Terpaksa Menikahi Tuan Muda

Terpaksa Menikahi Tuan Muda
134. Ibu (Part 1)


__ADS_3

Rumah utama memulai kehidupannya


kembali. Udara segar mulai masuk melalui ventilasi dan mengganti suasana. Cuaca yang hangat dan sejuk karena angin pagi yang juga berhembus, membuat setiap orang bersemangat memulai hari.


“Sayang, pasti akan menyenangkan


kalau bulan madu kita seperti bulan madu kebanyakan orang. Kita seharian


bermain di luar.” Mendengar rengekan itu berulang Saga mendorong tubuh Daniah


menempel di tembok. Pintu yang sudah terbuka handle nya dia lepaskan. Membuat pintu tidak terbuka lebar ataupun tertutup rapat.


“Bicara sekali lagi tentang tema


bulan madu rakyat jelata kugigit bibirmu ya!” tangannya sudah meraih dagu


Daniah, seperti benar-benar akan melakukan apa yang ia katakan. Membuat gadis


itu mendapat serangan panik.


“Ia, ia, aku tidak akan


mengatakannya lagi.” Tertawa, sambil berusaha melepaskan tangan suaminya dari


dagunya. Berhasil, tangan itu terlepas. Muah, muah, muah. Tiga kecupan disusul


tawa renyahnya, berusaha mencairkan situasi yang mulai agak menghangat. “Tema apa pun pasti menyenangkan kalau bersamamu,” katanya


sambil mengedipkan mata. Menggoda lagi.


Saga tergelak. “Wahhh, sudah


berani main cium-cium ya.” Mengusap bibirnya sendiri sehabis mendapat kecupan


Daniah. Daniah malah tertawa, membuat Saga frustasi dengan keimutan istrinya. Menurut Saga yang sudah dibutakan cinta ya. sekarang semua ekspresi yang muncul di wajah Daniah selalu dia terjemahkan dengan bahasanya sendiri, yang terkadang seenaknya itu.


Menggemaskan sekali istriku ini.


Dengan telunjuknya Saga mendorong


tubuh Daniah, sampai menempel di tembok lagi. Jegrek, suara keras pintu


tertutup.


“Sayang, kamu mau apa?”  Panik, karena Saga semakin maju ke depan


menyudutkan dirinya.


“Menggigit bibirmu.” Masih bicara


santai, dengan seringai nakal muncul. “ Aku mau membalas kecupanmu tadi.”


“Apa! aku kan.” Mulut Daniah


terkunci sudah tidak bisa bicara apa-apa, saat bibir Saga sudah menempel lekat di bibirnya, dan dia mengikuti kemauan Saga.


Aaaaaaa, kenapa aku iseng


menggangunya pagi-pagi begini si.


Cukup lama sampai akhirnya pintu


kamar terbuka.


***


Pagi hari yang cerah, suasana


hangat yang mulai berangsur menggantikan  suasana dingin rumah megah ini. Rumah utama mulai menjelma menjadi


hunian nyaman bagi semua yang ada di dalamnya. Tanpa terkecuali. Mungkin sudut


bibir ibu mertua masih terlihat kurang nyaman melihat menantunya. Namun ia


berusaha menutupi itu dengan hanya melihat senyum anak lelakinya. Dia berusaha


mengalah ketika melihat kebahagiaan di mata putranya.


“Kakak Ipar selamat pagi!” Jen


memang sudah memperlakukan Daniah dengan baik, tapi semenjak tahu kebenaran


status Daniah dan Raksa, entah kenapa sikapnya jauh lebih baik lagi. Suka


bermanja-manja dan bertingkah seperti bocah imut yang membutuhkan kasih sayang


kakak perempuan. Saga yang berjalan di samping Daniah sudah mengusir Jen dengan


tangannya. Jangan mendekat begitu perintah tuan muda melalui sorot matanya.


“Kenapa belum berangkat? Apa kau


tidak terlambat?” Saga menepis tangan Jen yang mau melingkar di lengan kakak


iparnya. Membuat gadis itu mendengus lalu berjalan di samping Saga menuju meja


makan.


“Hari ini aku akan pergi ke kantor


cabang, jadi agak siangan berangkatnya. Sudah lama kan aku nggak sarapan dengan


Kak Saga dan Kakak Ipar.”  Melirik kakak iparnya di balik punggung Saga. Daniah hanya mengedipkan mata sambil tertawa tanpa suara.

