Terpaksa Menikahi Tuan Muda

Terpaksa Menikahi Tuan Muda
90. Minta Maaf (Part 1)


__ADS_3

Kediaman Gunawan, rumah tempat tinggal Daniah sebelum menikahi Saga. Di tempat inilah saksi bisu bagaimana dia menjalani masa-masa cukup berat, sebagai seorang anak, sebagai seorang remaja. Di rumah ini pulalah dia menjadi anak patuh yang bahkan tidak bisa menggelengkan kepalanya untuk berkata tidak. Dia hanya bisa menerima setiap putusan dengan anggukan kepala.


Risya sudah mondar mandir di ruang makan, ibunya duduk sama halnya dengan anaknya wajahnya nampak sangat gelisah. Hari ini batas akhir laporan kepada Sekretaris Han, apa mereka sudah minta maaf kepada Daniah dengan benar atau belum.


Minta maaf dengan versi yang diminta Sekretaris Han.


"Bu bagaimana ini? walaupun aku sudah mulai syuting filmnya tapi kalau sutradara menendangku, aku bisa apa. Kita harus bagaimana Bu?” merengek seperti biasanya. “Ibu!” Hanya itu yang bisa dilakukan Risya. Tidak mudah mendapatkan kesempatan untuk menjadi pemeran kedua dalam film yang akan dia bintangi ini. Risya bahkan sudah pamer ke mana-mana. Kalau sampai film ini gagal dia bintangi, sepertinya dia memilih tenggelam  ke dasar bumi saja.


“Diamlah! Memang hal seperti ini terjadi karena apa? Karena rengekanmu seperti anak kecil yang selalu ingin dituruti itu kan!” Ibu menghardik, menyadarkan Risya. Kalau selama ini sikap kejam yang ditujukan untuk Daniah sebagian besar memang karenanya.


“Ibu, ia semua ini salahku. Jadi aku harus bagaimana.” Mengaku, nasi sudah menjadi bubur. Saat ini tidak ada yang bisa ia lakukan. Dia sudah kalah telak dari semua segi. Menikahnya Daniah dengan tuan Saga adalah kekalahan terbesar dalam hidupnya.


“Baiklah, hanya berlutut dan memohon kan Ayo kita lakukan.” Ibu bicara lirih. walaupun dia berkata dengan bibir yang bergetar menahan kesal.


Kedua orang itu gemetar, membayangkan apakah mereka benar-benar sanggup melakukannya. Memohon pengampunan di hadapan Daniah secara langsung. Kalau hanya untuk bersikap baik walaupun kaku dan janggal mereka masih mampu. Tapi ini. Tapi demi mengingat kembali kejadian siang itu sepertinya mereka tidak punya pilihan.


...*** ...


Siang itu karena sebuah telepon, Risya dan ibunya sepulang syuting menunggu di sebuah kafe. Wajah mereka sudah terlihat pucat. Saat seseorang muncul seorang diri mereka sudah bernafas lega. Padahal seharusnya laki-laki yang di hadapan mereka inilah yang harusnya paling dikhawatirkan.


Sekretaris Han yang nama dan siapa dirinya tak ada yang tahu.


“Maaf sudah membuat kalian menunggu, padahal Nyonya.dan Nona Risya pasti sangat sibuk.” Tersenyum ramah sebagai salam pembuka seperti biasanya. Han duduk dengan tenang.


“Tidak Sekretaris Han.” Belum selesai bicara.


“Baiklah, saya langsung saja.” Mematahkan harapan keduanya. Sekarang mereka mulai memasuki labirin menakutkan yang ujungnya tidak diketahui. Rasa takut mulai muncul, melebihi saat mereka bertatap mata dengan Tuan Saga.


Glek. Kedua wanita itu berpegangan tangan di bawah meja. Suara Sekretaris Han sudah terdengar sangat serius. Dia tersenyum tipis, tapi senyum itu sebenarnya sangat menakutkan.


“Tuan muda memang agak sedikit pendendam, tapi mohon kalian berdua memakluminya ya, karena Nona Daniah adalah istri yang disayangi tuan muda.”


Dia mau bilang apa sebenarnya.


Risya dan ibu berfikir sama.


“Tuan muda ingin kalian meminta maaf dengan benar kepada Nona Daniah. Atas semua yang sudah kalian lakukan selama ini.” Menghentikan kalimatnya dan memberikan intimidasi melalui sorot mata.


