Terpaksa Menikahi Tuan Muda

Terpaksa Menikahi Tuan Muda
115. Mengerti Semuanya


__ADS_3

Sudah lewat tengah malam. Dia baru


selesai dengan urusannya. Di sampingnya Daniah langsung jatuh tertidur dan


tidak berdaya. Saga mengacak-acak rambut istrinya yang memang sudah terburai ke


mana-mana. Dia tergelak menyusuri bibir mungil dan tipis itu. Diketuk-ketukan


jemarinya di pipi istrinya. Lalu menyelipkan kembali rambut Daniah ke belakang


telinganya.


“Terimakasih sudah mencintaiku.”


Satu kecupan lembut di kepala Daniah. Lalu dia menarik selimut sampai leher.


Melindungi istrinya dari udara yang yang akan menciumi tubuh polosnya. Lalu


setelah menyelesaikan pekerjaan yang menurutnya luar biasa itu, dia turun dari


tempat tidur. Memakai lagi bajunya yang terserak di lantai.


Jegrek! Pintu terbuka. Saga menoleh


untuk kedua kalinya, melihat istrinya yang sudah terlelap kelelahan di tempat


tidur. Dia tersenyum senang. Saat memutar kepalanya mau keluar.  Dia terlonjak kaget saat keluar dari kamar setelah membuka pintu.


“Kau di sini?” Han bangun dari


duduk tepat di depan pintu, begitu pula pak Mun yang menganggukkan kepala. Gurat


khawatir masih tergambar jelas di wajahnya. Ya, semakin bertambah usianya


memang banyak yang ia harus khawatirkan. Apalagi kalau berurusan dengan tuan


dan nona mudanya.  “Kalian tidak tidur?”


bertanya heran. Memang siapa yang menyuruh kalian berjaga semalaman begini,


gumam Saga bingung.


Apa aku terlihat segila itu tadi


waktu masuk kamar, sampai Pak Mun sekhawatir itu.


“Apa Anda butuh sesuatu Tuan


Muda?”


“Aku hanya ingin minum air


dingin.”


Sejak kapan kedua orang ini duduk di depan


kamar. Apa mereka mendengar semua? Sial, tidak mungkin mereka tidak


mendengarkan. Saga mengeram jengkel sendiri.


“Kau menyuruhnya datang?” bertanya


pada Pak Mun menunjuk Han dengan matanya.


“Dokter Harun yang menghubungi


saya Tuan Muda.” Han meraih pegangan pintu yang belum tertutup, dia melongok


kan kepalanya ke dalam kamar. Memastikan semuanya baik-baik saja.


Saha menendang kaki Han tiba-tiba,


membuatnya refleks mengaduh karena terkejut. “Jangan melihat istriku! Dia


sedang tidak pakai baju bodoh!”


Han mengernyit, mengibaskan kakinya,


bahkan Daniah hanya terlihat ujung kepalanya saja. Rambutnya saja yang terlihat


nongol di ujung selimut. Tidak lebih. Mau dia pakai baju atau tidak selimut


tebal itu juga menghalangi pandangan Han. Dan dia masih manusia normal yang


belum bisa menembus benda padat pandangannya.


“Saya hanya ingin memastikan kalau


nona masih hidup Tuan Muda. Lagi pula hanya rambutnya yang terlihat dari sini.”


bicara santai sambil menutup pintu tanpa suara. Merasa tenang saat melihat


Daniah terlelap di tempat tidur, bukan sedang menangis atau merintih di pojokan


kamar. Entah apa pun yang dipikirkannya tadi sepertinya hanya ketakutan tak


beralasan.


Seharusnya aku tahu itu kan,


perasaan tuan muda pada nona bukanlah main-main. Dia tidak mungkin menyakiti


wanita yang dia cintai.


“Kurang ajar!” Menendang kaki Han


lagi kali ini lebih keras. “Memang apa yang di katakan Harun sialan itu.”


Berjalan meninggalkan kamar, dia menoleh pada Pak Mun yang masih mengikutinya. “Pak


Mun, pergilah tidur, kau butuh istirahat, Han yang akan menemaniku.” Han


mengibaskan kakinya, tendangan yang kedua cukup menyakitkan sepertinya.


“Baik Tuan Muda, Anda juga segera


istirahat jika sudah selesai.” Menganggukkan kepala lalu berlalu menuju tangga.


Ia menguap setelah jauh berjalan. Sepertinya dia juga lelah.


“Jangan melihat istriku kalau dia


sedang tidur.” Saga mendorong tubuh Han di depannya. “Cuma aku yang boleh


melihatnya.”


“Baik, baik tutan Muda. Maafkan


saya sudah mengintip tadi.”


Cih, memang apa yang bisa kulihat


dari ujung kepalanya Nona Daniah.


Han dan Saga berjalan ke sofa di


dekat area tangga. Biasanya jarang yang menduduki kursi ini. Saga menjatuhkan


dirinya, langsung menyandarkan kepala, dan memijit punggung lehernya.


