Terpaksa Menikahi Tuan Muda

Terpaksa Menikahi Tuan Muda
127. Jenika


__ADS_3

Ketika orang sudah merasa jatuh


cinta, dia bahkan bisa melakukan hal di luar nalar manusia normal. Orang lain


mungkin akan mengatakannya gila. Tapi baginya ini adalah bentuk perjuangan


cintanya. Jangan dibantah ya, dia akan semakin menggila kalau kau membantahnya.


Mungkin seperti itulah yang sedang


dilakukan gadis cantik di mobilnya itu. Area parkir Danau Hijau yang dekat


dengan pintu masuk utama. Sedang terjadi keributan kecil dua adik beradik di


dalam mobil. Yang satu seperti dibilang tadi, sedang melakukan upaya maksimal


untuk perjuangan cintanya, yang satu membantah karena mengganggap kakaknya sudah


di luar jalan pikiran normalnya.


“Kak Jen, kenapa kita dari pagi di


sini si? Memang apa yang kamu cari. Aku lapar, ayo cari makanan dulu.”


Merengek. Rengekannya sudah di luar batas normal dan membuat kesal. Kalau


kelaparan dia memang cenderung menyebalkan. Kebanyakan si memang begitu ya.


Lapar membuatmu kadang gelap mata. Seperti yang sedang dialami Sofi kali ini.


“Sudah diam, tunggu sebentar.


Minggu kemarin dia posting sedang olahraga di Danau Hijau. Siapa tahu sekarang


dia juga di sini. Aku akan pura-pura tidak sengaja bertemu dengannya nanti.”


Sofia ngedumel di kursi depan.


Kekanakan sekali, seperti bukan Kak Jen saja pikirnya. Biasanya kalau dia suka


pada seseorang dia akan tidak tau malu menempel dan minta dicomblangin oleh


orang-orang yang dia kenal. Bahkan dia tidak akan tahu malu melakukan manuver


blak-blakkan. Karena sifat Jenika memang seperti itu. Dia gadis terbuka yang


mudah mengatakan isi hatinya.


“Aku lapar Kak!!” Berteriak


kencang.


“Pesan makanan pakai hpmu kenapa,


kalau tidak turun cari makanan sana.” Menunjuk area kuliner yang terlihat penuh


sesak keramaian orang. Sofi sudah ciut melihat keramaian itu. Membuatnya tidak


berani kalau harus keluar sendirian.


“Ah, ia kenapa baru bilang si kak


aku pesan food online saja.” Mencari aman, memilih duduk diam di dalam mobil


saja. Sambil jarinya sibuk memilih menu yang sepertinya enak.


“Sudah jangan menggangguku. Duduk


dan tunggu makanan saja”


Jenika menajamkan penglihatannya.


Suasana sangat ramai. Dari tempat parkir ini pintu masuk Danau Hijau terlihat


jadi dia bisa melihat orang-orang yang keluar masuk. Tapi sampai matanya jereng


dia belum melihat sosok yang dia tunggu-tunggu. Dia melihat jam di tangannya,


waktu terus bergulir dengan cepat. Danau Hijau semakin ramai. Sofi sedang


menikmati sarapannya dengan lahap. Dia minta beberapa kali suapan, matanya


tidak berhenti berkeliling.


“Kak Jen sudah ayo pulang.”


Makanan dan minuman Sofia sudah habis dia kembali berisik lagi. “Aku ngantuk,


kemarin aku begadang mengerjakan laporan bulanan Kak.”


“Berisik, tidur saja di situ.


Turunkan kursimu.” Kesal, sambil menepuk-nepuk kursi depan agar ditidurkan.


“Kak Jen!” Merengek lagi.


“Sudah diam”


Jenika semakin frustasi, selang


hampir satu jam. Dia tidak mendapatkan hasil apa-apa. Melirik Sofi yang


benar-benar tertidur. Dia mengambil makanan yang di pesan Sofi tadi. Sambil


terus memperhatikan sekitar. Sepertinya tidak mau menyerah dia. Dia


menghabiskan makanannya. Melihat hpnya. Akun sosial media teman magang yang


sedang dia incar belum ada update baru. Membuatnya semakin frustasi.


Kenapa aku begini si. Bodohnya.


Jelas-jelas aku punya no hpnya tapi bahkan nggak berani chat duluan.