“Kami.” Ibu menahan tangan Risya, mencegahnya bicara. Sekretaris Han tersenyum tipis.


“Saya sebenarnya tidak mau mengatakannya, tapi saya tahu semua yang sudah kalian lakukan pada Nona Daniah. Bahkan saya juga tahu kejadian waktu kecil Nona Daniah dan Nyonya.”


Wajah ibu langsung pucat pasi.


“Apa saya menakuti kalian, maafkan saya. Bagaimanapun kalian adalah keluarga berharga yang dilindungi nona muda. Seharusnya saya tidak boleh mengancam atau membuat kalian takut kan. Maafkan saya.” Lagi-lagi tersenyum menakutkan. “Intinya minta maaflah secara tulus dan natural kepada Nona Daniah. Lakukan sebaik mungkin ya, jangan sampai nona muda merasa kalian.minta maaf karena terpaksa, karena ada yang menyuruh kalian. Atau bahkan jangan sampai Nona Daniah berfikir Tuan Saga mengancam kalian agar kalian minta maaf. Apa bisa begitu?”


Tapi kalian kan memang mengancam kami.


Risya memegang tangan ibunya yang sama gemetarnya di bawah meja.


“Ia Tuan, kami akan lakukan.” Risya yang mewakili ibunya.

__ADS_1


“Tentu saja Nona Risya juga kan aktris saya rasa bisa berakting dengan baik dan natural. “ Tersenyum tipis.


“Baik Tuan, saya akan melakukan yang terbaik.”


“Tentu saja, hidup mati kalian kan tergantung ini, haha.” Terkadang Sekretaris Han tidak bisa menempatkan diri kapan seharusnya dia bisa tertawa, karena sering kali senyum atau tawanya maknanya jauh lebih mematikan dari pada saat dia berwajah serius.


Dia tidak sedang tertawa, dia sedang mengancam.


Ibu dan Risya lagi-lagi berfikir sama.


“Baiklah saran dari saya itu saja, nikmati makan dan minuman yang sudah kalian pesan. Biar saya yang bayar. Oh ya satu lagi, buat secara natural mungkin ya, kalau nona muda curiga bahkan sampai bertanya kepada saya tentang kalian yang minta maaf berarti akting kalian gagal ya. Dan kita akan bertemu lagi nanti. Sampai jumpa.” Han menundukkan kepalanya hormat, berlalu sambil tersenyum tipis.


...*** ...


Saat Risya tengah latihan menangis di depan ibunya dari arah tangga Raksa muncul. Bernyanyi dengan riang. Dia sudah memakai setelan formal.


“Raksa kemari!” Panggilnya dari meja makan.


“Apa Kak? Aku mau berangkat.” Menolak panggilan kakaknya, dia akan berlalu ke ruang tamu. Melirik jam di tangannya.


“Mau kemana?”


“Ada pertemuan persiapan untuk magang.”


Risya mendekat dan menarik tangan adiknya yang sudah mau berlalu. Masalahnya kali ini jauh lebih penting dari apa pun.


“Kak aku mau pergi, nanti aku terlambat. Aku berurusan dengan perusahaan Antarna Group, kalau aku salah sedikit saja aku bisa ditendang dari daftar peserta magang.” Raksa benar-benar menolak keras melalui kata-katanya.


Eh ada apa dengan Kak Risya, sampai memohon segala.


“Antar kami menemui Daniah.”


“Kenapa?” Curiga, memandang Risya dan ibu secara bergantian. “Kalian mau apa lagi dari Kak Niah? Jangan macam-macam lagi Bu, kemarin kalian sudah lihat kan bagaimana Tuan Saga memperlakukan Kak Niah. Dia istri yang mendampat kasih sayang Tuan Saga.”


“Banyak sekali bicaramu seperti perempuan.” Risya menutup mulut adiknya. “Kami bertemu Daniah mau minta maaf.”


“Hemm, lepas.” Mengibaskan tangan Risya. “Itu malah lebih mencurigakan, memang kenapa kalian mau minta maaf.”


“Hei, adikku memang orang jahat itu harus selamanya jadi jahat apa. Aku mengakui semua kesalahanku di masa lampau dan sekarang ingin minta maaf pada Daniah apa itu salah.”


Raksa mencibir.


“Kalau itu bukan Kak Risya aku percaya.”


Risya memukul kepala adiknya, sekarang ibu yang melotot.


“Jangan pukul adikmu!”