Sepertinya dia kehabisan energi juga.


“Ambilkan  aku air dingin.”

__ADS_1


“Baik, tunggu sebentar.” Han


meninggalkan Saga, berjalan cepat menuruni tangga. Menuju kulkas yang ada di


dapur. Mengambil sebotol air.  Tidak


butuh lama ia sudah muncul lagi. “Silahkan Tuan Muda.”


“Duduklah!”


Han duduk di sofa, di samping kanan


Saga. Menerima botol yang hampir separuh di minum lalu meletakkannya lagi di


atas meja. Melihat tuan mudanya. Mereka-reka semua yang terjadi di dalam kamar


tadi.


“Apa kau langsung berlari kemari


setelah Harun menghubungimu.”


Ya, itu pasti. Han langsung berlari


setelah mendapat telepon dari Dokter Harun. Sepanjang jalan dia mengutuk


dirinya. Ketidakbecusannya. Bagaimana hal seperti ini bisa lepas dari


perkiraannya. Dia tidak pernah berfikir kalau Daniah sampai seberani ini


melakukan hal besar seperti minum pil kontrasepsi pencegah kehamilan.


Walaupun di awal-awal Saga memang tidak pernah membicarakan tentang anak, tapi


dia tidak menduga kalau Daniah sudah mengantisipasi semuanya.


Sepertinya aku sudah meremehkan


keberanian Anda Nona.


“Maafkan saya tidak memprediksi


kemungkinan tentang pil kontrasepsi ini.” Mengakui kesalahan, yang sebenarnya


bukan kesalahannya juga. Jelas-jelas orang yang tidur setiap malam di


sampingnya saja tidak tahu. Apalagi dirinya.


“Cih, banyak hal yang luput dari


pandanganmu sekarang. Apa kau sudah kehilangan ketajamanmu.” Mengejek, padahal


tanpa dibilang pun harga diri Sekretaris Han sudah terluka. Dia sudah


kecolongan satu langkah.


“Maafkan saya Tuan Muda.”


“Sudahlah! Toh ini bukan salahmu.”


Han memandang Saga sebentar, ragu


mau bertanya. Tapi dia harus bertanya juga kan, untuk membuat rencana ke


depannya. Bagaimana hubungan Saga dan Daniah.


“Anda tidak memukul nona kan Tuan


Muda?” khawatir. Sebenarnya tadi dia tidak mendengar Daniah berteriak atau suara


pukulan dari dalam kamar. Tapi dia hanya ingin memastikan.


“Kau gila ya sampai menanyakan hal


suka main pukul kan?” Berteriak menggebu-gebu.


Ya, aku cuma menyentil keningnya


si, sampai dia mau menangis.


“Maafkan saya Tuan Muda yang tidak


memahami Anda.” Merasa bersalah.


Tapi, cinta selalu membuat orang


bodoh dan gila kan, siapa tahu saking emosinya Anda memukul nona kan. Saya kan


hanya ingin memastikan.


“Tadi, dia mengatakan semuanya


padaku.” Mendesah, mengingat kembali semua apa yang dikatakan Daniah. Tentang


alur cerita hidupnya, atau tentang skenario dirinya dan Helen. Saga tergelak. “Jau suruh saja dia menulis novel nanti.”


Han baru kali ini susah menangkap


apa yang coba disampaikan Saga.


“Dia bahkan tidak menonton seluruh


acara peresmian, dia berfikir aku melamar Helen di sana.”


Apa! tunggu Nona Daniah tidak akan


sebodoh itu kan.


“Apa yang kau pikirkan? Kau sedang


mengejek istriku kan?” Memukul bahu Han yang terlihat mengernyitkan wajah. “Kau


sedang berfikir dia bodoh kan?”


“ Haha, mana mungkin saya seberani


itu Tuan Muda berfikir tentang nona.” Padahal mah iya, itu yang dia pikirkan.


“Dia memang sebodoh yang kau


pikirkan si.” Kedua orang itu tertawa senang. Seperti menemukan satu lawakan


yang membuat keduanya sepakat.  “Bagaimana dia sampai sebodoh itu berfikir aku melamar Helen di peresmian Danau


Hijau ya. Benar kan? suruh saja dia buat novel.” Saga tertawa lagi. “Tapi aku


senang dia sebodoh itu, kalau tidak, mungkin hubungan kami tidak akan meningkat


sampai tahap ini.”


Kedua orang itu sepertinya sangat


senang sekali. Mereka masih bicara ke mana-mana, sampai Saga menguap dan menutup


mulutnya dengan tangan.


“Anda pasti sudah mengantuk kan,


sebaiknya Anda kembali ke kamar.”


“Hemm, tidak usah pulang, tidurlah


di kamar tamu di bawah, sudah hampir pagi juga.”

__ADS_1


Saga meninggalkan tempat duduknya


diikuti Han. Sesampainya di depan pintu, baru saja memegang handle pintu dia


berbalik lagi.


