
Daniah masih mematung di depan
tempat tidur. Dia tidak berani membungkukkan badan mengambil hp atau pil
kontrasepsi di dekat kakinya. Matanya beralih mengikuti langkah kaki Saga,
laki-laki itu melepaskan sandal dengan kasar lalu naik ke atas tempat tidur.
Meraih bantal dan memakainya untuk bersandar. Meluruskan kakinya sambil memberi
sorot mata membunuh pada Daniah.
“Nyalimu besar sekali ya!” Daniah
semakin menciut di tempatnya berdiri. Tidak bergerak sedikit pun, dia bahkan
menarik nafas pelan tanpa menimbulkan suara.
Apa aku pura-pura mati saja ya,
tidak, pura-pura pingsan saja. Tapi kalau dia menyiramku atau menginjak kakiku
aku pasti menjerit.
Saat ini gadis itu kembali
menundukkan kepala, menatap pil kontrasepsi di dekat kakinya. Ya, dia sangat
berani, pertama kalinya memutuskan untuk minum pil kontrasepsi sebenarnya ia pun
dihantui ketakutan kalau sampai ketahuan. Namun ketakutan untuk mengandung
anak Saga jauh lebih menakutkan dari pada ketahuan seperti sekarang. Tapi, saat
ada di posisi ini, sungguh Daniah menyesali telah menelan pil itu.
Seharusnya aku lebih takut padanya
dari pada pada kehamilan.
“Katakan, sejak kapan kau
meminumnya?” Suara dan wajahnya masih sangat dingin bertanya. Seperti menumpahkan
semua kekesalannya.
Tidak, kalau aku menjawab, dia akan
semakin menggila.
“Hei, kau anggap aku sedang main-main
sekarang!” Sudah mulai berteriak dari tempatnya duduknya bersandar. Dia menekuk
kakinya, merubah posisi. Daniah terlonjak mendengar suara keras Saga. Dia
mengatupkan tangannya di depan dada yang mulai gemetar.
Kemarahannya ada di level
mematikan, bagaimana ini?
“Sejak kau menyuruhku tidur di
tempat tidur.” Mendongak sebentar, lalu kembali menundukkan kepala.
“Wahhh, wahhh, luar biasa, kau
sudah mengantisipasinya dari awal ya.” Sinis menghujam, tidak memberi
kesempatan Daniah sedikit saja bernafas. Itu artinya sejak pertama kali Saga
meminta Daniah tidur di atas tempat tidur, walaupun itu masih jauh dari mereka
melakukan hubungan badan.
Sepertinya kau benar-benar tidak
mau mengandung anakku ya. Geram Saga ketika memikirkan kapan waktu tepatnya
itu. Karena kejadian itu masih teringat jelas di kepalanya.
“Maaf kan aku.” Lirih, bahkan
terdengar seperti gumaman. Masih menatap lantai dan kakinya sendiri.
“Maaf, kau pikir cukup dengan
minta maaf.” Kembali menghardik dengan suara keras. “Kau tahu seberapa besar
kesalahanmu padaku sekarang. Bahkan
menghukummu saja tidak bisa mengampuni kesalahan dan pengkhianatanmu ini.”
Pengkhianatan! Memang apa yang kulakukan,
apa aku selingkuh.
Tapi nyatanya Daniah tetap gemetar
dan tidak bisa menjawab apa-apa.
“Aku akan mengambil alih perusahaan
ayahmu lalu menghancurkannya tanpa sisa. Menendang adik laki-lakimu dari tempatnya
magang sekarang, memasukannya dalam daftar hitam Antarna Group. Dia bahkan
tidak akan punya tempat untuk bernafas di kota ini, dan adik perempuanmu,
jangan mimpi bisa menginjakan kaki di dunia entertainment lagi. Itu baru
setimpal menebus kesalahanmu hari ini.”
Tubuh Daniah lunglai, dia sekuat
tenaga menjaga kakinya tetap berdiri. Bahkan kakinya sampai bertumpu pada
pinggiran tempat tidur, supaya dia tetap berdiri dengan tegak. Keringat dingin
mulai keluar di telapak tangannya. Membayangkan semua yang Saga katakan akan
terealisasi semudah dia membalikan telapak tangan.
