Terpaksa Menikahi Tuan Muda

Terpaksa Menikahi Tuan Muda
Bulan Madu (Part 12)


__ADS_3

Jamuan makan siang sudah di mulai.


Saga sudah terlihat gelisah dan mulai mengacuhkan orang-orang yang ingin


menyapanya. Tapi dia masih terlihat bisa menahan diri untuk tetap berada di


ruangan perjamuan. Han yang duduk tidak jauh dari mejanya sudah melihat


ketidaknyamanan tuannya. Dia terlihat mengutuk Ken yang masih bisa tertawa


sepuas itu sambil memamerkan kedekatannya dengan tuan Saga.


Han terlihat bangun dari tempat


duduknya, ia hanya menyentuh makanan sekenanya. Jamuan mewah itu tidak terlalu


sesuai dengan seleranya. Beberapa orang  terlihat ingin mendekati dan menyapanya namun


saat dia mengangkat tangannya. Orang-orang itupun tahu bagaimana harus


bersikap. Mereka menjauh dengan tertib. Bukan rahasia lagi, kalau orang nomor


dua di Antarna Group sama sulitnya di dekati di banding dengan presdirnya.


Han berjalan menuju sebuah sudut


ruangan. Tempat di mana dia bisa mengawasi seisi ruangan sekaligus memeriksa


hpnya. Wajahnya langsung berubah saat melihat pesan masuk yang baru dia terima.


“ Nona muda bertemu dengan laki-laki teman


SMUnya. Sepertinya hubungannya tidak terlihat baik.”


Ketika sebuah foto masuk. Han sudah


tidak bisa menyembunyikan perubahan mimik kesal wajahnya. Dia mengenali siapa


laki-laki yang ada di dalam foto itu. Bukan salah satu dari ketiga mantan


kekasih nona mudanya. Tapi pria kurang ajar yang punya kenangan buruk dengan


nona mudanya. Kisah SMU ini dia simpan sendiri. Saat menjelaskan tentang


riwayat kehidupan Daniah pada Sagapun dia tidak menyebutkannya. Berharap Daniah


tidak akan pernah berurusan dengannya suatu hari nanti. Karena setelah


memeriksa dia benar-benar menyimpulkan bahwa lelaki itu tidak penting di


hadapan nonanya sekalipun.


Sial! Kenapa bertemu di waktu


seperti ini. Seharusnya aku membereskannya tanpa tuan muda tahu. Cih, kalau


sekarang tidak mungkin bisa menyembunyikannya.  Yang aku kuatirkan  selama ini


hanya ketiga mantannya, dan mereka sekalipun tidak pernah berpapasan. Malah


bocah kurang ajar ini yang muncul.


Dengan tenang Han meninggalkan ruangan


untuk menelfon. Memberikan instruksi pada semua tim keamanan Antarna Group yang


berada di dalam pulau untuk menuju lokasi. Menyiapkan helikopter Yang akan


membawa Saga dalam sekejap ke pulau XX. Kalau Tuan Saga sampai datang terlambat


sedikit saja, dia tahu diapun  mungkin tidak


akan bisa menenangkan tuan Saga. Apalagi jika sesuatu terjadi pada nona Daniah.


Dan semua akan diluar kendali kalau


nona sampai kenapa-kenapa. Arandita, semoga kau bisa bekerja dengan benar kali


ini.


***


Daniah sudah benar-benar terpojok.


Dia mengangkat kedua tangan melindungi dirinya.


Apa dia mau memukulku! Tuan Saga!


“ Kak Haksan kendalikan dirimu!”


Berteriak keras. Hatinya mulai sedikit gentar. Dia bisa melihat kemarahan di mata


Haksan. Semua sudah diluar kendalinya. Kafenya juga sudah porak poranda. Mata


Daniah masih sempat berkeliling mencari di mana Aran. “Jangan sentuh temanku!”


Melihat Aran terduduk tidak berdaya Daniah semakin panik dan merasa bersalah.


“ Niah, ini semua salahmu. Kalau


kau menurut semua pasti baik-baik saja. Padahal aku hanya ingin mengobrol saja


denganmu. Kau masih ingatkan saat kencan pertama kita kau mengerjaiku


habis-habisan, setidaknya bayarlah hutangmu untuk waktu itu padaku.” Daniah


langsung menepis tangan Haksan dengan keras, saat laki-laki itu ingin menyentuh


pipinya.


Daniah mendorong tubuh tinggi


Haksan, laki-laki itu tertawa karena dia sama sekali tidak bergeming.


“ Kau gila kak! Aku sudah menikah.


Kalau sampai suamiku tahu, kau bisa mati.” Haksan masih dengan tidak tau malu


berusaha meraih ujung rambut Daniah.


