Terpaksa Menikahi Tuan Muda

Terpaksa Menikahi Tuan Muda
Bulan Madu (Part 11)


__ADS_3

Kesenjangan fasilitas sangat


mencolok di sini. Sebuah ruangan pemeriksaan lain, dengan luas dan fasilitas


yang berbeda jauh dari yang di tempati Daniah. Bagaikan bumi dan langit yang


terpisahkan jauh.  Hanya sebuah vas bunga


imitasi yang sedikit mencerahkan suasana muram di ruangan ini. Suara kipas


angin juga lirih berputar di atas ruangan. Memutar udara agar terasa sejuk bagi


siapa saja pasien yang di rawat di ruangan ini. Karena memang tempat ini


hanyalah klinik kesehatan kecil di lokasi perbelanjaan.


Aran sudah duduk  di tempat tidur. Tengelam dalam pikirannya


sendiri. Semua hal dari dampak sederhana sampai yang terburuk akan menimpanya  sudah dia persiapkan di hatinya. Dia duduk


diam di tempat tidur selama seorang dokter jaga klinik memeriksa dan mengobati


semua luka di tangan dan sikunya. Dia bahkan tidak merintih atau sekedar


mengaduh, karena banyaknya kekuatiran dalam pikirannya. Bertepatan dengan Han


masuk ke dalam ruangan. Gadis itu mendongak lalu menundukan kepalanya terkejut


ketika pandangan mereka bertemu. Untung saja dokter jaga tadi sudah selesai


mengoleskan obat memar di bahunya. Saat Han masuk ke dalam ruangan.


“ Sudah  selesai. Minum obat di atas meja itu, sebelum


nyerinya menjalar . Ada beberapa bagian yang robek di siku dan sudah saya jahit.


Semoga dalam beberapa hari semuanya bisa sembuh dan normal lagi.” Dokter itu


menarik sebuah nampan kecil mendekat ke tempat tidur. Obat dan juga sebotol


minuman. “Kalau ada apa-apa, panggil saja perawat jaga di luar.” Dokter itu


menunjuk pintu keluar.


“ Ia terimakasih.” Aran merapikan


pakaiannya. Menarik rambutnya yang terburai. Merogoh saku celananya, biasanya


dia selalu menyimpan ikat rambut cadangan di sana.


Dokter itu mengangukan kepalanya


sopan ketika melewati Han yang berdiri bersandar di dinding dekat dengan pintu


keluar. Han hanya membalas dengan anggukan kecil tanpa bersuara. Lalu dia


menutup pintu perlahan tanpa suara.


“ Apa yang kau lakukan dengan


tangan terluka begitu?” mendekat cepat dan merebut ikat rambut di tangan Aran.


Lalu cekatan tangannya mengikat rambut terburai itu.


Hah! Hal gila apa yang kulakukan


sekarang. Menyesali reaksi spontannya saat melihat Aran kesusahan merapikan


rambutnya. Tapi Han meneruskan saja apa yang sudah dia lakukan.


“ Tuan saya bisa sendiri.” Saat


tangannya menyentuh tangan laki-laki itu, Aran segera menariknya menjauh.


“ Diam, atau aku akan menarik


rambutmu.”


Patuh diam, meletakan tangan


dipangkuannya lagi. Wajah Aran sudah berubah merah. Malu.


Baiklah,  Lakukan saja apa yang ingin tuan lakukan. Asal


jangan bunuh saya saja.


“ Maaf tuan, saya tidak bisa


bekerja dengan baik.” Dia bangun dari tempat duduk setelah Han selesai mengikat


rambutnya. Dengan tangan kirinya dia meraba tengkuknya.


Sepertinya ikatannya normal.


“ Duduk!”


Aran tidak jadi meninggalkan


tempatnya. Dia duduk lagi sama persis di tempatnya tadi. Tempat tidur itu


berderik saat dia menjatuhkan tubuhnya. Walaupun dia merasa melakukannya pelan.


