
Pagi hari datang, suasana hati Saga terlihat baik sejauh ini. Di luar matahari sudah sedari tadi memanaskan bumi. Daniah menatap laki-laki di depannya. Gumam-gumam kecil dari mulutnya.
Dia benar-benar tidak menganggap kejadian semalam sebagai dosa ya.
“Katakan pada Pak Mun bawa sarapan ke kamar.”
“Baik suamiku.”
Saga masuk ke dalam kamar mandi, sementara Daniah keluar dari kamar. Gemetar-gemetar menahan kesal dia mencengkram tangga.
Ingat lagi kejadian semalam. Saat ia terbangun dan berteriak terkejut karena lagi-lagi Saga memeluknya. Tapi yang akhirnya terjadi malah membuatnya mengemerutukkan gigi karena kesal.
“Kamu benar-benar memanfaatkan kesempatan karena aku baik padamu ya.” Saga menendang kaki Daniah di bawah selimut.
“Apa!” menjawab setengah berteriak.
“Beraninya meninggikan suaramu di depanku.”
“Maafkan saya suamiku.” Menutup mulutnya rapat dengan tangan.
“Kau mau memelukku?”
“Tidak, kan Anda yang mendekati saya.”
“Haha, jadi kamu bilang aku mau memelukmu begitu.”
“Tidak, bukan begitu. Kalau begitu saya pindah ke sofa saja biar Anda bisa tidur dengan nyaman.” Daniah memilih lari dari situasi ini.
“Kalau kau mau tidur selama-lamanya, tidur di sofa sana.” Kata-kata ancaman itu membuatnya membeku, dan akhirnya dia tetap tidur di tempat tidur.
Geram setengah mati Daniah kalau ingat kejadian semalam. Siapa juga yang mau memelukmu. Kamu yang sudah seenaknya memelukku, dan menciumku. gerutunya dalam hati.
“Eh, kenapa turun sendiri. Mana Saga?” Ibu mertua sudah duduk di ruang tengah menunggu, bersama Helena. Ternyata dia menginap ya.
“Masih mandi bu.”
“Terus kenapa kamu malah turun?”
“Tuan Saga ingin sarapannya di bawa ke kamar.”
“Apa!”
Daniah menoleh pada Helena yang masih duduk, sekarang wajahnya tertunduk. Entah kenapa dia merasa kasihan juga pada gadis itu. Selama pernikahan selain waktu dia pura-pura sakit, tidak pernah sekali pun sarapan dilewatkan tanpa makan bersama di meja makan. Ini kali pertamanya ingin sarapan di kamar. Karena ada seorang gadis masa lalunya di rumah ini.
__ADS_1
“Tidak apa-apa Bu, seharusnya aku memang tidak menginap di sini.”
Daniah meninggalkan kedua wanita itu yang sedang saling menghibur diri. Dia menoleh saat mendengar suara ribut dari arah rumah belakang.
Ada keributan apa di luar ya.
Daniah memberikan info kepada Pak Mun untuk menyiapkan sarapan ke kamar
“Ada keributan apa di belakang Pak?”
“Sekretaris Han sedang mendisiplinkan pelayan Nona. Saya siapkan sarapannya sebentar.”
“Apa! Mendisiplinkan pelayan, apa yang bakal si sinting itu lakukan.” Daniah menoleh pada ibu dan Helena berharap mendapat bantuan, tapi mereka terlihat tidak perduli. Lalu dia pergi sendiri ke rumah belakang. Tempat dia biasa menghabiskan waktu dengan para pelayan rumah ini.
Plak! Plak!
Daniah mematung, sejenak dia tersentak karena merasa terkejut. Untungnya segera tersadar, kalau dia tidak boleh diam saja.
“Sekretaris Han, apa yang Anda lakukan?” Daniah sudah berdiri di antara tiga pelayan yang sedang menundukkan kepalanya dan juga Sekretaris Han yang berwajah marah. Sakit yang menjalar di pipi namun tidak berani mereka sentuh. Han menggantung tangannya di udara. Dia terhenyak sebentar.
