Terpaksa Menikahi Tuan Muda

Terpaksa Menikahi Tuan Muda
87. Kesalahan Helena


__ADS_3

Hari kedua kelas makeup berjalan dengan baik. Ternyata makeup itu susah-susah gampang ya. Di sekolah makeup Daniah juga sudah memiliki teman. Jadi dia benar-benar menikmati. Agak lama tadi dia mematung di depan cermin, melihat hasil riasannya sendiri.


Aku pasti sudah gila! Kenapa aku ingin menunjukan riasan ini pada Tuan Saga. Kalau dia melihatnya apa lantas kau mau dipuji cantik begitu. Dia pasti akan menyentil keningku dan berkata “Apa ini, kenapa wajahmu. Kau pakai apa di mukamu. Hapus.” Ya, ya itu pasti yang akan dia bilang.


Daniah melajukan kendaraannya setelah kelas makeup. Hp di tasnya berdering, dia menepikan kendaraan. Takut yang menghubungi yang mulia raja melalui sekretarisnya.


“Noah, kenapa dia.” Ragu apakah akan dijawab, sampai bunyi dering mati. Lalu telepon yang kedua akhirnya diangkat.


“Hallo nona matahariku.” Suara renyah yang sok akrab jauh di sana.


“Aku bukan mataharimu. Kenapa?” bertanya langsung tujuan Noah menelepon, hubungan mereka tidak seakrab itu untuk hanya bertanya kabar.


“Sedang di mana? Boleh ketemuan nggak ada yang mau aku bicarakan.”


“Tentang apa? Sekarang saja.”


Hubungan rumit antara Saga, Noah dan Helena yang ikut di ceritakan Jenika waktu itu membuat Daniah berhati-hati. Dia tidak mau terlibat ke dalamnya. Saat ini hubungannya dengan Tuan Saga saja sudah jauh lebih memusingkan.


Dia mau aku mencintainya. Untuk apa! Seharusnya aku pun mengatakan aku mau dia mencintaiku kan. Tapi sial, aku tidak punya keberanian. Kalau aku menjawab aku mau dia mencintaiku, reaksinya apa ya?


Daniah tersadar sedang berbicara dengan Noah.


“Sepertinya tidak bisa hanya bicara di telepon, aku ingin bicara langsung. Sekarang juga sudah waktunya makan siang kan, bagaimana kalau aku traktir makan siang.”


“Tidak mau,” menjawab cepat.


“Hei, matahariku kenapa jahat sekali begitu. Yang mau aku bicarakan ini penting sekali lho, menyangkut hidup dan matiku.”


“Kalau kamu sekarat, pergilah ke dokter,” Daniah tahu kalau laki-laki itu sedang main-main, kesan pertama dan kedua kalinya dia sudah bisa tahu kalau Noah laki-laki yang suka bercanda. Tuh kan, sudah terdengar dia terpingkal di sana.


“Ayolah kumohon, aku tunggu di kafe XXX ya. Aku akan menunggumu sampai kau datang.”


Sambungan terputus.


“Kenapa dia seenaknya begini si.” Daniah melemparkan hpnya di kursi di sebelahnya. Memegang kemudi mobil. Bimbang. Dia tidak mau datang. Tapi ancaman akan menunggunya membuatnya gelisah juga, bagaimana kalau Noah benar-benar akan menunggunya.


Sial, sudah pasti aku akan datang. Kenapa si, aku jadi orang pedulian begini. Menyebalkan.

__ADS_1


Akhirnya datang juga. Daniah sudah berdiri di depan sebuah meja, sementara laki-laki yang selalu seenaknya itu tersenyum sangat puas. Wajah jenaka dan sok ramahnya itu membuat dia dimaafkan. Gumam Daniah kesal pada dirinya sendiri.


“Terimakasih matahariku.”


“Daniah! Panggil aku Daniah. Da-ni-ah. Aku bukan mataharimu. Aku mataharinya Tuan Saga.” Daniah merinding mendengar ucapannya. Tapi kata-katanya berhasil membuat tawa di mulut Noah terhenti. Laki-laki itu jelas sangat terkejut. Sekarang wajahnya tampak serius. Dia memanggil pelayan, lalu memesan menu makanan dan minuman mengusir canggung. Menawari Daniah untuk memilih menu.


“Saya pilih menu yang sama aja ya Mbak.”


“Baik, sebentar ya.” Pelayan itu menganggukkan kepalanya.


“Baiklah, sekarang ada apa? Kenapa ingin bertemu?” Daniah duduk, meletakan tasnya di atas meja.


“Hari ini sepertinya kamu jauh lebih cantik dari yang ada di ingatanku. Apa sekarang kamu merubah penampilanmu?”Noah memperhatikan penampilan Daniah. Gadis yang dia lihat waktu di Danau Hijau seingatnya tidak seperti ini.


Daniah meraba rambutnya, benar, ini hasil kelas makeupnya hari ini.


Bagaimana ini, aku kan tidak mau menjawab kalau aku habis ikut kelas makeup.


“Aku memang sudah begini dari dulu, waktu kita baru bertemu.di Danau Hijau itu penampilanku yang lain dari biasanya. Tapi biasanya aku seperti ini kok.” Tersenyum, menyembunyikan kebohongan.


