Terpaksa Menikahi Tuan Muda

Terpaksa Menikahi Tuan Muda
113. Pertengkaran Di Tempat Tidur (Part 1)


__ADS_3

Daniah masih mematung di depan


tempat tidur. Dia tidak berani membungkukkan badan mengambil hp atau pil


kontrasepsi di dekat kakinya. Matanya beralih mengikuti langkah kaki Saga,


laki-laki itu melepaskan sandal dengan kasar lalu naik ke atas tempat tidur.


Meraih bantal dan memakainya untuk bersandar. Meluruskan kakinya sambil memberi


sorot mata membunuh pada Daniah.


“Nyalimu besar sekali ya!” Daniah


semakin menciut di tempatnya berdiri. Tidak bergerak sedikit pun, dia bahkan


menarik nafas pelan tanpa menimbulkan suara.


Apa aku pura-pura mati saja ya,


tidak, pura-pura pingsan saja. Tapi kalau dia menyiramku atau menginjak kakiku


aku pasti menjerit.


Saat ini gadis itu kembali


menundukkan kepala, menatap pil kontrasepsi di dekat kakinya. Ya, dia sangat


berani, pertama kalinya memutuskan untuk minum pil kontrasepsi sebenarnya ia pun


dihantui ketakutan kalau sampai ketahuan. Namun ketakutan untuk mengandung


anak Saga jauh lebih menakutkan dari pada ketahuan seperti sekarang. Tapi, saat


ada di posisi ini, sungguh Daniah menyesali telah menelan pil itu.


Seharusnya aku lebih takut padanya


dari pada pada kehamilan.


“Katakan, sejak kapan kau


meminumnya?” Suara dan wajahnya masih sangat dingin bertanya. Seperti menumpahkan


semua kekesalannya.


Tidak, kalau aku menjawab, dia akan


semakin menggila.


“Hei, kau anggap aku sedang main-main


sekarang!” Sudah mulai berteriak dari tempatnya duduknya bersandar. Dia menekuk


kakinya, merubah posisi. Daniah terlonjak mendengar suara keras Saga. Dia


mengatupkan tangannya di depan dada yang mulai gemetar.


Kemarahannya ada di level


mematikan, bagaimana ini?


“Sejak kau menyuruhku tidur di


tempat tidur.” Mendongak sebentar, lalu kembali menundukkan kepala.


“Wahhh, wahhh, luar biasa, kau


sudah mengantisipasinya dari awal ya.” Sinis menghujam, tidak memberi


kesempatan Daniah sedikit saja bernafas. Itu artinya sejak pertama kali Saga


meminta Daniah tidur di atas tempat tidur, walaupun itu masih jauh dari mereka


melakukan hubungan badan.


Sepertinya kau benar-benar tidak


mau mengandung anakku ya. Geram Saga ketika memikirkan kapan waktu tepatnya


itu. Karena kejadian itu masih teringat jelas di kepalanya.


“Maaf kan aku.” Lirih, bahkan


terdengar seperti gumaman. Masih menatap lantai dan kakinya sendiri.


“Maaf, kau pikir cukup dengan


minta maaf.” Kembali menghardik dengan suara keras. “Kau tahu seberapa besar


kesalahanmu padaku  sekarang. Bahkan


menghukummu saja tidak bisa mengampuni kesalahan dan pengkhianatanmu ini.”


Pengkhianatan! Memang apa yang kulakukan,


apa aku selingkuh.


Tapi nyatanya Daniah tetap gemetar


dan tidak bisa menjawab apa-apa.


“Aku akan mengambil alih perusahaan


ayahmu lalu menghancurkannya tanpa sisa. Menendang adik laki-lakimu dari tempatnya


magang sekarang, memasukannya dalam daftar hitam Antarna Group. Dia bahkan


tidak akan punya tempat untuk bernafas di kota ini, dan adik perempuanmu,


jangan mimpi bisa menginjakan kaki di dunia entertainment lagi. Itu baru


setimpal menebus kesalahanmu hari ini.”


Tubuh Daniah lunglai, dia sekuat


tenaga menjaga kakinya tetap berdiri. Bahkan kakinya sampai bertumpu pada


pinggiran tempat tidur, supaya dia tetap berdiri dengan tegak. Keringat dingin


mulai keluar di telapak tangannya. Membayangkan semua yang Saga katakan akan


terealisasi semudah dia membalikan telapak tangan.