Bagaimana ini, aku berlutut dan
menangis pun pasti sia-sia. Dia sangat marah. Kemarahannya menutupi mata dan
pikirannya. Apa yang harus ku katakan.
“Kau mau aku mulai dari mana, aku
beri kehormatan kau yang memilih?” Tertawa.
Kehormatan, siapa yang merasa
terhormat menghancurkan keluarganya sendiri!
“Maafkan aku. Maafkan aku.” Daniah
bahkan mengucapkan dengan mulut dan tangan yang gemetar. Dia tidak berani
menggunakan kata panggilan apa pun untuk Saga. Dia mengatupkan kedua tangannya
memohon.
Saga terdengar mengumpat di
tempatnya duduk.
“Naik!”
Kau pikir aku masih berani bergerak
dari sini. Aku pilih berlutut di lantai sambil memohon, dari pada harus naik ke
tempat tidur.
“Naik!” Berteriak keras sambil
melemparkan bantal yang dipakainya untuk bersandar. Daniah gelagapan
__ADS_1
menangkapnya sampai dia mundur ke belakang.
Baiklah, bunuh aku dan bebaskan
keluargaku. Itu sudah cukup!
Daniah menyeret kakinya mendekat tempat
tidur. Memegang bantal yang dilemparkan Saga dalam pelukannya. Dia akan
memakainya sebagai senjata perlindungan jika hal paling mengerikan yang ada
dalam bayangannya terjadi. Dia duduk bersimpuh di pinggir tempat tidur. Jarak
cukup aman yang tidak bisa di jangkau tangan atau kaki saga.
“Kenapa kau duduk di situ. Kalau
aku mendorongmu sedikit saja, kau bisa jatuh kan. Kalau kepalamu membentur lantai
keras itu, pasti sakit sekali.” Menyeringai dengan sedikit dibumbui tawa kecil.
“Mau mencobanya?” Sudah mau menggerakkan tubuh mendekati Daniah.
“Ti..tidak.” Daniah beringsut
mendekat ke tengah. Mendekat ke kaki Saga yang selonjoran. Daniah duduk
bersimpuh dengan bantal berada di bagian dadanya. Dia pegang erat sebagai alat
perlindungan diri.
Kau serius kan mau mendorongku
tadi!
“Katakan!”
Apa! Memang aku tahu apa maumu. Kau
mau aku mengatakan apa?
Saga yang membisu setelah dia
mengucapkan kata katakan. Dia pasti berfikir semua orang seperti seperti
Sekretaris Han yang pahan hanya dengan mendengar dia mendesah saja.
“Katakan kenapa aku harus
mengampunimu.” Tangannya yang mau menuding kening Daniah hanya menyentuh
bantal karena Daniah memakainya untuk menangkis. “Katakan alasannya kenapa kau
sampai berani minum pil kontrasepsi tanpa seizinku!” suaranya sudah memenuhi
seisi kamar. Mungkin saja terdengar sampai lorong dan lantai bawah. Jen atau
Sofi kalau belum tidur juga mungkin akan mendengarnya.
“Aku hanya ingin melindungi
diriku.” Gumam-guman di belakang bantal. Dengan suara rendah, bahkan mungkin
hanya telinganya yang mendengar.
“Katakan dengan jelas! Memang aku
bisa mendengar gumamanmu di balik bantal itu.” Akhirnya tidak sabar Saga
menarik bantal yang dipeluk Daniah, lalu mengembalikannya di balik punggungnya
untuk bersandar. “Katakan sekarang, kenapa aku harus mengampuni dan menerima
permintaan maafmu!”
Keberanian Daniah yang entah muncul dari mana karena ingin mengalahkan teriakan Saga.
“Aku hanya ingin melindungi
diriku!” Sama berteriaknya, mengalahkan suara Saga. Daniah sampai terkejut dengan
suaranya sendiri. Dia menutup mulutnya dengan kedua tangan. “Maaf.”
dosa sebesar itu masih berani berteriak padaku. Aku menyuruhmu bicara dengan
jelas, bukan berteriak!” Suaranya masih menjangkau langit-langit kamar.
