Terpaksa Menikahi Tuan Muda

Terpaksa Menikahi Tuan Muda
Bulan madu (Part 9)


__ADS_3

Dan setelah sekian tahun mereka


tidak pernah sekalipun bertemu. Mereka dipertemukan dalam takdir  semacam ini. Daniah tidak pernah sedikitpun


mengingat nama Haksan, tapi sepertinya lain dengan laki-laki itu. Menghilangnya


dia dari kehidupan SMUnya dulu, sedikit banyak karena Daniah. Sehingga saat


mereka bertemu lagi, ego masa lalunya kembali bergejolak. Sampai membuatnya


lupa, kalau ini bukan kehidupan sekolahnya lagi. Kalau Daniah bukan lagi gadis


polos yang bisa dia ancam dan masuk dalam jeratannya dengan mudah.


Ketegangan tidak bisa di hindarkan


diantara mereka. Haksan merasa terusik harga dirinya, apalagi kafe ini


miliknya. Dia bos di tempat ini. Bahkan bukan hanya di kafe, daerah


perbelanjaan di pulau ini memang berada di bawah pengawasannya. Seperti dia


yang bertanggung jawab untuk menjaga keamanan. Kedekatan orang tuanya dengan


orang nomor satu kota XX, membuatnya jadi orang di takuti di pulau ini.


“ Hei siapa kalian?” menunjuk dua


pengawal laki-laki yang tiba-tiba muncul menjadi tameng hidup di depan Daniah.  Gadis itu bahkan tidak terlihat karena


tersembunyi  di balik punggung tinggi


kedua orang di depannya. Sepertinya dua laki-laki itu sengaja menghalangi


pandangannya. Karena Haksan bahkan tidak bisa melihat ujung rambut bergelombang


Daniah sedikutpun. “ Niah!” Panggilnya keras membuat Daniah tersentak di balik


punggung para pengawalnya. Di belakangnya Aran sudah maju ke samping. Tidak mau


berada di belakang punggung Daniah. Karena memang seharusnya dia yang


melindungi, bukan dilindungi.


“ Nona, jangan perdulikan dia. Ayo


kita pergi.” Keselamatan Daniah jauh lebih penting dari apapun, Aran menebak


laki-laki di hadapannya ini benar-benar bisa bersikap tidak waras. Walaupun dia


tidak tahu masa lalunya bersama nona bagaimana, tapi secara jelas bisa terbaca


dari reaksinya saat ia menyiramkan jus nanas ke wajahnya tadi.


“ Niah!” Haksan kembali berteriak


karena Daniah tidak memberikan reaksi pada teriakannya tadi. Panggilan kerasnya


membuat dua laki-laki di hadapannya menatapnya tajam.


“ Nona ayo kita pergi.” Aran sudah


meletakan tangannya menyentuh lengan Daniah. Bahkan kalau perlu dia ingin


menarik tangan itu. Semua dia serahkan pada kedua pengawal di depannya.


Keselamatan nona adalah kehidupan


kami selanjutnya.


Tapi Daniah menepuk punggung tangan


Aran yang masih menyentuh tangannya. Menenangkan kalau semua akan baik-baik


saja. Karena kalau Haksan yang dia kenal, walaupun pria ini gila, tapi kalau


dia bisa mengajaknya bicara baik-baik. Daniah masih merasa bisa memegang


sedikit kendali. Berkaca dari kenangan masa lalunya.


“ Akukan tadi sudah bilang aku


sudah menikah. Kau yang tidak percayakan. Mereka pasti teman-teman suamiku.


Mungkin mereka kebetulan melihatku kau ganggu jadi mereka datang menolongku.”


Jangan tanya ekspresi Daniah. Dia bisa berakting sangant baik di situasi


terdesak begini. Sudah dibuktikan banyak sekali ketika menghadapi Saga.


Ayolah percaya saja. Ini demi


keselamatan kita berdua. Demi aku yang tidak perlu repot menjawab semua


pertanyaan tuan Saga. Demi kamu yang terbebas dari semua bentuk kemarahan tuan


Saga.


