Terpaksa Menikahi Tuan Muda

Terpaksa Menikahi Tuan Muda
Masa SMU (Part 2)


__ADS_3

Wajah Daniah menjadi pias. Seperti manusia


yang sedang kekurangan darah. Sedih bercampur kesal juga ada. Namun semuanya


jauh lebih di dominasi perasaan bersalah. Dia duduk di sofa ruang tamu keluarga


Ve. Mencengkram lututnya sendiri. Bahkan tangannya sudah gemetar. Dia sudah


menitikan air mata di sudut kelopaknya. Merasa tidak berdaya sama sekali. Secepak


kilat dia seka ujung matanya, agar kristal bening itu tidak sampai jatuh


mengenai kakinya. Dia tau kesalahannya, dan kalau sampai orangtua Ve melihatnya


menangis itu akan membuat mereka semakin kesal. Karena seperti itu kalau ibu


tirinya sedang marah. Saat dia menangis wanita itu semakin mengila amarahnya.


Aku salah. Aku salah. Aku salah.


Hanya itu yang berdengung di


hatinya. Berulang-ulang muncul di kepalanya. Membuatnya tidak boleh menyangkal


sedikitpun. Dia bersalah dan dia harus minta maaf, begitulah seharusnya. Tidak


perlu membela, hanya minta maaf atas semua salahmu.


“ Ayah, ini bukan salah Niah. Ibu


tolong mengertilah, Niah sama sekali tidak bersalah.” Ve berusaha menenangkan


orangtuanya. Daniah tidak bersalah dalam situasinya, dia tahu itu. Gadis itu


sudah melakukan apa yang dia bisa. Untuk membela teman-temannya.


“ Diam! Bagaimana dia bisa tidak


bersalah, gara-gara dia kamu sampai seperti ini.” Ayah Ve menunjuk beberapa


luka memar di tubuh putrinya. Ve segera menutupi dengan tangannya. Walaupun itu


sia-sia. Dia memang sedikit terluka, tapi ini juga bukan sepenuhnya salah


Daniah.


“ Maafkan saya bibi, maafkan saya


paman. Ini semua salah saya.” Masih dengan suara bergetar dan rasa bersalah


Daniah mengulang permintamaafannya beberapa kali. Ve benar-benar ingin memeluk


Daniah sekarang. Tapi tangan ibunya mencengkram lengannya. Mencegahnya bergerak


dari tempat duduk.


Niah maaf. Suara Ve lirih


terdengar.


“ Baguslah kamu tahu dan menyadari


kalau kamu bersalah. Memang apa masalahnya kalau laki-laki itu suka padamu.


Pergi saja jalan dengannya sekali atau dua kali. Kenapa kau jual mahal begitu


sampai membuat putri kami terluka.” Ibu Ve ikut bicara. Memberi vonisnya. Karena orangtua Ve pun tahu siapa Haksan dan keluarganya. Jadi mereka memilih melimpahkan kesalahan pada Daniah. Yang berdiri tanpa pembela di belakangnya.


“ Maaf.” Hanya bisa mengatakan


sepatah kata itu sambil tertunduk.


“ Jangan berteman dengan putri kami


lagi. Selama ini kami sudah memperlakukanmu dengan baik, ternyata kamu membawa


dampak tidak baik bagi putri kami.”


“ Ayah!” Ve bereaksi keras, karena


kata-kata itu benar-benar terlihat menyakiti Daniah. Ve melihat sahabatnya itu


mencengkram jemarinya kuat.


“ Diam! Jangan berteman lagi


dengannya, atau ayah bisa saja memindahkan sekolahmu.”


“ Ayah, ini bukan salah Niah.”


Di tempat duduknya Daniah


mengelengkan kepalanya. Memberi isyarat agar Ve jangan membantah atau melawan


lagi perkataan orangtuanya. Dia yang salah. Dia mengakui dia yang salah. Dan


semua ini salahnya. Ve terluka karena dia adalah teman baiknya. Kak Haksan


melakukan ini untuk menyakiti dirinya. Haksan tahu sekali kelemahan Daniah,


melukai Daniah bukanlah dengan melukai tubuhnya. Tapi menghancurkan orang-orang


yang ada di sekitarnya. Itu yang akan membuat Daniah berlutut dan mengemis


untuk menjadi kekasihnya.


Dan itu memang rencana Haksan, dan


sepertinya mulai membuahkan hasil.


Di SMU ini terjadi lagi pristiwa


besar yang akan terus melekat dalam pikiran Daniah. Dia menyimpan kisah ini di


hatinya. Sebagai pelajaran. Suatu hari nanti dia  tidak akan pernah melakukan kesalahan yang


sama untuk kedua kalinya.