“Dimana ibu sekarang?” sepertinya


sudah cukup dia menghilang, amarahnya pun sudah menguap. Sudah saatnya ibunya


kembali.


“Siang tadi nyonya baru kembali


dari negara XX, sekarang sedang menginap di hotel.”


“Huh! Sepertinya sudah cukup dia


bersenang-senang. Suruh dia kembali menemuiku besok.” Pintu terbuka. Saga sudah


masuk.


“Baik Tuan Muda. Setiap hari


nyonya menghubungi dan menanyakan apa kemarahan Anda sudah reda dia pasti


senang bertemu Anda kembali.”


“Baiklah, tidurlah, jangan lupa


katakan padanya, untuk membawa hadiah spesial untuk Daniah “


“Baik.”


Pintu tertutup saat Han sudah


menganggukkan kepalanya. Dia meninggalkan pintu kamar, menguap juga dua kali saat


menuruni tangga. Menuju kamar tamu di lantai bawah.  Sesampainya di kamar dia tidak langsung


tidur. Duduk di sofa di depan tempat tidur. Mengambil pena dan juga kertas.


Pil kontrasepsi, bagaimana aku bisa


seceroboh ini. Tidak, bukan itu, tapi aku tidak percaya Anda akan seberani ini


nona. Wahh, wahh, apa perlu aku mendaftarkanmu ke musium rekor, pasti banyak


gelar yang bisa kau dapat.


Gadis paling berani yang menantang


Tuan Saga. Dan parahnya bagaimana sampai Tuan Saga pun memaafkan Anda dengan mudah begini.  Mungkin gelar gadis mengemaskan yang bisa


menaklukan hati Tuan Saga juga pantas untuk mu.


Han menyudahi pikiran ngawurnya.


Sekarang yang harus di lakukan  kedepannya adalah konsultasi ke dokter


kandungan dan mengawasinya 24 jam. Merepotkan sekali Anda Nona.


Han mengetikan pesan di hpnya “Periksa rekaman mobil nona Daniah.”


Pagi sebentar lagi datang, Han


menjatuhkan tubuhnya dan menarik selimut. Masih sangat panjang saat untuknya


memikirkan dirinya sendiri.


***


Di tempat lain, di waktu yang


hampir bersamaan dengan pertengkaran Saga dan Daniah.


Hari ini Helen tidak sanggup melangkahkan


kaki pulang ke rumah atau kembali ke galerinya. Nyawanya seperti terburai


menjadi serpihan, bertebaran satu persatu meninggalkan. Dia kehilangan


tempatnya untuk menangis. Sampai akhirnya ada yang mengangkat teelponnya dan mau


membuka pintu untuknya di tengah malam yang sudah lewat ini.


“Ibu.” Helen menangis di bibir pintu


yang terbuka. Wanita yang membukakan pintu terkejut dengan penampilan Helen


yang sangat berantakan.


“Kenapa denganmu. Masuklah.” Dia


menarik tangan Helen, mendudukkannya di sofa, lalu mengambilkan segelas air. “Helen ada apa denganmu?”


“Aku ingin mati saja bu, aku mau


mati saja, sekarang sudah tidak ada harapan yang tersisa dengan Saga lagi.”


Ibu mendesah, mendengar nama


anaknya di sebut. Hari ini pun dia masih belum mendapat kesempatan untuk


pulang. Sudah hampir dua minggu sejak kejadian ulang tahunnya. Dia butuh waktu


selama ini agar suasana kembali normal lagi. Dan selama waktu ini dia menyadari


siapa Daniah, bagaimana posisi gadis itu di hati Saga.


Dia tidak akan berani melakukan


apa pun lagi perihal Helen. Ibu sudah mulai menyadari siapa wanita berharga yang


akan di bela Saga. Dan walaupun dia tidak rela, tapi ibu menyadari berperang


dengan Saga hanya dirinyalah yang akan kalah. Bahkan sebelum dia memulai perang


juga.


“Helen.” Ibu menepuk punggung


gadis itu. “Aku akan selalu menyukai mu. Tapi maaf, ibu tidak bisa mendukungmu


lagi. Tidak ada tempat lagi tersisa di hati Saga untukmu.”


“Ibu!” Helen berteriak memukul


punggung wanita yang memeluknya. “Jangan lakukan ini bu, hanya ibu yang bisa


menolongku.”


Wanita itu hanya terdiam, dia hanya


mengusap punggung Helen dan membiarkannya menangis lama. Bahkan sampai gadis itu


terlelap kelelahan.


Dia tahu, walaupun dia bukan ibu yang memahami anaknya. Tapi kalau Saga sudah marah dan sampai menyuruhnya pergi menghilang untuk waktu yang lama. Sesuatu yang ia bela, itu adalah sesuatu yang sangat penting baginya. Daniah adalah hal paling berharga yang ia lindungi sekarang. Untuk itulah ibu tahu harus menyerah.


Dia melihat satu koper besar di sudut ruangan. semua itu adalah barang yang dia beli khusus untuk Daniah. Dia harus melakukannya walaupun belum rela.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2