadis itu di belakang tuan mudanya selalu


bersikap besar kepala.


“ Tentu saja, aku bahagia

__ADS_1


bersamanya.” Senyum di bibir Saga sudah membuat Han mengubur semua informasi


yang dia ketahui tentang Helena.


Selama tuan muda merasa bahagia,


maka dia akan menutup rapat semua rahasia Helen. Begitu dia berkesimpulan. Selama


gadis itu tidak menghianati tuan muda, dia akan membiarkan niatan apaapun yang


ada di hati Helena. Ya, selama tuan mudanya bahagia. Karena itu janji dan


sumpah yang sudah dia ucapkan ketika memasuki rumah utama. Dihadapan tuan besar


yang memilihnya.


Kenangan demi kenangan berdatangan


saat Han melihat wajah anak-anak berlarian di taman bermain. Ibu-ibu mereka


yang akan bergerak sigap saat merasai ada bahaya sedikit saja yang mengancam anak


mereka.


Apa aku sedang bersikap seperti


wanita-wanita itu pada anaknya ya? Bahagia, sebenarnya parameter apa yang bisa


di pakai untuk mengukurnya. Kerap kali dia mendengar dari mulut tuan mudanya


kalau dia hidup bahagia sekarang.


“ Niah membuatku bahagia. Jadi


berhentilah memikirkanku. Kau bisa mulai menyusun rencana hidupmu.”


Rencana hidupku? Memang aku punya


rencana apa untuk hidupku?


Bahkan pertanyaan itu tidak bisa di jawab Han. Selama ini rencana hidupnya hanyalah Antarna Group dan tuan Saga. Kebahagiaan tuan mudanya adalah tujuan hidupnya.


Sebuah bola bergulir di kaki Han


yang sedang merenung tentang arti rencana hidup untuk dirinya sendiri. Diluar tuan muda dan Antarna


Group. Dia mendongak dan melihat seorang anak berlari ke arahnya.


“ Maaf paman bisa tendang bolanya?” seorang anak yang kira-kira masih duduk di sekolah dasar masih berdiri di tempatnya. Menunjuk bola di kaki Han.


bola bergantian dengan anak yang berteriak, karena dia tidak bereaksi membuat  anak laki-laki itu berjalan mendekat ke arahnya.


“ Paman!” Anak laki-laki itu


memanggil lagi saat Han sudah meletakan bola ditangannya, tapi belum


melemparkan bola itu padanya.


“ Hei bocah, aku bukan pamanmu!”


Memang kau anak tuan muda dan nona. Seenaknya memanggilku paman.  “ Mana ibumu? Apa kamu tidak diajari untuk


tidak bicara dengan orang asing!” Masih memegang bola. Si bocah laki-laki


menghentikan langkah, lalu mundur ke belakang. Seperti tersadar nasehat ibunya


yang selalu di ulang-ulang setiap waktu itu.


Kalau berada di tempat keramaian


jangan berpisah dengan orang dewasa. Jangan bicara dengan orang asing kalau


kamu sedang sendirian.


“ Ambil ini, segera kembali ke


ibumu!”


“ Ia paman, terimakasih!”


“ Sudah kubilang jangan bicara


dengan orang asing!" Han bicara dengan keras lagi. "Dan aku bukan pamanmu!” Ulangnya.  Setelah menerima bola bocah itu


langsung kabur tanpa bicara lagi.


Apa saat ada anak diantara tuan muda dan nona, aku sudah mulai bisa bernafas lega?


Han masih melihat bocah kecil itu berlari, berkumpul lagi dengan teman-temannya. Dia sudah lupa dengan paman aneh yang dia temui tadi.


***


Setelah pertemuan pertamanya dengan


tuan muda yang banyak maunya tapi tidak pernah mau mengatakan secara spesifik

__ADS_1


keinginannya itu, setiap hari Han akan mengikuti ayahnya bekerja. Menjadi teman


belajar dan bermain Saga. Itu teorinya, tapi yang ada seperti tidak seperti


itu. Dia masih dianggap penggangu tidak berguna, masih di tes melakukan ini dan itu. Dikerjai untuk menghafal banyak hal. Yang intinya hanya hal remeh temeh tentang tuan mudanya.