Ingin bertemu secara natural begitu


pikiran Jen. Di kantor mereka memang sering bertemu. Tapi seperti yang pernah


di keluhkan Jen, kalau teman magangnya itu laki-laki yang sangat baik. Dalam


artian dia baik pada semua orang. Tidak hanya perempuan, dia juga bahkan tidak


segan membantu teman magangnya yang laki-laki. Double kill, dia punya pesona


yang tidak bisa di lawan. Baik oleh laki-laki maupun perempuan.  Dan masalahnya dia juga sama sekali tidak


menunjukan ketertarikan pada Jen sebagai lawan jenis. Itu yang semakin membuat


Jen frustasi dan bingung memilih strategi pendekatan seperti apa.


“Jangan mengajakku lagi!” Sofi


yang sepanjang jalan merengek masih belum berhenti mengeluh walaupun sudah


sampai di rumah. “ Capek tahu.”


“Kamu itu capek kenapa lagi. Orang


kamu juga cuma makan dan tidur.” Mengingat kembali yang di lakukan sofi di


dalam mobil. “Ditambah satu lagi, merengek tidak jelas.” Jenika menjawab tak


kalah judes. Suasana hatinya sangat buruk, jangankan pura-pura bertemu. Melihat

__ADS_1


batang hidungnya saja tidak.


“Bodo amat, pokoknya jangan


mengajakku lagi kalau cuma buat mengintai nggak  ada hasilnya begini. Kak Jen bagaimana kalau aku yang meneleponnya.”


Merebut hp di tangan jenika. Gadis itu langsung panik dan merebut kembali


hpnya.


“Hei, aku kan mau natural pedekate


sama dia. Biar tidak terlalu blak-blakkan keliatan aku mengejarnya.” Awas kamu


kalau berani macam-macam, tuding Jen melalui matanya.


“Kak Jen ngapain si yang begituan


sudah seperti bocah lagi jatuh cinta aja.” Sofia jengah meninggalkan Jen yang


masih sibuk dengan pikirannya sendiri. Dia mau naik ke kamarnya meluruskan


punggungnya di tempat tidurnya yang nyaman. Padahal benar kata Jen, dia cuma


makan dan tidur di mobil. Tapi sepertinya dia kelelahan sekali.


***


Sehabis makan malam Saga dan Daniah


memilih menghabiskan waktu di dalam kamar. Duduk di depan TV. Menghadapi TV


yang menyala tapi sama sekali tidak menonton. Saga hanya sibuk menjahili


istrinya.


Dering hp di atas meja, milik


Daniah. Mengoyak keseriusan Saga.


“Siapa? Taruh hpmu!” Saga sudah


mau merebut hp di tangan Daniah. Dia sudah berencana melemparkannya sembarangan


ke segala arah. Daniah menariknya ke atas sambil dia berdiri dari duduk.


“Jen. Tunggu biar aku angkat. Dia


di rumah kan. Sebentar saja sayang, biar aku bicara padanya sebentar saja ya?”


Daniah merasa heran kenapa sampai Jen meneleponnya padahal dia sama-sama ada di


rumah. Saga mengalah, hanya menyandarkan dagunya di punggung Daniah ingin


mendengar apa yang dibicarakan.


“Hallo, kenapa Jen?” Daniah bicara


pelan. Berharap semua baik-baik saja. Tapi sudah terdengar suara Jen yang penuh


semangat, bahkan masuk kategori keras membahana.


“Kakak ipar!” membuka percakapan


dengar teriakan dramatis. Saga sampai merebut hp Daniah, terlihat mulai khawatir


dan dia mulai mengeraskan suara.


“Kenapa Jen? Di mana kamu?” Saga


yang bicara. Daniah diam dan hanya memperhatikan. Baik sikap, perubahan suara


atau raut muka Saga. Saat ini dia sedang menjadi Kak Saga. Laki-laki hebat yang


Kenapa dia keren begini si, tipe


kakak tampan dan perhatian. Daniah


Sial, kenapa Kak Saga si. Jen.


“Kak Saga aku mau curhat sama


kakak ipar. Aku baru putus dari pacarku.”  Memberikan info akurat terlebih dahulu. Kalau


sudah seperti ini Kak Saga pasti akan mengizinkan kakak ipar keluar kamar.


