Terpaksa Menikahi Tuan Muda

Terpaksa Menikahi Tuan Muda
Sofi dan Jen


__ADS_3

Di saat Saga dan rombongan


berangkaat menuju kota XX yang indah dengan pemandangan laut dan pantainya. Ada


yang tertinggal di ibu kota. Dialah dua gadis cantik Sofia dan Jenika. Ibu sendiri


memilih untuk pergi keluar kota mengunjungi kakak laki-lakinya. Menyusun


rencana yang tidak di dukung siapapun. Kedua anak perempuannya sudah


mewanti-wanti untuk menghentikan apapun rencana itu. “ Baiklah, aku hanya ingin


mengunjungi paman kalian selama Saga pergi.” Akhirnya Jen melepas kepergian ibu


mereka.


Dua gadis itu memasuki lift setelah


menerima kunci kamar, satu kamar untuk mereka pakai bersama.  Lelah seharian di kampus dan tempat magang,


membuat mereka membisu satu sama lain. Semakin tertekan setelah menutup telfon


yang baru saja Jen terima dari sekertaris Han. Laki-laki itu dengan amat


lugasnya membacakan aturan yang harus mereka taati selama kepergian Saga. Ntah


kenapa, setiap kali membacakan peraturan Han selalu terdengar jauh lebih


bersemangat dibanding situasi apapun.


“ Kakak kami bisa pergi sendiri.”


Jen terkejut saat kedua pengawal yang sedari tadi mengikuti mereka ikut masuk.


“ Maaf nona, kamar kami juga ada di


lantai yang sama dengan kamar nona.”


Apa! Sekertaris Han menyebalkan!


Jen dan Sofi kompak mengutuk nama


itu di hati mereka masing-masing tanpa dikomando. Benar saja, Setelah sampai di


lantai kamar mereka, kamar dua kakak pengawal itu memang ada di samping mereka.


“ Selamat istirahat nona.” Dua


laki-laki itu membungkukan kepala mereka.


“ Jangan berdiri di depan pintu


kami!” Jen menatap serius. “ Kami bersumpah tidak akan pergi ke mana-mana. Jadi


kalian masuklah ke kamar.” Pintu kamar Jen sudah terbuka. Tapi dua pengawal itu


tidak bergeming dari tempatnya. Sofia sudah masuk duluan ke dalam kamar. “ Ayo


sana masuk kamar kalian.” Jen mengusir dengan tangannya.


“ Nona, kami hanya memastikan nona


berdua aman.” Salah satu dari mereka bicara.


Walaupun tidak terjadi apapun, yang


penting kami sudah melakukan prosedur yang semestinya. Begitu gumam keduanya


dalam hati. Menyelamatkan diri jika evaluasi nanti.


“ Memang akan terjadi apa? di hotel


kak Saga” Berteriak akhirnya. Sekertaris Han benar-benar mendidik para pengawal


dengan baik. Terutama kedua orang ini.  Untuk itulah mereka yang terpilh dari sekian


banyak pengawal yang ada. “ Kakak, aku janji hanya akan di kamar tidak


kemana-mana. Jadi kalian juga masuk dan istirahatlah.”


Memang aku putri kerajaan apa.


“ Baiklah nona, tapi berjanjilah


tidak melakukan sesuatu yang.”


“ ia, ia. Aku janji.” Memotong pembicaraan.


“ Ayo masuk sama-sama biar adil. Buka pintu kalian.” Pintu kamar samping


terbuka, salah satu sudah berdiri di depan pintu. “ Ayo masuk sama-sama. Aku


hitung ya.” Dua pengawal itu menganguk saja mendengar instruksi Jen. “ Satu,


dua, tiga.” Hanya jen yang hilang di telan pintu. Sementara dua pengawal itu


masih berdiri di tempatnya memastikan kalau dua gadis yang masuk tidak keluar


lagi. Setelah yakin, akhirnya mereka masuk ke dalam kamar mereka.


Sofia sudah ambruk di atas tempat tidur.


Tasnya sudah ada di ujung kasur. “ Ini karena kak Jen akhir-akhir ini selalu


menempel pada kakak ipar, kita jadi terdampar di sini.” Berbaring menatap


langit-langit kamar sambil menjejakan kaki sedikit kesal.


“ Kenapa aku? Kak Saga memang tidak


akan mengajak kita kali, inikan bulan madu.” Protes mengudara. Jen juga merasa


masih menggangu dalam intensitas wajar. Menurut standarnya.


