Terpaksa Menikahi Tuan Muda

Terpaksa Menikahi Tuan Muda
130. Surat Perjanjian


__ADS_3

Senyuman  masih menghiasi wajah Daniah. Semua hal baik


sedang menari-nari di kepalanya. Leela terlihat melirik sebentar pada Daniah,


dia ikut tersenyum melihat rasa bahagia yang tergambar jelas dari wajah nona


mudanya.


Pengakuan cinta, memang selalu di


butuhkan meyakinkan hati. Walaupun sebenarnya tanpa di ucapkan pun, ketika hati


sudah merasa dicintai sebenarnya itu sudah lebih dari cukup. Namun manusia


terkadang selalu butuh pengakuan. Sesederhana apa pun bentuk pengakuan cinta


akan diterima dengan hati berbunga.


“Bagaimana perasaan Nona?”


berpaling sebentar lalu kembali melihat ke depan.


“Eh apa?” Daniah berpaling dari


kaca dan melihat Leela.


“Apa Nona bahagia?”


Daniah bingung menjawab. Perasaan


Saga yang sesungguhnya. Saat itu dia mendengarnya saat Saga mengatakan pada


Helen bahwa hanya dirinya yang boleh menyentuh Saga. Saat itu hatinya mulai


muncul bunga, nama Saga jauh lebih besar memiliki ruang di hatinya. Apalagi


saat ia mendengar saat suaminya mengatakan pada ibu.


“Aku mencintai Daniah Bu.”


Rasanya jantungnya ingin meledak


karena tidak percaya. Dan dia selalu menantikan momen seperti ini akan datang.


Saga menyebut namanya. Hingga semua ketakutan akan dibuang pergi lenyap. Saat ini


yang ada di pikiran Daniah cuma satu. Apa yang akan dia katakan saat bertemu


dengan suaminya nanti.


Canggung atau pura-pura malu ya.


“Nona pasti sangat bahagia kan?


Tuan muda sangat mencintai Nona, jadi saya berharap Nona juga bahagia berada di


samping tuan muda.”


Daniah menatap Leela, menepuk


bahunya. Dia hanya tersenyum tapi tidak menjawab apa pun. Dia memalingkan wajah


dan bersandar di kursi. Tengelam dalam pikirannya sendiri.


***


Tidak seperti biasanya Pak Mun


sudah berdiri di dekat pintu menyambut, dia pasti sudah mendapat informasi dari


penjaga gerbang kalau Daniah sudah kembali. Dia mendekat saat Daniah keluar


dari mobil. Daniah heran. Biasanya Pak Mun tidak pernah menyambutnya. Karena


Daniah sudah melarang. Ditambah lagi wajah serius Pak Mun. Membuat Daniah takut


juga.


“Selamat sore Nona.”


“Ia pak.”


“Kenapa Anda baru kembali.”


“Eh kenapa Pak, saya pulang sudah


sesuai jadwal kan. Biasanya saya pulang jam segini.”


Pak Mun terlihat semakin khawatir.


“Tapi tuan muda sudah ada di rumah


dari sejam yang lalu.” Menunjuk atas. Letak kamarnya. Daniah mendongak panik. Tahu


maksudnya.


“Apa! kenapa bisa, kenapa tidak memberi


tahu saya Pak. Apa Tuan Saga marah?” Pak Mun tidak menjawab hanya


mempersilahkan Daniah untuk masuk.


Giliran Daniah yang mulai pucat.


Dia berjalan cepat meninggalkan Leela yang terlihat sama khawatirnya.


Bagaimana ini, ini hari pertama aku


boleh keluar rumah. Tapi aku sudah pulang terlambat di hari pertamaku.


“Ck ck ck.” Daniah mendengar


seseorang berdecak. Sekretaris Han sedang bekerja dengan laptopnya. Dia menutup


layar laptop lalu bangun mendekat. “Sepertinya Anda benar-benar punya nyawa


lebih dari satu ya.”


Apa! kurang ajar, masih bisa


meledekku.


“Kenapa? Kenapa kau tidak


mengatakan kalau Tuan Saga kembali lebih awal.” Protes keras.


