
Sekertaris Han memasuki rumah yang
senyap. Menyambutnya dalam kesendirian. Malam sudah menemani tidur banyak manusia. Dilemparkan kunci mobil dan juga hp di meja dapur. Dia mengambil
sebotol air lalu membawanya masuk ke dalam kamar. Raut wajahnya terlihat masih
menyimpal kesal. Bukan pada Aran, tapi pada dirinya sendiri. Selepas mengantar
gadis itu pulang ia seperti mendapatkan kembali kesadaran dirinya. Hingga sepanjang jalan
meninggalkan rumah tuan Saga ia benar-benar memaki dan mengutuki rentetan kejadian malam ini. Semuanya berawal dari pesan singkat nona yang berhasil membuatnya datang ke kafe. Melihat Aran dan laki-laki yang akan di jodohkan orangtuanya.
Dan itu jadi mimpi buruknya malam ini.
Cih, bagaimana aku bisa
terprovokasi begini.
Dia menghabiskan air dalam botol yang dia
pegang. Dalam tegukan, tegukan besar. Diremasnya botol plastik itu hingga berkerut. Lalu masuk ke dalam kamar mandi. Menanggalkan pakaiannya begitu saja
berserak di lantai. Membuka kran shower dan membiarkan airnya jatuh membasahi
kepalanya. Dibasuhnya air yang membasahi wajah, sambil tangannya bersandar ke dinding kamar mandi. Mendongak sebentar, membiarkan air mengalir ke seluruh bagian tubuh tinggi sempurnanya.
Aku pasti sudah gila! Bagaimana aku
benar-benar ingin mencium bibirnya. Untung saja, aku masih bisa menahan diri tadi.
Diputarnya volume keran air, semakin
deras membasahi kepalanya. Agar kebodohan dan kegilaan hari ini mengalir dan
masuk ke pembuangan. Hari ini Han seperti bukan dirinya yang bisa mengendalikan
diri dengan baik. Biasanya dia tidak akan terpancing kecuali semua hal tentang
tuan Saga. Kejadian di danau kembali terbayang di depan mata. Saat mereka berdua, dia ingin menhapus jarak antara dirinya dan Aran.
Apa seperti ini perasaan tuan muda
yang jadi gila kalau cemburu pada nona. Dan apa itu tadi!
Sekali lagi volume air di putar.
Cipratan air muntah lebih keras jatuh di kepala dan bahu sekertaris Han.
Meluruhkan semua rasa malu yang tiba-tiba muncul.
Wanitaku? Bagaimana kata-kata itu
bisa keluar dari mulutku.
Cletak! Keran air patah saat
tangannya memutar dengan keras. Air langsung menyembur keras ke wajahnya.
Sial! Bahkan keran airpun
menertawakan kebodohanku.
Air tumpah kemana-mana, memercik ke
segala penjuru kamar mandi. Han memaki kesal, lalu keluar, mengambil piyama mandinya. Meraih hp
yang tadi dilemparkannya begitu saja saat pulang.
“ Kirim orang membetulkan saluran
air di rumah sekarang.” Tanpa mendengar jawaban dari orang yang dia hubungi, dia
langsung mematikan hpnya. Duduk di dapur, sambil mengetuk-ngetuk meja.
Sementara gemericik air masih terdengar dari kamar mandi.
Wajah Aran kembali lewat
di kepalanya, melihat gadis itu tersenyum pada laki-laki lain ntah kenapa
membuat darahnya mendidih lagi.
Cih.
Han memilih berjalan ke sofa,
menyandarkan kepala. Menatap langit-langit yang kosong. Mungkin sekitar
setengah jam dia tidak bergerak sampai bell rumahnya berdenting. Dia bangun
__ADS_1
menuju pintu. Dua orang sudah berdiri mengangukan kepala sopan ketika pintu
terbuka.
“ Kau juga datang?” ucapnya pada
seorang laki-laki dengan jas berlogo tim keamanan Antarna grup. “Pergilah ke
kamar mandi.”
Laki-laki itu memberi instruksi pada
orang yang dibawanya. Mengantarnya masuk ke dalam kamar mandi. Selang tidak
lama dia muncul, mendekati Han yang sedang ada di dapur. Terlihat dia sedang
memasak tapi tidak tahu apa.
“ Duduklah! Kau mau minum apa?”
“ Apa saja tuan.” Lalu dia
meninggalkan Han dan duduk di sofa, menunggu.
Susu hangat lagi! Kenapa tuan Han
hobi sekali minum susu malam-malam begini.
Ini kali keduanya di suguhi minuman
berwarna putih itu.
“ Minumlah!”
“ Baik tuan.” Dia langsung
mengambil gelas yang ada di depannya. Dan meminumnya. Walaupun sekali lagi dia
tetap tidak terbiasa dengan rasa ini.
“ Kenapa kau datang.” Buru-buru
menghabiskan susu yang ada ditangannya. Lalu meletakan dengan hati-hati gelas
kosong itu dimeja. Mengeluarkan amplop coklat yang tersimpan dalam saku jasnya.
“ Saya membawa apa yang tuan
“ Masalah sapu?”
“ Ia tuan.” Walaupun laki-laki itu masih merasa aneh dengan perintah yang diberikan. Kenapa sekertaris Han tertarik dengan sapu dan seorang ibu rumah tangga biasa.
