Terpaksa Menikahi Tuan Muda

Terpaksa Menikahi Tuan Muda
132. Rencana Bulan Madu


__ADS_3

Pagi hari yang segar, aktivitas di


dalam rumah utama sudah kembali normal. Para Pelayan sudah terlihat sibuk


dengan pekerjaannya masing-masing. Daniah melihat dari kejauhan para tukang


kebun juga sedang melakukan tugasnya. Menyiram pepohonan dan bunga.


Daniah berjalan di samping Saga. Terhenti


karena Pak Mun.


“Sayang, kita mau ke mana?” Menarik


lengan Saga.


“Sudah diam, masuk saja ke dalam


mobil sana.” Mendorong tubuh Daniah agar berjalan meninggalkannya. Masih ada


yang harus dia bicarakan dengan Pak Mun.


Daniah menurut saja ketika pintu


mobil dibuka oleh Sekretaris Han. Dia masuk dan duduk.


“Kita mau ke mana Sekretaris Han?”


berharap laki-laki ini sudi menjawab. Walaupun tahu, dia tidak boleh banyak


berharap.


“Kalau tuan muda saja tidak


menjawab, memang Anda berharap saya menjawab apa.” Lihat kan, jawaban yang sama


menyesalkannya dengan senyum tipisnya itu.


Cih, Daniah melengos ketika Han


menutup pintu dengan pelan. Saga sendiri sedang bicara dengan Pak Mun. Daniah


tidak mendengar dari kejauhan. Apalagi Han malah berdiri di depan pintu


menutupi pandangannya.


“Hei, Sekretaris Han. Berikan kode


sedikit saja. Kita mau ke mana? Aku sudah mulai takut nih.”


Han menundukkan kepalanya sebentar.


Sambil melihat tuannya yang sedang bicara.


“Memang apa lagi yang Anda


takutkan, Anda bahkan sudah mendapatkan cinta tuan muda.”


Apa! kenapa dia semakin tidak bisa


diajak bicara begini si. Dasar Sekretaris compleks.


Han membukakan pintu ketika Saga


sudah berjalan mendekat.


“Maaf membuatmu menunggu.”


“Eh tidak apa-apa.”


Sekarang dia bahkan segampang ini


minta maaf padaku, menakutkan tidak si.


“Kemari, mendekatlah. Perjalanan


kita sangat panjang pagi ini.” Menjentikkan tangan, supaya Daniah merapatkan


duduk.


“Tidak apa-apa sayang. Aku juga


belum lelah kok. Kita kan baru saja mau berangkat.”


“Aku bilang mendekat, kemarilah.”


“Ia, ia.” Daniah menggeser


duduknya, sampai Saga melingkarkan tangan di pinggangnya.


Cih, katanya kontrak sudah batal


saat aku merobek surat perjanjian itu. Tapi aku tetap tidak boleh membantahmu. Eh,


kamu bilang kalau aku berani membantah. Aku bisa membantah kan. Hei keberanian,


di mana kamu. Munculah kalau di situasi semacam ini.


“Sayang, kita mau ke mana?”


bertanya serius. Sudah menyandarkan kepala dan memilih membelai dada saga


pelan. Supaya dijawab.


“Tempat yang ingin kau datangi.”


Di mana itu? Aku bahkan tidak ingin


pergi ke mana-mana. Bagaimana dia bisa menyimpulkan aku ingin pergi ke suatu


tempat.


Perjalanan memakan waktu yang cukup


lama. Setelah Daniah lelah dijahili tangan dan bibir Saga gadis itu tanpa sadar


terlelap. Dia memiringkan tubuh dan memakai kaki Saga sebagai bantal kepalanya.


Laki-laki itu mengusap kepala Daniah. Memainkan rambut gadis itu seperti yang


sering dia lakukan.


“Kaki Anda akan sakit Tuan Muda.


Apa kita berhenti sebentar membeli bantal. Maaf saya tidak menyiapkannya tadi.” Melirik


sekilas kaca spion.


