Terpaksa Menikahi Tuan Muda

Terpaksa Menikahi Tuan Muda
125. Kencan (Part 2)


__ADS_3

Kencan ala rakyat biasa dimulai. Rencananya Daniah akan mengerjai Saga untuk mengenalkannya pada kehidupan rakyat biasa. Tapi benarkah yang terjadi akan demikian, atau sebaliknya.


“Bawa ini sayang.”Daniah


melingkarkan tasnya ke leher Saga, laki-laki itu tampak bingung melihat tas


Daniah yang melingkar di lehernya. Lebih-lebih saat istrinya tidak menunggu


persetujuannya.


“Hei, kau mulai kurang ajar begini


ya.” Menunjuk tas yang melingkar di leher dengan matanya. Menatap kesal.


“Aaaa, sayang begini memang kalau


kencan rakyat biasa. Laki-laki biasanya memegang tas perempuannya. Hehe.” Agak memalingkan


wajah, supaya tidak terlihat kalau sedang tersenyum menahan kebohongan.


*Kapan lagi kan aku bisa mengerjai*mu. Hehe.


“Cih!” Mendengus.


“Kalau tidak mau ya sudah.” Daniah


sudah memegang tali tas dengan kedua tangannya. Mau mengambilnya.


“Lepaskan!” Menepis tangan Daniah


agar melepaskan tali tas. ‘’Mau apa kamu?”


“Aku mau membawa tasku sendiri


sayang.” Tersenyum.


“Kenapa? Kamu tidak mau aku


membawa tasmu? Ia.” Mulai kesal kan.


Bukan! Tadi kan kamu yang tidak mau.


Dasar! Kata-kata selalu tidak bersinergi dengan perbuatan.


“Kalau begitu tolong bantuannya ya


sayang.”


Haha, dia lucu sekali. Aku akan


balas dendam mengerjaimu hari ini ya. Kenapa dia jadi terlihat manis begitu


dengan tasku di lehernya. Aku tidak akan di penggal Sekretaris Han kan karena


mengerjai tuannya.


“Eh Pak Sopir kenapa mengikuti


kami?” Daniah mulai terganggu, ketika Sekretaris Han bahkan berada di radius


kurang dari lima meter dari jarak mereka berdua berdiri sekarang.


Kalau kamu ikut dia tetap Tuan Saga


donk bukan suamiku.


“Jangan bicara padanya!” Menarik


tangan Daniah. “Biarkan dia, dia pasti tidak punya kerjaan karena mobilnya


sudah kusewa seharian ini.”


“Jangan ikuti kami!” Daniah


menuding Sekretaris Han lalu menuding matanya. Jangan mengawasi kami, begitu


dia berteriak dalam hati.


“Saya cuma mau jalan-jalan


menghabiskan waktu saja Nona. Silahkan kalian nikmati kencan kalian.”


Selamat bersenang-senang dan


membalas tuan muda nona. Rugi sekali kan kalau saya tidak menonton drama ini


langsung.


Mereka berdua akhirnya benar-benar


memutuskan tidak perduli dengan keberadaan Sekretaris Han. Cuma Daniah yang


berusaha. Saga sendiri selalu tidak pernah terganggu dengan keberadaan


Sekretaris Han di sampingnya. Walaupun laki-laki itu menempel seperti permen


karet mengganggu, Saga tidak pernah merasa terganggu sedikit pun.


“Pakai topimu dengan benar!”


menarik sampai semua bagian wajah Daniah tertutup.


“Sayang aku tidak bisa melihat.”


Sudah gila ya, yang mencolok itu wajahmu.


Lihat, orang-orang sudah mulai melirikmu kan.  Tampan, tinggi. Sempurna.


“Aku akan jadi mata untukmu.


Pegang tanganku.”


Haha, apa dia bilang. Belajar dari


mana dia gombalan beginian. Aku bahkan tidak mengajarinya.


“Kenapa mereka melihatmu? Aaaa,


bisa gila aku karena kesal melihat mereka melirikmu terus. Katakan kau mau


membeli apa biar Han yang membelikannya untukmu! Ayo segera keluar dari sini.


aku mau kencan di tempat yang tidak ada orang lain.” Mulai deh banyak sekali


bicara.


