
Ruangan pemeriksaan RS khusus
kandungan, tempat dokter pribadi Daniah. Tempat yang sama ketika Saga meminta
penjelasan tentang semua hal menyangkut kehamilan. Ruangan ini sudah terlihat
kacau. Kertas berserak di lantai. Saga
duduk dengan nafas terdengar berat dan kesal. Semua orang di dalam ruangan
sudah tertunduk pucat, tidak terkecuali dokter Harun. Kalau sudah seperti ini
dia bahkan tidak akan berani menyela apapun yang dikatakan Saga.
Sekertaris Han berdiri di belakang
kursi yang di duduki Saga. Diam sedari tadi.
“ Kenapa kalian tidak mengatakannya
waktu itu.” Berteriak marah lagi sampai meja di depannya bergetar. Dokter yang
berdiri di depannya tampak pucat. “ Sampai kapan? Sampai kapan Niahku akan
seperti itu?” Berteriak lagi mengagetkan semua orang yang tertunduk berusaha
mencari pilihan kata yang tepat untuk menjelaskan.
“ Gejala ngidam bagi ibu hamil
berbeda-beda tuan.” Dokter pribadi Daniah bicara pelan berusaha menguraikan. “
Jenis ngidamnya juga berbeda pada setiap ibu hamil.”
Bagaimana ini? Bagaimana aku harus
mengatakannya.
“ Berapa lama?”
“ Biasanya tiga.....” Kata-katanya
tertahan.
“ Tiga.” Memotong cepat. “ Jadi
selama tiga hari aku bahkan tidak bisa mendekati istriku. Aku harus menunggu
selama tiga hari. ” Menggangkat tiga jarinya tinggi.
Bukan tiga hari tuan, tapi biasanya
tiga bulan. Ingin dokter itu berteriak begitu. Tapi suaranya tercekik, dia
tidak berani mengungkap fakta itu.
Tiga hari saja terhitung lama bagi
tuan Saga, apalagi kalau sampai penjelasan trimester pertama itu selama tiga
bulan, kebanyakan ibu hamil akan ngidam yang aneh-aneh. Belum lagi kalau di
sertai dengan gejala mual dan muntah yang biasanya terjadi di tiga bulan
pertama.
“ Kalian bisa resepkan obat untuk
itukan?” Sebenarnya bukan pertanyaan, tapi lebih keperintah.
Wajah mereka semakin pucat.
“ Saga, tidak ada obat.” Saga sudah
menatap Harun kesal bahkan sebelum kepala RS itu menyelesaikan kalimatnya. “
Maksudku itu kondisi hormon dan psikologis dari ibu hamil.”
Bagaimana aku menjelaskannya pada
sibodoh ini!
“ Kakak” Menahan mulutnya untuk
memanggil Daniah dengan sebutan kakak ipar. “ Maksudku nona Daniah tidak perlu
obat apa-apa.”
__ADS_1
Itu bukan penyakit yang mulia Saga,
itu memang sudah dari sananya ibu hamil banyak maunya. Bagaimana si, aku
menjelaskan padamu.
Dokter Harun menatap Han, meminta
bantuan. Tapi laki-laki itu hanya menggangkat bahu. Seperti berkata. Maaf
dokter.
“ Itu bawaan bayi Saga. Bertahanlah
sebentar saja.”
“ Maksudmu dia membenciku!”
Aaaaaa, mati aku.
“ Niahku bilang dia kesal setiap
melihatku. Dia tidak mau aku menyentuhnya, dia bahkan bilang benci mencium bau
tubuhku.” Berapi-api. “Apa itu masuk akal!” memukul-mukul meja. “jelaskan
padaku, masuk akalnya dimana? Dan aku harus menunggu sampai tiga hari. Apa kau
sudah gila?”
Bicara apapun memang tidak berguna
padamu. Dan bukan tiga hari sialan! siapa yang bilang tiga hari. Biasanya tiga bulan, ngidam aneh-aneh akan mulai menghilang.
Bahkan Harun tidak berani mengatakaannya.
“ Dan kalian tidak bisa memberiku
solusi apa-apa, selain menyuruhku menunggu. Dasar tidak berguna!”
Bukan kami yang tidak berguna! Tapi
kamu yang bodoh dan gila, suami aneh dan tidak tahu apa-apa.
