Terpaksa Menikahi Tuan Muda

Terpaksa Menikahi Tuan Muda
110. Sakit Perut


__ADS_3

Seharusnya adegan romantis itu


selalu melibatkan dua pihak di dalamnya. Tapi sepertinya kali ini tidak. Daniah


yang diam seperti batu, bagi Saga ini adalah reaksi paling romantis yang


ditunjukan istrinya sepanjang perjalanannya menikah. Kali ini, dia mulai bisa


meraba sedalam apa hati istrinya. Menemukan ruang kecil yang menyimpan namanya


di sana. Setelah merasa senang sendiri dan puas dengan apa yang dia lakukan


Saga menyandarkan dagunya di bahu Daniah. Menciumi bahu itu lembut.


“Kata Pak Mun kamu tidak menonton


sampai selesai acara peresmian tadi. Kenapa? Kau bahkan tidak melihatku naik


podium kan?”


Tidak! Untuk apa aku melihatmu dan


Helen bersama.


“Kenapa?” Menyusuri leher Daniah


dengan tangannya, saat istrinya masih menunjukan protes dengan membisu. “Lehermu kecil sekali ya. Kalau aku mencekikmu kau bisa mati tidak ya.” Tergelak


sendiri.


Kurang ajar, dia sedang mengancamku


sambil tertawa kan.


“Tadi aku kurang enak badan, jadi


aku naik ke kamar untuk istirahat.”


Menyelamatkan diri dengan alasan


paling klise di muka bumi ini, hayo ngaku siapa yang sering pura-pura sakit


supaya bisa tiduran di UKS atau pergi beli minum di kantin. Wwkwkw. Tapi,


alasan yang dilontarkan Daniah karena bingung untuk menyelamatkan dirinya, akan


menjadi bumerang hebat yang ia sesali memilih sakit sebagai alasan.


“Tidak enak badan. Kamu sakit?”


Saga sudah duduk di samping Daniah. Menyentuh kepala Daniah dengan tangan.  Lalu menempelkan keningnya ke kening Daniah.


Memeriksa suhu tubuhnya. “Apa kau demam? Apa yang sakit?” Sudah setengah


berteriak karena panik.


Apa si orang ini.


“Cuma sakit perut kok.”  Masalah baru karena dia memilih sakit perut


dari semua bagian tubuhnya.


Daniah seharusnya kau ingat nasehat


Sekretaris Han untuk hati-hati bicara dengan Tuan Saga, sesuatu yang kamu


anggap hanya candaan bisa saja ditanggapi dengan sangat serius oleh Tuan Saga.


Seperti sakit perutmu saat ini.


“Sakit perut!” Saga duduk, membuka


laci meja di samping tempat tidurnya. Dia meraih remote. Lalu blarr lampu


menyala.


Apa! dia punya remote untuk


menyalakan lampu tapi selalu ribut padaku untuk matikan lampu. Dasar makhluk


menjengkelkan.


Daniah seharusnya bukan itu yang


kau perhatikan. Tapi suamimu. Saga sudah meraih telepon rumah. Cukup lama dering


suara. Wajah panik Saga menunggu telepon diangkat.


“Sialan! Apa semua orang sudah


tidur!” Sudah mau bangun saat suara sengau Pak Mun karena terkejut menjawab


dari sana. Dia pasti menjawab telepon sambil mengumpulkan nyawa. Karena dia


sudah tertidur sebentar tadi.


“Maaf Tuan Muda. Ada apa?”


“Panggil Dokter Harun. Sekarang.”


Tanpa penjelasan apa-apa sudah membanting telepon. Tidak menyadari kalau


tindakannya memutus telepon seenaknya membuat si penerima kalang kabut sendiri. Beralih


pada Daniah sekarang. Wajah gadis itu pias, bukan karena sakit tapi karena


terkejut dengan reaksi Saga yang berlebihan. “Tunggu ya, dokter Harun akan


segera datang. Apa sakit sekali?”