“ Haha, ayolah, kau mau aku


percaya. Baiklah, sekalian aku percaya pengakuan pertamamu, kalau kau istri


tuan Saga.” Tawanya berhenti saat melihat Aran di samping Daniah. “ Bawa gadis

__ADS_1


yang menyiramku tadi!” Perintah Haksan pada anak buahnya yang jumlahnya tiga


orang. Yang muncul setelah adegan penyiraman.  Dan ntah muncul dari mana ada dua orang lagi


yang masuk ke dalam kafe. Melihat situasi yang sepertinya kurang terkendali


para pelanggan kafe yang tadinya berdiri menonton langsung angkat kaki segera.


Tidak mau terlibat lebih jauh. Mereka memprediksi situasi akan semakin genting.


Para pelayang wanita juga sudah terlihat panik. Mereka sedang ribut mau


bersikap bagaimana. Bertahan di kafe melihat boss mereka atau kabur dengan


segala resiko esok harinya.


“ Niah, kau tahu aku agak


pendendamkan. Kecuali padamu.” Tersenyum. “ Berikan dia padaku.” Menunjuk Aran.


“ Aku hanya akan memberinya sedikit pelajaran saja. Tidak akan sampai mati kok.


Hanya pembalasan setimpal, air dibalas dengar air.” Pandangannya menusuk tajam


saat menatap Aran.  Membuat gadis itu


sedikit bergetar tangannya.“Hanya terkadang pembalasan selalu lebih kejamkan.”


Daniah maju beberapa langkah. Tapi


tetap masih berdiri di belakang kedua pengawalnya.


“ Aku minta maaf atas nama temanku


kak. Aku yang salah, seharusnya aku bisa menenangkannya. Dia hanya perduli


padaku, dan tidak tahu siapa dirimu. Aku mohon maafkan kami.” Suara Daniah


jelas namun tidak terdengar dibuat-buat. Dia dengan tulus minta maaf. Agar


semua berakhir dengan cepat.


Ayolah terima saja maafku dan


sudahi ini semua.


Daniah sudah bisa melihat kedua


orang di depannya sudah mengepalkan tangan menahan geram. Mereka pasti sedang


menahan amarahnya. Terpancing sedikit saja, dia sudah bisa menebak kekacauan


seperti apa yang akan terjadi. Bukan hanya Haksan yang perlu di kendalikan,


Aku tahu kalian marah, tapi ku


mohon jangan sampai ada perkelahian. Karena semua pasti akan jadi rumit dan


panjang.


“ Haha, baiklah. Kau memang selalu


seperti ini ya, memasang badan untuk orang lain. “ Senyum dan tawanya. Kembali


mengingatkan kenangan buruk Daniah di SMU saat dia harus pergi berkencan dengan


Haksan karena dia menyakiti Ve.  “ Ayo


temani aku malam ini, maka semuanya aku anggap impas.” Dan kali ini Haksanpun


meminta syarat yang sama agar dia mau melepaskan Aran.


Buag! Satu tendangan keras tepat


mengenai perut Haksan, membuat laki-laki itu terjungkal keras ke belakang.  Dia menjerit kesakitan sambil memegangi perutnya.


“ Anda sudah melebihi batas anda


tuan!”Salah satu pengawal Daniah bicara saat  semua orang tersentak termasuk Daniah dan Aran.


Mereka bisa merasakan sakitnya tendangan itu. “ Beraninya anda bicara kata-kata


tidak pantas di hadapan nona muda kami.”


Sesaat Haksan binggung dengan


situasi yang terjadi. Sambil mengerang dan menahan sakit di ulu hatinya. Haksan


memaki keras. Sumpah serapah keluar dari mulutnya. Dibantu dengan anak buahnya


dia bangun. Melihat Daniah di balik punggung laki-laki yang menendangnya. Malu


bercampur kesal. Bagaimana dia bisa mendapat pukulan telak bahkan di depan mata


anak buahnya yang langsung terperangah kaget tadi. Harga dirinya semakin


terburai menjadi serpihan kecil. Berserak di lantai. Dia tidak pernah


dipermalukan seperti ini.