Begitu pikir Jen. Merengek secara dramatis sekali lagi. Maksudnya apa lagi


tentu membuat orang khawatir.


“Di mana kamu?”


“Di bawah kak.”  Belum bicara lagi, Saga sudah  mematikan hpnya.


Daniah bangun dari duduk, mengambil


hp yang dipegang suaminya lalu menarik tangan Saga untuk keluar kamar menemui


Jen. gadis itu bisa membaca situasi kalau Saga sedang mengkhawatirkan kondisi


adiknya. Walaupun Daniah sendiri tahu, Jen memang sengaja bicara berlebihan dan


penuh drama tadi.


“Kakak ipar.” Memeluk Daniah yang


datang ke kursinya.


"Yaa, ya, peluk sampai puas kakak


iparmu. Karena kamu sedang putus cinta jadi aku mengalah hari ini. Bicaralah


dengan tenang, aku tidak akan mengganggu.” Saga meninggalkan dua wanita berharga


dalam hidupnya itu masuk ke dalam ruangan kerjanya. Dan entah muncul dari mana


Pak Mun sudah mengikuti langkah kakinya. Tapi laki-laki itu terlihat keluar


lagi. Menuju dapur. Mungkin mengambilkan sesuatu untuk di makan saga.


Kembali pada Jen dan Daniah yang


sedang duduk di sofa.


“Baiklah, lepaskan pelukanmu.”


Kalian ini satu keluarga kenapa si,


senang sekali memelukku.


Jen melepaskan pelukannya, tapi dia


masih bersandar di bahu Daniah.


“Kakak Ipar, aku sudah putus


dengan pacarku, dan aku mau mengejar teman magangku. Tapi aku tidak tahu harus


mulai dari mana.” Memeluk lagi. Daniah menggoyangkan tubuhnya, tapi tetap saja


gadis itu tidak melepaskan tangannya.


“Bagaimana kalau mengajaknya

__ADS_1


makan? Berdua.”  Memberi ide sederhana. “Tapi dia tidak sedang punya pacar juga kan?” tersadar harus menanyakan ini.


Sebelum Jen berfikir tentang rencana lainnya.


“Aku tidak tahu.” Frustasi,


menyandarkan kepala di kursi. “Aku tidak tahu apa-apa tentangnya. Kami juga


belum pernah mengobrol secara pribadi.


Daniah hanya bisa menepuk bahu


Jenika pelan. Dia sendiri tidak terlalu paham urusan mengejar cinta atau


memperjuangkan cinta. Apalagi yang jelas-jelas kondisinya tidak sejelas ini. Jen masih bercerita panjang lebar mengenai teman magangnya. Sesekali dia tertawa, tak jarang juga mulai merengek frustasi, karena tidak tahu harus mulai dari mana.


“ Aku dan Raksa cuma pernah


mengobrol berdua sekali, waktu kami disuruh beli kopi.”


Puk, puk lagi di bahu Jenika. “Ohh


jadi namanya Raksa.” Tangan Daniah menggantung, dia terdiam berfikir cepat. Tidak mungkin kan, mulai panik sendiri dalam pikirannya. “Siapa Jen, Raksa?”


“Dia nama teman magang yang mau kukejar kakak ipar, namanya Raksa.” Batu besar menghantam Daniah dengan keterkejutan. Kenapa dunia jadi sekecil ini, begitu gumamnya pelan.


Saga sudah berdiri di dekat sofa,


dia menggelengkan kepala dan sedikit tergelak. Membuat Jen mendongakkan kepalanya


dari pelukan kakak iparnya.


“Peluk, peluklah kakak iparmu


sampai kau lega. Kasihan sekali kamu Jen.” Jenika bingung, Daniah jauh lebih


bingung bagaimana harus menjelaskan. Saga ikut duduk di samping adiknya. Menepuk


kepala adiknya pelan.


Bagaimana kami bisa terlibat


hubungan rumit ini coba.


Daniah mengambil hp yang tergeletak


di atas meja. “Lepaskan aku Jen, dan lihat ini. Apa ini teman magangmu yang


sedang kamu kejar.” Daniah menunjukan tampilan layar depan hpnya. Jenika


merebut cepat. Mulutnya terbuka menganga. Bagaimana bisa dia ada di sini


dengan kakak ipar lagi. Melihat Daniah asli lekat lalu membandingkan dengan


foto yang di lihatnya di hp.