“Maafkan saya Nona, karena sudah membuat keributan.” Han mundur dua langkah sambil membungkukkan kepalanya.
Apa! Dia minta maaf padaku sudah melakukan keributan, bukannya minta maaf karena sudah menampar tiga pelayan wanita ini. aku memang tidak terlalu akrab dengan mereka, tapi ini sudah keterlaluan namanya.
“Kenapa Anda memukul mereka.” Tegas Daniah bertanya.
“Saya sedang mendisiplinkan ketiga pelayan ini Nona.”
“Memang apa kesalahan mereka. Tidak bukan kesalahan, tapi apa perlu Anda sampai menampar mereka.” Daniah yang gusar mendengar jawaban Han. Dia jujur menjawab, tapi jawabannya menyebalkan untuk di dengar telinganya.
“Seperti Anda yang harus mematuhi peraturan yang sudah dibuat tuan muda, begitu juga para pelayan yang ada di rumah ini Nona.”
Glek, kenapa aku sampai lupa fakta ini. Aku juga tidak lebih dari pelayan di rumah ini.
"Tapi saya tidak suka melihat Anda melakukan kekerasan dalam mendisiplinkan para pelayan."
"Baik Nona, saya akan berhati-hati dan tidak melakukannya di depan Anda."
Apa! bukan begitu maksudnya bodoh.
“Ikut aku!” Daniah menarik tangan Han, yang mau tidak mau mengikutinya. Setelah menjauh dari rumah belakang dia melepaskan tangannya. “Sekarang katakan, apa kesalahan mereka?”
“Mereka membicarakan Anda.”
__ADS_1
“Aku?” Daniah menunjuk dirinya.
“Mereka mengatakan kalau Anda tidak pantas dari semua segi bersama tuan muda, dan Nona Helenalah yang jauh lebih pantas daripada Anda.”
Kenapa aku merasa malu mendengar kejujuran Sekretaris Han yang blak-blakan. Dan kenapa juga dia marah, ini kan memang fakta.
“Tadinya saya pikir kesalahan mereka itu apa. Bukankah Anda sudah sangat keterlaluan, kalau hanya seperti itu bukannya Anda hanya perlu menegurnya. Tidak perlu sampai menampar mereka. Lagi pula itu memang kenyataan kan.”
Kenapa dia tersenyum, menakutkan sekali.
“Nona apa Anda tahu berapa para pelayan dibayar di rumah ini?”
Daniah menggelengkan kepala.
Aku juga penasaran berapa gajimu.
“Mereka dibayar lima kali lipat dari gaji pelayan biasanya, itu belum termasuk uang bonus dan lembur.”
“Apa!”
“Dan mereka digaji sebesar itu bukan hanya untuk bekerja saja, tapi untuk menutup mata, telinga dan mulut mereka tentang semua yang terjadi di rumah ini.”
“Tapi mereka kan hanya mengobrol.”
“Mereka sedang membicarakan Anda, nona muda sah rumah ini, istri dari Tuan Saga.”
Kenapa itu terdengar keren sekaligus menakutkan.
“Hei Sekretaris Han, Anda kan yang paling tahu posisi saya bagi Tuan Saga itu seperti apa.” Bahwa sebenarnya tidak ada yang perlu dibanggakan dari statusnya sebagai nona muda di rumah ini.
“Sepertinya Anda sudah terlalu lama di sini, silahkan kembali ke dalam, tuan muda pasti sudah selesai bersiap dan saatnya sarapan.”
Sialan! dia malah mengalihkan pembicaraan. tapi benar juga, aku sudah terlalu lama.
"Kumohon lepaskan mereka."
"Baik Nona."
Daniah sudah mau berbalik saat Han sudah menganggukkan kepala. Walaupun menyebalkan, tapi ia yakin kalau Han sudah berkata akan melepaskan mereka itu artinya para pelayan tadi sudah aman.
"Nona, kalau saya boleh memberi saran, Anda tidak perlu merapikan rambut Anda dengan sungguh-sungguh."
Apa? maksudnya dia apa si.
__ADS_1
bersambung