“ Bagaimana kalau mengajak nona
dia bosan.”
“ Kau mau dia pingsan karena
kelelahan lagi?” Menatap dokter Harun tidak mau kalah karena keputusannya tidak
mengizinkan Daniah keluar rumah setelah pingsan kala itu. Bahkan pernikahan Risya
harus di lewatkan Daniah saat perayaan di gedung. Dia hanya bisa menemui
keluarganya saat pesta di rumah. Dan saga menemaninya. Keluarga besarnya bahagia dan senang saja kala itu. Apalagi saat mendapat kabar kalau Daniah sedang mengandung penerus Antarna Group.
" Bukan begitu." Dokter Harun menyerah. Semuanya diam binggung bagaimana menjelaskan lagi. " Bagaimana kalau mengajak nona bicara dari hati-kehati."
" Kau bodoh atau apa, dia saja tidak mau melihatku bagaimana aku bisa bicara dari hati kehati dengannya!" rasanya sorot mata Saga sudah mencabik-cabik tubuh dokter Harun. Dia sudah kesal setengah mati masih dipancing.
Diamlah dokter, anda hanya membuat semua orang kesulitan. Begitu arti tatapan Han diartikan dokter Harun.
" Saga." Tidak mau menyerah. "Mungkin anakmu sedang balas dendam padamu. Dulu kau memperlakukan ibunya seenaknya di awal pernikahanmukan. Sekarang dia sedang balas dendam padamu. Hehe." Sepertinya dokter Harun sudah kehilangan akal sehatnya karena kehabisan kata-kata menjelaskan secara ilmiah. Para dokter yang berdiri tertundukpun terkejut dengan kata-katanya.
" Kau mau mati ya?" Harun langsung berhenti tertawa. "Han, kirim si bodoh ini ke pedalaman benua sana. Suruh dia beternak Gajah sekalian."
" Saga, aku hanya bercanda." Langsung duduk merapat di sofa yang di duduki Saga. Menoleh pada Han. " Han, dia cuma bercanda!" Han menunjukan hpnya, tertulis memo perintah Saga barusan. " Hei, Saga hanya bercanda gila!"
Saat dokter Harun masih ribut bicara dengan Han, hp milik Saga berbunyi.
" Nona menelfon tuan muda." Han menyodorkan hp.
" Niah!" segera diambilnya hp ditangan Han. " Hallo Niah." Saga terlihat senang sekali, seharian ini dia sudah frustasi.
" Sayang, kamu di mana, aku merindukanmu. Apa kau sedang sibuk?"
Apa! merindukanku. jelas-jelas tadi pagi dia bilang tidak mau mencium bau tubuhku.
" Tidak!" Melihat Harun lalu tertawa. " Mau makan cilok dan jus sirsak?"
" Cepat pulang ya sayang, aku merindukanmu." Sambungan telfon terputus. Saga langsung memeluk Harun di sebelahnya. Yang di peluk gelagapan.
Kenapa? Kenapa?
" Kenapa kalian tidak mengatakannya, kalau ngidam ibu hamil itu cuma tiga jam. Sudah membuatku marah-marah tidak berguna di sini. Baiklah, teruskan pekerjaan kalian." Bangun dari duduk. " Urus RS ini dengan benar. Aku mau pergi menemui Niahku dulu."
__ADS_1
" Tuan Saga." Dokter pribadi Daniah mau angkat bicara, tapi Harun lebih cepat. Dia mendorong tubuh Saga.
" Baiklah temui nona Daniah sekarang." Melirik para dokter.
Diamlah. Biarkan si gila ini berfikir seenaknya. Paling tidak aku tetap menjadi kepala RS dan tidak beternak gajah.
Dan mereka membiarkan semua kesalah pahaman itu terjadi.
***
Saga keluar dari mobil, bahkan sebelum Han keluar dan membukakan pintu. Sambil menjinjing kantong pesanan Daniah. berjalan cepat, pak Mun terlihat menyambut ke datangannya.
" Dimana Niah?"
