
Saga belum melepaskan pelukannya.
Ketika dia mengakhiri cerita awal pertemuannya dengan Han. Pertemuan dengan bocah kerempeng dan
kurus yang tinggi badannya nyaris sama dengannya. Walaupun mereka terpaut beberapa
tahun jarak usia. Lalu, ciuman lembut menyusuri kepala Daniah. Gadis itu membiarkan.
Dia merasakan dekapan Saga jauh lebih hangat ketimbang sinar matahari pagi yang
sedang menari-nari di ujung rambutnya.
Daniah terlihat tersenyum, ketika
membayangkan wajah binggung Han seperti yang dia alami dulu ketika belajar
menafsirkan maunya tuan muda ini.
Haha, apa aku bisa tertawa
sekarang! Menertawakanmu juga sekertaris
Han.Ternyata kau mejalani hidup yang tidak mudah diawal-awal bersama tuan Saga.
Sama sepertiku.
Sepertinya bukan Daniah atau Han
yang aneh, tapi laki-laki yang sedang memeluknya sekarang. Tapi tetap saja,
karena dia rajanya jadi orang-orang di sekelilingnya yang menyesuaikan diri
dengannya.
Ntah kenapa, sekarang cerita awal pernikahannya bisa dia
tertawakan, Kalau menggingatnya, senyum simpul di ujung bibirnya selalu muncul.
Padahal dia dulu menjalaninya dengan drama penuh airmata. Itu jadi semacam
kenangan tersendiri bagi Daniah. Yang ia simpan untuk dirinya sendiri.
“ Sayang.”
“ Hemm.”
“ Jadi karena itu, sekertaris Han bahkan tahu apa
yang kamu inginkan, hanya dari mendengar suara desahan nafasmu.” Daniah
tertawa.
“ Dia belajar dengan sangat cepat
setiap harinya.” Saga mengingat dengan jelas saat-saat itu. “Dan tidak tahu,
apa yang dia makan tapi dia benar-benar tumbuh tinggi melebihi aku. Tubuh kurus
kerempengnya benar-benar sirna seiring usia remajanya.”
Han tumbuh dua kali lipat dibanding
Saga. Baik secara mental ataupun fisiknya.
“ Apa aku boleh lihat foto-foto
masa kecilmu. Hehe. Aku penasaran, semanis apa si suamiku.” Dan sesombong apa
wajah masa kecilmu. Daniah mencubit pipi kiri Saga. “ Apa kamu setampan ini.”
“ Dari lahir aku memang sudah
__ADS_1
tampan.” Acuh dan sombongnya keluar. “ Kalau kau apa dari lahir rambutmu sudah
seperti ini.”
Daniah menyikut perut Saga yang
menempel di tubuhnya. “Kenapa? Rambutku cantikkan? Kamu saja sampai
tergila-gila dengan rambutku?” Saga tertawa, lalu menciumi rambut Daniah. Benar
kata istrinya dia memang tergila-gila dengan rambut istrinya. Rasanya kalau
tidak memainkannya sehari saja selalu ada yang kurang dalam hidupnya.
Gelak tawa keduanya menambah
keramain kupu-kupu yang terbang di antara bunga-bunga.
“ Niah, aku mencintaimu.” Menarik
tubuh Daniah untuk menghadap kearahnya. Daniah terperangah. Kenapa tiba-tiba.
Biasanya Saga jauh lebih sering menunjukan cintanya lewat perbuatan daripada
kata-kata. “ Jadilah ibu dari anak-anakku.” Katanya kemudian sambil menyentuh kedua pipi Daniah yang hangat. " Kau maukan?" tanyanya kemudian.
Apa! dia benar-benar memintanya?
Sejujurnya Daniah menunggu kata-kata itu terucap dari mulut Saga secara langsung. Walaupun Amera, yang dibawa ibu bukan lagi masalah. Tapi tidak menutup kemungkinan akan ada gadis lainnya. Yang lebih cantik, yang jauh lebih agresif ataupun menakutkan. Seperti halnya gadis pelakor yang sering muncul di drama tv. Dan mendengar Saga mengatakan sendiri, ntah kenapa membuat Daniah bahagia. Sesederhana itu penantiannya.