“Sudahlah ini bukan apa-apa.


kira-kira berapa lama lagi.” Menggulung rambut Daniah dengan jemarinya.


“Seharusnya kurang dari 45 menit


kita sudah bisa sampai.”


“Kalau begitu terus saja, tidak


perlu berhenti.”


“Baik.”


Saga menyandarkan kepalannya ke


kursi. Tangannya masih membelai kepala Daniah. Mengusap-usapnya agar gadis itu


mimpi indah sepanjang perjalanan ini.


 


“Maaf sayang aku pasti keenakan


tidur. Kakimu nyaman sekali si.” Memijat kaki Saga yang kram kerena tidak


bergerak dipakainya sebagai bantal hampir 45 menit sepertinya.


Kenapa juga tidak membangunkan aku


si.


“Sudah keluar sana! Aku mau


menggerakkan kakiku.” Daniah merasa bersalah menurut dan turun dari mobil. Dia


melihat sekelilingnya. Langsung dia menutup mulutnya sambil terperangah tidak


percaya.


Ini benar kan? Aku sedang di


kampung halaman ibu.


Daniah menatap Han sebentar yang


masih berdiri di dekat pintu mobil yang terbuka. Saga sudah keluar dari mobil.


“Udaranya lumayan segar ya.” Saga

__ADS_1


menghembuskan nafas dalam. Menghirupnya perlahan.


“Sepertinya karena angin laut Tuan


Muda.” Menatap lautan biru di sebrang jalan sana. Pantulan matahari di airnya


yang biru. Langit pun cerah berwarna biru. Perpaduan alam yang sempurna.


“Sayang.” Daniah mengitari mobil


mendekati Saga.


“Kenapa? Tanggung jawab kau nanti


memijatku semalaman ya.” Menunjuk kakinya.


“Ia, ia baik. Aku akan melakukan


apa pun yang kamu mau.” Menghambur memeluk Saga. “Dari mana kamu tahu?”


“Apa?”


“Tempat ini, pantai ini.” Membentangkan


tangan menunjuk lautan lepas di sana.


“Kenapa? Aku hanya ingin mengajakmu liburan ke sini. memang kau sudah pernah ke sini.” bertanya acuh.


Apa! jadi dia hanya kebetulan


mengajakku kesini.


Daniah kecewa dan melepaskan


pelukannya.


“Sekarang kita mau ke mana?”


menyelesaikan urusan Saga terlebih dahulu. Daniah berfikir mungkin dia bisa


menyelinap pergi untuk mengunjungi makam ibunya nanti. Dia akan memohon pada


Sekretaris Han.


“Kemana lagi.” Menarik tangan


Daniah agar mensejajarinya. “Tentu saja mengunjungi ibu mertuaku.”


“Sayang.”


Hah! Lagi-lagi Daniah hanya bisa


menatap terkejut dan mengikuti Saga menarik tangannya. Sementara Sekretaris Han


berjalan di depan, sudah seperti tahu tempat ini saja. Saking senangnya dia


bahkan tidak bisa mengatakan apa-apa. Dan berjalan cepat mengikuti langkah kaki


Saga.


Terimakasih. Tuhan, apa aku tidak


terlalu serakah, kalau aku mengatakan aku mencintai suamiku dan ingin selalu


bersamanya. Seperti ini.


Mereka berjalan beriringan menuju


tempat pemakaman umum, tidak butuh waktu lama untuk sampai di sana. Han sudah


membawa bunga yang dia taruh di bagasi mobil. Sesampainya di pemakaman dia


menyerahkan bunga-bunga itu pada Daniah dan Saga.


“Sepertinya sudah ada yang datang


kemari.”


Saga meletakan bunga di atas makam


ibu mertuanya. Daniah menyusul mengikuti apa yang di lakukan Saga.


“Itu pasti Raksa.” Daniah menoleh


melihat suaminya. “ Setiap tahun dia selalu menemaniku kemari. Kemarin dia


pasti mengantikanku sendirian kemari.”


“Maaf.”


Hah! Apa? kenapa minta maaf.


tidak memberi tahu tuan muda kalau kemarin adalah hari peringatan kematian ibu


Anda.” Han maju dua langkah. Menggantikan Saga.


