
Daniah memasuki kamar, disusul oleh Han di belakangnya.
Eh kemana dia, tadi kan dia duduk di sofa, ya ampun, apa itu, dia benar-benar berakting seperti orang sakit sungguhan. Wah, wah, aku sampai kehilangan kata-kata.
Saga duduk bersandar di atas tempat tidur. Dia meluruskan kaki sambil melihat hp.
“Dari mana saja kamu? Sudah kubilang aku sakit masih saja pergi lama-lama.” Langsung mencecar, setelah melihat Daniah mendekat.
“Maaf Tuan, saya menunggu sarapan Anda.”
Huh, kalau sakit kenapa masih semenjengkelkan ini. Sepertinya tenagamu sama sekali tidak berkurang.
“Apa Anda baik-baik saja Tuan Muda, apa saya perlu siapkan pesawat untuk cek up di negara XXX.” Daniah menutup mulutnya hampir saja keceplosan tertawa. Tapi sialnya kedua orang itu mendengar dan menoleh bersamaan ke arahnya.
“Kau menertawakanku?” Saga menuding dengan sorot mata kesal.
“Tidak Tuan mana saya berani menertawakan Anda.”
Tapi kalian benar-benar lucu si, lagi main drama ya.
“Duduk!” Saga menarik kakinya, agar ada tempat Daniah duduk di tempat tidur. Gadis itu menurut, setelah dia duduk tiba-tiba Saga menarik kakinya dan meletakkannya di pangkuan Daniah. Gadis itu terkejut. Apalagi Han yang berdiri di sampingnya.
Tuan Saga bahkan membiarkan Nona Daniah menyentuh kakinya.
Sepertinya sekarang dia sudah mulai meyakini fakta yang dia kumpulkan. Kalau Saga sudah mulai membuka hatinya pada Daniah.
“Kakiku sakit.”
Ha,,ha,,ha.. apa-apaan dia ini.
Daniah tertawa dalam hatinya.
“Saya akan menghubungi Dokter Harun untuk memeriksa Anda, apa Tuan Muda tidak butuh perawat,” Han berkata lagi.
“Aku kan sudah ada dia.” Tunjuk Saga dengan ekor matanya sambil menyeringai licik. Daniah merinding melihat senyuman itu.
“Baik.”
Ketukan pintu terdengar, lalu Pak Mun muncul dengan membawa nampan berisi makanan. Han memberi instruksi untuk memanggil dokter keluarga. Pak Mun menganggukkan kepala lalu permisi keluar. Han menyerahkan mangkok berisi bubur ke depan Daniah yang sedang memijat kaki Saga. Gadis itu tersenyum pada Han, mengatakan kalau tangannya sedang sibuk bekerja. Tapi Saga malah mengangkat kakinya, menekuk, lalu memindahkannya ke belakang tubuh Daniah.
Sekarang tangan Anda menganggur kan? Begitu sorot mata yang diberikan Han. Membuat Daniah kalah lagi. Dia menerima mangkok berisi bubur dengan kedua tangannya, masih sambil tersenyum, palsu.
Kenapa aku harus melakukan hal seperti ini si.
__ADS_1
“Kau mau membakar mulutku!” Saga berteriak kesal.
“Maaf Tuan.” Aku kan tidak tahu kalau ini masih panas. “Tapi meniup makanan panas juga kan tidak boleh.” Gumam-gumam pelan.
“Anda kan bisa menempelkan di bibir Anda untuk mengetes apakah buburnya sudah dingin atau belum.” Han dengan santainya memberi ide gila.
Jangan memberi ide aneh-aneh sialan! Itu kan namanya ciuman. Kemarin aku sudah menghisap bekas sedotan dia, sekarang ini lagi.
Daniah melirik Saga, laki-laki itu juga tidak memberi reaksi apa-apa. Akhirnya dia benar-benar menempelkan sendok berisi bubur ke bibirnya.
Aww panas, ternyata dia ingin membakar bibirku. Dasar sialan, tertawa lagi.
Setelah memastikan bubur di sendok tidak panas Daniah mulaimenyuapkan ke mulut Saga. Sambil Sekretaris Han memberikan laporan pagi.