“ Tapi Pak Mun dan sekertaris Han


saja ikut. Hiks-hiks.” Sofi membayangkan lautan biru di kepalanya. Menyelam dan


bermain dengan ikan warna warni. Berjemur di pantai yang hangat.


Aaaaa, aku benar-benar ingin pergi.

__ADS_1


Apalagi pergi ke kampus sedang benar-benar tidak menyenangkan.


“ Kalau sekertaris Han memang


separuh hidupnya kak Saga, kalau pak Mun, kenapa dia diajak ya. Aaaa aku


iriiiii. Kupikir aku bisa ikut bersenang-senang. Kitakan bisa ambil foto banyak


di pantai.” Lagi-lagi Jen membayangkan suasana yang sama dengan Sofi. Dia


bahkan jauh lebih ekstrim, dia ingin memakai pakaian putri duyung dan berpose


bak putri lautan di pantai.


“ Sudah kubilang jangan menempel


pada kakak ipar terus. Pokoknya ini gara-gara kak Jen.”


Jen merengut, ikut ambruk di atas


tempat tidur sambail meraih bantal guling dan memeluknya. Berfikir, apa


akhir-akhir ini dia memang kelewatan menempel pada kakak iparnya.


Ah tidak, aku biasa saja kok. Kak


Saga saja yang pelit. Kalau berurusan dengan kakak ipar.


“ Lalu, kita cuma bisa keluar masuk


kamar dan keliling hotel aja?” Jen mulai kesal. Lebih-lebih memikirkan menu


makanan hotel. Baginya masakan koki di rumah masih lebih baik mendekati


seleranya.


Jen dan Sofi memang jauh lebih


tertarik makanan strett food, walaupun terkadang mereka sembunyi-sembunyi


membelinya. Taukan, generasi sekarang, makanan itu yang pertama harus


memanjakan mata dulu. Baru bisa menyentuh hati dan perut kemudian. Karena


keduanya termasuk rutin memposting apa yang mereka makan di sosial media.


“Kak Jen,  baru sadar sekarang! Aku saja sudah merinding


saat Han membacakan aturannya tadi.” Sofi bergerak mengambil hp di tasnya. Sepi,


chat yang biasanya setiap saat membombardir lengang. Hanya chat beberapa grup


kampus dan teman kuliahnya. Yang dinanti tidak mengirim pesan. Dia merengut


lalu memilih membuka media sosialnya.


“ Kak Jen, memang sejauh apa si


kamu suka sama kak Raksa?” Mengobati galau dengan sok mencari tahu kisah cinta


orang lain. Dia menelusuri postingan-postingan receh mengusir galau di hatinya.


Jen menoleh pada adiknya, yang


mengajak hati dan pikiraannya untuk membuat jawaban yang bisa membuat adiknya


iri. Dilebih-lebihkan dari segala sudut.


Krik, krik bahkan sampai beberapa


lama dia  binggung untuk mulai membuat


kalimat.


“ Sudah, tidak usah menjawab, aku


sudah tahu jawabannya.” Bosan menunggu yang tak pasti.


“ Apa! Aku saja belum selesai


berfikir bagaimana kau bisa menyimpulkan jawabanku.” Tidak terima, karena


sepertinya alasannya itu sudah ada diujung kepala. Tapi susah sekali kalau di


susun dalam satu kalimat.


“ Sudah kak, aku sudah tahu. Dari


dulu kamu kan selalu begitu kalau lagi jatuh cinta.” Beralih sebentar dari hp,


lalu tertawa melihat wajah Jen kesal.


“ Apa!”


“ Ya gitu otaknya agak kosong kalau


lihat orang baik sedikit aja.” Tertawa jauh lebih keras.


“ Kurang ajar kamu!” Jen memukul


adiknya dengan guling yang dipeluknya. Begitulah Jen, dia memang mudah


tersentuh dengan kebaikan orang lain. Apalagi orang-orang yang tidak mengenal


siapa dirinya. Siapa keluarganya. Orang-orang yang hanya mengenalnya sebagai Jenika.


Hingga terkadang memang dia sangat mudah dimanfaatkan, sampai dia sendiri tidak


merasa kalau dia sedang dimanfaatkan oleh orang. Jen tidak pernah mengatakan


siapa keluarganya, karena memang Sagapun tidak memperkenalkan adik-adiknya ke


publik. Namun orang bisa melihat, dari penampilan Jen, mobil yang dia bawa.


Bahwa dia punya segalanya untuk layak dijadikan teman.


“ Aku lapar, cari makanan di luar yuk.” Saat


mendengar perutnya yang mulai berbunyi.