“ Kelak jangan pernah memikirkan
apapun yang ibu katakan. Walaupun dia belum menyukaimu atau merestui kita
dengan sepenuh hati.” Mencium kening Daniah. “ Walaupun kelak muncul wanita
yang dia bawa seperti Amera, percayalah hanya padaku." Saga meraih tangan Daniah meletakannya di dadanya. " Hati ini milikmu."
" Tubuh ini juga milikmu seutuhnya." Ujar Saga menarik kerah bajunya sampai leher dan bahunya terbuka. Dia tertawa saat wajah Daniah langsung berubah merah padam. " Haha, kau mau menyentuhnya? wajahmu merah begitu, kau malu atau mau? "
Sudah gila ya! inikan di taman!
Pak Mun muncul diikuti oleh dua
pelayan di belakangnya. Daniah langsung menarik baju Saga dan mengembalikannya ke tempat semula. Suaminya mendengus ketika melihat siapa yang datang.
“ Tuan muda, sepertinya cuaca
sangat indah pagi ini, apa anda mau sarapan di taman?” Pak Mun bertanya,
tapi dia sudah membawa makanan itu ke meja yang ada di taman.
“ Pak Mun terimakasih ya. Tahu
saja, udaranya juga sejuk. Ayo sayang.” Daniah menarik tangan Saga.
Cih, kenapa dari tada banyak sekali
penggangu.
Akhirnya mereka duduk dan menikmati
sarapan. Saga mengisyaratkan agar semua orang pergi, pak Mun menganggukan
kepala kemudian berlalu, langkahnya diikuti para pelayan wanita meninggalkan taman. Dia menoleh setelah jauh melangkah. Berdiri tersenyum di tempatnya.
Sudah sejak lama tuan muda tidak pernah datang ke taman. Terimakasih nona, untuk semua kebahagiaan yang sudah nona berikan untuk tuan muda.
Pak Mun menengadah ke langit, tersenyum sebentar sebelum masuk ke dalam rumah.
“ Sayang, apa kau dan Han tidak pernah
__ADS_1
berselisih?” Mereka menikmati sarapan sambil meneruskan pembicaraan.
" Ditaman ini pertama kalinya aku bertemu Han, begitu pula terakhir kalinya aku bicara padanya." Daniah terkejut mendengar kata-kata Saga.
Mereka bertengkar? kenapa?
" Hari itu, setelah beberapa bulan aku melewati hari berat setelah kepergian ayah. setelah perusahaan kembali stabil dan para penggangu berhasil dibungkam oleh paman. Han bilang dia akan pergi. Pergi dari sampingku."
Daniah merasakan itu, kesedihan, kemarahan yang menjadi satu.
***
Beberapa bulan semenjak kepergian tuan besar. Rumah yang dulunya selalu terdengar gelak tawa saat Jen atau Sofi berlarian menyambut ayah mereka. Taman yang dulu menjadi tempat Saga dan ayahnya menghabiskan waktu di sela-sela kepadatan jadwal tuan besar. Saat ini hanya menjadi saksi bisu semua kenangan. Saga duduk di kursi taman, dari radius beberapa meter terlihat Pak Mun dan dua orang pengawal berdiri melihat tuan muda mereka.
Sudah hampir satu jam, Saga hanya duduk di tempatnya. Ditangannya dia memegang sebuah buku catatan, tapi tidak terlihat dia membacanya. Dia hanya duduk diam di tempatnya dan hanya menghirup nafas. Pandangan kuatir pak Mun jelas tergambar dengan jelas. Tapi diapun tidak berani mendekat. Hampir sebulan ini hanya Han dan sekertaris tuan besarlah yang bisa mendekatinya. Dan Pak Mun hanya bisa melihat dari kejauhan kesedihan tuan mudanya.
Dari kejauhan Han terlihat mendekat.
" Tuan muda."
" Kau sudah datang?" hanya melihat Han sekilas, lalu tengelam lagi dengan pikirannya.