“Hari ini Nona Helena akan sampai di tanah air, apa Tuan Muda mau saya membawanya kemari.”
Mendengar nama Helena disebut Daniah refleks melirik Han, yang dilirik memberikan sorot mata tidak suka.
“Aku akan bertemu dengannya di galery besok.” Saga menjawab sambil mengunyah bubur.
“Baik Tuan Muda. Ini pakaian yang Anda minta untuk Nona Daniah.” Han menyerahkan tas yang ada di dekat kakinya.
“Aku, kenapa?” Daniah menerima tas yang diberikan Han. Dia melihat isinya sekilas, karena bubur di sendoknya sudah mulai dingin. Ia suapi lagi Saga.
“Kenapa?” Bingung kan, kenapa dia harus pergi menemani Saga, ke galery lagi.
“Karena aku bilang begitu, kenapa? Mau membantah.” Ya, sang Raja sudah memberikan titah yang tidak bisa di bantah.
“Tentu saja tidak Tuan, saya menerima pakaian ini dengan penuh terimakasih dan akan pergi kemana pun Anda memintanya.”
Menyuapi lagi, sampai habis. Dengan perasaan dongkol tapi wajah tetap tersenyum secerah matahari pagi.
Ketukan dari pintu terdengar, disusul suara pak Mun.
“Tuan Muda, saya membawa Dokter Harun.”
“Masuklah!” Han yang menjawab.
Seorang dokter muda masuk disusul oleh Pak Mun. Dia langsung mendekat ke arah tempat tidur. Meletakan tasnya di samping Saga.
“Ada apa ini Saga, kau bisa sakit juga?”
Lagi-lagi Daniah ingin sekali tertawa terbahak-bahak, dokter juga tahu kan kalau penyakit tidak akan menghampiri tubuh iblis.
__ADS_1
Lalu dia melakukan pemeriksaan layaknya dokter sungguhan. Memeriksa denyut nadi, mata, tekanan darah dan suhu tubuh.
“Tuan Saga sakit apa Dok?”
Daniah seperti bocah yang penasaran mendekati dokter. Laki-laki itu menoleh, seperti merasa terkejut. Kenapa ada dirinya di sana.
“Tidak apa-apa Nona, Saga hanya perlu istirahat.”
“Hei, kalau aku bilang aku sakit artinya aku sakit.” Pasien galak mendengar diagnosa dokter.
“Ia, ia kamu sedang sakit. Sudah sarapan?” Dokter muda itu mengalah, karena tahu dia yang waras.
“Hemm.”
“Nona apakah Anda bisa mengambilkan air, supaya Saga bisa minum obat.” Dokter Harun mengedipkan mata pada Daniah, gadis itu terkejut dan menjawab spontan.
“Ia, baik.”
Pak Mun belum membawa botol minum ke atas ya, membuat gadis itu keluar untuk mengambilnya dari dapur. Di dapur tentu saja dia tidak mudah begitu saja lepas dari berondongan ibu mertua dan adik iparnya. Yang penasaran dengan kondisi Saga.
Sementara di dalam kamar.
“Kenapa ini? Kamu sedang main dokter-dokteran.” Harun tertawa terbahak.
“Enyah kau, Han bawa dokter sialan ini keluar.” Han masih berdiri diam, karena tahu perkataan Saga tidak serius.
Dokter Harun termasuk teman dekat Saga, yang bisa bicara layaknya teman padanya.
“Dia istrimu kan?” tanyanya lagi.
“Hemm.”
“Wahh, wahh.”
“Pergi sana.” Saga mengusir lagi.
“Tapi kamu tahu kan Helena hari ini kembali, kamu pura-pura sakit biar nggak ketemu dia?”
Ahh, ternyata itu alasannya dia pura-pura sakit. Supaya tidak perlu bertemu dengan cintanya. Tapi kenapa. Bukankah seharusnya dia senang karena kekasihnya kembali.
Mereka menghentikan pembicaraan saat Daniah datang dengan membawa sebotol air. Saling pandang, menduga-duga apa Daniah mendengar kalimat yang baru diucapkan dokter Harun.
BERSAMBUNG
__ADS_1