Terpaksa Menikahi Tuan Muda

Terpaksa Menikahi Tuan Muda
80. Hari Yang Melelahkan


__ADS_3

Memulai hari setelah akhir pekan yang melelahkan. Seharusnya akhir pekan jadi ajang bersantai dan mengendurkan saraf, tapi bagi Daniah akhir pekannya harus dii sini dengan penuh perjuangan. Menggenggam kemudi dengan erat. Gemetar-gemetar karena kesal.


Jangan dipikirkan! Jangan diingat! Lupakan! Lupakan! Tuan Saga hanya ingin menindasmu Daniah, jaga jarak hatimu sejauh mungkin darinya. Oh ya, tadi pagi aku sudah mengirim pesan pada Helen, tapi kenapa dia belum membalas ya. Dia hanya mengerjaimu Daniah, walaupun kadang senyumnya tulus, tapi tidak mungkin dia setulus itu padamu.


Melajukan kemudi lagi. Selesai menyelesaikan kelas memijat, Daniah menyempatkan mampir membeli makan siang dan minuman untuk karyawannya. Dia mampir ke minimarket juga membeli buah dan aneka camilan. Lalu dia kembali ke rukonya. Daniah menyerahkan kunci mobil dan meminta karyawannya mengambil belanjaan, sementara dia naik ke lantai dua dan ambruk di tempat tidur.


“Nyaman sekali!” Berteriak keras sambil merebahkan diri terlentang menatap langit-langit kamar.


Sebenarnya apa yang terjadi padaku si, coba berfikir Daniah. Pakai otakmu yang bodoh ini untuk berfikir sebentar saja. Kita mulai dari mana ya? Aaaa, aku bingung harus membeberkan dari mana.


Terdengar langkah kaki menaiki tangga.


“Mbak Niah mau makan apa?” Tika muncul.


“Aku minta jus aja Tika, jus sirsak ya.” Masih menjawab sambil terlentang di tempat tidur.


“Aku ambilkan ya, mau roti juga nggak, kalau nggak mau makan nasi, makan roti aja ya.” Menawarkan lagi.


“Hemm, boleh deh.”


Tidak lama Tika sudah muncul dengan apa yang diminta Daniah tadi. Dia juga membawa piring dan makanannya sendiri. Segelas jus jeruk peras. Tika menarik meja kecil lalu meletakan makanan milik Daniah di atasnya.


“Capek ya Mbak?”


“Lumayan. Baru dari sekolah memijat tadi, pokoknya aku hormat sama tukang urut dan pijat profesional Tika. Mereka itu luar biasa.” Daniah duduk meminum jusnya dan makan roti yang dia beli tadi di mini market.


“Kenapa Mbak Niah musti belajar pijat, bukannya bisa panggil tukang pijat profesional kalau Tuan Saga mau dipijat.” Orang normal seperti Tika pasti akan bicara begini kan, begitu gumam Daniah.


“Karena dia tidak mau di sentuh sembarangan orang.” Tangannya terkepal, membayangkan wajah Saga di depannya. Dia garuk dengan kukunya keras-keras. Mengusir jengkel. “Tidak suka di sentuh tapi mau aku menggerayanginya tiap malam.” Daniah menutup mulutnya. Dia telah melakukan perbuatan tercela, karena bicara dengan seorang jomblo sejati. lebih-lebih arah pembicaraannya menjurus. Tika malah tertawa. aku tidak sepolos itu Mbak. Begitu pikir Tika.


“Waahh, berarti dia cuma mau di sentuh sama Mbak Niah ya. Ih so sweet ya.”


So sweet apaan, ini nggak ada manis-manisnya tahu, lebih manis jus sirsak ini. Dia begitu kan memang cuma ingin mengerjai, memanfaatkan tenaga yang sudah dia beri makan. So sweet dari mananya.


“Mbak Niah beruntung sekali ya, bisa menikah dengan Tuan Saga. Mau apa aja pasti dikasih.”


Nggak Tika, nggak gitu. Hidupku nggak sebahagia itu kali.


Daniah menangis dalam hati.


“Hehe, Tika kalau kamu menikah nanti yang paling penting adalah, kamu harus menikah dengan suami yang mencintai kamu ya. Mau dia seperti apa yang penting dia mencintaimu. Nanti juga kan kalian akan berjuang sama-sama.”

__ADS_1


Tika cengengesan, Daniah mengernyit.


“Cieee seperti Mbak Niah ya. Hehe. Aku iri deh, Tuan Saga pasti sayang banget sama Mbak Niah ya.”


Tidak begitu Tika, aku ingin cerita padamu. Tapi jiwa polosmu pada dunia ini tidak akan mampu menerimanya. Aku tidak mau kamu syok nantinya.


Menggigit sedotannya sendiri sampai penyok.


...***...


Setelah rekap barang di toko selesai Daniah memilih untuk pulang. Belum ada info kalau Tuan Saga akan pulang cepat. Tapi dia memilih pulang. Dia ingin mandi air dingin lalu tidur nyaman di kasur yang empuk di kamar. Bersantai meluruskan saraf.


“Mbak pulang duluan ya, terimakasih kerja keras kalian ya. Dua hari lagi gajian ya. Hehe.” Daniah tertawa sambil berpamitan.


“Hore!” Anak-anak berteriak girang. “ Makasih ya Mbak makanan sama camilannya, Mbak Niah pulang dan istirahat aja. Di sini kami yang bereskan.”


“Makasih semuanya, aku sayang kalian.”


Daniah pamit pulang, dia melajukan kendaraannya sambil lamunannya berlarian ke mana-mana.