" Ada yang ingin saya bicarakan tuan muda." Han tahu, saat ini suasana hati tuan mudanya sedang sangat tidak mendukung. Salah sedikit saja dia bicara, dia tahu kalau Saga pasti tidak akan bisa menahan dirinya. Tapi, dia tetap harus menjalankan rencana yang sudah dia putuskan.
" Kenapa?"
" Hari ini kondisi perusahaan sudah stabil. Ayah sudah bisa menghandle semuanya" Saga menggangkat tangannya. Dia tidak mau mendengar kelanjutan apapun yang mau di laporkan Han mengenai perusahan. " Karena itu, saya akan pergi."
" Kau bilang apa!" Saga seperti mendapat kesadarannya kembali. Han belum menyelesaikan kalimatnya tapi dia tahu maksud pembicaraan Han. " Kau mau apa? Pergi!" sudah terselip kemarahan.
Selepas kepergian ayahnya selaku presdir utama Antarna Group, terjadi perebutan kekuasaan utama di perusahaan. Saga yang selama ini baru di perkenalkan sebagai penerus perusahaan di kalangan petinggi saja, tentu masih dianggap anak bawang untuk mengurus perusahaan sebesar Antarna Group. Untuk itulah terjadi perpecahan antara orang-orang yang mendukungnya. Mereka yang tetap setia pada presdir utama sebelumnya dan orang-orang yang ingin menjatuhkan Saga. Dan selama sebulan ini seperti terjadi peperangan di dalam perusahaan. Yang di menangkan oleh kubu pendukung Saga. Sepuluh keluarga berada di belakangnya.
Han duduk berlutut di depan tuan mudanya.
" Bangun! Kau mau menghianatiku?" Saga melemparkan buku catatan di tangannya tepat di wajah Han. Laki-laki itu sama sekali tidak menghindar. " Apa kau sudah lupa janji yang kau ucapkan di depan ayahku!" Saga berteriak lagi dari tempatnya duduk. " Bangun! aku akan memaafkanmu kali ini. aku anggap kau tidak pernah mengatakannya."
Han masih duduk berlutut.
" Hiduplah dengan baik tuan muda. Ayah saya akan berada di samping anda sampai akhir. Dia memang selalu jauh mencintai anda dari pada saya." Tawa kecil di akhir kalimat Han. Saga mencengkram kursi mendengar apa yang baru di ucapkan Han. " Saya akan mendoakan selalu kebahagiaan tuan muda."
" Tutup mulutmu!"
Han bangun, berdiri, menundukan kepalanya hormat selama beberapa detik. Dia berbalik, tanpa ingin melihat bagaimana wajah Saga yang di penuhi kemarahan.
" Beraninya kau! Kalau kau pergi sekarang jangan pernah kembali!" Han menghentikan langkahnya, tangannya terkepal. " Sekalipun paman meninggalkan dunia ini nanti aku tidak akan pernah mengizinkanmu muncul di hadapanku lagi. Penghianat!" Kemarahan Saga bergetar di seluruh tubuhnya. Han berbalik.
" Semoga anda selalu bahagia tuan muda."
Teriakan marah Saga mengudara, namun tidak mencegah laangkah kaki Han. Laki-laki itu meneruskan langkah kakinya menjauhi taman.
Ayah! kenapa? Dari semua orang kenapa Han?
Rasa takut, kesepian semua bercampur jadi satu. Saga masih melihat mobil milik Han keluar dari area parkir. Dia mengepalkan tangannya.
Kau bilang dia akan melindungikukan? sekarang kau lihat ayah, anak kesayanganmu itu mengkhianatiku!
Epilog
" Sayang." Daniah meraih tangan Saga, saat dia merasai kesedihan dan kemarahan dalam kata-katanya. " Sekertaris Han pasti punya alasankan?"
Saat ini aku bahkan hanya melihat dirimu di matanya.
" Cih, mungkin dia pergi dengan cara seperti itu supaya terlihat keren."
Hah! Maksudnya?
Bersambung
__ADS_1