Saat ini semua hal yang dia takutkan kembali berkelebat cepat. Mungkin ini


adalah akhir hayat dari pekerjaannya. Asalkan dia tidak di suruh berenang ke


luar pulau dan kembali ke ibukota sendirian, itu sudah lebih dari cukup


baginya. Menebus semua kesalahannya hari ini. Masih tercipta kebisuan. Membuat

__ADS_1


Aran semakin tegang karena banyaknya prasangka yang muncul di kepalanya.


Habislah aku. Tuan aku terluka


begini apa tidak ada belas kasihmu sama sekali.


Han menarik kursi yang tadi di


duduki dokter untuk merawat Aran. Membuat gadis itu mengeser sedikit duduknya.


Tapi tangan Han mencegahnya untuk menjauh  lagi. Laki-laki di depannya ini memegang tangannya. Aran langsung panik,


tapi saat ternyata Han hanya melihat luka di tangannya. Dia merasa bisa


bernafas lega. Han memeriksa siku yang robek dan mendapat beberapa jahitan.


“ Bagaimana kau bisa seceroboh


ini.” Tidak seperti biasanya Han meletakan tangan Aran dengan cukup hati-hati


ke pangkuan gadis itu lagi. Seperti tahu kalau luka itu cukup membuat Aran kesakitan,


walaupun gadis itu tidak menunjukannya.


Eh, kenapa dia sopan begini.


“ Minum obatmu sekarang!”


Mengangkat nampan dan meletakannya di pangkuan Aran.


“ Ia tuan. Terimakasih.”


Dia tidak baik lalu melemparkukan?


Saat Han kembali diam Aran mulai tenang. Dengan hati-hati mengambil obat dan


meminumnya.


“ Maafkan saya tuan.” Minta maaf


dulu saja, begitu strategi Aran yang sudah dia pikirkan untuk menyelamatkan


dirinya. Ini  kesalahan fatal. Dia


melihat langsung marahnya tuan Saga yang selama ini tidak pernah tertangkap


media. Lebih-lebih sikap Han yang mengila untuk mengantikan kemarahan tuan


Saga. Aran bisa membayangkan bagaimana kondisi laki-laki itu. Teman SMU nona.


Dia masih hidupkan? Penasaran itu


luntur saat memikirkan nasibnya sendiri.


“ Tapi nona Daniah tidak terluka. Tergores


sedikitpun tidak, saya bersumpah.” Aran mengangkat kedua jarinya bersumpah.


tuan. Percayalah padaku.


“ Bodoh!” Satu kata yang keluar


dari mulut Han sudah membuat Aran kehilangan kepercayaan diri untuk melakukan


pembelaan.  “ Menjaga nona adalah


kewajibanmu.” Aran langsung menundukan kepala. Ya, ini memang sedikit banyak


akibat ulahnya menyiram minuman dingin ke wajah laki-laki berandalan itu. “Dan


menjaga tubuhmu untuk tidak terluka juga adalah tanggungjawabmu.” Han


melanjutkan kalimatnya.


Apa si maksudnya? Maksudnya dia


perduli padaku dan tidak mau aku terluka?


“ Dimana keahlian bela diri yang


kau bangga-ganggakan di depan tuan muda waktu itu? Gayanya sudah seperti jagoan


wanita tidak terkalahkan saja.  Menghadapi berandalan seperti mereka saja sampai lenganmu robek begitu.”


Mengangkat tangan Aran lagi. Tapi gadis itu bisa merasakan kehati-hatian ketika


Han menyentuh tangannya.


Untunglah dia manusia kalau


menghadapi anak buahnya yang terluka.


“ Merekakan main keroyokan tuan.”


Mencari celah pertama sedikit pembelaan diri. “ Saya sudah termasuk hebatkan?”


Tersisa ruang tidak tahu malu di hatinya ingin dipuji.


Tunggu, pengawal-pengawal itu tidak


mungkin tidak cerita bagaimana perjuangankukan! Ya mereka memang dua lawan


satu. Aku saja yang adu jotos sendirian. Tapikan lawanku laki-laki!


