Terpaksa Menikahi Tuan Muda

Terpaksa Menikahi Tuan Muda
151. Bekerja


__ADS_3

Hening, ruangan privat ini terasa


mencekam. Bahkan Aran bisa mendengar helaan nafasnya sendiri saat ini. Gelisah sampai ke ujung kukunya,


ia menatap laki-laki di hadapannya. Dia benar-benar serius memberinya waktu


sepuluh menit untuk berfikir. Aran menatap Han yang tidak bergeming sama sekali


dalam duduk diamnya. Detik demi detik dengan cepat berputar. Tidak memberinya


kesempatan sama sekali.


Aran ini kesempatanmu, jawab saja


ia.


Begitu provokasi naluri kesadarannya yang ingin keluar dari lubang


persembunyian sempitnya. Kontrakan sempit yang menjadi tempatnya melarikan diri selama ini dari kenyataan hidup. Tempat yang segera ingin ia tinggalkan.


Peluang yang ada di depan mata, kau mau lewatkan


karena takut! Kau tahu kan, tidak akan ada kesempatan kedua?


Seharusnya Aran tahu, dia harus menjawab apa. Hei diamlah. Sedikit tersadar kembali.  Dia sekertaris Han, harimau gila yang hampir mencekikmu dulu. Aran menyentuh lehernya sendiri.


Dia mengampunimu dan sekarang dia yang menawarkan pekerjaan ini. Pikirkan itu? bukan kau yang mendatanginya untuk mengemis. Tapi dia memintamu!


Walaupun Aran tahu, cara Sekretaris Han memberinya penawaran seperti tidak memberinya pilihan. Dia harus menganggukkan kepala. Sama halnya dulu, saat laki-laki itu melepaskannya, dengan syarat dia harus menghilang selamanya.


“Kau masih punya lima menit!” Han


melihat jam tangannya lalu  bicara datar. Dia tahu, kesempatan


yang ia tawarkan adalah peluang emas yang tidak mungkin bisa ditolak.


“Tuan, beri saya waktu sehari


untuk berfikir.”


“Dua menit lagi.” Tidak perduli


dengan yang diucapkan Aran. Walaupun gadis itu sudah memakai kalimat memohon


dengan mimik wajah dibuat-buat.


“Baik!” berteriak cepat. Persetan


dengan semua ketakutan itu, pikir Aran. Hidupnya saat ini sudah menyedihkan,


dan itu sama sekali tidak membuatnya senang. Lari dari kehidupan yang dulu dia


jalani, bersembunyi dari dunia yang sudah mengkhianatinya. Dia bahkan harus


menjauhi keluarganya karena tidak mau mereka terlibat. Dia sudah muak dengan semua itu. “Tapi saya punya satu syarat.” Diucapkan dengan berani. Walaupun tersimpan sejuta keraguan, laki-laki


di depannya ini akan meloloskan syarat yang ia berikan.


Wajah dingin Sekretaris Han


terlihat sinis. “Kau pikir kau siapa? Beraninya mengajukan syarat padaku.”


Aaaaa, benar sekali. Apa posisiku


sampai berani mengajukan syarat.


Tapi Arandita bukan gadis bodoh,


dia bisa berfikir kalau laki-laki di hadapannya ini memberinya penawaran.


Artinya Han melihat dirinya punya kemampuan untuk pekerjaan apa pun yang dia


tawarkan. Sehingga dia benar-benar memberanikan diri untuk mengajukan satu


syarat untuk melindungi dirinya sendiri.


“Hanya satu syarat Tuan.” Bicara


setegas yang ia bisa. "Satu saja."


“Cih, kau tahu berapa banyak orang


yang bermimpi mendapatkan kesempatan ini.”


Aran jangan jual mahal, memohonlah


sekarang! Mendengar perkataan Han, sudah membuat Aran ingin memutar haluan.


Berhenti sok jual mahal. Karena jelas-jelas dia sudah tergiur dengan tawaran.


Tapi tidak, dia harus melindungi dirinya semampunya.


“Saya akan melakukan pekerjaan


saya dengan baik.” Sekali lagi memberi penawaran. Dia selalu bekerja dengan profesional. Mengesampingkan dirinya jika dalam hal pekerjaan. Aran tahu, dalam riwayat hidupnya, Sekretaris Han pasti sudah melihat bagaimana kinerjanya selama ini.


Tunggu, aku tidak akan jadi mata-mata atau apa kan?