“Ia, ia bu, maaf. Habis dia begitu si. Kak Risya kasih kamu uang jajan sebulan.” Menggoda dengan tawaran uang yang menggiurkan. Sebulan lho, uang jajan. Untuk anak yang hanya bermodal uang jajan dari ayahnya Risya berfikir pasti Raksa akan tergoda.


“Tidak butuh uang Kak Risya.” Raksa mengibaskan tangannya, sombong, jumawa dan besar kepala. “Sekretaris Tuan Saga meminta rekening padaku, dan dia mentransfer uang kemarin.”

__ADS_1


“Apa! Kenapa?” Risya yang emosi, bagaimana perlakukan sekretaris menyebalkan itu sangat berbeda. Pada Raksa dan dirinya.


“Aaaa, katanya karena selama ini aku baik pada Kak Niah, jadi Tuan Saga memberiku uang jajan.” Tertawa puas.


“Haha, jadi kamu menjual hubunganmu dengan Daniah, ternyata kamu menyedihkan juga ya.” Risya mencibir kesal.


“Apa! Aku sudah minta izin pada Kak Niah kok, katanya terima aja semua yang diberikan Tuan Saga. Jangan menolak apa pun, anggap saja itu uang jajan yang diberikan kakak ipar. Wekk!”  Raksa mematahkan argumen Risya. Dan menjulurkan lidahnya meledek kakak perempuannya.


“Berapa?” Emosi sekaligus penasaran menjadi satu. Mengumpat dan ingin dia muntahkan ke wajah Raksa. Dia sedang iri, kenapa Raksa seberuntung itu.


“Apanya?”


“Yang diberikan Tuan Saga padamu?” Berteriak.


“Aaa, aku tidak mau beritahu, nominalnya pasti membuat Kak Risya semakin kesal nanti.”


Risya mencengkram bahu adiknya saking geramnya.


Berapa, seratus juta, dua ratus juta.


“Risya jangan bersikap begitu pada adikmu, lepaskan tanganmu.” Ibu walaupun sangat menyayangi Risya tapi tetap memposisikan Raksa sebagai anak laki-laki berharga keluarga ini. “Nak, hubunganmu dengan Daniah kan sangat baik. Kali ini bisa tolong Ibu dan kakakmu ya.”


Risya melepaskan tangannya dan memilih duduk. Ya Raksa memang agak kurang ajar padanya, tapi kalau ibu yang meminta dia pasti tidak bisa menolak.


“Memang Ibu mau melakukan apa?” Raksa mendekati ibunya yang duduk  di kursi di meja makan. Raksa masih tidak suka, pandangannya masih curiga saja.


“Ibu dan kakakmu mau minta maaf, itu saja,” Menyentuh tangan anak laki-lakinya. "Ibu tidak akan melakukan apa pun pada Niah, sekarang dia istri Tuan Saga, memang ibu seberani itu mau melakukan sesuatu padanya."


“Kenapa? Apa ini Tuan Saga yang minta.” Kecurigaan Raksa semakin menjadi, karena ini memang sangat tidak biasanya.


Lakukan secara natural, jangan sampai ada yang menduga kalau Tuan Saga yang memintanya kepada kalian.


“Hei Raksa, aku hanya ingin berubah. Aku tahu aku salah memperlakukan Daniah selama ini. Dan aku ingin minta maaf.”


“Benarkah? Apa kak Risya tulus.”


Ini anak kenapa si, seumur hidup pernah dibohongi orang apa.


“Ia, aku tulus.” Memohon. "Aku tulus sekali. Ini hal paling tulus yang aku lakukan seumur hidupku. Percayalah padaku. Bantu aku sekali ini saja."


"Baiklah, jemput aku nanti sekitar waktu makan siang. Aku akan kirim lokasinya nanti sekarang aku pergi ya."


"Baiklah adikku tersayang terimakasih ya."


Ibu dan Kak Risya semoga kalian benar-benar tulus kali ini. Kak Niah sudah melindungi kita dengan mengorbankan hidupnya. Dia selalu mengganggap keluarga ini sebagai keluarga seperti apa pun perlakuan kalian padanya.


"Ibu ayo kita berlatih lagi. jangan sampai Daniah curiga kalau kita sedang berakting." Risya menarik tangan ibunya.


Ya, berubah untuk sebagian orang itu memang tidak mudah. Apalagi mengenai arti ketulusan, cinta dan kasih sayang.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2