Sekretaris Han mengambil hp di saku


jasnya. Dia hanya mengangkat bahu.


“Kamu sengaja ya?” Memukul bahu


Sekretaris Han kuat. Kuat sekali, sekuat tenaga Daniah melakukannya. Sampai Han


merabanya karena tertinggal sakit yang cukup membuatnya meringis. “Jahat


sekali, aku baru boleh keluar hari ini. Dan gara-gara kamu tidak mengirimi aku


pesan peringatan, Tuan Saga bisa saja menghukumku lagi dan tidak mengizinkanku keluar rumah.” Frustasi karena kesal. Tapi di mata Han gaya marah-marah Daniah


terlihat mengemaskan. Membuat laki-laki itu langsung berpaling cepat.


“Maaf kan saya Nona, saya lupa


kalau Anda sudah boleh keluar rumah. Karena seminggu ini suasana sangat tenang


saya pikir Anda sudah pintar dan berfikir dengan bijak.” Alasanmu yang membuat


Daniah semakin ingin memukulmu.


“Apa!” Sekali lagi dia hanya


melotot kesal.


“Sekarang naiklah Nona, tuan muda


sudah menunggu.” Han berjalan di depan Daniah. “Anda tahu kan tuan muda tidak


pernah menunggu siapa pun selama ini.”


Aaa, Daniah frustasi mengikuti langkah


Sekretaris Han. Di depan kamar langkah mereka berhenti.


“Berhati-hatilah Nona.” Nasehatnya


malah hanya terdengar seperti ancaman. Bukannya membuat Daniah berani, dia

__ADS_1


malah berharap tidak akan masuk ke dalam kamar.


“Sekretaris Han, ikut aku masuk.”


Daniah menarik ujung lengan jas yang dipakai Han. “Temani aku.” Daniah tidak


bisa berfikir cara yang lain. Dia ingin selamat dari situasi ini dengan mudah. Paling


tidak Han bisa dipakainya alasan. Karena dia tidak mengirim pesan padaku. Begitu


rencananya menuding hidung Sekretaris Han di hadapan Saga nanti.


“Apa Anda pikir berapa nyawa yang


saya punya.”


“Apa!” gemetar geram sampai


mengigit bibirnya sendiri.


Sekretaris han membukakan pintu,


ketika Daniah sudah masuk. Dia menutup pintu tanpa bersuara. Tidak menunggu, langsung turun ke lantai bawah. Kembali bekerja dengan laptopnya.


Glek, Daniah menelan ludahnya.


Sambil mengedarkan pandangan. Matanya lurus tepat di sofa. Saga sedang duduk di


sana. Melihatnya dengan sorot mata tidak bersahabat.


Tunggu, kenapa ini. Kenapa dia


terlihat kesal. Aku bahkan masih ingin memikirkan sikapku saat bertemu


dengannya. Tapi sekarang sepertinya yang ada aku malah ketakutan.


“Sayang, kamu sudah pulang ya?”


Saga menjentikkan jarinya meminta


Daniah mendekat. Gadis itu berjalan mendekat tanpa protes bahkan melalui raut


wajahnya sekalipun.


Apa yang dikatakannya tadi di TV


itu cuma akting. Dia kan baru menyatakan perasaannya padaku. Seharusnya situasinya


gembira kan, kenapa malah jadi mencekam begini.


Perasaan sedih tiba-tiba menjalar


di seluruh tubuh Daniah. Benar, kenapa dia bisa seyakin dan sebahagia itu saat


mendengar apa yang dikatakan Saga. Dia bahkan tidak memikirkan adanya plot


twist yang bisa saja muncul. Bagaimana kalau yang dia katakan tadi semuanya


hanya settingan. Bukankah seperti itu biasanya program TV. Daniah sambil


berjalan mendekat, pikirannya terus berkecamuk.


“Kamu tahu sudah berapa lama aku


menunggumu.”


“Maaf sayang. Aku tidak tahu kalau


kamu kembali lebih awal.”


Biasanya kan tidak pernah begini,


ini pertama kalinya kau pulang lebih awal dan Sekretaris Han pun tanpa


melakukan pemberitahuan apa pun. Seperti sengaja melakukan supaya Daniah terjebak dalam


lubang dalam yang bisa menguburnya hidup-hidup.