Jangan pernah membuat orang lain

__ADS_1


terluka karena dirimu Daniah. Jangan membuat orang lain tersakiti karenamu.


Berkorbanlah sedikit saja. Kau tidak akan mati dengan memberikan dirimu dan


membiarkan kau menanggung beban itu sendirian. Kalau saja ia mau diajak


berkencan oleh kak Haksan. Ve tidak mungkin terluka, gadis itu tidak akan


tergores sedikitpun. Dan kak Haksan tidak akan pernah menyentuhnya. Andai saja


dia mengalah dan memilih menerima ajakan kak Haksan semua akan baik-baik saja.


Orang tua Ve tidak akan berubah


sikap padanya. Ve akan tetap menjadi teman baiknya. Semua berjalan dengan baik.


Tapi karena dia menolak. Karena keangkuhannya semua hancur. Kepingan


persahabatan yang sedikit-sedikit ia sulam bersama Ve sudah hancur dan rusak


dan tidak mungkin kembali seperti semula. Ancaman orang tua Ve, untuk


memindahkan putrinya ke sekolah lain membuatnya harus menghindari Ve. Bahkan


dalam batas waktu yang tidak di tentukan.


Gadis penurut yang akan rela


mengorbankan dirinya untuk orang lain telah lahir ke dunia.


***


Walaupun harus mengalah dan


mengikuti kemauan gila laki-laki di depannya, tapi Daniah cukup cerdik untuk


membuat aturan yang bisa melindungi dirinya.


“ Tidak melakukan kontak fisik.”


Daniah menatap Haksan yang duduk sambil menghabiskan segelas lemon teanya.


Laki-laki itu tertawa mendengar syarat pertama yang diucapkan Daniah.


“ Berat sekali saratmu. Apa aku


tidak boleh mengengam tanganmu juga.” Masih belum hilang tawa dari bibirnya.


“ Tidak.”


“ Haha. Lantas apa bedanya dengan


kemarin-kemarin kalau aku bahkan tidak boleh menyentuh tanganmu.”


Daniah membenci tawa itu. Senyum


yang susah di tebak artinya. Cinta, suka, dia tahu tidak ada hal seperti itu


dalam kamus hidup laki-laki yang ada di hadapannya ini. Hanya bangga memiliki


sesuatu yang sulit dia dapatkan. Hanya itu saja arti dirinya tidak lebih. Hingga


dia tidak merasa sedikitpun bangga ataupun senang ketika Haksan mengumumkan


“ Satu lagi.”


“ Wahh, banyak sekali maumu.” Gelas


di depannya sudah kosong. “Baiklah, karena kamu aku akan mengabulkan satu lagi


syaratmu. Katakan saja.””


“ Jangan sentuh teman-temanku.


Jangan menyakiti mereka.”


“ Haha, Niah aku tidak pernah


menyentuh teman-temanmu.” Seperti menggangap syarat kedua sama sekali tidak


penting.


“ Benarkah? Lalu bagaimana kau bisa


menjelaskan tentang Ve.”


“ Ve. Siapa dia.”


“ Huh! Apa kak Haksan tidak mau mengakui


kalau sudah memukulnya.” Intonasi suara Daniah meninggi. Tangan di atas meja


juga sudah terkepal geram.


“ Aaa, gadis itu. Aku ingat


sekarang, dia jatuh saat menabrakku kemarin. Itu bukan salahkukan, dia jatuh


sendiri kok.” Menggangakt kedua bahunya, merasa tidak bersalah sama sekali.


Daniah benar-benar marah mendengar


apa yang di katakan Haksan. Selain seenaknya, dia sama sekali tidak punya rasa


tanggung jawab.


“ Sudahlah, jangan diungkit lagi


masa lalu. Yang penting kita sudah resmi pacaran sekarangkan.”


Masa lalu kepalamu..


“ Ayo pergi kencan, aku akan


menjemputmu di rumahmu akhir pekan nanti.””


Tidak mau. Inginnya bisa menjawab seperti itu. Tapi kilas


balik kejadian Ve membuatnya mengangukan sedikit kepalanya.

__ADS_1


" Kenapa memilihku? bukankah banyak siswi di sekolah ini yang rela untuk melakukan apapun demi bisa dekat dengan kak Haksan?"


" Menurutmu kenapa?" Dia malah balik bertanya dengan tersenyum. Daniah bisa menebak jawaban seperti apa alasan yang sebenarnya.


" Yang pasti bukan karena kak Haksan menyukaikukan."


