
Senyuman masih menghiasi wajah Daniah. Semua hal baik
sedang menari-nari di kepalanya. Leela terlihat melirik sebentar pada Daniah,
dia ikut tersenyum melihat rasa bahagia yang tergambar jelas dari wajah nona
mudanya.
Pengakuan cinta, memang selalu di
butuhkan meyakinkan hati. Walaupun sebenarnya tanpa di ucapkan pun, ketika hati
sudah merasa dicintai sebenarnya itu sudah lebih dari cukup. Namun manusia
terkadang selalu butuh pengakuan. Sesederhana apa pun bentuk pengakuan cinta
akan diterima dengan hati berbunga.
“Bagaimana perasaan Nona?”
berpaling sebentar lalu kembali melihat ke depan.
“Eh apa?” Daniah berpaling dari
kaca dan melihat Leela.
“Apa Nona bahagia?”
Daniah bingung menjawab. Perasaan
Saga yang sesungguhnya. Saat itu dia mendengarnya saat Saga mengatakan pada
Helen bahwa hanya dirinya yang boleh menyentuh Saga. Saat itu hatinya mulai
muncul bunga, nama Saga jauh lebih besar memiliki ruang di hatinya. Apalagi
saat ia mendengar saat suaminya mengatakan pada ibu.
“Aku mencintai Daniah Bu.”
Rasanya jantungnya ingin meledak
karena tidak percaya. Dan dia selalu menantikan momen seperti ini akan datang.
Saga menyebut namanya. Hingga semua ketakutan akan dibuang pergi lenyap. Saat ini
yang ada di pikiran Daniah cuma satu. Apa yang akan dia katakan saat bertemu
dengan suaminya nanti.
Canggung atau pura-pura malu ya.
“Nona pasti sangat bahagia kan?
Tuan muda sangat mencintai Nona, jadi saya berharap Nona juga bahagia berada di
samping tuan muda.”
Daniah menatap Leela, menepuk
bahunya. Dia hanya tersenyum tapi tidak menjawab apa pun. Dia memalingkan wajah
dan bersandar di kursi. Tengelam dalam pikirannya sendiri.
***
Tidak seperti biasanya Pak Mun
sudah berdiri di dekat pintu menyambut, dia pasti sudah mendapat informasi dari
penjaga gerbang kalau Daniah sudah kembali. Dia mendekat saat Daniah keluar
dari mobil. Daniah heran. Biasanya Pak Mun tidak pernah menyambutnya. Karena
Daniah sudah melarang. Ditambah lagi wajah serius Pak Mun. Membuat Daniah takut
juga.
“Selamat sore Nona.”
“Ia pak.”
“Kenapa Anda baru kembali.”
“Eh kenapa Pak, saya pulang sudah
sesuai jadwal kan. Biasanya saya pulang jam segini.”
Pak Mun terlihat semakin khawatir.
“Tapi tuan muda sudah ada di rumah
dari sejam yang lalu.” Menunjuk atas. Letak kamarnya. Daniah mendongak panik. Tahu
maksudnya.
“Apa! kenapa bisa, kenapa tidak memberi
tahu saya Pak. Apa Tuan Saga marah?” Pak Mun tidak menjawab hanya
mempersilahkan Daniah untuk masuk.
Giliran Daniah yang mulai pucat.
Dia berjalan cepat meninggalkan Leela yang terlihat sama khawatirnya.
Bagaimana ini, ini hari pertama aku
boleh keluar rumah. Tapi aku sudah pulang terlambat di hari pertamaku.
“Ck ck ck.” Daniah mendengar
seseorang berdecak. Sekretaris Han sedang bekerja dengan laptopnya. Dia menutup
layar laptop lalu bangun mendekat. “Sepertinya Anda benar-benar punya nyawa
lebih dari satu ya.”
Apa! kurang ajar, masih bisa
meledekku.
“Kenapa? Kenapa kau tidak
mengatakan kalau Tuan Saga kembali lebih awal.” Protes keras.
Sekretaris Han mengambil hp di saku
jasnya. Dia hanya mengangkat bahu.