“Maaf.” Menundukkan kepalanya
dalam. Dia menarik selimut perlahan, agar menumpuk di depannya, memakainya
sebagai benteng pertahanan terakhir kalau Saga benar-benar akan murka mendengar
alasannya. Kalaupun dia akan dipukul, dia bisa sedikit saja melindungi dirinya.
“Aku hanya ingin melindungi
diriku.” Suara Daniah terdengar jelas walaupun dia bicara dengan menundukkan
kepala karena tidak berani matanya bertatap dengan Saga. Dan walaupun dia
tidak berteriak juga.
Cih, alasan yang sama yang di
katakan Harun. Jomblo itu bagaimana paham betul urusan perempuan. Saga
mendesah, sambil menatap istrinya yang tertunduk.
“Memang apa yang aku lakukan?
Sampai kau perlu melindungi dirimu?” bertanya seringan dia bernafas.
Wahh, kau tidak merasa dirimu itu
menyebalkan ya. Kau kan laki-laki tidak tahu diri di muka bumi ini. Daniah
mendongak, tanpa dia sadari dia menatap Saga dengan jengah.
“Berani memelototiku, sepertinya
kau punya nyawa lebih dari satu ya.”
“Maaf.” Menundukkan kepala lagi.
“Sekarang jelaskan dengan benar.”
Menarik ujung rambut Daniah yang
menjuntai. “Atau kau tinggal pilih, kuhancurkan dari mana keluargamu.” Melepaskan
rambut yang dia sentuh dengan keras mengenai wajah Daniah. Gadis itu buru-buru
merapikan rambutnya di belakang telinga.
“Karena aku tahu.” Menatap
sebentar Saga, mata mereka bertemu.
“Apa yang kau tahu!”
Memang apa yang otak bodohmu itu tahu. Aku mencintaimu saja kau tidak tahu.
Daniah menatap lututnya sendiri,
menutupinya dengan baju tidur tipisnya. Bagaimana Saga masih memikirkan
menyuruhnya mengganti baju. Bahkan bagian dadanya yang terbuka tidak bisa dia
tutupi dengan apa pun.
“ Aku tahu, kalau hari ini pasti
akan datang, hari di mana kau kembali pada cinta sejatimu. Helena. Semarah
apa pun kamu, tapi cinta akan selalu
kembali pada tempatnya kan.” Mencengkeram seprei, merasa sakit hati dengan
kalimatnya sendiri. Melihat ke arah Saga, dia tidak bergeming. Bahkan saat
__ADS_1
Daniah menyebut nama Helena.
Carilah pilihan kata yang tidak
memprovokasi Daniah. Begitu otaknya berputar.
“Huh! Kau sedang membual tentang
apa?” menjawab ketus.
Apa membual, jelas-jelas kau
memilih Danau Hijau karena Helen kan.
Kecemburuan kembali memberi energi
pada Daniah, walaupun dia muncul tidak tahu tempatnya. Karena suara Daniah
sudah agak meninggi daripada tadi. Dia bahkan jauh lebih lama menatap Saga.
Yang pasti dengan sorot mata tidak bersahabat.
“Aku tahu sepenting apa Danau
Hijau bagi kalian. Kau dan Helen bertemu di sana kan, kalian juga sepakat
pacaran di sana. Dan aku tahu kau akan melamar dan mengajaknya menikah di sana
juga. Untuk itu kau memilih Danau Hijau, memilih untuk membangunnya seperti
sekarang.” Kemarahan, kebencian dan merasa tidak berdaya ada dalam suara
Daniah.
Saga mendesah, bergumam dalam hati.
Bahwa semua yang dikatakan Daniah benar adanya. Memang untuk itulah dia
membangun Danau Hijau. Dulu, itu tujuan hidupnya. Sebelum dia jatuh cinta pada
istrinya.
“Dan aku melihat semuanya hari
ini!” sudah setengah berteriak.
“Apa!”