“Sayang, aku nggakgak papa kok. Sudah


nggakgak sakit lagi.” Daniah yang mau bangun duduk, dicegah oleh Saga. Laki-laki


itu meluruskan kaki Daniah. Membuat Daniah semakin frustasi, bagaimana


menyadarkan kegilaan suaminya ini.


“Mana yang sakit? Sini.” Meraba


pelan bagian perut. Berpindah dari satu titik ke titik yang lain. Menekannya sedikit


saja. “Apa perlu di kompres dengan air hangat? Ahh, mana lagi Pak Mun kenapa


belum naik juga.” Gusar lagi karena kepanikannya.


“Sayang aku nggak papa.”


Lupa sudah dengan rasa cemburunya


yang tadi, berganti frustasi dengan sikap Saga.


Akhirnya Pak Mun muncul setelah dia


mengetuk pintu kamar dan mendengar Saga menyahut. Dia masuk dengan wajah


gelisah dan khawatir, sebenarnya ada apa ini, begitu yang dipikirkannya sepanjang


menaiki tangga.


“Tuan Muda apa Anda sakit.” Laki-laki


itu sudah terlihat tidak mengantuk. Tentu saja, dia sudah membangunkan beberapa


pelayan di rumah belakang. Menyuruh beberapa pengawal bersiaga di posisinya.


Kantuknya seketika lenyap saat nama Dokter Harun di sebut.


“Bukan aku yang sakit tapi istriku!”


berteriak ke segala arah.


“Nona muda?” Pak Mun bingung,


melihat Daniah yang terbaring terlentang dengan tangan bertumpu di perut dan


kaki yang lurus selonjoran. “ Maafkan saya Tuan Muda.” Bukankah nona baik-baik


saja tadi gumamnya. Tapi tidak berani membantah atau memberi informasi apa-apa.


“Bagaimana kau menjaga istriku?


Dia sakit saja sampai kau tidak tahu.”


“Maaf Tuan Muda.”

__ADS_1


“Siapkan air hangat sekarang.


Sebelum Dokter Harun datang aku mau mengompres perutnya. Dan bawakan air hangat


dan madu untuknya minum juga.” Instruksi mendetail dia berikan.


“Eh, baik Tuan Muda.”


Pak Mun keluar kamar dengan segera.


Meninggalkan mereka berdua. Sekilas Pak Mun bisa melihat wajah nona mudanya


memang agak terlihat pias, tapi sepertinya dia baik-baik saja.


Bagaimana ini? Bukan ini


rencananya. Kenapa dia tiba-tiba menggila begini si mendengar aku sakit. Daniah


semakin frustasi mencengkram seprei tempat tidurnya.


Saga naik lagi ke tempat tidur


duduk di samping Daniah yang sedang berfikir keras bagaimana mengakhiri


sandiwara ini. Saga membelai kepalanya, mencium kening dan pipi serta seluruh


bagian wajahnya.


“Yang mana yang sakit?”


Aku tidak sakit! Aku cuma pura-pura


sakit. Kenapa kau bodoh sekali si Tuan Muda!


“Sayang, aku sudah tidak apa.


tidak perlu sampai memanggil Dokter Harun segala.”


Aku pasti ketahuan kalau cuma


pura-pura nanti. Habislah aku sudah membuat keributan seisi rumah ini.


Ketukan pintu lagi.


“Kak Saga, ini kami, boleh kami


masuk?” suara Jen dan Sofi.


“Hemm, masuklah.”


Jen dan Sofia yang terbangun karena


keributan di lantai bawah yang dilakukan Pak Mun saat memberi instruksi kepada


para pelayan tadi.


“Kakak Ipar kenapa?” Mereka


mendekat ke tempat tidur. Mendapati Saga di samping Daniah yang sedang memegang


tangan kakak iparnya erat.


“Seharusnya aku yang tanya kan.


Seharian aku menyuruh kalian menemani kakak ipar kalian kan, kenapa dia sakit


perut sampai kalian tidak tahu!”


Jen dan Sofi menggigit bibir mereka.


