Terpaksa Menikahi Tuan Muda

Terpaksa Menikahi Tuan Muda
121. Ketahuan


__ADS_3

Daniah duduk di ruang tv di lantai


bawah, sambil selonjoran dan bermain hp. Saat dia mendengar langkah kaki dia


bangun dan mengedarkan pandangan. Kembali duduk setelah yang dilihatnya pelayan


yang masuk.


Hari ini dia mau mengadu atas sikap


Sekretaris Han yang berlebihan menghukum Leela. Tapi dia tidak akan mengatakan


kalau dia bertemu Helen. Dia sudah latihan beberapa babak tadi, agar tidak sampai


ketahuan. Dan semua terlihat wajar.


Cukup lama dia menunggu, sampai akhirnya


Saga muncul diikuti Pak Mun dan


juga Han di belakangnya. Daniah langsung bangun dari tiduran. Senang sekaligus


kesal melihat sekretaris itu juga ikut masuk rumah dan tidak langsung pulang.


“Kau menungguku?” Saga menunjuk


pipinya agar Daniah memberi ciuman selamat datang.


Baiklah, kemarilah.


Setelah memberi ciuman selamat


datang, Daniah menarik tangan Saga agar duduk di sofa, dia melirik Sekretaris


Han sekilas. Kesal.


“Sayang, bisakah kamu minta dia


berhenti memukul pelayan atau siapapun yang melakukan kesalahan.” Menuding


dengan kata-kata tajam, sambil melihat Sekretaris Han yang terlihat tersenyum


tipis di tempatnya berdiri.


Apa, dia tersenyum. Lihat, kalau


aku tidak membuatmu dihukum atau minta maaf pada Leela, jangan. Tidak, aku


tidak mau bertaruh apa-apa. karena aku sudah merasa akan gagal. Hiks.


Maaf Leela, melihatnya tersenyum aku sudah gagal sepertinya.


“Kenapa?” Saga menyentuh pipi


Daniah “Kamu melihatnya memukul siapa?” Daniah melihat Sekretaris Han dengan


sorot mata puas, habis kau, aku ingin melihat Tuan Saga marah padamu. “Han.”


Saga bicara tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah Daniah.


“Ia Tuan Muda.”


“Sudah kuperingatkan kan, jangan


memukul siapapun di depan Daniah lagi.”


Hei bukan begitu, dia memang tidak


memukul siapapun di depanku.


“Saya tidak memukul siapa-siapa di


depan nona Tuan Muda.” Daniah sudah gemetar geram. Mudah sekali dia cuci tangan


pikir Daniah. Saga menoleh pada Daniah, tatapan hangatnya, menyusuri setiap


garis wajah Daniah.


“Memang siapa yang dia pukul


sampai kamu sekesal ini. Aku juga tidak bisa melarangnya mendisiplinkan


karyawan. Sudah pernah kukatakan kan, kalau dia itu memang menakutkan. Jadi


biarkan saja dan jangan mengganggunya.  Memang apa kesalahannya sampai kau memukulnya Han?”


Daniah tercekik, dia tidak bisa


mengatakan kalau Leela yang sudah dihukum Sekretaris Han, alasannya karena dia


meninggalkan Daniah sendirian di kantor tadi,  kalau sampai Saga mencari tahu semuanya, bahkan Leela yang akan mendapat


imbas dari semuanya. Dan Daniah pasti yang paling akan menyesal.


“Siapa yang kamu pukul Han.”


Bertanya lagi. Karena tidak mendapat jawaban apa pun dari Daniah ataupun dari


sekretarisnya.


Daniah tiba-tiba memeluk Saga.


Karena situasi semakin berlari ke arah yang tidak dia inginkan. Bukannya


mendapatkan pembelaan, dia malah akan membuat situasi semakin runyam.


“Sayang, ibu sudah kembali. Dia


membelikanku banyak sekali hadiah.” Membuat Saga melupakan kata-katanya tadi dan fokus pada yang lain.


Kurang ajar, dia tersenyum lagi.


Melihat seringai tipis di bibir


Han, membuat Daniah kalah lagi.


“Benarkah? Dia sudah minta maaf


padamu?”


Daniah menganggukkan kepala, masih


membenamkan kepala di dada Saga. “ Sayang, kamu juga maafkan ibu ya. Ibu sedang


di kamarnya sekarang, kami mengobrol lama tadi”


“Baiklah. Kau mau ikut aku bicara


dengan ibu?”