Aku juga! Aku juga pasti mati,


paling tidak kebebasan yang sedang aku perjuangkan.


“ Haha, suamimu? sepertinya orang yang menakutkan.


Aktingmu meyakinkan sekali Niah, aku sampai gemetar dan mengira kau benar-benar istri


tuan Saga.” Tawanya mengema sekaligus badan yang dia buat seakan gemetar


ketakutan. Sementara itu wajah Daniah terlihat berubah. Sekelebat dia terlihat senang,


tapi sedetik kemudian wajahnya sudah pias. Melihat seseorang di balik punggung


Haksan. Dan Laki-laki di depannya ini sama sekali tidak menyadari.

__ADS_1


Aku tidak menyadari kalau suasana


sudah setenang ini.


Mata Daniah menyisir ruangan, anak


buah Haksan sudah terjatuh di lantai semua. Dan tim kemanan Antarna Group ada


di dekat mereka, bukan hanya dua pengawal yang tadi mengikutinya.


“ Sayang!” Bahagia namun takut yang


menjalar. Saat pandangan mata Daniah bertemu dengan mata sekertaris Han


laki-laki itu bahkan jauh lebih berkobar seluruh tubuhnya dengan amarah.


Kenapa kau bahkan lebih menakutkan


dari pada tuan Saga si.


“ Haha, sayang. Kau memanggilku


sayang.”


“ Bukan!” Secepat kilat menjawab


saat melihat mata membunuh milik Saga. “Sayang !” Bibir Daniah bahkan gemetar


karena takut dengan pangilannya pada suaminya sendiri. Sekarang dia berharap yang muncul di hadapannya bukan benar-benar


suaminya.


Haksan masih terdengar bisa


tertawa, tidak tahu apa yang merasuki. Kebodohan apa di kepalanya sampai tidak


menyadari sekelilingnya sudah senyap sedari tadi. Mungkin karena antusiasnya


berada di depan Daniah dan merasa dia berada di atas angin membuatnya dibutakaan


keadaan di sekitarnya.


“ Kau mencari tuan Saga suamimu.”


Kata-katanya dibumbui seringai dan tawa tipis, tangan Haksanpun benar-benar


menyentuh rambut Daniah. Gadis itu sampai terlonjak kaget dan mendorong tubuh


Haksan kuat.


Kau sudah gila ya!


“ Padahal kau tahu siapa suaminya.


Berani sekali kau masih berdiri di dekat istriku!” Suara Saga sudah terdengar


seperti bilahan pisau yang bukan hanya mengores tubuh Haksan, tapi juga akan


melukai Daniah. Mendengar sebuah suara di belakang punggungnya Haksan mulai


membeku. Dia mulai terjaga kalau suasana hening di sekelilingnya.


Haksan berbalik cepat, melihat


situasi. Anak buahnya sudah babak belur dan tergolek di lantai. Di belakang


mereka sudah berdiri orang-orang yang tidak tahu dari mana asalnya. Dan yang


harus dia kuatirkan adalah orang yang sedang berdiri tidak jauh di belakangnya.


terkulai lemas. Semua alat indranya menyuruhnya segera duduk berlutut.


Niah benar-benar istri tuan Saga.


“ Sayang. “ Daniah langsung


setengah berlari mendekati suaminya. “ Terimakasih sudah datang.”


Ayo pergi dari sini. Hanya itu isi


kepala Daniah sekarang, kalau tidak, tidak tahu apa yang akan terjadi kemudian.


“ Kau tidak apa-apa.” Menyentuh


ujung rambut Daniah lalu meremas rambut itu dengan tangannya. Tempat di mana


tadi Haksan meletakan tangannya. Daniah mulai merasakan takut saat menyadari


apa yang dilakukan Saga dan karena alasannya apa.


“ Sayang aku.” Menyentuh tangan


Saga yang masih meremas ujung rambutnya. Kata-katanya terhenti yang ingin


memberi penjelasan.


Kalau aku tidak bicara mungkin


benar-benar akan terjadi pertumpahan darah. Dia melihat kak Haksan menyentuh


rambutkukan tadi. Makanya dia begini.


Ketakutan itu harus ditahan. Daniah


meraih tangan Saga walaupun tangannya sendiri bergetar. “Sayang.”


“ Han.” Suara Saga yang bicara


terdengar memenuhi ruangan. Karena semua orang diam membisu.


“ Ia tuan muda.” Han mendekat


beberapa langkah.


“ Bawa Daniah ke ruangan lain.”


Tangan Daniah semakin bergetar Saat


Saga melepaskan gengamannya. Bahkan laki-laki itu tidak memandangnya saat


bicara. Matanya tertuju pada Haksan yang sedang berlutut gemetar di lantai.