Saga menarik rambut Daniah yang


hanya terburai jatuh begitu saja. Gadis itu melepaskan rambutnya di tangga tadi


sambil menyisir dengan tangannya. Karena rambutnya tertarik maka tubuhnya


reflek mengikuti. Mendekat ke arah saga.


meraih dagu Daniah, mendekatkan wajah.


“Ia aku menontonya.”


Jadi dia benar-benar berakting di


TV tadi. Cih, padahal aku sudah senang bukan main tadi.


“Bagaimana? Apa aku terlihat


tampan di TV.” Semakin mendekatkan wajah lagi. Sedikit lagi bibir mereka pasti


berciuman.


“Ia, sangat tampan. Tentu saja


kamu memang sangat tampan dilihat dari mana pun.”


Saga menempelkan bibirnya lebut,


dan mulai menggerakkan lidahnya. Secara tidak sadar Daniah pun membuka mulutnya.


Dan menikmati ciuman itu.


Kenapa ini, kenapa dia susah di


tebak si. Jadi perasaanmu yang mana sebenarnya.


“Aku mencintaimu.”


“Apa!” berteriak karena kaget


mendengar bisikan Saga di telinganya. “Sayang, apa kamu barusan mengatakan


sesuatu.” Saga masih menyusuri leher Daniah dengan bibirnya. Membuat gadis itu


terdorong sampai bersandar di sofa.


Dia barusan mengatakannya kan.


“Apa? aku tidak mengatakan apa pun.”


Kecewa lahir dan bermunculan tanpa


dicegah. Daniah merasa malu sendiri. Sepertinya dia merasa sangat


berhalusinasi, karena perasaan ingin dicintai.


Daniah mendorong tubuh Saga karena


merasa kecewa. Laki-laki itu tidak terlihat tersinggung. Dia menyentuh telinga


kiri Daniah.


“Kenapa? Kau kesal? Memang kau


mendengar apa tadi?”


Diam tidak menjawab hanya memberi


sorot mata tidak suka.


“Hei, aku bertanya padamu.


Jawab!” Daniah masih terdiam dengan sorot mata yang sama . membuat Saga mulai


kesal “ Jawab!” sudah mulai mengeraskan suara dan menuding bahu Daniah dengan


telunjuknya.


“Tidak, sepertinya aku


berhalusinasi. Karena kamu tidak mungkin mengatakannya.” Saga tergelak, meraih


bibir Daniah lagi dan menciumnya.


Apa! kenapa menciumku lagi. Memang


kamu pikir masalah selesai dengan ciuman.


Selesai mencium dia duduk sambil

__ADS_1


menaikan kakinya. Bersila. Menarik lengan Daniah supaya melakukan hal yang sama


di depannya. Gadis itu menaikan kaki dan juga duduk bersimpuh.


Mau apa lagi si.


“Memang kau berhalusinasi apa?”


Apa! masih membahas ini. Tidak


penting juga aku berhalusinasi apa.


Akan jauh lebih memalukan kalau


sampai Daniah mengaku kalau ia mendengar Saga mengatakan kalau dia


mencintainya. Setelah ini dia tidak akan pernah merasa kegeeran. Dia akan merasa


cukup dengan merasa dicintai saja. Tanpa pernah mendengar pengakuan secara


langsung. Itu tidak penting.


Asalkan aku merasa dicintai, itu


sudah lebih dari cukup.


Daniah berusaha menghibur diri.


“Kau mendengarku mengatakan apa?”


masih bicara dengan tersenyum.


Gemetar geram Daniah. Dia


mencengkram lututnya kesal. Mulai merasa Saga mempermainkannya, dan tahu


laki-laki di hadapannya tidak akan berhenti sampai dia berteriak mengaku.


“Baiklah aku akan mengatakannya.”


Menarik nafas dalam. “Aku dengar kamu mengatakan, kalau kamu mencintaiku!”


Daniah mengatakannya sambil berteriak keras. Suaranya sampai memenuhi


langit-langit kamar.


Daniah melihat Saga di depannya.


Tubuhnya mulai tergoncang dia tertawa terbahak.