__ADS_1


“ Sudah kubilang kejar Raksa dengan sportif, jangan merengek pada kakak


iparmu. Lupa yang kukatakan, kuberi waktu kau satu bulan. Kalau tidak


berhasil mengejarnya, lupakan Raksa dan jangan mengganggunya. Biarkan dia fokus


belajar bekerja di Antarna.” Ultimatum tegas Saga. “Kau juga serius belajar di


Antarna, kalau kau hanya main-main kusuruh Han mengirimmu ke luar dari gedung


pusat.”


“Ia Kak, aku akan serius bekerja!”  Berteriak keras dengan semangat. Semua


demi kebaikan Jen, gadis itu tahu, hingga ia tidak protes sedikit pun. Bagaimana


kakaknya sudah menyiapkan proses belajarnya sebelum dia diperkenalkan  secara resmi ke perusahaan nanti.


“Aku akan membantumu


diam-diam, hehe.” Daniah menyahut di samping Saga. " Tapi kamu harus usaha sendiri ya, aku tidak akan terlibat terlalu jauh karena ini berhubungan dengan perasaan."


Di meja makan ibu Dan Sofia sudah duduk di tempat duduknya. Sofi mendengar apa yang di ucapkan Daniah tadi, lalu dia menyahut dengan kalimat bijak yang baru beberapa detik dia temukan di postingan teman kampusnya.


"Kak Jen, tahu tidak perbuatan mulia apa yang bisa dilakukan anak muda seperti kita." Bicara dengan penuh kebanggaan setelah sekali lagi melirik hpnya. Meyakinkan diri kalau semua kalimat sudah dihafal dengan benar.


Saga menarik kursi Daniah supaya dia duduk, setelahnya dia juga duduk.


"Apa!" Jen menjawab sambil mengernyit kesal. Sofi memang tidak mendukung usahanya mengejar Raksa, karena status Raksa yang sudah punya pacar.


"Perbuatan mulia yang bisa dilakukan oleh orang seperti kita adalah, cukup tidak menjadi orang ketiga dalam hubungan orang lain." Dia tertawa terbahak menyelesaikan kalimatnya. Daniah menahan senyum demi mendengar kata-kata polos Sofi, sementara Jen yang menatap paling sebal.


"Kurang ajar kamu." Gumam-gumam pelan tidak mau makiannya di dengar yang lain, sambil mendelik ke arah Sofi.


“Apa! benar kan?” Memilih pindah ke kursi di samping ibu. Daripada kena pukul pikirnya. Sementara ibu tidak terlalu tertarik. Karena tahu sifat Jen. Dia memang mudah sekali jatuh cinta pada orang yang baik di sekitarnya. Tapi ya itu hatinya masih labil dan mudah sekali goyah. Dia mudah jatuh cinta tapi juga


mudah beralih hatinya


Dan akhirnya mereka menikmati sarapan pagi


dengan tenang setelah Sofi berhenti bicara mengutip beberapa kalimat bijak yang baru ia baca tadi. Sambil menghabiskan sarapan, Saga bicara.


“Bu beberapa hari lagi aku dan


Daniah akan pergi?” Saga memandang ibunya setelah meletakan gelas jusnya yang


sudah kosong.


Ibu terlihat terkejut, pergi, pergi


ke mana? Apa mereka mau pindah rumah begitu yang ada di pikiran ibunya. Lalu ibu refleks menatap Daniah tidak suka. Jen dan Sofi sama terkejutnya menghentikan


makan mereka.


Jen dan Sofi bertanya.


“Bulan madu.” Menjawab singkat.


Sambil meraih tangan Daniah di sampingnya. “Kami kan belum pernah pergi bulan


madu setelah menikah.” Daniah cuma bisa tersenyum ketika semua pandangan mata tertuju padanya.


Jen dan Sofi mulai heboh berdua mendengar


jawaban Saga.


“Kakak Ipar mau bulan madu.


Cieee, nanti pulang sudah bawa kabar tentang keponakanku ya.” Kata-kata Jen


yang spontan langsung merubah airmuka ibu. Dia terlihat tidak bisa menutupi


rasa tidak senangnya.


“Ia Kakak Ipar.” Sofi ikut


menimpali.


Daniah yang melihat perubahan wajah


ibu terlihat canggung. Menepuk tangan adik iparnya agar berhenti meledek.