Bagaimana ini, aku berlutut dan


menangis pun pasti sia-sia. Dia sangat marah. Kemarahannya menutupi mata dan


pikirannya. Apa yang harus ku katakan.


“Kau mau aku mulai dari mana, aku


beri kehormatan kau yang memilih?” Tertawa.


Kehormatan, siapa yang merasa


terhormat menghancurkan keluarganya sendiri!


“Maafkan aku. Maafkan aku.” Daniah


bahkan mengucapkan dengan mulut dan tangan yang gemetar. Dia tidak berani


menggunakan kata panggilan apa pun untuk Saga. Dia mengatupkan kedua tangannya


memohon.


Saga terdengar mengumpat di


tempatnya duduk.


“Naik!”


Kau pikir aku masih berani bergerak


dari sini. Aku pilih berlutut di lantai sambil memohon, dari pada harus naik ke


tempat tidur.


“Naik!” Berteriak keras sambil


melemparkan bantal yang dipakainya untuk bersandar. Daniah gelagapan

__ADS_1


menangkapnya sampai dia mundur ke belakang.


Baiklah, bunuh aku dan bebaskan


keluargaku. Itu sudah cukup!


Daniah menyeret kakinya mendekat tempat


tidur. Memegang bantal yang dilemparkan Saga dalam pelukannya. Dia akan


memakainya sebagai senjata perlindungan jika hal paling mengerikan yang ada


dalam bayangannya terjadi. Dia duduk bersimpuh di pinggir tempat tidur. Jarak


cukup aman yang tidak bisa di jangkau tangan atau kaki saga.


“Kenapa kau duduk di situ. Kalau


aku mendorongmu sedikit saja, kau bisa jatuh kan. Kalau kepalamu membentur lantai


keras itu, pasti sakit sekali.” Menyeringai dengan sedikit dibumbui tawa kecil.


“Mau mencobanya?” Sudah mau menggerakkan tubuh mendekati Daniah.


“Ti..tidak.” Daniah beringsut


mendekat ke tengah. Mendekat ke kaki Saga yang selonjoran. Daniah duduk


bersimpuh dengan bantal berada di bagian dadanya. Dia pegang erat sebagai alat


perlindungan diri.


Kau serius kan mau mendorongku


tadi!


“Katakan!”


Apa! Memang aku tahu apa maumu. Kau


mau aku mengatakan apa?


Saga yang membisu setelah dia


mengucapkan kata katakan. Dia pasti berfikir semua orang seperti seperti


Sekretaris Han yang pahan hanya dengan mendengar dia mendesah saja.


“Katakan kenapa aku harus


mengampunimu.” Tangannya yang mau menuding kening Daniah hanya menyentuh


bantal karena Daniah memakainya untuk menangkis. “Katakan alasannya kenapa kau


sampai berani minum pil kontrasepsi tanpa seizinku!” suaranya sudah memenuhi


seisi kamar. Mungkin saja terdengar sampai lorong dan lantai bawah. Jen atau


Sofi kalau belum tidur juga mungkin akan mendengarnya.


“Aku hanya ingin melindungi


diriku.” Gumam-guman di belakang bantal. Dengan suara rendah, bahkan mungkin


hanya telinganya yang mendengar.


“Katakan dengan jelas! Memang aku


bisa mendengar gumamanmu di balik bantal itu.” Akhirnya tidak sabar Saga


menarik bantal yang dipeluk Daniah, lalu mengembalikannya di balik punggungnya


untuk bersandar. “Katakan sekarang, kenapa aku harus mengampuni dan menerima


permintaan maafmu!”


Keberanian Daniah yang entah muncul dari mana karena ingin mengalahkan teriakan Saga.


“Aku hanya ingin melindungi


diriku!” Sama berteriaknya, mengalahkan suara Saga. Daniah sampai terkejut dengan


suaranya sendiri. Dia menutup mulutnya dengan kedua tangan. “Maaf.”


dosa sebesar itu masih berani berteriak padaku. Aku menyuruhmu bicara dengan


jelas, bukan berteriak!” Suaranya masih menjangkau langit-langit kamar.