“Dia adik tiri kakak iparmu.” Merebut


hp sambil memberi informasi mematikan. "Mereka memang tidak mirip karena beda ibu."


Saga fokus dengan hp milik Daniah.


Sementara Jenika mulai ngedrama


dengan gaya lebaynya, mengguncang tubuh Daniah keras. “Kakak ipar kenapa nggak


bilang-bilang si, kalau punya adik sekeren ini padaku. Comblangin aku sama dia


ya. Ya, ya, kumohon. Please.” Masih digoyang-goyang tubuhnya. Daniah diam saja dengan tubuh terguncang, sambil mengernyit


melihat Saga.


Kenapa lagi dia, foto-foto selfi


dengan hpku.


Saga terlihat tidak perduli


keramaian di sebelahnya, dan masih asik dengan hp Daniah.


“Masalahnya Raksa sudah punya


pacar Jen.” Duarrr, seperti tertancap panah. Langsung membuat Jen mati


mendadak. Tangannya berhenti bergerak. Dia menjatuhkan kepalanya lunglai ke


dada Daniah.


“Sabar ya Jen, nanti kamu pasti


bertemu dengan laki-laki baik lainnya.”


“Aku mau Raksa Kakak Ipar.”


Tapi kamu jelas-jelas bukan tipe


idealnya Raksa Jen, aduh bagaimana aku menjelaskannya.


Daniah menendang kaki Saga meminta


bantuan, sudah kehabisan kata penghiburan untuk Jen. Tidak tahu harus berkata


apa lagi.


***


"Awas kau sampai menganti layar depan hpmu dengan foto adikmu lagi." Bicara sambil menempelkan bibir di telinga Daniah.


Jadi untuk itu kamu foto-foto tadi. Cih


"Ia, ia, sayang tapi bantu aku mengatakan pada Jen ya. Aaa, bagaimana aku mengatakannya ya.  Masak aku musti bilang kalau Jen bukan tipe ideal Raksa. dia nanti semakin frustasi bagaimana. Bantu aku ya."Menggoyangkan kepala, menjauhkan bibir Saga dari telinganya.


"Kenapa? tipe adikmu pasti sepertimu kan. dasar sister compleks." Memeluk erat.


"Bukan begitu, mungkin karena kami sangat dekat. Jadi dia merasa nyaman dengan wanita yang mirip denganku."


Cih.


Apa! kenapa kesal. dia kan adikku. Masih saja cemburu.


"Tapi sayang, benar bantu aku ya." Menepuk tangan Saga berulang. "Bilang pada Jen."


"Baiklah, akan kuurus dia. jangan khawatirkan dia lagi." Mengangkat kepala dan memakai siku tangannya untuk bersandar. "Tapi kalau Jen mau berusaha secara sportif kamu mengizinkannya kan, dia mengejar adikmu."


"Hei kok jadi begitu. Aku tidak mau Jen terluka nanti kalau Raksa menolaknya." Memohon pada Saga. "Tolong nasehati Jen untuk menyudahi perasaannya."


"Aku akan memberi  Jen waktu untuk memperjuangkan perasaannya. Kau saja bisa jatuh cinta padaku kan. Kenapa adikmu tidak." tersenyum licik sambil mencium bibir Daniah berulang kali. Disusul dengan tawa senangnya.


Hei kenapa membandingkan kami. Kamu kan tidak? Hei tunggu, apa kamu mau bilang kalau sudah bekerja keras untuk membuatku jatuh cinta padamu. Apa kau mau mengakui perasaanmu padaku sekarang.


Saga menjatuhkan kepalanya lagi, menempelkan bibirnya lagi.


"Sayang, kamu tidak mau mengatakan sesuatu?" Masih berharap.


"Apa?"


Katakan, katakan kau mencintaiku.


"Tidurlah, kalau kau masih bicara aku akan memakanmu"


Daniah langsung menutup mulutnya rapat. memiringkan tubuh dan memeluk Saga. Dia sangat lelah seharian ini, dan ingin segera tidur dan terlelap.


Aku tidak butuh pengakuan cintamu, aku sudah merasa di cintai itu lebih dari cukup.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2