
Taman bermain atau spa?
Hasil final memutuskan. Mereka akan memilih pergi ke spa, ya, ya, kalau kau wanita normal rasanya akan memilih tempat ini sebagai hadiah menyenangkan. Dipijat dan berendam air hangat dengan taburan kelopak bunga. Pasti rasanya akan sangat menyenangkan sekali. Ditambah melakukannya bersama dengan teman wanita.
Daniah sudah melakukan reservasi.untuk 9 orang, ditambah dengan Leela sebagai penghuni baru. Penghuni baru yang tidak diinginkan.
Maafkan aku Leela keberadaanmu, hanya dengan keberadaanmu saja sudah jadi ancaman kebebasan hidupku.
Akhirnya dengan dua mobil, satu milik Daniah dan satunya adalah taksi online, sampailah mereka di tempat tujuan. Ramai di depan spa. Dua orang muncul dari dalam spa. Menyapa dengan penuh keramahan. Senyum khas yang selalu muncul sebagi servis utama penyedia jasa.
“Selamat datang, silahkan ikuti kami.”
Mereka masuk bergantian, memandang sekeliling. Beberapa di antara mereka untuk pertama kalinya masuk ke tempat seperti ini. Menatap takjub. Memejamkan mata, dan belum dipijat pun sudah merasakan sensasi nyaman dari harumnya ruangan yang mereka masuki.
“Kalian masuk ganti baju dulu.” Mereka mengikuti dua pegawai spa. Satu yang tertinggal, siapa lagi, kalau bukan si dia. “Pergilah, ganti baju sana.”
“Saya akan bersama Anda Nona.”
“Baiklah, terserah.” Lakukan semua sesukamu gumam Daniah. Daniah duduk di loby.
Aku membawa 8 orang untuk melakukan perawatan di tempat seperti ini. Berapa tagihan yang harus aku bayar ya. Tunggu, aku tidak harus memakai uangku kan.
Daniah ingat terakhir kali dia menghabiskan uang untuk Raksa. Tapi sepertinya kali ini tidak apa-apa, karena dia.memakainya bukan untuk laki-laki. Tapi untuk jaga-jaga akhirnya dia mengirimkan pesan pada Sekretaris Han.
“Sekretaris Han aku mengajak karyawanku berlibur hari ini, apa aku boleh memakai kartu dari Tuan Saga untuk membayar tagihan?”
Aku tidak akan mengatakan tempat tujuan liburan kami.
Langsung dibaca sepeti biasanya, tapi kali ini balasan tidak secepat biasanya.
“Tuan muda mengatakan selamat bersenang-senang nona, lakukan apa yang ingin Anda lakukan.”
“Baiklah, terimakasih.”
Hehe, uangku aman kan.
Daniah masuk ke dalam ruang ganti pakaian, disusul Leela di sampingnya, suasana sudah ribut. Sembilan orang dalam satu ruangan sudah pasti ada keributan di mana-mana. Karena tidak mungkin melakukan perawatan dalam satu ruangan akhirnya dibagilah menjadi dua ruang.
“Mbak Niah ini pertama kalinya aku dipijat di tempat seperti ini. Aku mau update di sosial media ya.”
“Haha norak. Fotoin aku juga ya.” Gak sadar kalau dia sama noraknya.
“Aku juga, yuk foto ramai-ramai. Nanti.aku tag semuanya.” Dorong-dorong mencari posisi yang paling sempurna.
Ditengah sedang asiknya berfoto dan berebut posisi, Leela dengan wajah polosnya berkata.
“Maaf, jangan ada yang posting foto nona muda ya. Tuan Saga tidak akan.” Daniah menutup mulut Leela, sementara yang lain sudah berhenti bicara dan berhenti ganti gaya. Memandang orang yang baru bicara.
“Suamiku agak ribet kalau fotoku nongol di sosial media, jadi kalian posting yang nggak ada akunya ya.” Daniah menjelaskan.
“Ahhhh, pasti suami Mbak Niah nggak mau foto Mbak Niah dilihatin orang lain ya.”
“Sweet banget si Tuan Saga. Cemburuan mengemaskan gitu. Aku jadi pengen lihat dia cemburu, apa aku posting aja ya.”
Haha, kalian mau mati ya melihatnya marah kok ingin.
Daniah menarik tangan Leela yang sudah akan bereaksi mendengar kalimat barusan. Daniah mencegahnya. Masih membekap mulut Leela. “Mereka itu cuma bercanda. Jangan sensitif begitu kenapa?”
“Jangan posting yang ada fotoku ya. Ingat itu.” Daniah bicara lagi, mau menunjukan fakta bagaimana kalau anak perempuan itu saling bercanda.
“Ia Mbak Niah.” Menjawab kompak.
“Lihat kan mereka cuma bercanda.” Melepaskan Leela. “Selama ini kamu hidup bagaimana si. Nggak pernah dengar orang bercanda ya.”
