Terpaksa Menikahi Tuan Muda

Terpaksa Menikahi Tuan Muda
36. Saga Sakit (Part 1)


__ADS_3

Pagi hari, Saga yang terlambat bangun sedang mandi.


Daniah masuk ke dalam kamar setelah mengisi perutnya di dapur. Dia sudah kelaparan, kalau menunggu Saga untuk sarapan bisa-bisa dia pingsan. Pagi ini laki-laki itu terlambat bangun, di bawah tadi dia sudah melihat Sekretaris Han datang. Sibuk dengan urusannya sendiri di ruang kerja Saga.


Ibu mertua yang panik karena tidak melihat anaknya, adik ipar juga begitu sudah meributkan kenapa kakak tersayang mereka tidak muncul. Huh Daniah menjatuhkan diri ke kursi.


Walaupun dia menyebalkan, tetapi banyak yang sayang padanya ternyata.


Daniah melihat layar hpnya lama. Berfikir keras. Semalam dia sudah mendapatkan sedikit informasi mengenai wanita bernama Helena itu dari pelayan. Ya, dia harus hati-hati juga, jangan terlalu terlihat antusias ketika bertanya, nanti mereka curiga. Biarkan saja pelayan itu menduga bahwa dirinya mencari tahu karena cemburu.


“Nona Helena itu wanita yang baik dan juga cantik.” Begitu obrolan pertamanya dengan pelayan yang sudah mulai akrab dengannya.


Daniah nyengir.


“Maafkan saya Nona, Nona Daniah juga sangat baik dan cantik juga.”


Haha, matamu sedang berbohong tuh. Aku cukup tahu diri kok.


“Nggak papa, makanya aku penasaran seperti apa wanita yang dicintai Tuan Saga, apa dia sering kemari dulu.”


“Sering.” Dia menjawab cepat. “Tuan Saga sering membawanya pulang.”


“Kenapa ya mereka sampai berpisah?” Daniah mengetuk-ngetuk meja, supaya tidak terlihat kalau dia penasaran sekali.


“Saya juga tidak tahu alasan pastinya Nona, tapi kalau Nona Jenika pernah mengatakan katanya Nona Helena pergi keluar negri. Apa Nona Daniah merasa cemburu ya?”


“Haha tentu saja.” Daniah memukul pundak pelayan wanita di depannya.


Cemburu, sudah gila apa aku sampai cemburu. Ini misi untuk mempertemukan Tuan Saga dengan cintanya, agar aku bisa lari dari penjara ini.


Plak! Handuk kecil menempel di wajah Daniah yang sedang tenggelam dalam lamunan. Dia langsung terbangun dari duduk menjatuhkan hp yang dipegangnya.


Eh, kenapa dia tidak memakai pakaian kerja.

__ADS_1


“Minggir, keringkan rambutku!” Daniah menyingkir memberi jalan Saga untuk duduk, lalu dia berjalan ke belakang kursi dan mulai mengeringkan rambut.


“Apa Anda tidak bekerja Tuan?” bertanya karena penasaran saja.


“Hemm, aku sedang sakit sekarang.”


Apa! Sakit, memang kau bisa sakit juga, kamu kan bukan manusia. Penyakit saja pasti malas mendekatimu.


“Tapi Anda terlihat baik-baik saja.” Sambil mengeringkan rambut dengan hati-hati dan lembut.


“Kalau aku bilang aku sakit berarti sakit.” Saga mendongakkan kepalanya, menatap Daniah tajam. Wajahnya masam.


“Baik Tuan, Anda sedang sakit, saya akan mengeringkan rambut Anda dengan hati-hati.”


Wajah Daniah merenggut, ya, ya, kau rajanya. Terserah mau mengatakan apa.


Saga membungkukkan badan, mengambil benda kecil yang dijatuhkan Daniah tadi.


“Hp zaman kapan ini?”


“Kau lupa yang aku bilang, kalau tidak memakai kartuku lebih dari 20 kali kamu bakal dihukum.”


“Saya ingat Tuan, saya akan memakainya.” Akan kubeli seisi dunia kalau perlu, teriak Daniah. Dalam hati ya, beraninya.


“Ganti hpmu dengan keluaran terbaru.”


“Baik Tuan.” Menjawab pasrah biar cepat selesai urusan.


Eh kenapa ini.


Saga menarik jari Daniah, menempelkannya pada pemindai sidik jari di layar hp.


“Tuan itu hp saya.” Terlalu banyak dosa di dalam hp itu, Daniah panik sendiri.

__ADS_1


“Kenapa? Jiwa dan ragamu saja milikku, apalagi cuma benda begini. Selesaikan pekerjaanmu!” Mendengarnya Daniah sudah tidak punya kata-kata untuk membalas lagi.


“Baik Tuan.” Pasrah.


“Manis sekali, kenapa tidak sekalian kau menikah dengan adikmu.” Saga melihat layar depan hp Daniah.


“Dia kan adik saya”


Saga masih bicara ke mana-mana, intinya cuma menghina.


Setelah selesai mengeringkan rambut, Daniah keluar kamar menyampaikan pesan, kalau Saga ingin makan bubur karena katanya sedang sakit. Di luar dugaan semuanya terlihat sangat panik. Pak Mun langsung memberikan instruksi kepada para koki. Semetara ibu memberikan pandangan penuh khawatir.


Daniah ingin sekali tertawa sekarang.


Hei, laki-laki gila itu baik-baik saja, kenapa kalian bersikap seolah-olah dia mau mati saja.


“Nona, Anda harus kembali ke kamar sekarang.” Han mengangkat tangannya, mempersilahkan Daniah berjalan di depannya.


Apalagi si orang ini


“Saya menunggu sarapan Tuan Saga.”


“Pak Mun akan mengantarnya ke kamar kalau sudah siap nanti, Anda harus melayani Tuan Saga karena dia sedang sakit.”


Walaupun berwajah kecut Daniah akhirnya menuruti kata-kata Han.


“Hei Sekretaris Han, dia itu tidak sakit beneran.” Daniah menoleh pada laki-laki di belakangnya.  Dia tidak bergeming. “Lihat sendiri sana.” Masih berjalan mengikuti dan tidak bergeming. “Sekretaris Han, apa Anda tahu kapan Helena akan kembali?”


Han menghentikan langkah kakinya, tangannya yang berpegang pada tangga terkepal. Daniah merinding melihat sorot mata tajam Han.


“Aku kan hanya bertanya, kenapa serius sekali.” Walaupun tahu Han sedang menahan emosinya, Daniah tetap bicara sambil bersenandung ria. Karena dia tidak tahu bahwa sebenarnya orang yang harus lebih dia waspadai adalah laki-laki di hadapannya.


Apa yang Anda rencanakan Nona Daniah, kalau Tuan Saga menginginkan Anda, maka sampai kapan pun saya tidak akan membiarkan Anda lari. Walaupun Anda menolak sekalipun.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2