Terpaksa Menikahi Tuan Muda

Terpaksa Menikahi Tuan Muda
156. Bulan Madu (Part 3)


__ADS_3

Pesawat telah lepas landas tanpa


kendala. Terbang di antara awan-awan putih tipis yang berserak di angkasa.


Sekretaris Han  bangun beranjak dari


duduk, Menawarkan sesuatu kalau Saga menginginkan minum atau apa pun yang


mungkin dia inginkan. Saga hanya mengibaskan tangan kalau dia tidak membutuhkan


apa pun, lalu Han pergi menuju entah ruangan apa di bagian pintu belakang setelah


kursinya.


“Niah,” panggilan lembut Saga


terdengar, lagi-lagi menyentuh hati Daniah di situasi lengang seperti ini.


“Eh, ia.” Daniah yang sedang


memandang angkasa luas di luar sana menoleh. Melihat Saga menepuk kursinya. Dia


terlihat menggeser tubuh. Memberikan ruang yang cukup lebar untuk Daniah pindah


ke kursinya.


Apa! kau mau apa? mau menyuruhku


menyentuhmu?


“Pindah kemari,” katanya kemudian.


Masih menepuk tempat duduknya dengan tangan kanan. Saga ingin sepanjang


perjalanan membosankan ini memeluk Daniah. Waktu akan mudah terbunuh saat kalian


senang kan. Dan hal yang menyenangkan dalam pesawat ini apalagi kalau bukan


menjahili istrinya. Lihat, begitulah Saga menunjukan cinta berlebihnya untuk


Daniah. Jangan berharap dia bersikap romantis manis yang mudah dipahami.


Tidak mau! Menolak tegas. Walaupun


cuma dalam hati.


“Sayang, kakimu  bisa tidak nyaman nanti.” Daniah ingat


bagaimana kaki Saga kram saat dia tidur sambil memakainya sebagai bantal.


“Kau mau aku mulai menghitung.”


Sudah mau mulai menyebut angka satu.


“Tidak, aku pindah. Tapi kalau


kakimu pegal tertindih badanku jangan salahkan aku ya.” Daniah sudah bangun


dari kursi dan pindah ke tempat duduk Saga. Tubuh kecil Daniah tentu tidak akan


terlalu berarti walaupun duduk di pangkuan Saga sekalipun. Dia bersandar di


tangan suaminya yang terbuka.


Setelahnya  Daniah mencaritahu tujuan mereka ke mana,


sementara Saga hanya menjawab. “Sudah diam, ini akan jadi kejutan .” Daniah


memilih menjatuhkan kepalanya ke dada Saga. Saat semua cara sudah dilakukan dan


tidak berhasil mengorek apa pun.


“Sayang, kita akan pergi ke laut


ya?” Mulai bicara lagi.


“Tidak tahu.”


“Bohong! Pasti kamu tahu kan?


Pokoknya kemanapun kita nanti, kita jalan-jalan sambil main sampai puas ya.”


“Tidak mau.” Saga menjawab pendek


lagi.


“Aaaa, kenapa tidak mau?” Daniah


protes sambil mencubit kedua pipi suaminya.


“51 persen kita main diluar dan 49


persen kita habiskan di kamar.”


Apa! Memang ada pengaruhnya selisih


seujung kuku bayi begitu. Hei, siapa yang membuat ide tidak masuk akal ini??


Setelah lelah berdebat tentang


selisih persentase tidak masuk akal Daniah Memilih diam dan memejamkan mata.


Membenamkan wajah ke dalam dada suaminya yang nyaman. Dia kalah walaupun hanya


adu argumen.


Sementara Saga setelah menang adu


argumen dan membuat istrinya diam, Saga beralih bicara pada Han.


“Han.” Sambil membelai lembut


kepala istrinya. Lalu dia menggulung rambut Daniah di jarinya. Menciumi rambut


itu.


Kenapa rambutnya tercium bau manis


begini ya? Masih menjadi misteri apa yang sebenarnya dicium Saga dari rambut


Daniah. Jelas-jelas mereka memakai sampo yang sama. Tapi dia selalu merasa


aroma rambut Daniah lebih enak daripada sampo yang dia pakai.