Tuan saga menikahiku karena aku itu jelek dan kampungan. Wajahku yang seperti ini ingin dia pakai sebagai senjata untuk membuat Helen cemburu. Dan ini berhasil, Helen cemburu, dan pulang ke tanah air. Dia ingin kembali kepada Tuan Saga. Tapi masalahnya kenapa


Dan masalahnya lagi, kenapa dia senang sekali meniduriku sekarang. Hiks, hiks. Tunggu, bukankah aku bisa menolaknya.


“Aku akan menghancurkan keluargamu tanpa sisa.”


Kenapa aku selalu kalah dengan ancaman mengerikan itu.


...***...


Kediaman keluarga Saga Rahardian.


“Ibu, berhentilah Bu. Aku tidak mau ikut-ikut.” Jenika ngotot, Sofia di sampingnya hanya manut apa yang diucapkan kakaknya. “Kak Helen sudah tidak punya kesempatan lagi.”


“Siapa bilang.” Ibu tersenyum jahat. “Dia punya senjata yang bisa dipakai untuk menjatuhkan wanita itu.” Sekarang ibu tertawa. “Ibu tidak rela kalau keturunan kita harus dilahirkan dari wanita tidak sederajat itu.”


“Ibu, tapi Kak Saga mencintai kakak ipar.” Jenika berusaha membeberkan fakta yang tidak bisa dibantah itu.


“Ibu yang akan membuat Saga mengusir wanita itu.” Ibu sangat percaya diri rupanya, tidak tahu bukti apa yang dibawa Helen, tapi gadis itu berhasil meyakinkannya untuk menjatuhkan Daniah.


“Aku tidak mau ikut-ikut rencana ibu. Kalau kak Saga marah jangan bawa-bawa kami.” Jenika dan Sofia mengangguk pasti.

__ADS_1


Mereka keluar dari kamar, saat ini kalau mereka sedang bicara jauh lebih aman bicara di dalam kamar. Pak Mun selalu berkeliaran di mana-mana membuat orang jantungan saja. Saat mereka menuruni tangga Pak Mun juga berjalan naik. Dia berhenti di hadapan ibu.


“Nyonya ada Nona Helena di gerbang utama, apa Anda mengundangnya,” tanyanya sopan.


“Apa! Kenapa tidak membiarkannya masuk. Pak Mun, memang kamu tidak tahu siapa Helena?” Ibu berteriak marah dengan kekurangajaran Pak Mun yang mencegat Helena di gerbang utama.


“Maaf Nyonya, ini perintah dari Sekretaris Han, untuk melarang Nona Helena masuk. Kecuali jika dia datang karena undangan Anda.”


Apa! Sekretaris kurang ajar itu benar-benar. Bahkan kekuasaannya melebihi di atasku.


“Biarkan dia masuk.”


Tidak lama Helena sudah muncul di antar Pak Mun, setelah melepas kaca mata hitamnya, terlihat matanya yang bengkak dan sembab. Ibu memerintahkan Pak Mun untuk pergi, laki-laki itu hanya menganggukkan kepala.


“Ibu, aku tidak mau ikut-ikut ya. Aku sudah menasehati Ibu, kalau Kak Saga marah ibu tanggung sendiri ya.” Jenika mulai mengancam lagi di hadapan Helena. Gadis itu bingung meminta penjelasan.


“Pergi kalian berdua! Jangan urusi mereka. Ayo kita bicara di kamar Ibu. Di sini banyak mata dan telinga.” Ibu menarik tangan Helena untuk mengikutinya. Tertinggal dua wanita yang menatap kepergian mereka dengan kesal.


“Kenapa ibu nekat sekali si.”


“Memang apa salahnya dengan kakak ipar. Ya, dia memang nggak cantik-cantik amat si, nggak kaya juga, nggak modis juga, apalagi rambutnya.” Jenika tertawa mendengar kalimatnya.


“Kak, kamu menghina kakak ipar.” Sofia menyenggol lengan Jenika.


“Siapa yang menghina kakak ipar, memang aku sudah gila. Aku sedang memujinya. Walaupun dia mempunyai kecantikan yang dibawah standar internasional, tapi dia bisa menaklukan hati Kak Saga. Lantas apa yang kurang lagi dengannya.”


“Ya, itulah satu-satunya kelebihannya. Bisa membuat Kak saga jatuh hati padanya.” Sofia bangga sudah menemukan fakta yang luar biasa. "Kelebihan kakak ipar itu cuma satu, dia nggak punya kelebihan apa-apa. Wkwkwk." Kedua adik ipar tertawa.


“Apa yang sedang kalian lakukan?” Daniah muncul dari belakang mengagetkan mereka berdua.  Jenika menoleh.


“Kakak ipar ayo ikut kami bersenang-senang, di rumah ini sedang ada tamu tidak diharapkan.” Jenika mendekat, membisikan sesuatu di telinga Sofia. Lalu gadis itu sudah berlari menaiki tangga.


“Siapa?”


“Tidak penting, ayo kita pergi.” Jenika menyeret lengan Daniah yang masih bingung. Dengan badan setinggi Jenika menyeret Daniah bukanlah perkara susah.


“Hei, kamu mau membawaku ke mana. Aku nggak mau pergi! Aku mau mandi air dingin dan tidur! Lepaskan aku Jen. Lepaskan aku!”


Jenika tidak menggubris, mendorong Daniah masuk ke dalam mobil. Sofia berlari membawa dua tas langsung masuk dan duduk di belakang. Jenika langsung tancap gas tidak perduli teriakan kakak iparnya.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2