“Sepertinya kau benar-benar tidak


tahu posisimu ya.” Han mendesah kesal. “Sampai kapan kau mau bersembunyi di


balik nama dewi kecantikan itu.” Seringai tipis muncul, menghina. Seperti


berkata, tidak tau malu dengan wajah seperti itu, bagaimana kau bisa memakai


nama dewi kecantikan. “Apa kau mau hidup seperti ini sampai mati? Kalau maumu


begitu, baiklah.” Menatap tajam dengan serius. “Menghilang dari hadapanku!


Jangan pernah aku melihatmu lagi. Ini kesempatan terakhirmu.”

__ADS_1


Arandita mulai panik.


Lembaran-lembaran uang mulai terbang menjauh. Senyum keluarganya pun ikut pergi


menjauh. Wajah-wajah yang sekian lama ia rindukan. Sekali lagi yang belum


kembali sudah berlarian pergi. Yang tampak di depannya tersisa kontrakan sempitnya.


“Saya akan melakukan semua


perintah Tuan dengan baik. Saya akan bekerja dengan baik sesuai dengan apa yang


diperintahkan kepada saya.” Aran menggebrak meja di depannya. Berdiri, bicara


dengan semangat dan teriakan yang memenuhi ruangan. Sudah kehilangan harga


diri.


Aku tahu, aku tidak mungkin menang


darinya. Jelas-jelas aku yang paling diuntungkan dengan pekerjaan ini.


“Katakan apa syarat yang kau


inginkan?” Han tersenyum tipis nyaris tidak terlihat saat melihat jawaban semangat Arandita.


Eh, kenapa dia bertanya.


“Apa Tuan akan mengabulkan?”


Bertanya dengan wajah antusias. Sepertinya masih punya harapan pikirnya.


“Tidak!” Jawaban yang membuat


orang mendengarnya bisa naik pitam. Diucapkan dengan datar tanpa merubah mimik


wajah sekali pun.


“Lantas kenapa bertanya?”


gumam-gumam kecil sambil menundukkan kepala. Terkejut saat ia mengangkat kepala


dan melihat  Han menatapnya lekat. Meminta jawaban. “Syarat saya cuma satu Tuan.” Mengatakan dengan cepat karena pandangan itu


mengirisnya, dia memalingkan wajah. “Jangan memukul saya.”


Han tergelak mendengar syarat yang


diucapkan Arandita.


“Berani sekali kau ya, mengatur


caraku bekerja.” Han menatap tajam gadis di hadapannya. Dia tertunduk, namun


tidak menunjukan rasa takutnya. Sekali lagi, ini yang membuatnya tertarik pada


Arandita. Walaupun dia mendengar ketukan kaki gadis itu di bawah meja. “Kau


tahu, aku tidak memaafkan kesalahan sekecil apa pun jika berhubungan dengan tuan


Aku tahu! Untuk itu aku meminta


syarat itu. Apa! jadi pekerjaan ini berhubungan dengan Tuan Saga. Ada perasaan


antusias yang semakin menggebu muncul. Tuan Saga adalah magnet yang membuat


semua orang selalu tertarik dalam hal sekecil apa pun tentangnya.


“Saya akan menuruti Tuan dan tidak


akan melakukan kesalahan.” Berkata dengan suara tegas.


Jadi kumohon, turuti syaratku Tuan.


“Kalau kau sepercaya diri itu,


kenapa takut.”


Benar juga, kalau aku tidak membuat


kesalahan, kenapa aku harus takut dia memukulku. Tapi tidak Aran, dia kan


harimau gila. Standar kesalahannya berbeda dengan bosmu di stasiun TVXX. Jadi


kau harus melindungi dirimu.


Aran masih diam membisu. Sepertinya


tidak mungkin Tuan Han mau menerima syarat itu.  Dan dia ingin dengan penuh


kesombongan berdiri, lalu berkata. “Kalau Tuan tidak mau menerima syarat itu,


maka saya tidak akan menerima pekerjaan dari Tuan.”


Cih, kalau dia jawab, kalau begitu


enyahlah dari muka bumi ini. Aku harus bagaimana?


Rasanya saat ini Aran ingin memohon


saja, tapi harga dirinya menariknya untuk hanya diam membisu. Menunggu laki-laki di depannya berfikir.


“Kau mau ambil pekerjaan ini atau


sok jual mahal lagi?”


Sial, dia tahu aku sedang bimbang.