Sialan! Apa lagi ini, nona muda?


“ Niah!” berteriak dengan tingkat

__ADS_1


kesal yang semakin meningkat. Lebih-lebih ketika dia tidak bisa melihat wajah


gadis itu. “ Sepertinya batas kesabaranku sudah habis sekarang. Hajar mereka. “


Membalikan badan menghadap anak buahnya. “ Kecuali Daniah, jangan menyentuhnya


sedikitpun.” Haksan mencengkram ujung baju anak buahnya. Yang menatap arah


telunjuk bossnya. Menunjuk gadis bernama Daniah yang tidak boleh mereka sentuh


sedikitpun.


“ Ba, baik boss.”


Sesuai dengan instruksi  perkelahian benar-benar tidak terhindarkan.


Haksan tidak bisa diremehkan, seperti itulah perangainya sejak SMU. Waktu yang


bergulir yang seharusnya mendewasakan seseorang sepertinya tidak menempanya


sama sekali. Dia selalu seenaknya dan merasa semua hal harus berputar di


sekelilingnya.  Sekali lagi dia melihat


Daniah yang berdiri di ujung meja. Melihat semua perkelahian dengan wajah


paniknya.


Huh! Persetan siapa suamimu. Asalkan


bukan tuan Saga, aku masih bisa bersaing dengannya.


Ini bukanlah perasaan cinta, Haksan


tidak mengenal itu dulu ataupun sekarang. Ini hanya sebatas sesuatu yang


diinginkan dimiliki orang lain dan itu membuatnya geram. Dia menarik kursi dan


duduk melihat Daniah. Dari ujung kepala sampai kakinya.


Cih, kenapa aku tidak menyadari


kalau penampilannya benar-benar berubah. Semua benda yang menempel di tubuhnya


jelas-jelas barang bermerek.


Haksan tahu, karena dia sering


membelikan teman kencannya barang-barang bermerek itu.


“ Hentikan! Aku akan menelfon


polisi.” Teriakan Daniah tidak terdengar di tengah keributan. Sementara matanya


berkeliling, mencari dimana Haksan berada. Tatapan kesalnya ketika melihat


laki-laki itu duduk tenang sambil tersenyum padanya. Sementara itu perkelahian


terbagi menjadi tiga kubu.  Empat orang


menghadapi dua pengawal Daniah. Dan satu lagi berusaha menjatuhkan Aran. Gadis


itu terlihat semakin terpojok.“ Aran!” Daniah terkejut dan berlari mendekat.


Gadis itu sudah terjungkal ke belakang.


Membentur meja lalu terduduk di lantai. Dia terlihat kesakitan tapi berhasil


bangun. Tapi sepertinya dia kehabisan energi.


“ Kak Haksan ku mohon hentikan


ini.” Berdiri di depan Aran. Laki-laki yang ingin memukul untuk kedua kalinya


itu mundur.  Daniah menoleh pada Haksan


yang tidak bergeming. “Ku mohon hentikan semua ini. Mereka tidak salah


apa-apa.” Suara Daniah gemetar karena melihat Aran menahan sakit, terduduk di


lantai. Diapun melihat darah menetes di sikunya. “Aku mohon.”


“ Hah! Akhirnya, kau tahukan, kalau


aku selalu mendapatkan apa yang ku mau. Baik dulu ataupun sekarang.”


Laki-laki itu mendekat. Senyum


menjijikan terlihat jelas dibibirnya.


Tuan Saga tolong kami!


Daniah mundur beberapa langkah,


sampai tubuhnya membentur meja.


Sayang, datanglah!


Untuk pertama kalinya Daniah benar-benar


merindukan tuan Saga.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2