“ Masuklah Han” Pintu terbuka pelan. Tuan sedang duduk di sofa ruang kerjanya.


Bocah kecil itu memasuki ruang


kerja. Walaupun terlihat ragu dan takut tapi dia berusaha tenang. Terlihat dari tangannya yang dia remas dengan kuat.


“ Duduklah!”


“ Tidak apa-apa tuan, saya berdiri


saja.” Ucapnya sopan.


“ Duduklah.” Tuan besar menepuk


sofa di sebelahnya lagi. Membuat Han melangkah dan duduk. “Bagaimana? Kau


senang bertemu Saga?”


Sama sekali tidak! Dia sangat


berbeda dengan apa yang diceritakan ayah. Dia tuan muda aneh yang banyak maunya. Dan masalahnya dia tidak bisa spesifik mengatakan apa yang dia mau!


“ Dia menyukaimu, ya walaupun dia


menunjukannya dengan cara yang aneh.” Tuan besar  tertawa sambil mengusap kepala Han. Menyadari dan tahu dengan pasti bagaimana karakter putranya. “ Dia sengaja tidak tidur dan menungguku pulang kerja hanya untuk bertanya tentangmu sepanjang malam" tertawa lagi. Mengusap kepala Han lagi. Membuat bocah kecil itu merasa malu. Karena ayahnya sendiri sangat jarang melakukannya. " kalau tidak menyukaimu dia tidak akan


mengizinkanmu masuk ke kamarnya.”


Cih, diakan hanya ingin pamer dan


membuatku menghafal semua benda kesukaannya.


“ Han!” Bagi Han kecil, suara tuan bergema dengan serius memenuhi ruangan.


“ Ia tuan.” Hanya memprediksi kalau kalimat berikutnya pasti akan sangat serius.


“ Jagalah Saga seperti kau menjaga


adikmu.”


Kenapa? Bukankah ada tuan besar dan ayah yang akan selalu ada di sampingnya sebagai penerus keluarga.


“ Kenapa tuan mengatakan hal


seperti itu. Bukankah ada ayah dan juga tuan yang akan selalu ada di samping


tuan muda.”


Saat itu tuan besar hanya terdiam,


tidak tahu apa yang dia pikirkan. Tapi tangan hangatnnya membelai kepala Han


lembut.


“ Aku hanya akan merasa tenang


kalau sudah memastikan dia hidup bersama orang-orang yang akan selalu


mendukungnya dengan tullus. Berjanjilah.”


“ Tuan.”


“ Untuk berada di samping Saga dan


menjaganya seperti kamu menjaga adikmu sendiri.”


Dan hari itu janji yang mungkin sepenuhnya tidak dia mengerti terucap. Janji yang baru dia sadari setelah kepergian tuan besar secara tiba-tiba.


Hah! kenapa aku tiba-tiba teringat dengan semua itu.


Han bangun meninggalkan semua kenangannya berlarian menjauh. Dia melempaarkan botol kosong di tangannya ke tempat sampah. Lalu menuju tempat parkir. Hp di sakunya bergetar.


" Tuan apa jaket yang anda pakai hari ini? apa anda bersenang-senang di udara secerah ini." pesan dari Aran dibumbui dengan dua tanda hati.


Haha, beraninya kau menanyakan hal ini. Dan apa lagi dua tanda hati merah ini.


Han mengambil foto langit cerah yang membiru, dan juga sepedahnya yang sudah dia keluarkan dari area parkir.


*Aku pasti sudah gila!*Kenapa aku mengirim foto padanya!


Han mengutuki dirinya sendiri. Apalagi saat bertubi tanda getar masuk menandakan balasan pesan yang baru saja ia terima. Dia tidak membuka hp. Di biarkannya saja, hari ini belum saatnya dia memberikan harapan pada gadis bodoh itu. Begitu pikirnya.


Han meninggalkan taman tempatnya berolahraga, masih banyak lembaran uang di saku jaket, rejeki orang yang dititipkan Tuhan lewat perantaranya.


Bersambung


 


 

__ADS_1


__ADS_2