“Ia Tuan Muda.” Han menjawab dari


tempat duduknya di belakang Saga. Sengaja tidak mendekat. Sedari tadi dia sudah


mendengar pembicaraan Daniah dan Saga. Yang sudah membuatnya menarik nafas


dalam-dalam.


Kenapa mereka terlihat seperti


orang gila kalau sedang berdua begitu. Yang satu dimabuk cinta, yang satu tidak


sadar kalau semua tingkahnya, bahkan caranya bernafas saja dianggap


menggemaskan.


Sementara Daniah menajamkan telinga.


Mendengarkan pembicaraan mereka.


"Apa kau tidak perlu mengajak


Harun?”


Dokter Harun, kenapa? Daniah


penasaran. Tapi dia tetap tidak menegakan kepala. Pura-pura tidur, hanya


hembusan nafasnya yang terdengar.


“Dokter Harun tidak bisa ikut


karena sudah ada agenda yang tidak bisa diwakilkan. Saya sudah menghubunginya


beberapa hari lalu.” Han selalu tahu apa yang harus dia lakukan.

__ADS_1


“Cih, kurang ajar sekali dia.”


Saga memaki dokter Harun. Membayangkan senyum kurang ajar dokter muda itu saat


bersyukur karena tidak perlu ikut pergi.


Hei, memang kenapa juga si musti


bawa-bawa Dokter Harun, kita kan cuma mau liburan. Aku berharap ini akan jadi


liburan berkedok bulan madu. Bermain, jalan-jalan dan mungkin sedikit belanja


oleh-oleh. Kemana sebenarnya tujuan kita ini ya?


Daniah berperang dengan pikirannya sendiri, menebak-nebak, maunya orang yang tidak bisa diterka,


“Bagaimana kalau Daniah sampai


terluka nanti.” Tangan Saga menyentuh pipi istrinya. Mencubitnya pelan. Daniah


refleks memukul tangan Saga, karena tahu laki-laki itu hanya menunggu


reaksinya. Benarkan, setelah itu Saga melepaskan tangannya.


“Ya mengingat sifat nona kadang seperti itu.” Ada


penekanan kata-kata Sekretaris Han di dalamnya. “Saya sudah mendapat


rekomendasi dokter di dalam kota dari Dokter Harun. Saya juga sudah


menghubunginya jika ada kejadian yang tidak terduga.”


Haha, jadi kalian pikir aku bocah.


Hei, aku itu gadis mandiri yang setegar karang tahu.


“Laki-laki atau perempuan?”


Bersama dokter Harun saja sudah menyebalkan, apalagi ini harus berurusan dengan


orang asing. Begitu pikir Saga.


“Perempuan Tuan Muda uda.” Entah kenapa


Saga merasa lega.


Setelah merasa sedikit tenang tentang


urusan dokter, sekarang dia beralih pada Daniah di sampingnya.


“Niah.”


“Iya.” Mengangkat kepalanya. Dan


tidak tahu kenapa Daniah ingin mencium pipi Saga. Dan dia melakukannya. Membuat


Saga terkejut. Ya, laki-laki itu masih terkejut dan merasa senang sekali kalau


Daniah menunjukan perasaan tanpa diminta olehnya.


“Jaga dirimu nanti. Paham!” Sambil


menghujani pipi Daniah dengan ciuman balasan. "Jangan buat aku cemburu.”


Maksud dari perkataan Saga adalah,


jangan sampai kau melihat orang lain selain aku. Tapi mana Daniah paham itu, dia


hanya asal mengiyakan saja.


“Han, kau tidak membuat kegiatan


ekstrim untuk agenda di luar kan?” Setelah Daniah berhasil menghentikan hujan


ciuman dengan tangannya, Saga mendongak dan bertanya pada Han.


“Tidak Tuan Muda uda.”


Memang mau seekstrim apa juga, apa


nona mau minta memanjat tebing atau berburu hiu? Han.