__ADS_1
“Maaf Nona, saya hanya ingin memastikan kalau tuan muda.”
“Ia, ia aku tahu. Leela hanya melakukan segala sesuatunya untuk Tuan Saga.” Angkat bahu, malas menjelaskan.
Bagi Leela Tuan Saga adalah sama halnya dengan kehidupannya, tidak tahu sebaik apa Tuan Saga padanya hingga dia bisa begitu terikat pada Tuan Saga sampai seperti itu.
Daniah bersama Tika, Maya dan leela tentunya. Sisanya dalam ruang di sebelah mereka. Sepertinya kelompok di sebelah sana jauh lebih berisik.
“Mbak Niah ini nggak papa Kami memilih liburan ke spa?” Tika mulai lagi deh.
Daniah meliriknya, berbisik di telinganya untuk hati-hati bicara kalau ada Leela. “ Dan ini pakai uang Tuan Saga. Hehe.”
Bukan merasa senang Tika malah tambah depresi, apa mereka diizinkan untuk memakai uang Tuan Saga seenaknya begini.
Daniah berusaha melupakan semua masalahnya dan menikmati setiap pijatan lembut di bahunya. Merasakan setiap sentuhan itu dan membebaskan dirinya dari kepenatan. Sekelebat bayangan Saga melintas di pikirannya. Dia bisa mendengar Tika mengajak bicara Maya dengan nyaman. Ya Tika memang anak yang sangat supel, dia mudah sekali berbaur dan mengakrabkan diri dengan siapa pun. Maya yang awalnya canggung dapat segera membuka diri. Mereka pun terlibat pembicaraan yang seru.
Perasaan Tuan Saga padaku. Perasaanku pada Tuan Saga. Perasaan Tuan Saga padaku. Perasaanku pada Tuan Saga.
Pertanyaan itu berulang-ulang di kepala Daniah, sampai dia tidak mendengar pembicaraan apa pun di ruangan yang sama dengannya. Dia jatuh ke dalam mimpi yang dalam.
“Mbak Niah.” Tika menggoyangkan Bahu Daniah lembut. Membuat Daniah menggeliat dan membuka matanya. “Mbak tidur ya?Pantas diajak ngomong diam aja dari tadi.”
Eh, sudah selesai ya.
Daniah duduk, menggoyangkan kepalanya.
“Sudah selesai ya?”
“Ia Mbak, yuk sekarang kita berendam.”
“Dimana yang lain?”
“Sudah duluan Mbak. Mbak Niah kecapaian ya? Atau banyak yang sedang dipikirkan.”
“Dia mau menunggu Mbak Niah katanya,” Menjawab sorot mata Daniah, kenapa Leela masih ada di sana.
Ya, ya, aku tahu. Berat sekali pekerjaanmu.
Mereka masuk ke tempat pemandian. Kali ini bak mandinya cukup kecil hanya bisa dipakai dua orang saja. Jadi setiap orang berpasangan. Daniah yang sendirian. Seseorang datang memeriksa air dan memberikan aroma terapi. Lalu berbasa-basi dengan sopan menanyakan bagaimana kenyamanan Daniah, apakah dia suka suhu airnya. Gadis itu menjawab dengan senyuman. Sudah mewakilkan semuanya.
Kenapa aku sampai ketiduran si, aku jadi tidak bisa menikmati sensasi nyaman di pijat kan. Aku ingin di ulang pijatnya. Tapi nggak mungkin kan. Pesan penting ketika kalian dipijat, jangan tidur biar kalian bisa merasakan sensasi kenyamanan ketika pijatan itu berlangsung.
Daniah melihat tangannya sendiri, lalu memijat kakinya. Merasakan sentuhannya, sepertinya sedikit berbeda dengan sentuhan pemijatnya tadi.
Sepertinya aku belum benar-benar ahli ya. Tapi rasanya Tuan Saga menyukai sentuhanku. Cih, dia bukan menyukai pijatanku pastinya, dia hanya menyukai sentuhanku.
Eh, apa yang kau pikirkan Daniah.
Perasaan Tuan Saga, aku penasaran sekali perasaannya yang sebenarnya padaku. Apa dia benar menyukaiku. Apa aku benar, boleh membuka hatiku untuknya. Tidak! Jangan lakukan apa pun. Jangan buka hatimu sebelum kau melihat bukti nyata dia juga suka padamu. Kalau Tuan Saga membuangmu kau tidak akan benar-benar terluka.
Semua selesai, Daniah muncul belakangan dari pintu setelah selesai urusan pembayaran.
“Aku mau sering ke tempat ini. Haha.” Tika menatap sekali lagi pintu spa. Tidak lupa foto sebagai kenang-kenangan. Mau dia pamerkan pada temannya di kampung halaman nanti.
“Makasih ya Mbak Niah, ini pertama kalinya lho aku masuk spa. Luluran, dipijat. Ahhh, enak sekali. Haha.”