“Sayang aku nggak papa.”


Maafkan aku Jen, maafkan aku Sofi.


Aku benar-benar tidak sengaja melakukan ini.


“Maaf Kak, maafkan aku. Kakak ipar


bukan sakit karena makan jajanan yang aku beli tadi kan?” Bertanya. Kesalahan


fatal Jen, menyebut kalau dia membawa jajanan.


“Jajanan, kau memberi kakak iparmu


makanan apa hah?” Marah, bangun dari duduk. “Sudah kubilang hati-hati dengan


sangat bersalah sekali pada Jen dan Sofi.


“Eh, tapi Kakak Ipar nggak makan


jajanan kok. Tadi kakak ipar cuma makan stroberi. Ia kan Kakak Ipar.”


Selamatkan kami Kakak Ipar.


“Ia sayang, aku tidak makan


makanan aneh apa pun kok. Aku hanya makan stroberi dan makan malam saja. Jangan


salahkan Jen dan Sofi.”


Pak Mun muncul dengan membawa gelas


berisi air hangat dan madu. Lalu pelayan di belakangnya membawa mangkuk kaca


dan beberapa tumpuk handuk di sebelahnya. Saga segera mengambil gelas di tangan


Pak Mun. Lalu naik ke tempat tidur.


“Duduklah! Kau bisa bangun.” Sudah


mau menyerahkan gelasnya dan membantu Daniah bangun. Tapi Gadis itu bergerak


cepat untuk duduk. “Minumlah, biar perutmu hangat. Sebelum Dokter Harun


datang.” Menyelipkan rambut Daniah ke belakang telinga. Dia membantu Daniah


minum. “Pelan-pelan saja minumnya, nanti kamu tersedak.” Tapi Daniah ingin


segera menghabiskan air madu di gelasnya. Supaya semua orang yang ada di


kamarnya ini segera bisa pergi. Dia sedang bingung, malu plus takut bercampur


aduk.


“Berikan handuknya.” Saga mengulurkan tangan.


“Baik Tuan Muda.”


“Kakak Ipar, apa Kakak Ipar sedang


hamil.” Jen menyela.


Hei Jen jangan bicara sembarangan!


Tapi kata-kata Jen sudah seperti


menyambar semua telinga orang yang ada di dalam kamar. Saga yang belum


menempelkan handuk di perut Daniah menjatuhkan benda itu di atas kasur.


“Hamil? Sayang apa kamu sungguh


sedang hamil.” Menyentuh kedua tangan Daniah, menggenggamnya erat.


“Tidak! Jen jangan bicara


sembarangan. Aku sedang tidak hamil sayang.”


Aku tidak mungkin hamil. Aku sedang


pura-pura sakit untuk membalasmu.. tapi malah kenapa karma ini jatuh menimpaku.


“Kenapa? Bisa jadi kakak ipar


benar-benar hamil kan. Haha, aku mau punya keponakan donk.”


Hentikan bualanmu Jen. Hei Tuan


Muda kenapa wajahmu sesenang itu, jangan percaya dengan omong kosong Jen.


“Sayang aku tidak hamil. Aku.”


Hanya sedang pura-pura sakit.


Bagaimana ini aku mengatakannya.

__ADS_1


Di tengah kegaduhan tentang


kehamilan datanglah Dokter Harun. Daniah bernafas lega. Seseorang yang bisa menyelamatkannya.


Pak Mun dan pelayan wanita keluar dari kamar.


“Apa yang terjadi?” Dokter Harun


bingung. “ Siapa yang sakit?” Sepanjang perjalanan dia hanya menduga-duga. Pak


Mun tidak memberi tahukan ada apa dan siapa yang sakit. Dia Cuma mengatakan secepatnya


Dokter Harun di minta datang ke rumah Tuan Saga.


Apa ini sedang main dokter-dokteran


lagi!


“Kak Harun sepertinya kakak ipar


sedang hamil.” Jen dengan sok tahunya kembali angkat bicara mewakili, memberi


jawaban dari pandangan kebingungan dokter Harun.