“Tidak sayang, kalian harus bicara

__ADS_1


berdua kan. Aku tunggu di sini. bicaralah senyaman mungkin dengan ibu.”


“Baiklah.” Membelai kepala Daniah.


“Pak Mun panggil ibu ke ruangan kerjaku.”


“Baik Tuan Muda.”


Daniah mengikuti langkah kaki Saga


sampai dia hilang masuk ke dalam ruang kerjanya. Lalu dia beralih menoleh pada


Sekretaris Han.


“Kau mau ke mana Sekretaris Han,


kita perlu bicara?”


“Saya mau membuat kopi, apa Anda


mau?” Berjalan ke dapur, mau tidak mau Daniah mengikuti langkah kaki Han.


Daniah memilih duduk di kursi dapur melihat Sekretaris Han membuat kopi dengan


mesin kopi. “ Benar Anda tidak mau?”


“Tidak! Aku mau bicara denganmu.” Menjawab ketus.


Menunggu sampai dia selesai membuat kopinya. Lalu dia mengambil duduk


menggesernya agar menjauh dari Daniah.


“Apa yang Anda mau bicarakan.”


“Kamu benar-benar memukul Leela


kan? Apa kau tidak tahu malu, dia bahkan adik sepupumu!” Daniah merasa perlu


melindungi Leela, atau tidak dia melakukan ini karena rasa bersalahnya.


“Saya tidak memukul adik sepupu


saya Nona. Saya menghukum pengawal Anda yang tidak becus bekerja.” Lugas dia menjawab, seperti memberi tahu protokol keamanan yang sudah semestinya.


“Apa! sudah kukatakan itu bukan


salahnya kan!” Daniah berusaha mendebat.


“Jadi ini salah siapa?” Han terlihat mulai tersenyum tipis.


“Ini salahku. Aku yang salah.” Daniah mengakui dengan suara lantang. Bahwa semuanya adalah kesalahannya. Sampai peristiwa di kantor tadi terjadi.


“Sepertinya Anda mulai belajar


sekarang. Kalau tahu ini kesalahan Anda dan orang lain yang harus menerima


hukumannya. Mulai sekarang berhati-hatilah jangan pernah melakukan kesalahan


yang sama lagi.”


Dia ini mau bilang apa si.


“Anda mendengarnya kan?” Han


sedang mengetes rasa penasarannya, sejauh apa Daniah mendengar pembicaraan Tuan


Saga dan Helen tadi.


“Apa?”


Sekelebat raut wajah Daniah berubah, namun dia langsung bersikap biasa. Terlambat,


Han menyadari itu. Bibirnya sudah tersenyum tipis melihatnya. “Sama hal nya


Tuan Saga yang hanya mengizinkan Anda menyentuhnya. Seharusnya hal itu juga


berlaku untuk Anda kan?”


Kata-kata Han memasuki seluruh


pikiran Daniah. Ia cukup senang mendengar itu tadi saat Saga mengucapkannya


di depan Helen. Tapi kenapa sekarang saat Sekretaris Han yang mengatakannya itu


terdengar seperti ancaman.


“Huh! Kau sudah gila ya. Apa itu


juga berlaku seperti ini.” Plak! Daniah memukul bahu Han sekali. “Seperti ini.”


Bibirnya menyeringai. Karena melihat Han terbelalak dengan apa yang di


lakukannya. “Apa aku tidak boleh bersentuhan dengan orang lain seperti ini.” Kali


ini memukul bahu Han lebih keras.


Nona, kenapa Anda mengemaskan


begini. Aku bisa gila juga karena sikap Anda yang seperti ini.


Han bangun dari duduk, membuat


Daniah mundur ke belakang kursinya.


“Kenapa? Kau mau menghukum orang


yang kusentuh juga. Jadi hukum saja dirimu sendiri.” Siaga untuk segera kabur


dari situasi yang mengancam.


“Nona, apa Anda mau saya daftarkan


ke museum rekor.”


“Apa?”


“Bagaimana kalau masuk kategori


wanita yang selalu membuat orang kerepotan.” tergelak dengan ucapannya sendiri.


“Haha, boleh, aku juga mau


memasukanmu juga, dalam kategori laki-laki menyebalkan. Tidak mau mendengarkan,


tidak mau menjawab kalau ditanya, suka main hukum orang seenaknya. ” Diakhiri dengan tawa puas Daniah.