“Kamu sengaja ya?” Memukul bahu
Sekretaris Han kuat. Kuat sekali, sekuat tenaga Daniah melakukannya. Sampai Han
merabanya karena tertinggal sakit yang cukup membuatnya meringis. “Jahat
sekali, aku baru boleh keluar hari ini. Dan gara-gara kamu tidak mengirimi aku
pesan peringatan, Tuan Saga bisa saja menghukumku lagi dan tidak mengizinkanku keluar rumah.” Frustasi karena kesal. Tapi di mata Han gaya marah-marah Daniah
terlihat mengemaskan. Membuat laki-laki itu langsung berpaling cepat.
“Maaf kan saya Nona, saya lupa
kalau Anda sudah boleh keluar rumah. Karena seminggu ini suasana sangat tenang
saya pikir Anda sudah pintar dan berfikir dengan bijak.” Alasanmu yang membuat
Daniah semakin ingin memukulmu.
“Apa!” Sekali lagi dia hanya
melotot kesal.
“Sekarang naiklah Nona, tuan muda
sudah menunggu.” Han berjalan di depan Daniah. “Anda tahu kan tuan muda tidak
pernah menunggu siapa pun selama ini.”
Aaa, Daniah frustasi mengikuti langkah
Sekretaris Han. Di depan kamar langkah mereka berhenti.
“Berhati-hatilah Nona.” Nasehatnya
malah hanya terdengar seperti ancaman. Bukannya membuat Daniah berani, dia
__ADS_1
malah berharap tidak akan masuk ke dalam kamar.
“Sekretaris Han, ikut aku masuk.”
Daniah menarik ujung lengan jas yang dipakai Han. “Temani aku.” Daniah tidak
bisa berfikir cara yang lain. Dia ingin selamat dari situasi ini dengan mudah. Paling
tidak Han bisa dipakainya alasan. Karena dia tidak mengirim pesan padaku. Begitu
rencananya menuding hidung Sekretaris Han di hadapan Saga nanti.
“Apa Anda pikir berapa nyawa yang
saya punya.”
“Apa!” gemetar geram sampai
mengigit bibirnya sendiri.
Sekretaris han membukakan pintu,
ketika Daniah sudah masuk. Dia menutup pintu tanpa bersuara. Tidak menunggu, langsung turun ke lantai bawah. Kembali bekerja dengan laptopnya.
Glek, Daniah menelan ludahnya.
Sambil mengedarkan pandangan. Matanya lurus tepat di sofa. Saga sedang duduk di
sana. Melihatnya dengan sorot mata tidak bersahabat.
Tunggu, kenapa ini. Kenapa dia
terlihat kesal. Aku bahkan masih ingin memikirkan sikapku saat bertemu
dengannya. Tapi sekarang sepertinya yang ada aku malah ketakutan.
“Sayang, kamu sudah pulang ya?”
Saga menjentikkan jarinya meminta
Daniah mendekat. Gadis itu berjalan mendekat tanpa protes bahkan melalui raut
wajahnya sekalipun.
Apa yang dikatakannya tadi di TV
itu cuma akting. Dia kan baru menyatakan perasaannya padaku. Seharusnya situasinya
gembira kan, kenapa malah jadi mencekam begini.
Perasaan sedih tiba-tiba menjalar
di seluruh tubuh Daniah. Benar, kenapa dia bisa seyakin dan sebahagia itu saat
mendengar apa yang dikatakan Saga. Dia bahkan tidak memikirkan adanya plot
twist yang bisa saja muncul. Bagaimana kalau yang dia katakan tadi semuanya
hanya settingan. Bukankah seperti itu biasanya program TV. Daniah sambil
berjalan mendekat, pikirannya terus berkecamuk.
“Kamu tahu sudah berapa lama aku
menunggumu.”
“Maaf sayang. Aku tidak tahu kalau
kamu kembali lebih awal.”
Biasanya kan tidak pernah begini,
ini pertama kalinya kau pulang lebih awal dan Sekretaris Han pun tanpa
melakukan pemberitahuan apa pun. Seperti sengaja melakukan supaya Daniah terjebak dalam
lubang dalam yang bisa menguburnya hidup-hidup.