Hening, hanya terdengar gumaman


“Kalau Daniah tiba-tiba hamil


bagaimana ya?” Pertanyaan yang ditujukan untuk Han. Padahal mana tahu


sekretarisnya perihal beginian.


Hei kalian berdua, bukankah aneh


itu cukup sewajarnya. Kalian tahu tidak, aku yang jadi bahan pembicaraan


kalian. Aku, aku disini duduk dengan mata terbuka. Datang bulanku saja belum


normal setelah tragedi pil kb itu, mana mungkin aku bisa tiba-tiba hamil.


“Benar juga ya, bagaimana kalau


tidak usah ada kegiatan di luar ruangan.” Hanya mengikuti kemauan tuannya saja.


Tidak berfikir panjang. Yang penting Saga senang dan nyaman, motonya dalam


perjalanan hidup selama beberapa tahun ini.


Sudah gila ya kalian.


“Sayang, hamil itukan butuh


proses, perempuan itu gak bisa tiba-tiba hamil, atau tiba-tiba melahirkan.


Semua butuh waktu.” Haduh, bagaimana menjelaskannya ini. Daniah bingung.


“Aku kan baru dari dokter, dan belum ada indikasi hamil kan?


Ayolah sadar, aku saja belum datang


bulan dengan normal dan lancar lagi, seperti saat aku belum minum pil kb.


“Darimana kamu tahu? Memang kamu


sudah pernah hamil?” Penjelasan Daniah malah membuat Saga gusar. “Jadi aku


bukan yang pertama buat kamu?”


Ya tuhan, siapa yang akan percaya


kalau pertanyaan itu diucapkan Tuan Saga. Kenapa dalam hal beginian dia bodoh


sekali si.


“Sayang, aku kan nggak perlu hamil


dulu buat tahu begituan. Itu pengetahuan dasar yang diketahui semua perempuan


di muka bumi ini. Di sekolah dulu kita juga belajar itu kan.” Menepuk-nepuk


dada Saga agar laki-laki itu mereda kekesalannya.


“Aku tidak pernah belajar begituan


di sekolah.” Menjawab, entah kenapa ada yang terasa getir dalam kalimatnya.


“Bohong!” Daniah membalas cepat.


“Tuan Muda tidak sekolah umum


nona, jadi tuan muda memang tidak mendapat pelajaran atau sekolah seperti yang


nona jalani.” Terdengar suara Han dari belakang. Daniah menatap suaminya.


Seperti apa ya kehidupan Tuan Saga


waktu muda?


“Jadi, berapa lama hamil itu?”


Membuyarkan rasa penasaran dan haru yang tiba-tiba berseliweran di kepala

__ADS_1


Daniah. Masa muda Saga, bagaimana dia tumbuh. Apa dia dari dulu sudah arogan


seperti ini.


“Sembilan bulan lebih 10 hari pada


umumnya sayang.”  Daniah tersentak saat


mendengar Saga berteriak karena tidak percaya dengan penjelasannya.


“Hei, kau mau membohongiku. Kenapa


lama sekali!” Kegilaan apa ini, kenapa sampai butuh waktu selama itu, pikir


Saga tidak percaya. “Han, kau dengar itu? Niah, kamu sedang


mempermainkanku kan.” Protes keras. Tidak mungkin hamil butuh selama itu


pikirnya.


“Tidak sayang, memang begitu.“


Kenapa si suamiku ini.


“Apa tidak apa-apa kalau kamu


hamil selama itu.” Saga menyentuh perut Daniah. “Apa tidak akan melelahkan.


Membayangkan saja kenapa aku jadi takut ya.”


Ya ampun, laki-laki ini benar-benar


Tuan Saga bukan si.


“Han, cari tahu semua informasi


seputar kehamilan.” Akhirnya karena digerogoti penasaran keluar perintah tidak


masuk akal.


“Sayang, buat apa?”


Membayangkan Sekretaris Han


berkutat dengan mesin pencarian dan kata kunci kehamilan, Daniah sudah merasa


lucu sekaligus kasihan.


“Baik Tuan Muda.”