Cih, aku benar-benar berhalusinasi.


“Hebat sekali kamu ya.” Membelai


lembut pipi Daniah. Membuat gadis itu merinding tidak tahu arah pembicaraan


Saga. “Padahal aku cuma berbisik pelan, ternyata kau mendengarnya ya.”


“Apa!” Daniah terperangah melihat


Saga lekat.


“Sepertinya telingamu masih


normal.” Lagi lagi menyentuh telinga Daniah. menggoyangkannya pelan. “Aku mencintaimu Daniah, jadi


tetaplah di sampingku seumur hidupmu.”


Kata-kata itu masih disampaikan


Saga dengan seenaknya, tapi tidak tahu, seperti buliran air menguyur hatinya. Ia


merasakan kelegaan. Semua ketakutannya menghilang dan dia merasakan bahagia. Walaupun sekali lagi Saga tidak memilih kata romantis apa pun di depannya. Tapi mendengar itu sudah mengalahkan baitan kata romantis yang pernah dibaca Daniah.


***


Malam terus bergulir, mereka sudah


ada di tempat tidur dengan baju tidur warna senada. Lampu masih menyala dengan


terang. Saga duduk bersandar, sementara Daniah ada di sampingnya memeluk


kakinya.


“Duduklah!”  Daniah duduk sesuai perintah. Bersandar di


lengan suaminya. Memperhatikan yang di lakukan Saga. Dia mengambil sebuah amplop di dalam laci. Menyodorkan pada


Daniah.


“Apa ini?” Tangannya menggantung menerima amplop besar itu.


“Bukalah!”


Daniah membuka amplop berwarna


coklat. Mengeluarkan isinya.


Ini kan surat perjanjian yang aku


tanda tangani sebelum menikah dengannya. Dia mau apa mengeluarkan ini.


“Sayang, ini untuk apa?” bertanya bingung. hanya berharap semua baik-baik saja.


“Kau boleh merobeknya sekarang.”


Apa! artinya aku bebas dari kontrak


mengancam ini.


Daniah memutar tubuhnya. Menyentuh pipi


Saga dengan kedua tangannya.


“Benar, aku boleh merobeknya.”


“Heemmm.”


Brett, brett. Daniah langsung


mengoyak kertas itu menjadi serpihan. Dengan kerennya dia melemparkan potongan


kertas itu ke udara. Berjatuhan mengenainya dan jatuh di atas tempat tidur. Dia


tidak perduli dengan sampah berserak itu. Tapi robeknya kertas itu simbol dari


kebebasannya kan. Membuatnya terlihat sangat bahagia.


“Haha, senang sekali kamu ya. Padahal


itu cuma copyan dan bukan surat aslinya.”


“Apa!” Drama keren sudah berakhir.


Ternyata Saga hanya sedang mengerjainya. Lemas dia menjatuhkan diri di


bantalnya tanpa bersuara.


“Buahaha, bohong kok. Itu memang


surat perjanjian asli.” Meraih remote dan mematikan lampu kamar. Menggeser


tubuhnya mendekati Daniah yang sudah ngambek, memasang wajah masam. “Aku sudah tidak perlu itu untuk mengikatmu. Aku akan mengikatmu dengan


cinta dan perasaanku.” Memeluk Daniah erat, sudah menempelkan tangan di tempat


kesukaannya.


“ Sayang, karena surat itu sudah


tidak ada. Apa aku boleh sesekali membantahmu.” Pertanyaan gila yang di ucapkan dengan iseng. Tapi kalau di jawab boleh tentu akan menjadi berkah untuknya.


“Haha.” Mencengkeram kuat, apa yang sudah di pegangnya dari tadi. “Kalau


kau berani cobalah membantah.”


Tidak, kalau aku masih waras


sepertinya aku tidak akan melakukannya.


Sekali lagi, Daniah meladeni kelakuan Saga


yang tidak ada habisnya.


Tapi malam ini semua ketakutannya menghilang, semua kekhawatirannya pada keluarganya terbang tinggi. Dia akan menggantungkan diri pada janji suaminya. bahwa cinta dan perasaan mereka yang akan saling mengikat satu sama lain.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2