“Han.” Saga sudah mencegahnya bicara.


“Tidak tuan muda, ini semua salah


saya.”


“Tidak. Kenapa kalian harus minta


maaf. Sayang.” Daniah menggenggam tangan Saga. Lalu mendekapnya dalam pelukannya.


“Terimakasih sudah membawaku ke sini. aku tidak apa-apa kok. Walaupun lewat


sehari, dua hari atau berapa pun aku bersyukur bisa sampai di sini. Terimakasih


ya.”


Ibu, dia suamiku. Saga Rahardian.


Dia laki-laki yang mencintaiku, aku berjanji akan hidup dengan baik ke depannya


bersamanya.


Han mundur beberapa langkah


menjauh. Membiarkan dua sepasang manusia itu melepaskan emosi mereka.


“Aku akan memindahkan makam ibumu


ke makam keluargaku.”


Apa! ini berlebihan kan, kamu tidak


perlu sampai melakukan itu.


“Tidak apa-apa sayang. Aku akan


tetap berada di sampingmu seperti kemarin, dan aku bisa datang kemari selang


beberapa hari.”


Itu sudah lebih dari cukup. Seperti


ini, sudah cukup bagiku.


“Kau tidak perlu menangisi ayahku.


Kau bisa menangis untuk ibumu tahun depan dan tahun berikutnya. Dalam pelukanku.”


Tidak merubah rencana awal yang sudah dia bicarakan dengan Han.


“Sayang. Terimakasih. Untuk semua


kebaikan ini.”


Selama berada di depan makan


ibunya mereka bicara banyak hal, walaupun tidak terlalu banyak hal yang diingat


Daniah tentang ibunya. Namun samar dia bisa mengingat sentuhan lembut di


kepalanya saat wanita itu mengantarkannya tidur. Saga pun bercerita beberapa


hal tentang hidupnya. Tentang kenangan bersama ayahnya. Laki-laki hebat yang


akan selalu menjadi bagian penting dalam perjalanan hidupnya.


Setelah selesai di depan makam,


Saga mengajak Daniah mengunjungi keluarga dari


ibunya. Walaupun merasa canggung, karena sejujurnya kalau dia dan Raksa pulang


setahun sekali dia pun jarang mampir mengunjungi keluarga ibunya. Mereka


seperti terputus ikatan.


Dari mana mobil-mobil ini!


Lagi-lagi Saga menunjukan kalau dia


bisa melakukan apa pun yang dia inginkan. Dua buah mobil boks menurunkan banyak

__ADS_1


sekali bahan makanan dan juga buah-buahan di halaman rumah paman Daniah.


Seluruh keluarga yang berkumpul terperangah melihat apa yang diturunkan dari


mobil. Bahkan ada pakaian, tas dan juga sepatu. Yang semuanya terpisah dalam


boks-boks besar.


Apa-apaan ini. Dia mau menunjukan


kalau dia suami yang keren ya.


“Sayang.”


Saga menarik lengan Daniah. Untuk


mendekat ke arahnya. “Selamat siang semuanya. Perkenalkan, saya suami


keponakan cantik kalian.” Daniah bersemu merah malu sendiri mendengar perkataan


Saga.


Tapi hari itu Daniah mendapatkan


perlakuan istimewa, bahkan dari orang-orang yang sudah lupa akan namanya. Sekali


lagi Saga memberikan banyak hal yang sudah berlarian pergi dari hidup Daniah.


Bau ibunya seperti tercium dari tawa keluarganya. Daniah merasa bahagia untuk


kesekian kalinya, memiliki Saga di sampingnya.


 


Mereka menyusuri bibir pantai


bergandengan. Saga sudah menggulung celananya sedikit. Sudah memakai sandal yang


di beli Han di warung kecil di dekat pantai.


“Terimakasi sayang. Terimakasih


untuk hari ini. Rasanya beribu kali aku mengatakannya tidak akan cukup membayar


semua yang kau lakukan hari ini.”