“Hehe, benarkah. Pantas Saga sangat tergila-gila padamu. Istrinya memang cantik si.”


“Noah mau bicara apa?” Daniah mengakhiri basa-basinya, dia ingin langsung ke inti pembicaraan.


Noah menatap Daniah dengan seksama. Meyakinkan dirinya sendiri, bahwa apa yang ingin dia sampaikan sekarang adalah pilihan tepat. Ini adalah janjinya terakhir kali untuk Helena. Dia akan membantu hanya sampai di sini saja.


“Apakah Daniah juga mencintai Saga?”


Juga? Maksudnya?


“Seperti Helen mencintai Saga.”


Jadi ini tentang Helena, apa dia yang meminta Noah untuk bicara denganku. Maafkan aku Helen, aku tidak mau mendukungmu lagi. Jen sudah menceritakan semuanya padaku. Dan aku memilih tidak mendukungmu sekarang. Walaupun aku akan merelakan Tuan Saga jika dia kembali padamu, tapi aku tidak akan mendukungmu mulai sekarang.


“Apa Noah datang karena Helen?”


Laki-laki itu tidak bisa menutupi kebenaran. Dia tampak kikuk.

__ADS_1


“Helen sangat mencintai Saga. Empat tahun lalu mereka bertemu.”


“Aku tahu, empat tahun lalu mereka bertemu di Danau Hijau kan. Tempat itu adalah tempat yang sangat bermakna untuk mereka. Sama halnya Noah yang juga mengganggap tempat itu penting.” Penjelasan Jen yang dilebih-lebihkan dengan menambah porsi spesial untuk Saga di ringkas Daniah secara wajar.


“Kamu sudah tahu?” terkejut dengan jawaban Daniah.


“Jen sudah menceritakan semuanya, tentang hubungan Tuan Saga dan Helen. Tentang cinta mereka dan bagaimana mereka bersama. Entahlah, aku bahkan tidak merasa sakit hati ataupun cemburu. Aku hanya senang karena saat itu Tuan Saga bersama wanita yang dicintainya dan hidup dengan bahagia. Ya, sampai Helen.pergi meninggalkan Tuan Saga yang sudah sangat percaya dan mencintainya.”


Apa penjelasanku sudah sangat jelas. Kalau aku tidak cemburu dan berfikir secara obyektif.


“Tapi saat itu Helen punya alasan sendiri kenapa dia harus pergi.”


“Alasan? Alasan yang dia ingin dikenal dengan karyanya sendiri. Dia tidak mau dikenal hanya sebagai pelukis bayangan Tuan Saga. Begitu? Entahlah, mungkin alasan itu memang terdengar masuk akal. Tapi kalau aku yang jadi Helen, saat itu aku bukannya pergi tanpa izin begitu saja. Jika aku jadi Helen aku pasti percaya akan cinta Tuan Saga. Hingga aku akan memohon padanya untuk mengizinkanku pergi mengejar mimpiku. Kalau Noah juga akan berpikir seperti Helen atau berfikir sepertiku.”


“Apa?” bingung dengan penjelasan Daniah.


“Apa Noah juga berfikir kalau Tuan Saga tidak akan mengizinkan Helen pergi. Saat itu jika Helen memohon, aku yakin Tuan Saga akan mengizinkannya pergi, memang berapa si jarak yang harus di tempuh. Tuan Saga bahkan punya jet pribadi yang bisa dia pakai bolak-balik kan.”


Ayo sadarlah Noah, bahwa Helen sudah memanfaatkan kebaikanmu. Dalam hal ini dia yang bersalah, biarkan dia memohon pengampunan Tuan Saga. Kamu atau aku tidak perlu ikut campur.


“Daniah.” Noah tidak menduga, Daniah yang dia temui di Danau Hijau akan menjawab secerdas ini. Dia berfikir Daniah hanya gadis polos yang tidak tahu apa-apa.


“Tapi itulah kesalahan terbesar yang sudah di lakukan Helen, dia tidak percaya pada laki-laki yang mencintainya.”


Benar, inilah kebodohan terbesar yang sudah di lakukan Helena pada Tuan Saga. Kebodohan yang harus dia bayar dengan sagat mahal. Aku mengatakan ini bukan untuk membela Tuan Saga. aku hanya ingin Noah sadar bahwa dia sudah dimanfaatkan. Ini semua kesalahan Helen, biar gadis itu yang memohon untuk dirinya sendiri.


...*** ...


“Tuan muda, sepertinya nona muda ada di sini.” Han menunjukan hp dengan bintang kecil yang menyala. Dia mengedarkan pandangan menyapu ruangan. Begitu pula Saga. Wajahnya yang tadi merasa senang tiba-tiba berubah. Dia terlihat mengepalkan tangan geram.


“Apa dia sedang benar-benar selingkuh sekarang?” Bertanya pada Han.


“Itu Tuan Noah.”


“Noah. Brengsek, apalagi yang dia lakukan.” Kesal dia berjalan cepat sementara Han mengikuti.


Sementara itu Daniah meletakan sendoknya, meraba tengkuknya, kenapa tiba-tiba udara sangat dingin ya. Gumamnya pelan.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2