Aran sedikit kesal, kalau dia


sebenarnya sudah mempertaruhkan nyawanya dengan serius dalam perkelahian tadi.


Walaupun dia diposisi kalah mengenaskan dengan memar dan luka dimana-mana. Tapi

__ADS_1


demi mengingat kata-kata terakhir para pengawal sebelum terjadi baku hantam


tadi, nyalinya menciut. Untuk pamer kekuatan.


Sekertaris Han ingin melihat


bagaimana hasil kerjamu. Tapi sepertinya kau tidak berguna sama sekali.


Aaaa, sial. Siapa si mereka, sudah


seperti pengawal level tinggi saja gayanya. Kalau mereka sehebat itu kenapa


masih membutuhkanku di samping nona.


“ Tuan.”


“ Hemm.” Han sudah bangun. Membuat


Aran juga bangun dari tempat tidur dan mengikutinya.


“ Apa tuan akan memecat saya?” Aran


menghentikan langkah saat Han berhenti. Tangannya yang sudah memegang handle


pintu terhenti. Seringai tipis muncul di bibirnya.


Apa itu? Kenapa dia terlihat


seperti tersenyum tipis tadi.


“ Tidak, aku tidak akan memecatmu.” Meneruskan


membuka pintu dan berjalan cepat keluar ruangan perawatan. Seorang perawat jaga


mengangukan kepala dan tersenyum. Tapi Han hanya melewatinya saja. Aran yang


membalas senyuman itu dan mengikuti langkah kaki cepat Han.


“ Benarkah tuan, terimakasih banyak.


Tuan memang berhati mulia.” Mengelus dadanya bersyukur. Berarti dia selamat dan


bisa tetap bekerja. Tuan Han juga manusiakan, hatinya mungkin saja tersentuh


oleh usaha Aran.Begitu yang gadis itu pikirkan.


“ Kau bahkan belum membayar


setimpal kerugianku karena bertemu denganmu. Kenapa aku harus memecatmu.”


Aku cabut kata-kata baik yang


tertuju untukmu tadi. Siku Aran langsung berdenyut.


“ Cepat! Apa kakimu terluka juga.


Mau kusuruh perawat mendorongmu dengan kursi roda.”


Cih. Dia memang sekertaris Han.


“ Tidak tuan terimakasih. Tapi kita


mau kemana?” Masih saja banyak bicara.


“ Keruangan nona. Ada yang mau di


urus tuan muda. Kau jaga nona di ruang perawatannya.”


“ Ada apa lagi? Apa yang.” Tidak


meneruskan pertanyaannya karena Han berhenti melangkahkan kaki.


“ Hei, kau lupa aku pernah bilang.


Terlalu banyak bicara dan mencari tahu itu bisa memperpendek umurmu.”


“ Maafkan saya tuan. Mari lekas ke


kamar nona.”


Harimau gila tetaplah harimau gila.


***


Berada di depan ruang perawatan VVIP tempat Daniah di


periksa. Dua pengawal yang sedang duduk berjaga langsung berdiri. Han mendekat


dan mengetuk pintu.


“ Tuan muda, apa saya boleh masuk.” Tidak ada sahutan dari


dalam. Tapi sebentar kemudian terdengar suara Daniah. Bukan mempersilahkan Han


untuk masuk.  Suara nona mudanya kembali terdengar. “ Tutup telinga kalian!” Han menoleh pada kedua orang yang sedari tadi duduk di depan ruangan.


Polusi udara semacam apa yang sudah kalian dengar dari tadi. Han


“ Baik tuan.


Sudah sedari tadi kami menutup telinga kami. Ujar dua pengawal


itu menjawab bersamaan dalam hati. Mereka hanya bersitatap tanpa bersuara saat


mendengar suara dari dalam ruang perawatan.


“ Tuan kenapa? Apa nona baik-baik saja.”


Apa! Kenapa semua orang memelototiku? Apa salahku?

__ADS_1


bersambung


__ADS_2