“Kau bersama Helen di peresmian
Danau Hijau. Kau mengajaknya kan?” Sudah seperti melemparkan bola panas ke
wajah Saga. “Kau bahkan tidak mengajakku!” Berteriak sambil melemparkan bantal
guling di dekat kaki Saga, tepat mengenai wajah Saga. Dia masih punya energi
cemburu rupanya. “Kau mau menunjukkan apa padaku! Menunjukkan betapa
menyedihkannya aku, wanita yang berstatus istri dan mengharapkan cinta dan
belas kasihmu. Ia, kau mau menunjukkan kalau aku cuma pecundang menyedihkan. Kau
baik padaku, membuatku membuka hati padamu dan menyukaimu pada akhirnya kau
yang mengkhianatiku kan. Dasar jahat!” Entah dari mana keberanian itu. Tapi saat
Saga tidak bereaksi atau membalas kata-katanya. Daniah merasa perlu
melampiaskan semuanya. Dia pikir kalau dia harus mati, dia akan puas kalau dia
sudah menumpahkan semua isi hati dan kemarahannya.
Bodoh! Aku tidak mengajakmu karena
aku tidak mau orang memotretmu. Seluruh negri melihatmu di TV. Memang siapa
mereka berhak melihatmu.
“Apa kau melakukannya tadi?”
Bertanya dengan suara gusar, dijawab tidak kalah gusar oleh Saga. Laki-laki itu
sedang sengaja ikut dalam drama ketegangan yang di ciptakan Daniah. “Melamarnya, dan mengumumkan pada dunia kalau dia calon istrimu. Kau pasti
menggandengnya ke podium pada saat peresmian kan. Ia kan, kau masih mencintainya
kan?” Daniah memukul kaki Saga tanpa dia sadari. “Dan kau pikir aku wanita
sebodoh itu, yang gila sampai aku membiarkan hamil mengandung anakmu.”
Deg, air muka Saga sudah berubah
dari tadi. Ada yang menyengat hatinya. Mendengar Daniah mengatakan semua yang
ingin dia katakan.
Dilihatnya Daniah yang mengelus
dadanya sendiri, menahan sesak yang ia tahan cukup lama. Sekarang perlahan
nafasnya mulai tenang, dia menundukkan kepalanya lagi. Tangannya Mencengkeram
lututnya yang duduk bersimpuh.
“Kalau aku hamil dan melahirkan
anakmu, kau akan mengambilnya, lalu membuangku dan memisahkanku dengannya kan?,
lalu kau menikah dan hidup dengan Helen. Maka aku akan jadi orang yang paling
menderita di sini kan? Hanya aku yang akan menangis sendirian kan. Ia kan.
Menangisi perasaanku padamu. Menangisi rasa sukaku padamu dan menangisi anakku.” Daniah sudah mulai sesenggukan, membayangkan kalau kejadian yang ada di
pikirannya benar-benar terjadi. Dari semua orang hanya dialah yang akan
menangis di sudut ruangan tanpa dipedulikan orang lain. “Karena itu aku tidak
mau ada anak yang lahir, agar aku tidak perlu menangisinya kalau kau
membuangku. Sudah cukup menderita menangisi karena kau membuangku, aku tidak
mau menangis untuk anak juga.”
Terdengar Saga menghela nafas
berat. Membuat Daniah tersadar akan situasi apa yang terjadi.
Aku pasti sudah gila! Bagaimana aku
bisa mengatakan semuanya. Aku bahkan tidak berani mendongak melihat matanya sekarang.
“Kemarilah!” Saga mengulurkan
tangannya.
“Tidak mau! Kau mau memukulku kan?”
Memejamkan mata dan melindungi diri dengan kedua tangan. Ketika tidak ada yang
terjadi Daniah perlahan membuka matanya.
“Aku bilang kemari! Mendekatlah!
Kau sudah berteriak dan bicara ke mana-mana masih takut aku memukulmu.
Seharusnya kau sudah menyiapkan diri untuk itu kan. Mendekat kemari.”
Dia belum berani beranjak. Sudah gila apa
kalau dia benar-benar berani mendekat.
“Aku hitung sampai tiga, kalau
tidak mendekat, habis kau!” Baru menyelesaikan kalimatnya, belum mulai
menghitung Daniah sudah beringsut mendekat. Bersimpuh tepat di samping Saga. “Kau sedang membuat
drama.” Telunjuknya menunjuk kening Daniah. “Kenapa tidak sekalian kau tulis
novel saja. Bodoh!” Tangan Saga terangkat. Daniah memejamkan matanya lalu
__ADS_1
mengangkat tangannya melindungi wajahnya.
Habislah aku!