Saga menarik rambut Daniah yang
hanya terburai jatuh begitu saja. Gadis itu melepaskan rambutnya di tangga tadi
sambil menyisir dengan tangannya. Karena rambutnya tertarik maka tubuhnya
reflek mengikuti. Mendekat ke arah saga.
meraih dagu Daniah, mendekatkan wajah.
“Ia aku menontonya.”
Jadi dia benar-benar berakting di
TV tadi. Cih, padahal aku sudah senang bukan main tadi.
“Bagaimana? Apa aku terlihat
tampan di TV.” Semakin mendekatkan wajah lagi. Sedikit lagi bibir mereka pasti
berciuman.
“Ia, sangat tampan. Tentu saja
kamu memang sangat tampan dilihat dari mana pun.”
Saga menempelkan bibirnya lebut,
dan mulai menggerakkan lidahnya. Secara tidak sadar Daniah pun membuka mulutnya.
Dan menikmati ciuman itu.
Kenapa ini, kenapa dia susah di
tebak si. Jadi perasaanmu yang mana sebenarnya.
“Aku mencintaimu.”
“Apa!” berteriak karena kaget
mendengar bisikan Saga di telinganya. “Sayang, apa kamu barusan mengatakan
sesuatu.” Saga masih menyusuri leher Daniah dengan bibirnya. Membuat gadis itu
terdorong sampai bersandar di sofa.
Dia barusan mengatakannya kan.
“Apa? aku tidak mengatakan apa pun.”
Kecewa lahir dan bermunculan tanpa
dicegah. Daniah merasa malu sendiri. Sepertinya dia merasa sangat
berhalusinasi, karena perasaan ingin dicintai.
Daniah mendorong tubuh Saga karena
merasa kecewa. Laki-laki itu tidak terlihat tersinggung. Dia menyentuh telinga
kiri Daniah.
“Kenapa? Kau kesal? Memang kau
mendengar apa tadi?”
Diam tidak menjawab hanya memberi
sorot mata tidak suka.
“Hei, aku bertanya padamu.
Jawab!” Daniah masih terdiam dengan sorot mata yang sama . membuat Saga mulai
kesal “ Jawab!” sudah mulai mengeraskan suara dan menuding bahu Daniah dengan
telunjuknya.
“Tidak, sepertinya aku
berhalusinasi. Karena kamu tidak mungkin mengatakannya.” Saga tergelak, meraih
bibir Daniah lagi dan menciumnya.
Apa! kenapa menciumku lagi. Memang
kamu pikir masalah selesai dengan ciuman.
Selesai mencium dia duduk sambil
__ADS_1
menaikan kakinya. Bersila. Menarik lengan Daniah supaya melakukan hal yang sama
di depannya. Gadis itu menaikan kaki dan juga duduk bersimpuh.
Mau apa lagi si.
“Memang kau berhalusinasi apa?”
Apa! masih membahas ini. Tidak
penting juga aku berhalusinasi apa.
Akan jauh lebih memalukan kalau
sampai Daniah mengaku kalau ia mendengar Saga mengatakan kalau dia
mencintainya. Setelah ini dia tidak akan pernah merasa kegeeran. Dia akan merasa
cukup dengan merasa dicintai saja. Tanpa pernah mendengar pengakuan secara
langsung. Itu tidak penting.
Asalkan aku merasa dicintai, itu
sudah lebih dari cukup.
Daniah berusaha menghibur diri.
“Kau mendengarku mengatakan apa?”
masih bicara dengan tersenyum.
Gemetar geram Daniah. Dia
mencengkram lututnya kesal. Mulai merasa Saga mempermainkannya, dan tahu
laki-laki di hadapannya tidak akan berhenti sampai dia berteriak mengaku.
“Baiklah aku akan mengatakannya.”
Menarik nafas dalam. “Aku dengar kamu mengatakan, kalau kamu mencintaiku!”
Daniah mengatakannya sambil berteriak keras. Suaranya sampai memenuhi
langit-langit kamar.
Daniah melihat Saga di depannya.
Tubuhnya mulai tergoncang dia tertawa terbahak.
Cih, aku benar-benar berhalusinasi.