“Sayang, bukan aku yang mereka


lihat.”


“Lalu siapa? Dari tadi mereka

__ADS_1


melihat ke arah kita.” Kesal.


Kamu, kamu, kamu yang dilihatin


mereka. Wajah tampan dan tinggi sempurnamu itu yang sedang dinikmati mereka.


Aku ini cuma kantong kresek terlihat dari sudut pandang mereka tahu.


“Tapi kan janji kalau kencan hari


ini kencan rakyat biasa. Aku yang lebih berpengalaman di sini, jadi ikuti saja


aku. Ayo!”


Mendengar itu Saga menghentikan


langkah kakinya, dia mengibaskan tangan Daniah yang memegang tangannya. Gadis


itu berbalik panik.


Apa lagi si!


“Jadi sudah dengan siapa saja kamu


kencan ala rakyat biasa begini.” Suara Saga sudah berubah “Jangan-jangan kamu


sudah pernah kencan di sini, dan mengulangnya denganku?” Terdengar tidak suka


dari nada bicaranya.


Lho, kenapa jadi aku, seharusnya


aku kan yang mengerjaimu. Kenapa belum apa-apa aku sudah kena begini.


“Bukan begitu.” Mendekat dan


memeluk Saga. “ Ini juga pertama kalinya aku kencan dengan laki-laki.” Diam


sebentar menatap Saga. Wajahnya belum melunak sama sekali. “ Ini juga pertama


kalinya aku kencan dengan laki-laki yang aku sukai.” Memalingkan wajah malu.


“Aku tidak punya waktu untuk kencan seperti ini dulu, kami sibuk mencari uang.


Mantan.”


“Diam! Jangan bicara tentang


mantan pacarmu.” Mencium kepala tertutup topi itu. “Baiklah, karena ini kencan


pertamamu dengan laki-laki yang kamu sukai. Aku akan berbaik hati menuruti


semua maumu.”


Haha, kena kau. Aku tahu kamu cuma fokus


di kata-kata kencan dengan laki-laki yang kusuka kan.


“Janji ya.”


“Hemm.”


“Ayo jalan.”


***


Daniah menarik lengan Saga keluar


“Hei tunggu, aku mau membelinya


untukmu.”


“Ssstttt.” Daniah menutup mulutnya


dengan jari agar Saga diam dan mengikutinya saja. “Bagaimana bisa mereka


menjual dengan harga semahal itu.”


“Terserah dengan harganya, yang


penting kamu kan suka.” Gusar. “Ayo kembali, aku belikan kalung itu.”


Daniah menggeleng tidak mau.


Week, kesal kan kamu. Memang ini


yang namanya jalan-jalan cuci mata doank kok. untuk jutawan sepertimu menghabiskan waktu dengan cara ini pasti mengesalkan.


“Hei, kau tidak waras ya. Sudah


berapa kali kita masuk toko, tidak ada satu barang pun yang kamu beli.” Mulai setengah


berteriak karena kesal. Beberapa orang berhenti melihat perdebatan mereka. Tapi


segera menyingkir ketika Saga dengan sorot mata kesalnya melihat mereka.


“Haha, sayang inilah seninya


kencan rakyat biasa. Kamu tidak perlu modal untuk membuat pasanganmu bahagia.


Cukup ajak dia cuci mata saja sudah senang kok.” Daniah secara paksa mendorong


tubuh Saga berjalan menjauh dari toko yang untuk kesekian kalinya dia masuki cuma


untuk melihat-lihat.


Aku akan membuat kakimu pegal


sampai mau copot. Haha.


“Ayo beli camilan.” Menarik tangan


supaya Saga mengikuti langkah kakinya menuju food court mall. Saga mengeluarkan


hpnya dia mengetikan sesuatu, sambil mengimbangi langkah kaki Daniah di


sampingnya.


“Beli semua barang yang di tunjuk


Daniah di toko yang kami masuki tadi. Semua!” pesan terkirim. Kata semua dengan


tanda seru, mengisyaratkan jangan sampai terlewat satu item pun.


Mereka menghentikan langkah setelah


melihat deretan stand makanan. Bau dan aroma makanan bercampur. Ada yang


mendominasi kuat sampai beberapa radius aromanya tercium. Menggoda para


pelanggan mendekat.