" Ada di kamar tuan muda." Pak Mun ingin mengambil apa yang di pegang tuan mudanya. " Tidak apa-apa pak, biar saya yang bawa. Ini pesanan Niah." ucapnya antusias. Pak mun menggangukan kepala dan mengikuti langkah kaki Saga bahkan sampai mengikutinya ke dalam kamar.
" Niah!" membuka pintu kamar, Daniah sedang duduk sambil bermain dengan hpnya. " Aku pulang!" mendekat dan memeluk Daniah. Menciumi pipi dan seluruh bagian wajah, berakhir dengan ciuman di bibir mungil yang gelagapan dan tidak bicara apapun itu. " Aku bawakan pesananmu, cilok dan jus sirsak." Menggangkat kantong ditangannya.
Daniah meraih kantong itu. " Aaaaa, aku sudah kenyang sayang." Ucapnya santai. Saga menjatuhkan tangannya.
Apa! kenyang, kau bilang mau tadi. Jangan-jangan sekarang kau tidak merindukanku lagi.
Tangannya terkepal geram.
Kenapa ngidam ibu hamil bisa seaneh ini!
Ini balas dendam anakmu, karena dulu kau memperlakukan ibunya seenaknya. Tiba-tiba kata-kata Harun muncul.
Cih
" Sayang, apa kamu tidak bekerja?"
Apa! Kau tahu aku berlari kemari karena merindukanmu!
Dan perjalanan kehamilan Daniah masih panjang tuan muda, apa kau sudah siap ^_^
Epilog
Aran berjalan cepat menuju taman, dari kejauhan dia bisa bisa melihat laki-laki itu. Bahkan dari kejauhan dia bisa membedakan bentuk tubuh itu.
" Tuan!"
" Duduklah!"
Hah, dia terlihat serius sekali.
Ini kali pertama mereka bicara berdua setelah kejadian pingsannya nona. Saat berjalan menuju taman dada Aran sudah berdebar. Apakah penantiannya selama ini akan terbayar hari ini.
" Kau masih ingat janjiku."
" Ia." Kalau kau mau memberiku kepastian setelah kehamilan nona, karena saat itu kau sudah yakin kalau tuan Saga sudah mendapatkan kebahagiaannya. Begitu yang dipikirkan Aran.
Han mendesah, membuat Aran kuatir.
Kenapa ini? kenapa aku cemas.
" Ternyata wanita hamil dengan ngidamnya sungguh merepotkan ya. Dan aku tidak mungkin membiarkan tuan muda menghadapinya sendiri."
Apa! memang kau mau melakukan apa untuk membantu tuan Saga.
" Tuan, apa benar ini keputusanmu?" Kumohon berubahlah pikiran pekik hati Aran. Han diam tidak menjawab, hanya terdengar tarikan nafasnya. " Huh! ternyata kau benar-benar ya." Bicara tanpa bahasa formal. " Bangun dan berdiri di depan Han.
" Apa kau pikir yang merepotkan hanya wanita hamil." Berkacak pinggang. " Wanita yang sudah jatuh cinta juga merepotkan tahu." menunjuk dada Han dengan telunjuknya. "Kau mau aku menyerah sekarang?"
Kenapa dia?
" Apa kau sudah gila?" menepis tangan Aran.
" Ia." mendekatkan wajah dan menempelkan bibir di pipi kanan sekertaris Han. " Aku akan mengejarmu sampai kau tergila-gila padaku. Tunggu saja."
Berlari meninggalkan sekertaris Han yang menyentuh pipi kanannya. Hangat bibir Aran masih terasa.
" Larilah, aku akan mengejarmu!" Aran berteriak, setelah itu ia lari menuju rumah belakang. Malu tidak terkira terlihat di wajahnya.
Gadis bodoh! Aku sudah melepaskanmu, tapi kau malah mengikat benang merah di kakimu. Jadi jangan salahkan aku, kalau kau akan terikat selamanya padaku.
Han bangun dari kursi taman, tempat dulu pertama kalinya dia bertemu dengan Saga. Saat ia mengikat janji setia pada Antarna Group. Bayangaan Ayahnya yang berdiri dengan gagah berkelebat. Senyum tuan besar juga. Dia melambaikan tangan.
Jagalah Saga seperti kau menjaga adikmu.
Musim kedua Tamat
Terimakasih semuanya
__ADS_1
Sampai Jumpa lagi ^_^