“Hebat sekali kamu ya.” Membelai
lembut pipi Daniah. Membuat gadis itu merinding tidak tahu arah pembicaraan
Saga. “Padahal aku cuma berbisik pelan, ternyata kau mendengarnya ya.”
“Apa!” Daniah terperangah melihat
Saga lekat.
“Sepertinya telingamu masih
normal.” Lagi lagi menyentuh telinga Daniah. menggoyangkannya pelan. “Aku mencintaimu Daniah, jadi
tetaplah di sampingku seumur hidupmu.”
Kata-kata itu masih disampaikan
Saga dengan seenaknya, tapi tidak tahu, seperti buliran air menguyur hatinya. Ia
merasakan kelegaan. Semua ketakutannya menghilang dan dia merasakan bahagia. Walaupun sekali lagi Saga tidak memilih kata romantis apa pun di depannya. Tapi mendengar itu sudah mengalahkan baitan kata romantis yang pernah dibaca Daniah.
***
Malam terus bergulir, mereka sudah
ada di tempat tidur dengan baju tidur warna senada. Lampu masih menyala dengan
terang. Saga duduk bersandar, sementara Daniah ada di sampingnya memeluk
kakinya.
“Duduklah!” Daniah duduk sesuai perintah. Bersandar di
lengan suaminya. Memperhatikan yang di lakukan Saga. Dia mengambil sebuah amplop di dalam laci. Menyodorkan pada
Daniah.
“Apa ini?” Tangannya menggantung menerima amplop besar itu.
“Bukalah!”
Daniah membuka amplop berwarna
coklat. Mengeluarkan isinya.
Ini kan surat perjanjian yang aku
tanda tangani sebelum menikah dengannya. Dia mau apa mengeluarkan ini.
“Sayang, ini untuk apa?” bertanya bingung. hanya berharap semua baik-baik saja.
“Kau boleh merobeknya sekarang.”
Apa! artinya aku bebas dari kontrak
mengancam ini.
Daniah memutar tubuhnya. Menyentuh pipi
Saga dengan kedua tangannya.
“Benar, aku boleh merobeknya.”
“Heemmm.”
Brett, brett. Daniah langsung
mengoyak kertas itu menjadi serpihan. Dengan kerennya dia melemparkan potongan
kertas itu ke udara. Berjatuhan mengenainya dan jatuh di atas tempat tidur. Dia
tidak perduli dengan sampah berserak itu. Tapi robeknya kertas itu simbol dari
kebebasannya kan. Membuatnya terlihat sangat bahagia.
“Haha, senang sekali kamu ya. Padahal
itu cuma copyan dan bukan surat aslinya.”
“Apa!” Drama keren sudah berakhir.
Ternyata Saga hanya sedang mengerjainya. Lemas dia menjatuhkan diri di
bantalnya tanpa bersuara.
“Buahaha, bohong kok. Itu memang
surat perjanjian asli.” Meraih remote dan mematikan lampu kamar. Menggeser
tubuhnya mendekati Daniah yang sudah ngambek, memasang wajah masam. “Aku sudah tidak perlu itu untuk mengikatmu. Aku akan mengikatmu dengan
cinta dan perasaanku.” Memeluk Daniah erat, sudah menempelkan tangan di tempat
kesukaannya.
“ Sayang, karena surat itu sudah
tidak ada. Apa aku boleh sesekali membantahmu.” Pertanyaan gila yang di ucapkan dengan iseng. Tapi kalau di jawab boleh tentu akan menjadi berkah untuknya.
“Haha.” Mencengkeram kuat, apa yang sudah di pegangnya dari tadi. “Kalau
kau berani cobalah membantah.”
Tidak, kalau aku masih waras
sepertinya aku tidak akan melakukannya.
Sekali lagi, Daniah meladeni kelakuan Saga
yang tidak ada habisnya.
Tapi malam ini semua ketakutannya menghilang, semua kekhawatirannya pada keluarganya terbang tinggi. Dia akan menggantungkan diri pada janji suaminya. bahwa cinta dan perasaan mereka yang akan saling mengikat satu sama lain.
BERSAMBUNG
__ADS_1