" Hahaha." Laki-laki itu tertawa keras. senyum liciknya itu muncul. " Kau mau tau alasan yang sebenarnya?"


" Tidak, tanpa kak Haksan bicara juga aku sudah tahu." Daniah bangun dan mendorong kursinya. "Tapi aku juga tidak melakukannya karena aku menyukai kak Haksan. aku juga melakukannya untuk teman-temanku."


Haksan tertawa keras melepaskan kepergian Daniah. Tawanya berhenti, tapi tatapannya masih melekat di punggung gadis itu.


Kau lumayan manis juga ternyata.


***


Akhir pekan yang dijanjikan datang.


Kencan pertama Dirinya dan Haksan.


Apa yang dilakukan beradalan gila


itu, dia benar-benar datang kerumahmu. Memamerkan nama keluarganya lagi.


Ibu tiri daniah yang awalnya gusar


ketika mengenali siapa laki-laki yang membawa buket bunga dan sekeranjang buah


itu langsung merubah setelan wajahnya.


“ Tante sampai tidak mengenalimu.


Padahal kalian terlihat mirip ya. Tante beberapa kali bertemu dengan ibumu


di acara sekolah.”


Di tangga Daniah melihat adegan itu


seperti mau lari ke kamar mandi dan memuntahkan semua isi makanannya..


Apa yang dipikirkan ibu sebenarnya.


“ Silahkan diminum dulu nak Haksan,


tante mau bicara sebentar dengan Niah sebentar." Wanita itu bangun dari duduknya.


“ Ia tante silahkan.”


Daniah hanya pasrah ketika


tangannya di seret menuju sebuah ruangan.


“ Kalian sudah pacaran, kenapa


tidak cerita pada ibu.”


Ini bukan sesuatu yang penting bu, ini juga akan jadi kencan pertama dan terakhir kami. Aku tidak akan pernah memasukan kencan hari ini dalam riwayat cintaku. Titik.


“ Kami belum pacaran bu. Aku hanya


membayar hutang padanya.”


“ Hutang apa?” Penasaran. " Kamu berhutang uang padanya?" Matanya mendelik karena hipotesanya sendiri.


“ Hutang anak muda bu, ibu tidak


perlu tahu.”


Ibu menarik tangan Daniah mendekat. Memaksa Daniah sekarang juga tidak mungkin, apalagi Haksan yang sedang duduk menunggu di ruang tamu.


“ Jangan membuat keluarga kita


malu. Itu akan membuat ayahmu susah juga. Perusahaan ayah punya kerjasama


bisnis dengan keluarga Haksan. Jadi bersikaplah yang baik dengannya.”


“ Aku akan berusaha bu.”


“ Apa! berusaha. Kau harus bersikap


baik bukan hanya berusaha.” Mencengkram tangan Daniah, kalau yang dia katakan tidak main-main.


“ Baik bu.” Menjawab pasrah namun penuh kebencian.


Dan akhirnya, kencan terpaksa pertama Daniah dan


akan menjadi kencannya yang terakhir. Semoga semua rencananya berjalan lancar hari ini.


“ Hei Niah, apa-apaan ini.” Haksan protes ketika Daniah


mengalungkan tasnya ke leher Haksan. “ Apa kau mau aku membawakan tasmu?”


Sial! Seumur hidup aku berkencan


dengan perempuan aku belum pernah melakukan hal ini.


Daniah menutup mulutnya karena


terkejut. “ Maaf, saat kubaca di buku katanya begini caranya orang berkencan.


Maaf kak, akukan amatiran dalam hal ini, jadi aku hanya melakukan apa yang di


ajarkan di buku.”


Sial! Kenapa dia imut begitu.


“ Baiklah, karena kamu ayo lakukan


kencan sesuai dengan buku yang kamu baca.”


Seringai tipis muncul di wajah


Daniah saat dia memalingkan wajahnya.


Hari ini akan menjadi hari yang


panjang bagi Haksan. Karena sepertinya Daniah salah membaca buku. Buku yang dia


baca adalah : Seribu satu cara putus dengan pacarmu yang membosankan.

__ADS_1


Epilog


Hari itu benar-benar hari terakhir Daniah kencan dengan Haksan, karena laki-laki itu menghilang esok harinya dari sekolah. Tidak ada yang tahu kemana dia pergi. Hanya gosip berseliweran. Salah satunya dia terjerat obat terlarang di sebuah tempat hiburan malam. Tapi tidak ada yang tahu pasti benar atau tidak. Yang pasti saat berpisah dengan Daniah dia terlihat marah dan frustasi. Untuk pertama kalinya dia merasa di permalukan seorang perempuan.


__ADS_2