“ Tuh kan kosong lagi isi

__ADS_1


kepalanyanya. Sekertaris Han bilang lewat jam enam jangan keluar dari hotel.


Lupa!”


Keduanya mengumpat dalam hati lagi.


Menyebut satu nama.


“ Tunggu, kak Saga pasti sedang


asik dengan kakak ipar, dia tidak mungkin mengecek keberadaan kitakan. Lagian


ini juga belum malam. Aku ingin makan nasi goreng XX.”


Lagi-lagi keduanya membayangkan


sepiring nasi goreng pedas yang asapnya masih mengepul, dengan taburan bawang


goreng garing, dan daging kambing di atasnya. Walaupun harus dibeli dengan


melewati antrian panjang tapi mereka akan rela menempuhnya.


“ Ayo kabur sebentar.” Jen bangun


duduk. Merapikan rambut dan bajunya.


“ Kita mau naik apa?” Sofi sudah


ingin menyerah saja. Pulang dari kampung dan kantor saja mereka dijemput tadi.


“ Telfon pacarmu, minta jemput di


sebrang hotel. Kita keluar diam-diam.” Jen mengeryit saat Sofi malah meraih


bantal lalu memukulinya berulang. Melemparkan bantal dan dia ambil lagi lalu


dibenamkan wajahnya di sana. Dia memang tidak terisak, tapi adegan itu cukup


dramatis membuat Jen kuatir. “ Hei kenapa?”


Aku menyebut siapa si tadi, pacar,


hei kenapa? Jangan bilang kamu putus juga.


“ Kenapa?” mengoyangkan kaki Sofi.


“ Putus sama Haze?” Sekarang sudah diguncang tubuh adiknya keras karena tidak


menjawab pertanyaan. “ Hei kenapa? Dia selingkuh?” Ntahlah, kalau pertengkarang


antar hubungan kadang selalu dipicu oleh pihak ketiga. Hingga yang terpikirkan


hanya tema perselingkuhan.


Hiks, aku bahkan ingin jadi pihak


ketiga hubungan seseorang.


“ Tidak!” Masih membenamkan wajah.


“ Lalu kenapa? Kamu disakiti?” Sofi


mengeleng, masih diposisi semula. “ Benar juga, tidak mungkin ya, dia bahkan


tergila-gila padamu sudah sampai level begitu.” Wajah Haze terbayang di kepala


Jen. Laki-laki perawakan sedang, tingginya dibawah Jen tapi masih sama dengan


Sofi. Mereka terlihat sangat manis berdua. Sama-sama polos. Hanya dibayangkan


saja sepertinya jahat sekali kalau menuduh wajah polos itu selingkuh.


“ Bukan! Kami bertengkar kemarin.” Membalikan


badan dan bangun. Mengambil bantal dan memeluknya di pangkuan.


“ Kenapa?” Terkejut.


“ Aku menamparnya.” Membenamkan


wajahnya dibantal. “ Aku menamparnya di mobil dua hari lalu.”


Waww, bocah ini main tampar tamparan. Jen tidak percaya. Ini Sofi lho, kalau Helene menampar kakak ipar mungkin dia masih bisa percaya.


“ Kenapa?” Penasaran.


Jen menatap adiknya yang masih


membenamkan wajah dibantal.  Lalu Sofi mendongak, merengut.


“ Dia tiba-tiba menciumku di dalam


mobil. Aku jadi refleks menamparnya.”


Hah! Semakin mengejutkan saja bocah ini.


Begitulah, bagi seorang kakak. Terkadang berapa usia adikmu, selalu dianggap bocah belum cukup umur.


Jen sedang berusaha mengulang


adegan yang diceritaakan Sofi. Saat mereka sedang ada di lampu merah, dan Sofi


bicara panjang lebar kemana-mana. Tiba-tiba Haze menyambar bibir Sofi. Dan yang terjadi kemudian refleks Sofi menamparnya.


Ya Tuhan, aku pasti tertawa kalau


ada di sana. Dia hanya ingin membungkam multmu Sofi.


“ Kenapa kau menamparnya? Beneran


gak suka. Haha.” Jen menyenggol lengan adiknya.


“ Soalnya aku langsung ingat kak


Saga. Dan Ingat kejadian beberapa tahun lalu.”


Semua langsung


mengheningkan cipta mendengar nama Saga di sebut. Jen sampai menoleh meyakinkan


diri kalau tidak ada yang mendengar. Melihat ke arah pintu, Tidak mungkinkan Kak Saga atau Han tiba-tiba muncul di sana.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2