Saga mengangkat tangan mereka yang


tergenggam, lalu mencium bagian tangan Daniah.


“Kalau kau tahu, berterimakasihlah


dengan benar dengan seluruh hati dan jiwamu seumur hidupmu.”


Cih, bisa tidak si menjawab dengan


kalimat romantis. Tapi memang seperti inilah dirimu ya. Aku mencintaimu yang


seperti ini.


Mereka menghentikan langkah. Daniah


menghadap Saga dan memeluknya. Membenamkan wajahnya dalam pelukan laki-laki


itu. Wajahnya hanya sampai dadanya Saga.


“Terima kasih sayang. Untuk semua


hal sudah kuterima darimu.” Mendongakkan wajah. Pandangan mereka bertemu. “Aku


mencintaimu sayang, suamiku Saga Rahardian.” Untuk pertama kalinya Daniah


mengatakan mencintai Saga tanpa diminta laki-laki itu.


Wajah bahagia Saga tidak bisa


ditutupi. Dia langsung mencium bibir Daniah. Di antara background lautan yang biru


mereka berciuman sangat lama. Daniah menjinjitkan kedua kakinya untuk mengimbangi


tubuh tinggi Saga.


Tidak apa-apa kan aku mengambil


foto mereka sekarang. Sepertinya tuan muda akan senang. Dia bisa memakainya


nanti untuk layar hpnya. Mengganti foto nona yang terbalik dengan rambut terburai


itu.


Dengan tidak tahu malu, Han


mengeluarkan hpnya.


 


Epilog :


“Bulan madu! Mau. Mau.” Tidak tahu


kenapa sepertinya akan sangat menyenangkan. Mereka sudah berada di dalam mobil


kembali ke kota. Daniah bicara banyak sekali tentang bulan madu dalam


rencananya. Membuat Saga kesal.


“Sudah diam! jangan merengek.”


Saga menutup mulut Daniah yang masih merengek. “Berhenti memberi ide tentang


bulan madu rakyat jelata. Kali ini aku yang tentukan temanya.” Meraih dagu


daniah. “ Kau bisa memilih tema bulan madu kita selanjutnya setelah ini.”


Apa! memang kau mau bulan madu


berapa kali.


“Han, siapkan semuanya minggu


depan.”


“Baik Tuan Muda.”


Apa segampang itu.


“Apa ada tempat yang ingin Anda


kunjungi Nona.” Han bertanya.


“Apa ya, sepertinya menyenangkan


bermain air dan menyelam di laut.”


Cih


Apa! kenapa kau mendengus. Memang


kau mau bulan madu hanya tinggal di kamar.


“Anda mau ke luar negri apa dalam


negri saja.”


“Kenapa kau malah bicara padanya.”


Menarik Daniah agar menempel padanya. “Han jangan bertanya lagi. Siapkan saja


semuanya. Aku percaya padamu.”


“Baik Tuan Muda.”


Han kembali fokus mengemudi, sambil berfikir destinasi tempat bulan madu paling populer di negara ini. Sampai dia benar-benar tidak mendengar suara-suara dari kursi belakang. padahal keduanya sudah berisik.


“Sayang sepertinya akan


menyenangkan kalau kita.” Masih kekeh ingin bulan madu versi rakyat jelata.


“Sudah diam.” Menutup mulut Daniah


dengan bibirnya. Dia tidak melepaskan sampai Daniah mengangguk tidak akan bicara. Gadis itu tersengal.


"Aku akan diam sayang, jadi kamu juga diam."


Membuat Saga diam sepertinya itu mustahil.


"Kamu mau punya anak berapa? ayo fokus membuatnya saat bulan madu."


Apa! Tidak mau!


Han hanya bisa tersenyum mendengar pertengkaran dari kursi belakang.


Musim pertama                                 


Tamat


💕Terimakasih untuk semua orang yang ku sayangi

__ADS_1


💕Terimakasih untuk semua pembaca novel terpaksa menikahi tuan muda tanpa terkecuali, semoga kalian selalu bahagia.


💕sampai jumpa lagi


__ADS_2