Daniah mendengar sekertaris Han memanggil Aran untuk mendekat.


“ Sayang, aku tidak apa-apa.


Kumohon.” Membawa Saga keluar dari kafe ini adalah pilihan utama.


Apa aku pura-pura pingsan saja


supaya tidak terjadi pertumpahan darah.


“ Hentikan! Kalau sedikit saja kau


membelanya, aku pastikan kau akan lebih menyesal nanti.” Daniah langsung

__ADS_1


mengunci rapat mulutnya. Tahu maksud pembicaraan Saga.  Aran sudah berdiri di sampingnya. Dia tahu


gadis itu terluka, tapi dia masih bisa berdiri tegak.


“ Nona ayo kita pergi.” Aran


melihat kemarahan yang meluap-luap di mata tuan Saga. Tapi tangan yang dia


pegang masih membeku. Dia tahu kalau nona Daniah sedang sangat mengkuatirkan


laki-laki yang sudah berlutut itu. Pasti dia sedang menebak apa yang akan


terjadi padanya kalau sampai dia pergi.


“ Sayang aku mohon.” Daniah masih bersikeras


berdiri di tempatnya.


Aku benar-benar tidak kuatir


padanya sayang. Aku hanya tidak mau kau melakukan hal di luar kendali.


“ Jangan membuatku mengulangi


kata-kataku. Bawa Daniah keruangan lain!” Aran terlonjak ketika kata-kata itu


tertuju untuknya. Dia gagap menjawab dan mengangukan kepala.


“ Ba, baik tuan.”


Pasrah Daniah menyeret kakinya


beberapa langkah, tapi dia kemudian berbalik cepat.


Kalau aku pergi bagaimana kak


Haksan. Aku tidak mau tuan Saga sampai jadi pembunuh gara-gara aku. Naluri


kemanusiaan menariknya lagi. Saat Daniah membalikan badan   Han


mendekat dan berdiri di depannya.


“ Nona pergilah dengan Aran ke


ruangan lain. Saya mohon.”


Hah! Dia sampai memohon dengan


wajah membunuh begitu. Nona sebaiknya kita segera pergi. Aran sekali lagi


tersadar, kemarahan tuan Saga adalah kemurkaan laki-laki di hadapannya ini.


“ Sekertaris Han, dia cuma teman


masa laluku. Kami tidak pernah punya hubungan apapun di masa lalu ataupun


sekarang.”


Percayalah padaku, paling tidak


tahan tuan Saga untuk melakukan hal terburuk.


“ Jangan membelanya nona. Kalau


nona membelanya, saya ataupun tuan muda semakin tidak akan bisa menahan diri.”


Apa!Kenapa kau ikut-ikutan marah


begitu.


Bahkan saat Daniah dan Aran baru


saja menutup pintu sudah terdengar teriakan keras. Daniah mengenali suara itu


milik siapa.


“ Nona, saya mohon.” Aran mencegah


Daniah yang sudah memegang handle pintu. “Tuan Saga sangat marah tadi. Kalau


nona membela laki-laki itu bisa-bisa dia benar-benar.” Tidak berani melanjutkan


kalimatnya sendiri.


“ Aran tapi.”


Dari ruangan terdengar suara


sekertaris Han. Daniah berjanji tidak akan membuka handle pintu, dia hanya


merapatkan telinganya ke pintu. Aran mengikuti. Mereka sama-sama penasaran,


hingga memutuskan tetap berada di balik pintu.


Matilah aku kalau tuan Han tahu.


Aran bahkan sudah tidak menyadari darah menetes di sikunya.


“ Tuan muda cukup.”


“ Lepaskan aku Han, aku mau


menguburnya dan meratakan tempat ini dengan tanah.” Terdengar suara Haksan


terjatuh dan merinting. Dan beberapa kali pukulan.


“ Jangan kotori tangan tuan muda


karena bocah tidak berharga ini. Biarkan saya yang membereskannya.”


Dibalik pintu Daniah dan Aran


saling bersitatap dan sedikit bernafas lega. Tapi sedetik kemudian mereka


saling mencengkram tangan mereka masing-masing. Saat suara Haksan jauh lebih


terdengar mengiris ketimbang tadi.


“ Nona ayo kita pergi ke ruang


ganti dan menunggu.”


Sekujur tubuh Aran gemetar membawa


langkah kakinya. Seharusnya dia tahu kalau sekertaris Han jauh lebih menakutkan


ketimbang tuan Saga. Beberapa tahun lalu dia bahkan menjadi saksi bagaimana


laki-laki itu membereskan masalah hidupnya.


Habislah aku nanti. Tangannya mulai


berdenyut.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2