“ Coba lihat apa yang kau
dapatkan.” Han membuka amplop dan mengeluarkan lembaran kertas dan foto-foto. Memeriksa
satu persatu, tidak ada foto sapu sama sekali. Hanya kegiatan sehari-hari yang
dilakukan ibu rumah tangga biasanya.
Kau tahukan, ibu selalu benar. Dan
ibunya Aran tidak menyukaimu, dia mungkin akan menyambutmu dengan banyak sapu kalau kau datang.
Kata-kata itu kembali terngiang. Dengan tawa khas mengejek Daniah yang diikuti sorot mata penuh kebahagiaan itu.
“ Haha, jadi itu maksudnya?” Sekali
lagi Han terjebak dengan keisengan Daniah. Dan bodohnya kenapa dia baru
memahami maksudnya.
“ Maafkan saya tuan.” Ucap pengawal laki-laki itu merasa kuatir. Melihat Han yang tiba-tiba tertawa setelah melihat laporannya.
“ Sudahlah, hentikan mencari tahu
tentangnya. Tugasmu untuk ini sudah selesai.” Menggangkat amplop coklat dan
melemparkan ke meja. “ Aku sudah tahu maksudnya.”
Eh, memang apa maksudnya.
Jelas-jelas tidak ada foto sapu atau informasi sedikitpun tentang sapu di
dalamnya. Tapi aku tidak mengecewakan tuankan?
Laki-laki yang membetulkan keran
kamar mandi sepertinya sudah selesai. Dia muncul dengan baju yang sedikit basah.
__ADS_1
“ Apa semua sudah selesai.”
“ Sudah pak.”
“ Keluarlah, tunggu aku di luar.”
“ Baik.”
Sepeninggal tukang reparasi diapun
mau beranjak pamit. Namun Han terlihat masih ingin bicara jadi dia masih
menunggu.
“ Apa ada lagi yang tuan butuhkan.” Tanyanya kemudian.
“ Bagaimana kau bertemu dengan
istrimu?”
Eh, kenapa tiba-tiba menanyakan hal
aneh begini.
" Ceritakan kenapa kau bisa menyukai istrimu dan akhirnya memutuskan menikahinya."
Kenapa ini, kenapa anda tiba-tiba menanyakan hal tidak biasanya seperti ini.
" Kenapa diam." Meraih gelas susunya yang belum dia minum.
" Baik tuan."
Dan mengalirlah cerita panjang tentang kisah kehidupannya, awal dia jatuh cinta sampai sekarang. Takut-takut ketika sesekali dia tertawa tapi reaksi wajah Han yang tidak bergeming sedikitpun. Dia meneruskan ceritanya sampai dia lupa dengan tukang reparasi yang menunggu di luar.
" Kenapa diam? lanjutkan!" Masih dengan wajah tanpa reaksi, apa ceritanya menarik atau tidak.
" Baik tuan."
Tapi paling tidak berikan reaksi sedikit saja donk, kenapa wajah anda kaku seperti palang kereta api begitu. Membuat saya malu.
" Selanjutnya apa? setelah kau rasanya mau mati kalau tidak bertemu istrimu?"
Aaaaa, bisa gila aku kalau begini!
***
Sementara itu sebelumnya, di rumah belakang.
Senior Aran yang penasaran masih menunggu dengan mata terbuka Aran kembali.
Mereka menoton tv sambil ngemil makanan di kamar. Saat ketukan pintu mereka
langsung lompat dan menarik tangan Aran untuk duduk dan bercerita.
Aran terlihat bahagia, jadi mereka menyimpulkan kalau perjodohan itu sukses besar. Laki-laki yang di jodohkan juga pasti tidak mengecewakan.
“ Katakan-katakan, bagaimana kencannya.”
“ Apa dia tampan?”
“ Kalian cocok.”
“ Apa mau langsung menikah?”
Pertanyaan langsung meluncur
bertubi-tubi.
Aran menjawab dengan wajah yang
bersemu merah. Seperti mengatakan aku sukses besar.
“ Dia bilang aku itu wanitanya.” Menyentuh kedua pipinya. " Apa yang kau lakukan dengan wanitaku, dia bilang begitu."
Hah! Kedua senior itu langsung
bengong. Wanitanya? Lepaskan wanitaku maksudnya?
Ditanya apa, dijawab apa. Aran hanya mengatakan itu, lalu melambaikan tangan beranjak ke kamarnya. Tanpa memberi penjelasan apa-apa.
" Sepertinya orang jatuh cinta menurunkan tingkat kewarasan seseorang kak." Senior satunya bicara.
" Arankan penulis, mungkin dia sedang halu, dan memainkan satu adegan di novelnya." Ucap satunya asal.
" Jangan-jangan kencannya tidak berhasil dan membuatnya stress kak." Hipotesa baru lagi.
" Atau jangan-jangan pacar atau mantannya muncul, lalu mengagalkan kencannya." Senior yang juga membaca novel Aran semakin larut dalam drama.
Pembicaraan tentang Aran tidak selesai, bahkan sampai mereka naik ke tempat tidur. Sedangkan Aran sendiri sudah tengelam dalam mimpi dan selimutnya yang hangat. Bertemu sekertaris Han dalam mimpinya.
__ADS_1
Bersambung