“Maaf.” Menundukkan kepalanya


dalam. Dia menarik selimut perlahan, agar menumpuk di depannya, memakainya


sebagai benteng pertahanan terakhir kalau Saga benar-benar akan murka mendengar


alasannya. Kalaupun dia akan dipukul, dia bisa sedikit saja melindungi dirinya.


“Aku hanya ingin melindungi


diriku.” Suara Daniah terdengar jelas walaupun dia bicara dengan menundukkan


kepala karena tidak berani matanya bertatap dengan Saga. Dan walaupun dia


tidak berteriak juga.


Cih, alasan yang sama yang di


katakan Harun. Jomblo itu bagaimana paham betul urusan perempuan. Saga


mendesah, sambil menatap istrinya yang tertunduk.


“Memang apa yang aku lakukan?


Sampai kau perlu melindungi dirimu?” bertanya seringan dia bernafas.


Wahh, kau tidak merasa dirimu itu


menyebalkan ya. Kau kan laki-laki tidak tahu diri di muka bumi ini. Daniah


mendongak, tanpa dia sadari dia menatap Saga dengan jengah.


“Berani memelototiku, sepertinya


kau punya nyawa lebih dari satu ya.”


“Maaf.” Menundukkan kepala lagi.


“Sekarang jelaskan dengan benar.”


Menarik  ujung rambut Daniah yang


menjuntai. “Atau kau tinggal pilih, kuhancurkan dari mana keluargamu.” Melepaskan


rambut yang dia sentuh dengan keras mengenai wajah Daniah. Gadis itu buru-buru


merapikan rambutnya di belakang telinga.


“Karena aku tahu.” Menatap


sebentar Saga, mata mereka bertemu.


“Apa yang kau tahu!”


Memang apa yang otak bodohmu itu tahu. Aku mencintaimu saja kau tidak tahu.


Daniah menatap lututnya sendiri,


menutupinya dengan baju tidur tipisnya. Bagaimana Saga masih memikirkan


menyuruhnya mengganti baju. Bahkan bagian dadanya yang terbuka tidak bisa dia


tutupi dengan apa pun.


“ Aku tahu, kalau hari ini pasti


akan datang, hari di mana kau kembali pada cinta sejatimu. Helena. Semarah


apa pun  kamu, tapi cinta akan selalu


kembali pada tempatnya kan.” Mencengkeram seprei, merasa sakit hati dengan


kalimatnya sendiri. Melihat ke arah Saga, dia tidak bergeming. Bahkan saat

__ADS_1


Daniah menyebut nama Helena.


Carilah pilihan kata yang tidak


memprovokasi Daniah. Begitu otaknya berputar.


“Huh! Kau sedang membual tentang


apa?” menjawab ketus.


Apa membual, jelas-jelas kau


memilih Danau Hijau karena Helen kan.


Kecemburuan kembali memberi energi


pada Daniah, walaupun dia muncul tidak tahu tempatnya. Karena suara Daniah


sudah agak meninggi daripada tadi. Dia bahkan jauh lebih lama menatap Saga.


Yang pasti dengan sorot mata tidak bersahabat.


“Aku tahu sepenting apa Danau


Hijau bagi kalian. Kau dan Helen bertemu di sana kan, kalian juga sepakat


pacaran di sana. Dan aku tahu kau akan melamar dan mengajaknya menikah di sana


juga. Untuk itu kau memilih Danau Hijau, memilih untuk membangunnya seperti


sekarang.” Kemarahan, kebencian dan merasa tidak berdaya ada dalam suara


Daniah.


Saga mendesah, bergumam dalam hati.


Bahwa semua yang dikatakan Daniah benar adanya. Memang untuk itulah dia


membangun Danau Hijau. Dulu, itu tujuan hidupnya. Sebelum dia jatuh cinta pada


istrinya.


“Dan aku melihat semuanya hari


ini!” sudah setengah berteriak.


“Apa!”