Lihat Anda semakin mengemaskan


begini kalau diladeni. Bisa gila saya kalau tetap di sini.


Han menatap Daniah sebentar, tidak

__ADS_1


menjawab lagi serangan Daniah. Dia berjalan berlalu begitu saja.


“Hei, aku belum selesai!” Han


melambaikan tangannya tanpa berpaling.


Apa! kenapa dia yang pergi dengan


gaya sok keren begitu. Seharunya tadi aku pergi duluan kan, biar aku yang


kelihatan keren, walaupun tidak bisa menang adu argumen dengannya.


 Sekarang aku benar-benar seperti pecundang kalah karena dia yang pergi duluan.


Daniah mengigit jarinya kesal,


melihat kepergian Sekretaris Han.


***


Sementara itu di ruang kerja Saga.


“Duduklah Bu.” Ibu yang masih


berdiri lalu beranjak duduk pelan di samping anaknya. “Apa Ibu sudah cukup


bersenang-senangnya?”


“Maafkan Ibu Nak.” Menyentuh tangan


Saga, menggenggamnya di pangkuannya. “Maaf Ibu sudah salah. Ibu akan berusaha


menerima Daniah sebagai istrimu.”


Saga terdengar menghela nafas


panjang. Hubungannya dengan ibunya sejauh ini lumayan baik, hingga jarang


terjadi perselisihan. Ini kali pertamanya  ibu sampai harus pergi lama karena kesalahannya.


“Aku tahu Ibu tidak menyukai


Daniah, tapi bisakah mulai sekarang itbu memperlakukannya dengan baik.” Ibu masih


terdiam. Masih digenggamnya tangan Saga. “Perlakukan dia dengan baik sebagai


bagian dari keluarga ini.”


“Saga.” Ragu.


“Hemm, katakanlah, apa yang mau


ibu katakan.”


“Bagaimana kalau kamu menikah


lagi.” Saga menarik tangannya kuat, tidak suka dengan apa yang baru saja ibunya


katakan. “Dengar kan ibu dulu, kamu tidak perlu menceraikan Daniah. Kamu hanya


perlu menikah dengan wanita yang sederajat denganmu. Biarkan dia melahirkan


anakmu.”


Aaaahhh, wajah Saga mulai terlihat


jengah.


“Apa Ibu masih mau membahas Ele?”


“Tidak! Ibu tidak akan membahas


tentang Helen lagi. Bagaimana kalau Ibu carikan wanita lain. Ibu akan mengatur


semuanya.”


“Hentikan Bu, sebelum aku


benar-benar kesal.” Saga sudah menahan sekuat tenaga emosinya.


“Saga.”


“Aku mencintai Daniah Bu, jadi


berhentilah melakukan hal yang mengganggu. Aku akan memintanya melahirkan


anak-anakku. Ini terakhir kalinya aku mendengar omong kosong Ibu tentang


pernikahanku dengan wanita lain.” Setengah berteriak membuat Ibumencengkeram pegangan sofa.


“Tapi, apa Daniah juga


mencintaimu. Dia selalu bilang ingin pergi dan bercerai denganmu kan.”


Ini yang ibu ingat dari semua kejadian yang berlalu di rumah ini.


“Kalau Ibu penasaran kenapa tidak


menanyakannya langsung pada Daniah.”


“Saga, Ibu hanya ingin kamu bahagia


Nak.”


“Dan kebahagiaanku adalah Daniah


Bu, jadi terima kenyataan itu.”


Mereka berdua terdiam cukup lama setelah mengatakan itu.


***


Daniah berlari menabrak Pak Mun di belokan menuju ruang kerja Saga. Pak Mun melihat pintu ruang kerja yang sedikit terbuka.


“Nona, ada apa? tuan muda dan


nyonya sedang ada di ruang kerja.”


“Tidak apa-apa Pak Mun, sepertinya


mereka belum selesai bicara. Aku tidak mau mengganggu. Jadi aku mau menunggu


Tuan Saga di kamar saja. Tidak perlu mengatakan padanya kalau aku mencarinya ya


Pak Mun. Sepertinya pembicaraan mereka sangat serius.”


“Baik Nona.”


Daniah menepuk bahu Pak Mun, lalu


dia naik tangga setengah berlari menuju kamarnya. Menjatuhkan diri di atas

__ADS_1


tempat tidur. Pandangannya buram, dia tidak bisa berfikir apa-apa.


BERSAMBUNG


__ADS_2