Kenapa kalian membahas hal beginian


pagi-pagi begini si.


Ibu mertua belum bicara sepatah


kata pun. Tapi Daniah tahu, bahwa ibu berusaha menutupi rasa tidak sukanya.


“Kakak ipar dan Kak Saga


berusahalah dengan keras. Semangat! Aku akan mendoakan supaya kalian segera


mendapat momongan. Aku juga ingin segera punya keponakan.”


Jen dan Sofi sudah ramai bicara berdua, tentang berapa mereka mau punya keponakan.


Sama sekali tidak bisa membaca airmuka ibu. Bahkan Saga sudah mulai terlihat


menahan diri karena melihat perubahan wajah ibu. Tapi dia masih diam saja dan melanjutkan makan.


Kumohon hentikan Jen, kamu tidak

__ADS_1


lihat wajah ibumu apa.


“Kenapa harus buru-buru, kalian


bisa menikmati pernikahan kalian dulu. Perihal anak, nanti saja dibicarakan.”


Kata-kata ibu membuat Saga menghentikan tangannya yang mau mengambil sandwich


keduanya. Dia melihat ibu dengan kesal.


Kumohon jangan sampai terjadi


pertengkaran.


“Ibu, kak Saga juga kan sudah


hampir delapan bulan menikah kalau tidak salah. Itu kan namanya bukan


buru-buru, tapi memang sudah waktunya. Ia kan kakak ipar?”


Daniah belum


menjawab, dia meraih tangan Jen. Mencengkeramnya pelan. Meminta mulut gadis itu


untuk diam sekarang juga.


“Soal itu.” Daniah menjawab pelan.


Terhenti saat Saga bicara dengan suara cukup keras.


“Habiskan makanan kalian!”


Saga bicara dengan suara tegas, itu


artinya jangan ada yang bicara lagi. Suasana yang tadinya cukup nyaman berubah


menjadi kaku. Saga paham apa yang ibunya coba sampaikan tadi. Dia memang belum


bisa menerima Daniah. Bukan sebatas pada Daniah menjadi istrinya, tapi pada


posisi Daniah sebagai nyonya rumah ini. Wanita yang akan melahirkan penerus


bagi keluarga Saga Rahardian.


“Saga.” Ibu bicara pelan sambil


menyentuh tangan kiri anaknya yang ada di atas meja. “Ibu hanya ingin.”


“Aku sudah selesai.” Pembicaraan tentang


anak masih akan menjadi menu sensitif di meja makan yang mengusik ketenangan, begitu yang dipikirkan Daniah. Karena Saga bangun dari duduk Daniah refleks bangun, walaupun masih tersisa


makanan di piringnya. Dia berlari menyusul Saga yang sudah berjalan lebih dulu.


“Sayang, kenapa marah?” Daniah


mensejajarkan langkah Saga sambil melingkarkan tangan di lengan suaminya. Saat


mereka sudah berada di luar rumah, dan ibu tidak melihat mereka. “ Ibu kan hanya


bicara karena dia perduli padamu.” Saga diam tidak menjawab, dia hanya berjalan


dengan cepat.


Sampai di depan mobil, Sekretaris


Han sudah membuka pintu belakang. Menganggukkan kepala ketika tuannya mendekat.


“Han akan mengatur jadwal


konsultasimu ke dokter. Bersiaplah!” Menyentuh pipi Daniah lembut.


*Apa! dia tidak menggubris yang ku*bicarakan tentang ibu.


“Jangan pedulikan apa yang ibu


katakan, kalau dia bicara yang menyakiti hatimu katakan padaku.”


Cih, memang aku wanita pengadu apa.


Saga memberi kecupan lembut di


kening dan bibir Daniah setelah itu masuk ke dalam mobil. Dia menjentikkan


tangannya menyuruh Daniah mendekat.


“Pikirkan saja berapa anak yang


kau inginkan.” Seringai tipis di bibirnya.


“Apa!”


“Aku pergi ya, masuklah, habiskan


sarapanmu.” Saga melambaikan tangan sebelum mobil berlalu. Daniah belum


beranjak sampai mobil hanya tampak seperti titik hitam. Menjauh menuju gerbang


utama.


Apa dia benar-benar akan memakai


momen bulan madu untuk fokus membuat anak. Aaaaaaaa!

__ADS_1


Bersambung............


__ADS_2