“Sering-sering ya Mbak Niah.” Yang ini tipe ngelunjak. Haha, tapi dia cuma bercanda kok. “Makasih ya Mbak Niah. Dari semua tempat yang pernah aku kerja, Mbak Niah itu bos paling baik dan luar biasa.” Memeluk Daniah.
Leela yang panik sendiri, bagaimana nonanya seenaknya disentuh dan dipeluk begitu. Kalau Tuan Saga melihat pasti dia akan kesal kan begitu pikirnya. Namun Leela tidak melakukan apa pun. Dia hanya menatap tajam.
Semua tertawa bahagia. Daniah pun demikian, lebih bahagia lagi karena bukan dia yang keluar uang.
“Kita makan dulu yuk. Mau makan di mana?” saling pandang, sama-sama sok berfikir. “Maya mau makan apa?” Daniah beralih pada Maya yang sedari tadi diam saja.
__ADS_1
“Apa saja nona.” Menjawab singkat.
“Kita ke food court mall aja yuk, biar semua bisa pilih menu sesuai selera kalian.”
Pilihan yang bijak. Semuanya setuju. Memesan satu taksi online lagi untuk mengantar mereka ke mall. Menikmati makan malam hangat bersama sesama teman wanita. Daniah menendang kaki Leela beberapa kali mengingatkan gadis itu.
“Bercanda Leela, bercanda, mereka sedang bercanda.”
Tahu kan bagaimana kalau obrolan sesama perempuan, apalagi kalau sedang membahas pria tampan.
...*** ...
Kali ini Daniah duduk di kursi belakang, karena ada Maya di sana. Maya jauh lebih pendiam dari yang Daniah duga. Biasanya dia tidak hanya bicara kalau ditanya, tapi kali ini dia benar-benar aneh. Apa karena ada Leela jadi dia harus menjaga sikapnya. Daniah melirik dua orang, satu di depannya dan satu di sampingnya. Hemm, hanya bergumam tidak menemukan alasan apa-apa.
“Lee sebelum jadi sopirku kamu kerja di mana?”
“Saya di negara XX Nona. Mengurus usaha tuan muda yang baru di buka di sana.” menjawab lugas tanpa ada yang berusaha dia sembunyikan.
Apa barusan dia bilang, mengurus usaha, artinya dia orang penting di Antarna Group kan. Lantas kenapa dia kembali, dan cuma jadi sopirku. Masuk akal nggak begini?
“Lantas kenapa kamu kembali dan cuma jadi sopir. Apa kamu melakukan kesalahan dan Tuan Saga sedang menghukummu.”
Eh dia tertawa lagi, memang aku sedang melucu. Aku sedang merasa bingung tahu.
“Karena tugas saya di sini jauh lebih penting.”
“Apa?”
“Menjaga sesuatu yang jauh lebih berharga, wanita yang dicintai oleh tuan muda.”
Daniah tertawa mendengar jawaban Leela, dia sampai memegang tangan Maya dan meremasnya.
“Maaf, tapi jawabanmu lucu sekali.” Masih tertawa.
Sejak kapan aku jadi wanita berharga yang dicintai Tuan Saga, sepertinya banyak sekali orang salah paham di sini.
Daniah berfikir sebentar, kira-kira mau menanyakan apalagi pada Leela.
“Apa kau tahu kisah percintaan Tuan Saga dan Helen.”
“Semua orang juga tahu Nona, kalau Helen adalah mantan kekasih tuan muda.” Wahh, dia menjawab ringan. Sepertinya dia tidak sedendam itu pada Helen berbeda dengan Sekretaris Han yang langsung mengeram kesal.
“Apa dulu kau juga dekat dengan Helen?”
“Tidak.”
Hei jelaskan donk, jangan hanya menjawab tidak.
“Tuan muda tidak memperlakukan Helen seperti memperlakukan Anda.”
“Benarkah? Seperti apa contohnya. Aku juga penasaran dengan cerita cinta Tuan Saga dan Helen.”
“Maaf Nona, saya tidak bisa menjawab itu, karena saya dengar tuan muda tidak suka ada yang membicarakan Helen dengan Anda.”
“Hei, ini kan cuma antara kita aja.” Daniah melirik Maya. “Maya juga nggak akan cerita-cerita kok.”
“Maafkan saya Nona, nyawa saya cuma satu.”
Apa! kenapa dia sampai bawa-bawa nyawa segala si.
Daniah menyerah, dia bersandar di kursi. Memandang jendela kaca. Sebentar lagi senja mulai akan turun, dan sudut bagian barat akan berwarna keemasan.
Hari yang menyenangkan bersama teman, aku akan kembali ke rumah besar dan menjadi diriku yang lain lagi. Daniah, nona muda yang harus selalu menjaga sikap.
__ADS_1
BERSAMBUNG