“Kalau saya melakukan kesalahan


Tuan bisa memotong gaji saya saja.” Menemukan satu alternatif hukuman. Yang di

__ADS_1


rasa jauh lebih baik. “Tapi saya berjanji tidak akan melakukan kesalahan


apa pun.”


“Huh! Sudah kukatakan kalau kau


sepercaya diri itu, kenapa takut.”


Kenapa dia memakai kata-kata itu


lagi si.


Sudah kalah. Arandita butuh uang. Pekerjaan apa pun yang dijanjikan Han jauh lebih baik daripada yang ia jalani sekarang. Dan ia tidak punya pilihan, selain sekali lagi menjalin ikatan mematikan dengan laki-laki di hadapannya ini. Dan sekali lagi, dialah yang membuat benang ikatan takdir itu.


“Kau terima atau tidak? Satu,


dua...” Menghitung tiba-tiba.


“Ia saya terima.” Sebelum Han


menyelesaikan hitungan ketiganya. “Saya terima pekerjaan dari Tuan.”


Aran tahu, gaya sok-sokan jual


mahalnya tidak akan mempan. Dia itu Sekretaris Han, dan dia tahu bagaimana sifatnya.


“Baiklah, aku terima syaratmu.” Ucapan Han selanjutnya membuatnya terbelalak. senang, sekaligus ngeri. Merasa kalau tidak mungkin itu dilakukannya tanpa syarat. Pasti ada hal yang harus dia bayar dengan sangat mahal.


Apa! apa-apan dia, kenapa tadi dia


berdebat kalau pada akhirnya dia menerima syaratku.


“Aku bisa memotong semua gajimu


kalau sampai kau membuat kesalahan.”


Apa! semua?



Kenapa? Kau mau membatalkan


syaratmu?” Bertanya saat mata Aran terbelalak karena sangat terkejut.


Dia menyeringai penuh kemenangan


lagi. Aku tahu, aku tidak akan menang darinya.


“Tidak Tuan, terimakasih sudah


menerima syarat saya. Kedepannya saya kan bekerja dengan baik.” Pasrah. Syaratnya disetujui itu sudah jauh lebih penting dari semua jaminan yang ada.


“Tentu saja, karena kalau kau


melakukan kesalahan kau tahu akibatnya kan.”


Aaaaaa, kenapa aku mengatakan untuk


memotong gajiku si. Itu kan sama berharganya dengan nyawaku.


Namun menjilat ludah sendiri juga


tidak mungkin dia lakukan. Sudahlah, yang harus dia lakukan hanyalah jangan


sampai membuat kesalahan itu yang terpenting. Dia bisa melindungi dirinya dari


hukuman fisik itu sudahlah cukup. Sampai hari ini saja kenangan masa lalunya


saat terakhir kali Sekretaris Han melepaskannya masih seperti hantu mengejarnya


sampai dalam mimpi.


“Sekarang ikut aku.” Han bangun dan meraih amplop coklat di atas meja yang tadi di sodorkan pada Arandita.


“Hah! Kemana Tuan? Kita bahkan


belum memesan apa pun di sini.” Protes, dia bahkan belum makan apa-apa sedari pagi.


“Memang siapa yang mau memberimu


makan.”


Apa! lantas kenapa juga janjian di


kafe, paling tidak belikan aku kopi kan bisa. Aku ingin menangis rasanya karena lapar.  Bagaimana dia bisa mendapat area


privat begini tanpa memesan apa pun. Tunggu, tempat ini bukan miliknya kan?


Sambil masih dipenuhi tanda tanya


dia mengikuti langkah cepat Han. Bertemu dengan beberapa pelayan di luar kafe


yang menundukkan kepala sopan lalu mengantar mereka sampai keluar pintu.


“Tuan, kita mau kemana?”


Aku lapar!


“Bekerja.”


“Apa! sekarang? Tuan, kumohon biarkan saya memesan kopi dan roti sebentar. Saya kelaparan ”


Han tidak menjawab, dia masuk ke


dalam mobil. Tapi dia belum menghidupkan mobilnya.


"Terimakasih Tuan!"


"10 menit, atau kau harus lari mengejar mobil ini."


Cih, kenapa kau tidak ada baik-baiknya sedikit pun sih.

__ADS_1


Aran langsung berlari masuk kembali ke dalam kafe, sambil melihat jam di hpnya.


Bersambung


__ADS_2