Hal gila apalagi yang sedang kalian


bahas ini. Kenapa membahas kehamilan sampai merepotkanku begini. Han


Lagi-lagi Han mendapatkan pekerjaan tidak


masuk akal diluar semua tumpukan pekerjaannya di Antarna Group.


“Benar tidak apa-apa, kalau kamu


harus hamil selama itu?” Lagi-lagi masih dihantui khawatir, Saga memeluk tubuh


Daniah erat.


“Sayang, memang seperti itu. Hamil


dan memiliki anak juga impian semua wanita. Jangan khawatir, kalau Tuhan


memberiku kesempatan untuk hamil aku akan menjalaninya dengan bahagia.”


Walaupun perjuangan menjadi ibu yang dimulai dari kehamilan bukan urusan yang


gampang. Ada banyak drama baik di fase pertama, kedua atau ketiga. Bahkan


Daniah pun pernah membaca ada ibu hamil yang harus istirahat total dan tidak


melakukan pekerjaan apa pun untuk menjaga kehamilannya. Setiap ibu berjuang


dengan caranya sendiri-sendiri dalam proses kehamilan. Tapi, itu memang impian


setiap wanita jika sudah menikah kan.


“Sayang, hamil itu memang tidak


mudah, tapi wanita yang sudah menikah pasti merindukan itu. Ibu juga


mengalaminya saat melahirkanmu.” Menyentuh pipi Saga. “ Ibu juga berjuang dalam


proses kehamilan dan melahirkanmu.”


Ada yang menyentuh hati Saga saat


mendengarnya. Membayangkan bagaimana ibu dulu berjuang saat mengandungnya.


“ Apa ibu juga melakukannya,


sembilan bulan 10 hari seperti katamu.” Katanya pelan. Membayangkan wajah ibu.


“Ia sayang. Jadi kalau kamu marah


atau kesal pada ibu, tetap jagalah hubungan kalian. Jangan marah padanya.” Lagi-lagi membelai dada Saga pelan. Daniah tahu, bagaimana sayangnya suaminya pada keluarganya. Ibu dan kedua adiknya adalah sebagian dari nyawa yang dia lindungi dalam perjalanan hidupnya. Daniah mendengar banyak cerita heroisme yang dilebih-lebihkan Jen dan Sofi mengenai kakak mereka.


“Ia, aku tahu.”


Untuk sejenak hanya hembusan nafas


keduanya yang terdengar. Sama-sama menyelami pikiran dengan wajah ibu mereka


masing-masing. Daniah tengelam dalam kenangan. Sedangkan Saga, mengulang


film-film ketegangan yang beberapa kali terjadi dengan ibunya. Ah, dia menarik


nafas berat.


***


Belum ada informasi pendaratan, sepertinya penerbangan ini masih akan memakan waktu.


Setelah tercipta kebisuan cukup


lama, Saga menarik tangannya menyentuh leher Daniah.


“ Niah, kau tidak mau menyentuhku,” katanya dengan gelak. Sambil menggoyangkan telinga Daniah.


Apa! Reflek Daniah menutup mulut


Saga dengan tangannya. Supaya laki-laki itu tidak meneruskan kalimatnya. Hemm.


Saga menggoyangkan kepalanya agar Daniah menjatuhkan dekapan tangannya.


“Sudah kubilang kau boleh


menyentuhku dimana pun.” Setelah berhasil menghempaskan tangan Daniah dari


mulutnya.


“Terimakasih sayang, aku terharu sekali. Tapi tidak terimakasih untuk saat ini ya.”


Aku tidak mau menyentuhmu.


Apalagi dibelakang kita ada orang yang bahkan tidak pernah menutup mata dan


telinganya itu.


“Ayolah. Kenapa malu-malu begitu.


Tidak ingat kelakukan mu tadi pagi menggodaku.”


“Apa!”


Mereka selalu membuat polusi udara


saat bersama. Apalagi bagi hati yang sendiri.


Sementara itu Han di belakang


mereka hanya berpaling, menatap jendela lalu memejamkan mata.


Kenapa perjalanan ini rasanya lama sekali. Kapan kita

__ADS_1


sampainya.


Bersambung


__ADS_2