“Kau bersama Helen di peresmian


Danau Hijau. Kau mengajaknya kan?” Sudah seperti melemparkan bola panas ke


wajah Saga. “Kau bahkan tidak mengajakku!” Berteriak sambil melemparkan bantal


guling di dekat kaki Saga, tepat mengenai wajah Saga. Dia masih punya energi


cemburu rupanya. “Kau mau menunjukkan apa padaku! Menunjukkan betapa


menyedihkannya aku, wanita yang berstatus istri dan mengharapkan cinta dan


belas kasihmu. Ia, kau mau menunjukkan kalau aku cuma pecundang menyedihkan. Kau


baik padaku, membuatku membuka hati padamu dan menyukaimu pada akhirnya kau


yang mengkhianatiku kan. Dasar jahat!” Entah dari mana keberanian itu. Tapi saat


Saga tidak bereaksi atau membalas kata-katanya. Daniah merasa perlu


melampiaskan semuanya. Dia pikir kalau dia harus mati, dia akan puas kalau dia


sudah menumpahkan semua isi hati dan kemarahannya.


Bodoh! Aku tidak mengajakmu karena


aku tidak mau orang memotretmu. Seluruh negri melihatmu di TV. Memang siapa


mereka berhak melihatmu.


“Apa kau melakukannya tadi?”


Bertanya dengan suara gusar, dijawab tidak kalah gusar oleh Saga. Laki-laki itu


sedang sengaja ikut dalam drama ketegangan yang di ciptakan Daniah. “Melamarnya, dan mengumumkan pada dunia kalau dia calon istrimu. Kau pasti


menggandengnya ke podium pada saat peresmian kan. Ia kan, kau masih mencintainya


kan?” Daniah memukul kaki Saga tanpa dia sadari. “Dan kau pikir aku wanita


sebodoh itu, yang gila sampai aku membiarkan hamil mengandung anakmu.”


Deg, air muka Saga sudah berubah


dari tadi. Ada yang menyengat hatinya. Mendengar Daniah mengatakan semua yang


ingin dia katakan.


Dilihatnya Daniah yang mengelus


dadanya sendiri, menahan sesak yang ia tahan cukup lama. Sekarang perlahan


nafasnya mulai tenang, dia menundukkan kepalanya lagi. Tangannya Mencengkeram


lututnya yang duduk bersimpuh.


“Kalau aku hamil dan melahirkan


anakmu, kau akan mengambilnya, lalu membuangku dan memisahkanku dengannya kan?,


lalu kau menikah dan hidup dengan Helen. Maka aku akan jadi orang yang paling


menderita di sini kan? Hanya aku yang akan menangis sendirian kan. Ia kan.


Menangisi perasaanku padamu. Menangisi rasa sukaku padamu dan menangisi anakku.” Daniah sudah mulai sesenggukan, membayangkan kalau kejadian yang ada di


pikirannya benar-benar terjadi. Dari semua orang hanya dialah yang akan


menangis di sudut ruangan tanpa dipedulikan orang lain. “Karena itu aku tidak


mau ada anak yang lahir, agar aku tidak perlu menangisinya kalau kau


membuangku. Sudah cukup menderita menangisi karena kau membuangku, aku tidak


mau menangis untuk anak juga.”


Terdengar Saga menghela nafas


berat. Membuat Daniah tersadar akan situasi apa yang terjadi.


Aku pasti sudah gila! Bagaimana aku


bisa mengatakan semuanya. Aku bahkan tidak berani mendongak melihat matanya sekarang.


“Kemarilah!” Saga mengulurkan


tangannya.


“Tidak mau! Kau mau memukulku kan?”


Memejamkan mata dan melindungi diri dengan kedua tangan. Ketika tidak ada yang


terjadi Daniah perlahan membuka matanya.


“Aku bilang kemari! Mendekatlah!


Kau sudah berteriak dan bicara ke mana-mana masih takut aku memukulmu.


Seharusnya kau sudah menyiapkan diri untuk itu kan. Mendekat kemari.”


Dia belum berani beranjak. Sudah gila apa


kalau dia benar-benar berani mendekat.


“Aku hitung sampai tiga, kalau


tidak mendekat, habis kau!” Baru menyelesaikan kalimatnya, belum mulai


menghitung Daniah sudah beringsut mendekat. Bersimpuh  tepat di samping Saga. “Kau sedang membuat


drama.” Telunjuknya menunjuk kening Daniah. “Kenapa tidak sekalian kau tulis


novel saja. Bodoh!” Tangan Saga terangkat. Daniah memejamkan matanya lalu

__ADS_1


mengangkat tangannya melindungi wajahnya.


Habislah aku!


__ADS_2