“Hamil!”


“Tidak dok!” Daniah berteriak.


Ingin kesalahpahaman ini segera berakhir. “ Saya hanya sedikit sakit perut


saja.”


“Sedikit bagaimana, kalau sakit tetap sakit. Tidak ada yang namanya sedikit


sakit.” Saga protes.


Tunggu, ini benar lagi main


dokter-dokteran. Tuhan, kenapa aku terjebak di keluarga ini. Kenapa aku punya


teman mengerikan seperti Saga dalam hidupku.


“Baiklah, kita periksa dulu


sebentar ya Kakak Ipar.”


“Hei, siapa yang kakak iparmu. Dia


istriku.” Protes lagi.


Dokter Harun tertawa menanggapi


perkataan Saga. Dia mendekat ke arah tempat duduk ke samping kiri Daniah.


Meminta Daniah mengulurkan tangannya.


“Hei, kenapa kau menyentuh


istriku. Lepaskan!” berteriak.


“Bagaimana aku memeriksa istrimu


sialan kalau aku tidak boleh menyentuhnya.” Dokter Harun ingin membanting alat


di tangannya. Geram.


“Seharusnya kau bawa perawat


wanita tadi!” Masih tak kalah marahnya.


“Aku kan tidak tahu kalau kakak


ipar yang sakit.” Pak Mun saja Cuma menyuruh segera datang ke rumah Tuan Saga. Tanpa


info apa-apa. sepanjang perjalanan saja Harun sudah panik dengan menduga-duga


sebenarnya terjadi apa.


“Dia bukan kakak iparmu.” Berteriak


lagi.


Jen sudah memegang bahu Saga. Sofi


juga memegang tangan kiri Saga.


“Biar kak Harun memeriksa kakak


ipar dulu kak. Sebentar saja. Hanya menyentuh tangan sedikit saja.”


Saga mengibaskan tubuhnya.


Memandang Dokter Harun dengan geram. Apalagi saat dia menyuruh Daniah


berbaring. Saga bahkan mengumpat kesal saat Harun menekan perut Daniah di beberapa


posisi. Lali-laki itu memeriksa tangan Daniah lebih teliti.


Benarkan ini cuma main


dokter-dokteran.


Dia melirik Daniah lalu tersenyum.


Apa yang Anda rencanakan Kakak Ipar?


“Istrimu hanya perlu istirahat


sebentar, dia tidak apa-apa.”


“Hei!” Sudah mau protes. Soalnya tadi


Daniah bilang sakit seharusnya diagnosa Harun juga menyatakan istrinya sakit.


“Benarkan nona?” Harun mengedipkan


mata kirinya.


“Ia sayang, aku pasti hanya lelah.


Aku benar-benar tidak apa-apa. “ Hentikan kegilaan ini. Memohon dalam hati


agar sandiwara sakit malam ini berakhir dengan damai.


“Baiklah nona sekarang


istirahatlah. Kalian berdua juga pergi tidur sana. Kenapa bocah jam segini


masih terjaga juga.” Tudingnya pada Jen dan Sofi. “Saga, antar aku.”


“Kenapa aku harus mengantarmu. Aku


mau menemani istriku. Jen panggil Pak Mun.” Menolak, Saga memilih mau naik ke


tempat tidur lagi.


“Baik kak.” Jen sudah mau


bergerak.


“Hei, aku mau kau mengantarmu.”


Mendorong tubuh Saga. “ Nona Daniah istirahat saja ya.”


“Jangan bicara dengan istriku.”


“Sudah-sudah ayo keluar sebentar.”


Harun menarik lengan Saga. Saga memukul tangannya. “Sakit tahu.”


Dia berbalik sebelum keluar pintu. Bicara


pada Daniah.


“Tidurlah! Aku keluar sebentar.”


“Ia sayang.”


Saat pintu sudah tertutup. Daniah


menendang selimutnya.


Kenapa? Kenapa malah jadi begini


si! Kenapa malah jadi aku yang terpojok di sini.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2