__ADS_1


“Sayang pesan makanan di sana ya.


Kemarikan tasku, aku tunggu di kursi itu ya.” Daniah menunjuk kursi di dekat


jendela. Saga terlihat bingung. Kenapa dia yang harus pesan.


“Kenapa aku yang pesan?” bertanya


serius.


“Karena begitu seharusnya. Tidak


mau ya? Kalau begitu.” Daniah sudah mau mengalah, biar dia memilih makanan.


“Duduk! Biar aku yang pesan.


Jangan bergerak kemana pun. Turunkan topimu lagi.” Menarik topi Daniah turun.


Ia, ia. Walaupun kesal tetap Daniah


menurunkan topinya.


Cih, jelas-jelas semua orang sedang


meliriknya, kenapa aku yang di suruh menutupi wajahku.


Daniah sudah menunggu di kursi. Ramai


pengunjung dan ramainya antrian. Dia mengeluarkan hpnya. Mengambil foto Saga


dari kejauhan. Momen pertama kalinya dalam hidup Saga, mengantri  membeli makanan.


Untuk pertama kalinya dalam hidup


Saga. Dia memesan minuman sendiri. Canggung memilih menu. Namun pelayan wanita


di depannya dengan suka cita membantu. Dia terlihat tersenyum jauh lebih ramah


dari pada dengan pelanggan sebelumnya.


“Ada lagi Kak?”


Saga menunjuk satu boks camilan


yang terlihat seperti bola-bola bakso di goreng dan juga satu cake coklat yang


terlihat enak.


Sigap pelayan itu menyiapkan


pesanan.


Berhasil, Berhasil. Begini kan


caranya. Huh! Apa kamu pikir aku tidak bisa melakukan hal seperti ini. Meremehkan


sekali.


Saga membawa nampan berisi makanan dan


minumannya. Daniah yang melihat dari kejauhan tidak bisa tidak untuk tidak


mengabadikan momen bersejarah ini. Banyak sekali foto yang dia ambil. Saat Saga


berjalan ke arahnya dengan kesusahan membawa nampan berisi makanan.


Prok, prok, prok. Daniah bertepuk


tangan kecil saat Saga sampai di tempat duduk dan meletakan nampan. Sukses


mendarat dengan sempurna tanpa ada satu pun makanan dan minuman yang tercecer.


“Terimakasih sayang. Kamu hebat


sekali.” Bertepuk tangan kecil lagi, menunjukan pujian dan kebanggaan.


“Huh! Hanya seperti ini saja.


Gampang.” Tapi dia membusungkan dada bangga dengan wajah merona bahagia.


Membuat Daniah mengulum senyum.


Dia benar-benar merasa bangga.


Mengemaskan sekali.


“Kau senang?” tanya Saga. Daniah


Menganggukkan kepalanya berulang.  Saga


meraih minumannya, dia sengaja membeli dengan dua rasa berbeda. Dua-duanya dia


cicipi semua, lalu menyerahkan salah satunya. Pada Daniah. “Seharusnya aku cuma


pesan satu ya, biar kita bisa berbagi bibir.”


Huh! Kau bahkan sudah menyedot


semuanya, masih bilang begitu.


“Sayang, apa kau menyuruhnya


mengikuti kita.” Daniah melihat Sekretaris Han menuju ke tempatnya duduk. Dia


melewatinya hanya Menganggukkan kepala sedikit.


“Tidak, mungkin dia haus. Jangan


pedulikan dia. Lihat aku, hanya lihat aku!” menarik-narik tangan Daniah agar


gadis itu hanya melihatnya.


“Ia, ia.” Hup memakan camilan yang


dibeli Saga. Daniah sudah meletakan satu bola-bola bakso di depan mulut Saga.


Laki-laki itu menggeleng. “Hemmm. Buka mulut. Seharusnya sekarang.” Daniah


belum menyelesaikan kalimatnya Saga sudah membuka mulutnya.


“Puas!” Mengunyah makanan yang


dimasukan Daniah ke mulutnya.


“Hehe.”


Puas donk, biasanya kamu tidak


pernah makan jajanan beginian kan. Habis ini kita ke mana lagi ya?


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2